Marry Din

Marry Din
Part 14


__ADS_3

Ada banyak istilah untuk menggambarkan perasaan seseorang. Tapi, dia adalah orang yang berbeda. Caranya tersenyum bagai sebuah sinar yang menempis kehampaan. Genggaman tangan yang menyatukan dua perasaan apakah itu kekal seperti senyumnya.


Wanita yang sudah menikah mengalami banyak perubahan emosional. Ia memang tidak sering membawa perasaan dalam ketika berpacaran, tapi saat menjadi istri seseorang, ia mulai tumbuh mengesankan. Sosok yang dulunya hanya gadis manja itu mampu menunjukan bahwa ia menikmati pernikahannya. Memang baru beberapa hari menikah.


"Menikah dengan Din itu seperti nggak nyata." Delia masih bersama Saras setelah mendatangi psikiater. Menghabiskan waktu makan siang di kafe dekat Rumah Sakit Sjarier.


"Bestie... " Saras merangkul Delia. Ia ingin memberikan dukungan. "Semangat ya! Kayaknya emang nggak mudah naklukin Gecko."


"Gecko itu ternyata tipe gue."


"Kalau secara tampang, okelah, dia selevel dengan cowok tampan dari dunia komik. Secara kekayaan, dia jauh lebih kaya dari kita." Saras menghela napas. Tidak ada yang akan menyangkal seberapa kaya Din Sjarier.


"Bahkan di RS Sjarier, nggak ada yang tahu kalau gue itu istrinya Din."


Din tidak tertarik dengan bisnis, manajemen perusahaan dan hal-hal yang membuatnya semakin tertekan. Satu-satunya bidang yang ia tekuni bahkan sering menjadi candaan bagi saudara yang lain. Delia tidak ingin memaksanya untuk bekerja kantoran.


"Terkadang, Din itu misterius."


"Sejak kita sekolah, dia kan yang paling misterius. Masih menjadi misteri juga beberapa kejadian di masa lalu kan?" Saras memegang dahinya, ia tidak mungkin melupakan beberapa kasus aneh yang menyeret nama Din.


Delia tertawa keras.


"Siapa yang nggak enek coba harus datang di acara pembukaan yayasan penyelamatan tokek? Terus yang lebih aneh lagi, dia itu ngasih souvenir kaos gambar tokek. Gue sampai depresi. Bagaimana dengan istri tuan muda?"


Delia tersenyum, ia sedang memikirkan beberapa hal tidak terduga tentang Din. "Din itu hebat banget. Din punya perpustakaan pribadi. Dia suka menyanyi di kamar mandi."


Saras mencubit pipi Delia, "Sebucin itu lo sama Gecko? Padahal dulu impian lo menikahi bule kan?"


Wanita itu termenung. Mulai memikirkan kembali impian konyol di masa lalu. Bahkan, ia menganggap Mark seperti teman baiknya saat ini. Mereka saling menghormati.


"Gue nggak berani bilang."


"Lo takut itu sepihak kan, Del?" Saras memeluk Delia. "Kenapa lo sebaik ini si? Dulu Lucky udah keterlaluan mempermainkan lo padahal. Sekarang malah istrinya sok akrab sama lo. Dia ingat nggak, dia itu dulu selingkuhan."


"Kita nggak boleh mendendam terlalu lama."


Suasana kafe semakin ramai. Pekerja kantoran silih berdatangan, beberapa siswa SMA juga menikmati makan siang dengan nyaman. Delia hendak membayar minuman tambahan untuk Saras.


"Tambah satu lagi boba green tea ya, Kak." Delia melihat sekitar setelah membayar minuman. Ada beberapa orang yang akrab di pandangannya. Salah satunya adalah Rasti.


Rasti dengan kedua temannya terlihat cukup serius. Delia mendekat, ia lalu duduk di belakang mereka. Untungnya ia membawa masker. Untuk melakukan penyamaran.


"Gue batalin S3 karena itu beasiswa dari Sjarier Foundation." Rasti menunduk, ia baru berani menceritakan masalah kepada dua sahabat baiknya. "Mereka sengaja ngasih beasiswa S3 biar gue sama Din putus. Melihat Din dan Delia menikah... Hidup gue hancur banget. Rasanya setengah hidup gue dirampas oleh Delia."


Kedua sahabat Rasti kompak menggenggam tangan Rasti.

__ADS_1


"Padahal Delia nggak tahu apa-apa tentang Din. Gue cuma kasihan sama Din."


Mendengar orang lain membicarakan dirinya dengan bebas tanpa tahu menahu seperti apa rasanya menikahi orang yang belum move on.


Delia berdiri dan mendatangi meja Rasti. Ia tidak ingin mengamuk seperti orang gila. Wanita beretika tidak akan diam saja ketika mantan kekasih suaminya mulai mengusik. "Ternyata dalam ceritamu, aku tetaplah antagonis. Padahal dalam ceritaku kali ini kamu adalah figuran bukan tokoh utama."


Rasti sontak terkejut - dari mana Delia datang dan memiliki keberanian untuk bicara sok. "Din itu nggak semudah yang kamu kira. Menyerahlah sekarang. Kamu nggak mengenali dengan baik lukanya. Kamu itu cuma hiburan dan pemuas nafsunya."


Ia merapatkan jemari, tidak ingin menampar, tapi hatinya seperti tersikut. "Jika aku ada di posisi kamu. Aku nggak akan serendah kamu menganggu honey moon orang yang katanya kamu sangat cintai... "


"Kamu pikir kami nggak pernah melakukan hal yang sama, Del? Kamu juga dapat souvenir dari Amsterdam kan waktu itu? Aha, itu saat kami merayakan hari jadi kami." Rasti tidak ingin mengalah. Din pernah berjanji dengannya di Amsterdam tiga tahun lalu. Tidak akan meninggalkan Rasti meski dijodohkan sekalipun, ia tetap akan menjaga Rasti.


Delia terlihat murung, ia hampir menangis, tapi ia tidak ingin mengalah. "Oh iya? Kamu pernah membuatnya jadi yang istimewa karena pertama. Tapi sayangnya, Din itu tergila-gila dengan istrinya."


Saras telat menyadari keberadaan Delia dan Rasti. Ia bergegas berlari dan membawa Delia pergi sebelum keadaan mulai kacau.


...****************...


Tidak tahan mendengar sahabatnya menangis di mobil. Saras menelepon Din. Tidak butuh waktu lama, Din datang bersama Tony. Hanya sepuluh menit.


"Gue pulang dulu sama Tonton ya!" Saras menyeret Tony.


Tony terpaksa setuju dan pergi mengantar Saras dengan motornya.


Din tidak ingin bertanya duluan, ia hanya duduk menemani Delia yang sedang menangis. Sesuatu yang ia dengar pasti menyakitkan. Meski terlihat kekanakan, Delia memiliki hati lunak.


Ah, dugaannya betul. Mereka bertemu dan terlibat percakapan yang rumit.


"Padahal aku habis dari poli kejiwaan tadi bareng Saras... "


Din terkejut, ia benar tidak tahu menahu kondisi Delia. "Kamu kenapa?"


Delia menunduk, sulit untuk mengungkapkan perasaannya sekarang. Tapi, ia mempunyai sebuah trik untuk membalas perkataan Rasti. "Psikiater bilang... "


Din memeluk Delia, "Kamu kenapa, Sayang?"


Delia menangis histeris. "Aku... "


"Maaf ya, aku nggak peka dengan kondisi kamu. Kamu terlalu terkejut karena pernikahan kita atau kamu terkejut saat bulan madu?'' Din merasa menjadi pria sampah sesaat.


"Dua-duanya," bisik Delia.


"Aku minta maaf karena mantanku mungkin mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Apa masa laluku juga menyakitkan?" Din memeluk Delia erat.


"Duh, mau ke toilet tapi masih susah jalan." Delia menutup wajahnya, ia bermain taktik.

__ADS_1


Din menggendongnya menuju depan toilet. Beberapa orang di area parkir kafe yang melihat ikut terkejut. Mereka mulai berpikir - adegan seperti di dalam drama romantis.


"Nanti aku telfon kamu,'' Delia berbisik.


"Iya.''


Sembari menunggu Delia. Din mengecek ponsel dan menemukan beberapa pesan spam Rasti.


Rasti Andini


Kamu jahat!


Apa maksud kalian peluk-pelukan di dalam mobil? Kamu pikir aku nggak lihat dari sini?!


Kamu super duper tega ya, Din!


Cukup! Aku benar-benar muak dengan kamu dan istrimu!


Pakai acara digendong ala bridal segala! Nggak usah sok jadi suamiable!


Din Sjarier, aku mohon berhenti atau kamu lihat aku nabrakin diri lagi :(


Din tidak membalas. Ia sedang malas untuk menjelaskan apapun. Yang ia prioritaskan adalah Delia, istrinya.


"Loh?" Din terkejut melihat tukang sayur kompleks, Mas Jarot, sedang membawa dua keranjang besar sayur dan buah. "Mas Jarot, nyuplai dapur kafe juga?"


Mas Jarot tertawa. "Udah dari awal kafe ini buka malah, Mas Din."


Delia ke luar. Ia mendapati Din yang sedang ngobrol dengan Mas Jarot. "Sayang, udah nih."


Din langsung membantu Delia, ia menggendong Delia. "Maaf ya Mas Jarot, kami duluan."


Sebagai pria bujangan berusia tiga puluh tahun, Mas Jarot hanya tertawa sopan. "Ah, pengantin baru dimana-mana romantis dan full power. Tapi, please... Jangan pamer di depan tukang sayur bujangan dong!"


Delia menjulurkan lidah, "Wle, makanya nikah!"


Din ikut tertawa, ia tidak menyangka berita pertemanan Delia dan Mas Jarot itu nyata. Pantas sejak dulu mereka sering bercanda lepas. Bahkan Lucky pernah cemburu.


"Kenapa?" tanya Delia.


"Nggak. Kamu ternyata bersahabat juga sama tukang sayur."


"Pas kita resepsian, dia juga kan datang dan bawa hadiah buat aku.


Pria berusia dua puluh lima tahun itu mulai salah tingkah saat sang istri menatapnya dari dekat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2