Marry Din

Marry Din
Part 15


__ADS_3

Acara bulanan keluarga besar Sjarier benar-benar melelahkan. Delia harus mengikuti Oma Aliyah untuk menyapa semua anggota keluarga. Beberapa orang sudah mengenal Delia sebagai teman kecil Din.


"Nggak nyangka, ya? Din menikah sama Delia."


Delia tersenyum tulus. Sesekali, ia melihat perkumpulan anggota keluarga konglomerat berbeda. Tiba-tiba, ia merindukan sang ayah. Jadwal mengajarnya sedang padat tidak dapat ikut serta. Begitu pun dengan sang ibu, perjalanan bisnis ke luar negeri. Bang Ryan juga sedang sibuk melakukan promosi hingga luar kota. Seperti masuk sangkar baru.


Din menyatu dengan beberapa sepupunya. Membicarakan banyak hal mulai dari hobi motor mereka, mobil sport baru yang sedang menjadi incaran. Tentu saja semua orang membicarakan pencapaian. Din memang tersenyum biasa seolah baik-baik saja mendengar omongan selangit mereka.


"Gimana malam pertama kalian? Aha, pasti aneh ya menikahi sahabat sendiri?" Pedro, sepupu Din, tidak hadir dalam acara resepsi karena sedang ujian semester.


Din tertawa kecil, "Haha, nggak bagaimana. Biasa aja."


"Gue yakin lo belum seratus persen move on dari Rasti." Pedro hanya menebak, karena di masa lalu mereka terlihat tidak akan berpisah dengan mudah.


Din menelan ludah, ia sendiri tidak tahu perasaannya. Seperti terbelah menjadi dua. Tapi, saat melihat Oma begitu bahagia bersama Delia. Pasti ada alasan kenapa seseorang disenangi orang lain.


"Delia itu cantik banget. Kadang aku nggak percaya kamu itu anaknya Indra." Ujar Tante Vera.


"Berkah dong, Tan. Hehe." Delia meringis. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia.


Din menarik tangan sang istri. Ia sudah muak dengan perkumpulan berdurasi panjang. Menghabiskan banyak waktu. "Mau pergi nggak?"


"Boleh," jawabnya lirih.


Din mengajak Delia pergi ke garasi terlebih dahulu. Ada beberapa motor, mobil mewah dan sepeda mahal yang berjajar rapi. "Mau naik motor?"


Delia mengangguk.


Din memilih salah satu motor yang cocok untuk berkendara santai, Vespa matic. "Yuk!"


Delia menaiki jok motor. Pengalaman pertamanya berkencan dengan motor dengan suaminya sendiri.


"Terima kasih, ya. Kamu tahu kalau aku mulai bete sama keadaan." Delia menyandar di pundak Din. Ia tidak ingin banyak bicara, hanya menikmati momen.


"Aku juga bete kalau mereka mulai bahas pencapaian."


Delia memegang pinggang Din erat. Merasa takjub karena ini pertama kali pergi naik motor bersama. Meski kenal sejak belia, mereka tidak banyak menghabiskan waktu bersama semenjak remaja.


Motor Din melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa orang di kompleks yang melihat ikut tersenyum. Saat mereka lewat di depan rumah Sultan Andaro pun, orang-orang mulai heboh dan meledek Din. Din tergabung dalam squad sepak bola Andaro bersama mereka.


"Ada pengantin baru kompleks mau lewat, guys! Hahaha!

__ADS_1


"Ngebut dong, Ngab! Jangan sok jadi lelaki lembut!"


"Ciye, Din dan Delia lagi pacaran nih..."


Din berhenti sejenak dan mengacungkan jari tengah beberapa detik, lalu tertawa sebentar.


Motor kembali melaju menuju meninggalkan kerumunan. Delia yang terus tersenyum membuat Din mulai luluh. Kenapa ia tidak menyadari ada seseorang yang sangat cantik ketika tersenyum.


"Aku senang." Delia memeluk Din lalu menyandarkan kepala ke pundak Din. "Terima kasih, Sayang."


Din tersenyum. Ia menyembunyikan bahwa ada perasaan aneh yang sejak tadi mulai ia rasakan. Seperti ada ledakan balon saat melihatnya tersenyum. Ada juga perasaan bahagia yang tidak biasa saat ia memeluk erat sambil memuji momen.


Mereka tidak memiliki tujuan pergi. Hanya menghabiskan waktu memutari jalanan kota yang ramai.


...****************...


Delia memutuskan untuk menginap di rumahnya sendiri. Sudah beberapa hari tinggal di rumah suami. Rasa rindu memuncak kepada keluarganya.


"Dor!" Bang Ryan mencoba mengagetkan Delia.


Sayangnya, Delia tidak terkejut. Ia sudah hafal pola dan ulah berulang sang kakak. "Bang, stop deh."


"Del, makasih buat oleh-olehnya. Gue sama Inez sangat berterima kasih loh ini." Bang Ryan tersenyum lebar.


"Loh gimana si?! Masa pengantin baru udah pisah ranjang begini?" Bang Ryan heran, ia mulai kepo. "Apa kalian berantem? Kalian udah malam pertama kan?"


Delia memoyongkan bibirnya, "Lagi kangen kamar Ibu Peri... "


"Kangen orang rumah kan? Papa dan Mama juga kepikiran banget tapi mereka juga sibuk cari nafkah."


Delia memukul kaki Bang Ryan dengan bantal sofa.


Bang Ryan tidak diam saja, ia membalas pukulan bertubi-tubi. "Haha, gue nggak peduli, lo itu tetap adek gue. Cuma gue yang boleh menindas adek sendiri."


Delia pun tertawa, terkadang hubungan kakak-adik naik turun, tapi Bang Ryan selalu menyanyanginya. Bahkan saat resepsi pernikahan, bukan Papa yang histeris menangis melainkan dirinya.


"Ya udah, Del. Gue harus lembur sekarang. Jangan tidur di sofa ruang tengah loh!" Bang Ryan menyeringai, memperingatkan.


"Oke," ucap Delia.


Setelah mandi, ia membuka lemari dan memilah beberapa setel baju untuk dibawa ke rumah Din.Ia juga membeli baju tidur pasangan diam-diam.

__ADS_1


Ponselnya bergetar, ada notifikasi baru. Transfer dari Din Sjarier ke rekeningnya dengan nominal yang mengejutkan. Dua puluh juta rupiah. Mereka baru menikah empat belas hari. Din sudah memberikan uang bulanan.


"Aku janji akan berikan lebih banyak lagi saat bekerja di kantor Om Reno."


Delia meneteskan air mata ketika membaca pesan menyentuh dari Din. Selain harus merelakan putus dari Rasti, ia juga tampaknya akan mulai bekerja di kantor sang paman. Bagaimanapun, Din adalah salah satu kandidat pewaris Equestrian Sjarier. Mengikuti jejak sang paman.


"Terima kasih, Sayang," gumamnya.


Tengah malam.


Delia turun dari lantai dua, ia belum bisa tidur. Saat menuruni anak tangga, ia menyadari seseorang tengah tertidur pulas sambil memegang ponselnya. TV pun masih menyala.


"Sayang, bangun," Delia berbisik di telinga Din.


Din tidak bergeming.


Ponselnya masih menyala dan tidak dikunci. Delia awalnya tidak berniat lancang membuka ponsel sang suami. Tapi, seseorang pernah memberinya nasihat. Sesekali cobalah untuk membuka kotak pandora. Siapa tahu ada kejutan.


Ada pesan-pesan mengejutkan dari seseorang yang ia sudah sangka.


Rasti Andini


Makasih, Dinku.


Aku senang banget bisa ketemu kamu meski cuma sebentar.


Aku akan menunggu kamu sampai kamu bosan dengan dia. Delia cuma pemuas nafsumu kan?


Delia terdiam dan mulai berpikir. Wanita menyeramkan ini tidak mudah dikalahkan dan tidak lekas sadar diri. Alih-alih berderai air mata dan mengungkapkan suara hati sebagai seorang istri tersakiti, ia melakukan hal lain. Hal yang lebih mengejutkan dari perkiraan Rasti.


"Kamu salah pilih lawan."


Din terlelap dalam pangkuan Delia.


Di tempat yang berbeda.


Rasti tidak mengira Din akan mengirimkan salah satu foto bulan madu mereka. Din mencium leher Delia dengan cara indah, kedua tangannya bergelantungan bebas menguasai tubuhnya. Mengejutkan bagi orang yang terpaksa menikah begitu menikmatinya.


Rasti tersungkur, pandangannya mulai kabur. Ia hanya berharap bukan Din yang sengaja mengirim foto. Sudah jelas Delia yang mengambil foto.


"Deliana Iristi Indra."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2