Marry Din

Marry Din
Part 11


__ADS_3

Bagi seorang wanita menangis bukanlah bukti ia lemah. Sudah cukup air matanya mengalir seperti gerimis menjelang pernikahan. Tidak boleh lagi terlihat sesak meski sedetik. Ia pandai mendalami peran untuk menipu keadaan. Terbiasa tersenyum seperti Ibu Peri - baginya tidak masalah.


"Mau jengukin Bruno?'' tanya Delia.


Din sedang mengemasi beberapa pakaian tipis mengingat cuaca di beberapa negara Eropa memasuki musim panas. "Kamu nggak masalah kalau kita jengukin Bruno dulu?"


"Akan jadi masalah kalau saat kita bulan madu. Pikiranmu bercabang."


Din tersenyum lega, ia tidak mengira bahwa sang istri bijaksana. "Makasih... Kamu juga sekarang mulai memikirkan anak-anakku."


Mendengar Din mengatakan sendiri dari mulutnya tentang anak-anak - kucing yang ia pelihara bersama mantan kekasih, tidak mungkin Delia mengabaikan fakta bahwa kenangan mereka juga masih melekat. Tidak mudah.


Siang hari di klinik hewan.


Delia sebenarnya tidak membenci kucing, ia hanya tidak terbiasa berinteraksi dengan hewan peliharaan.


"Bruno, hei, kamu harus kuat," Din menatap pilu dari balik kaca ruang inap. "Papa... Ada disini."


Mungkin sudah beratus kali melihat ekspresi Din yang berubah karena hewan peliharaannya sakit. Tapi, saat menatap Bruno, ia seperti menatap buah hatinya sendiri.


"Ini gila," batin Delia. Ia mulai terkesan dengan satu sisi lain Din.


Kucing berwarna putih gemuk itu diinfus sejak dua hari lalu. Dokter menjelaskan bahwa kondisi Bruno sudah membaik karena dibawa tepat waktu.


"Aku pikir yang membawa Bruno itu istrimu," celoteh dokter. Tidak mengira bahwa pasangan penuh cinta pun bisa kandas.


Din menunjuk dengan jarinya ke arah Delia, "Itu istriku, Dok. Mbak-mbak yang pakai kemeja panjang di dekat ruang tunggu."


"Wow, cantik banget!'' eskpresi kaget dokter dan perawat klinik kompak.


Setelah melakukan pembayaran untuk Bruno menginap selama satu bulan. Din tidak ingin langsung pulang ke hotel.


"Mau ke mana?" tanya Delia.


"Mau kencan."


"Hah? Kita harus siap-siap kan sorenya mau pergi bulan madu." Delia tidak mengira lumayan melelahkan mengikuti Din.


"Kita ke bengkel dulu ya?"


"Iya."

__ADS_1


Sesampainya di bengkel. Delia memperkenalkan diri secara mandiri karena sang suami asik berbincang dengan pemilik bengkel.


"Ternyata bengkel yang kalian kunjungi semewah ini sialan," ungkap Delia. Kebetulan ada Tony yang menemaninya berbincang.


"Lah kan memang ini bengkel modif motor gede dan kebetulan mobil mewah juga sering nongkrong di sini, Del."


Delia melihat sekitar. Suasana yang berbeda dari bengkel yang ia bayangkan. Ada kedai kopi yang ramai pengunjung. "Jadi dulu Rasti sering dibawa kemari?"


Tony terjebak. Ia dilanda kebingungan. Mau menjawab jujur senggan tidak menjawab ia sadar Delia menakutkan, "Ya.. Hmm... Gimana ya? Hehe... "


"Nggak usah meringis, Ton. Gue juga paham kok. Bahkan dokter hewan sampai menyayangkan kenapa mereka nggak menikah?" Delia menatap Tony tajam, "Bagaimana menurut pendapat lo?"


"Menurut gue, lo itu istri yang tepat buat Din. Hubungan mereka dulu lumayan toxic dan bikin gue sendiri jadi nggak bisa respect sama Rasti." Tony mengatakan intinya. Ia tidak suka penjelasan panjang apalagi melebar.


"Lo lagi nggak bermaksud jadi perebut bini orang kan?'' Din tiba-tiba duduk di tengah, ia merangkul Delia. "Ton... Maaf, dia udah gue segel."


"B*ngs*t ini ngomong apaan... " Tony menghela napas, ia juga melotot dan berbisik kepada Din, "Gue nggak menyangka lo ninggalin bekas juga di tangan Delia sebanyak itu... "


Din baru menyadari pergelangan tangan Delia ada bekas gigitannya, "****!"


"Kenapa?" tanya Delia penasaran.


Din yang tiba-tiba bertingkah manja bahkan ia tidak malu untuk merebahkan kepala di paha Delia dan membuat Tony pindah tempat duduk, "Biar Tony semakin iri dong."


Tony memperhatikannya tidak sengaja. Awalnya ia fokus melihat jam tangan mahal, kebetulan sang kekasih menginginkan jam yang sama. Begitu Delia menyincingkan lengan kemeja, terlihat jelas. Betapa gila malam pertama mereka.


...****************...


Mereka diantar oleh sopir keluarga menuju bandara. Pertama kalinya ia pergi berdua dengan Din. Jika mengingat masa lalu memang mereka pernah pergi bersama ke Jepang, tentunya dengan Bang Ryan juga. Perjalanan menuju Kopenhagen selama delapan belas jam itu pun terasa dekat.


"Terima kasih," Delia menggenggam tangan suaminya.


"Hmm, terima kasih juga karena membangunkanku saat kita sampai." Din tidur pulas tanpa hambatan.


Lokasi penginapan mereka tidak jauh dari stasiun kereta pusat. Kakak ipar Din yang lebih berpengalaman lah yang melakukan reservasi tiket pesawat hingga penginapan.


"Gila!" Delia terpana begitu sampai di Villa Kopenhagen, tempat mereka menginap selama sepekan. Tentunya ia mengambil beberapa foto.


Din membuka isi koper dan mengambil sweater G*cci kesayangannya. Sebenarnya, ia sudah dua kali datang ke Villa Kopenhagen bersama keluarganya. "Mau jalan-jalan ke taman nggak?"


"Mau dong!" Delia antusias.

__ADS_1


Tujuan pertama mereka adalah taman Tivoli (Tivoli Gardens). Hanya beberapa menit berjalan kaki dari tempat penginapan.


"Wow!" Delia tak berhenti terkejut. Akhirnya ia bisa mengunjungi taman hiburan tertua di dunia (177 tahun), "Bahkan usiaku saja masih 25 tahun tapi taman ini seperti Buyut!"


"Hahaha... " Din tertawa gemas.


Suara tertawa Din memang membuat hati orang yang mendengar ikut berdebar. Buktinya ada dua gadis asing yang mendekat, "Apa Anda adalah idol atau aktor?"


"Bukan, aku cuma orang biasa."


"Aku pikir Anda adalah idol atau aktor karena sangat tampan dan tinggi."


Din yang menerima pujian seperti itu terus tersenyum, "Terima kasih ya. Sayangnya aku ini pria yang sudah menikah."


"Ah, baiklah. Maafkan kami."


Beberapa menit berlalu.


Delia masih sibuk menjempret, tentu sebagian foto akan dikirimkan ke Saras. Tapi pesona Din memang mematikan kalau diperhatikan dari dekat.


"Kamu mau naik Rutschebaren nggak?'' tanyanya.


"Apa itu?"


"Roler coaster tertua di taman ini."


"Boleh."


Pengalaman pertama naik roler coaster tertua memang menakjubkan. Delia yang awalnya ketakutan menjadi ketagihan. Sudah dua kali mereka naik.


"Bagaimana kalau kita ke kafe?" Din kelaparan karena ia melewatkan sarapan dan memilih tidur. "Aku lapar, Sayang."


"Maaf... " Delia merasa menjadi orang egois siang itu. "Aku terlalu asik bermain dan lupa kalau kamu belum sarapan."


"Ayo kita makan sekarang. Kamu memang nggak haus?'' Din memegang tangan Delia dan mengajaknya berlari karena ia sangat lapar.


"Ini pertama kalinya kamu mengajakku berlari, Din. Dulu kita memang sering berpegangan tangan saat bermain bersama. Apa kamu ingat saat kamu menangkap tokek untuk pertama kali? Kamu bilang, aku boleh memiliki apa yang kamu miliki juga... Aku nggak pernah menyangka akan datang hari dimana aku sadar, aku jatuh cinta duluan denganmu." Delia membatin.


Din menggenggam tangannya erat, "Aku benar-benar lapar dan ingin minum es."


"Aku juga," kata Delia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2