Marry Din

Marry Din
Part 29


__ADS_3

"Siapa yang menyakitimu?" tanyanya dengan gigih.


"Kamu,'' jawab Din asal.


Delia bermaksud ingin menghibur Din dengan datang ke ruang persembunyian malah ia teralihkan dengan banyak foto. Foto-foto yang diambil Din sejak balita hingga dewasa bersama binatang peliharaan.


"Imutnya... Lucunya... Gantengnya... " Delia terus memuji. Ia tidak bisa berhenti gemas dengan sosok Din kecil yang terlihat seperti pangeran.


Din bukanlah orang tidak peka, ia juga terkadang malu jika dipuji secara terbuka.


"Aku bawain camilan tengah malam, nih," Delia membawa dua kotak makanan yang terdiri dari roti gulung isi buah dan salad sayur.


Din langsung membuka kotak makan, "Kamu bikin tadi?"


"Iya, hehehe."


Din langsung menyantap habis roti gulung isi buah dalam beberapa detik saja, "Terima kasih, Istriku."


Melihat ekspresi wajahnya puas membuat Delia tersenyum lebar. Tidak disangka, menu dadakan selalu menjadi pemenang.


"Kamu mau menginap di sini?" tanya Din dengan serius, ia juga sedang melihat sekeliling apakah ada selimut baru.


"Iya, kalau boleh... " Delia agak malu untuk menatap Din. Suasana rumah utama memang kurang kondusif semenjak Digo, kakak Din pulang.


Ruang persembunyian Din bukanlah tempat tidak terawat. Setiap hari, asisten rumah membersihkan dan memberi makan hewan peliharaan. Hewan peliharaan dipisahkan dalam ruangan terpisah dengan ruangan pribadinya.


"Agak berantakan ya?" Din masih sibuk menata kertas berserakan di meja kerja.


"Aku suka."


"Tapi, ini agak berantakan."


Delia beranjak dari duduk nyamannya lalu berdiri di belakang Din. Mengamati bayangan mereka dari cermin, "Aku sangat menyukai kita."


"Iya," ucap Din sembari memperhatikan raut wajah Delia. Tampak malu dan memerah.


"Tapi, suamiku, dia nggak pernah bilang dia mencintaiku, Dylan. Aku harus bagaimana?"


Din berbalik badan dan menatap Delia, "Apa aku belum pernah bilang?"


Delia mengangguk, "Aku belum dengar."


"Aku cinta kamu, Delia," bisik Din.


Wanita itu tersenyum puas. Salah satu tujuannya tercapai, membuat suaminya jatuh cinta.


"Kamu juga berhasil menaklukanku."


Delia memberinya pelukan, "Terima kasih, Sayangku."


Mungkin karena terbiasa, perasaan cinta tumbuh dengan alami. Sama seperti saat memeluk Din, ia tidak akan terima hanya dengan sebuah pelukan. Tangannya akan menjelajahi bebas tubuh Delia terkadang membuatnya hampir gila. Din juga tidak mengerti, pertama kali bagi dirinya sekurang ajar ini hanya di depan Delia.


"Kata orang yang sudah menikah ini gestur alami pasangan suami-istri."

__ADS_1


"Bapak-bapak futsal itu pasti, ya?" tanya Delia setengah frustasi. Mereka memang racun terbaik.


"Yups!" jawab Din. Ia banyak belajar dari orang yang sudah senior tentang pernikahan. Bahkan ada yang menasehatinya untuk tidak menunda malam pertama, meskipun hati masih terpaut mantan. "Jadi mau bulan madu lagi. Kira-kira kapan?"


Delia harus menyesuaikan dengan jadwal datang bulan. Teringat malam dimana ia datang bulan, tepat tengah malam. "Aku masih merasa bersalah pas datang bulan."


"Why?"


Delia memegang wajah suaminya, "Aku masih merasa bersalah, loh."


Din tertawa gemas, "Haha, nggak papa. It's enough, Babe."


"Maafin aku, Sayang."


Din yang sedang ******* bibir sang istri tiba-tiba dihentikan oleh keadaan, ia melihat bercak darah saat Delia merangkak naik ke tubuhnya. "Itu... Ada darah di belakang."


Delia langsung berlari menuju kamar mandi, ia mencari pembalut terlebih dahulu. Sial, ia lupa berada di rumah Din.


"Sayang, bisa ke sini sebentar?" tanya Delia.


Din langsung datang, "Ada apa? Kenapa? Sakit, ya? Kamu butuh bantuan?"


"Tolong beli pembalut sekarang." Delia menatap sendu Din, "Aku lupa belum beli."


Sebelum beranjak pergi. Din membersihkan noda darah di ranjang terlebih dahulu agar istrinya tidak merasa semakin bersalah. "Ini pertama kalinya."


Jarak Andaromart tidak terlalu jauh. Hanya beberapa langkah. Kebetulan sekali bertemu dengan seseorang yang heboh di pagi hari.


"Susu kalengan yang ungu abis, Bang?" tanya Lucky. "Kardus juga nggak papa deh. Asal anak gue tenang jam segini."


"Hahaha!" Lucky tertawa melihat isi keranjang Din.


"Apaan, lo?" tanya Din sambil melirik sinis.


"Jadi budak istri jam segini. Bagaimana rasanya, Pak Din?" Lucky masih tertawa saat melihat aneka pembalut wanita.


"Ketawa lo agak cabul."


"Cabulan lo yang beli banyak pembalut."


Selesai membayar, Lucky permisi dan masih tertawa melihat ekspresi Din. "Hahaha! Dia masih pakai baju tidur beli pembalut, kocak."


Sepuluh menit kemudian. Din menyerahkan seplastik pembalut kepada Delia. "Aku asal comot! Jangan ketawa, ya. Tadi Lucky sampai ngetawain aku."


"Terima kasih, Sayangku. Tunggu lima menitan ya." Delia juga menahan tawa. Ini pertama kali baginya menyuruh Din Sjarier.


"Hampir aja gue ngabrut! Dia imut banget, sumpah!" gumam Delia pelan.


...****************...


"Ton, bisa anter makanan nggak? Apa aja deh, asal jangan ayam geprek."


Begitu mendapat pesan bantuan, Tony sigap. Ia langsung meminta Mbak Ipeh, sang asisten rumah untuk memasak sesuatu.

__ADS_1


"Buat siapa ini?" ledek Mbak Ipeh.


"Saras, si beban hidup."


Tony tahu pekerjaan Saras sebagai penulis novel aplikasi, tapi anehnya ia tidak tahu nama pena Saras. Setiap kali ditanya ia mendapatkan jawaban sama.


"Novel gue tentang fantasi."


"Ah, oke."


Sejak dulu mereka sudah saling mengenal. Tony sering datang ke rumah Din, sementara Saras sering sekali ke rumah Delia. Anehnya, ia selalu dimintai tolong setiap kali kelaparan.


"Ton gue laper. Bisa anterin makanan nggak ke rumah Delia? Apa aja selain bakso."


Gadis menyebalkan itu selalu memberikan kode makanan. Yang lebih aneh, ia sedang bersama sang ahli memasak, tetapi masih membebani Tony.


"Lo minta dimasakin Delia, bisa kan?"


"Nggak bisa. Delia lagi nggak mood bergerak."


Begitu Tony datang dengan due ember ayam goreng, ia menemukan dua orang gadis yang sedang rebahan dan tertawa keras karena menonton acara komedi Netplix.


"Nyaring banget ketawa kalian."


"Tony datang!" Saras langsung bergerak meraih ayam goreng edisi spesial, "Mantap!"


"Makasih ya, Ton," ucap Delia sopan. "Lo emang bisa diandelin, beda dengan seseorang."


"Ah, nggak ada lain kali lagi."


"Gue kasih lo tiket nonton konser K-Pop." Saras tidak melupakan jasa baik Tony selama ini. "Ini adalah balas budi gue, Ton."


"Okay."


Ternyata memang bagian dari rencana mereka. Delia dan Saras membuatnya bergabung dalam satu fandom penggemar girl group.


"Ah, ****!" Tony semakin sebal dengan fakta ia meninggalkan acara motor demi nonton konser girl group.


"Lo, dimana?" Din meneleponnya saat suasana tribun semakin gaduh.


"Yang semangat dong, Ton!" suara teriakan Saras begitu jelas.


"Tunjukan jiwa fans sejati!" tambah Delia.


"Lo lagi sama Delia, ya?" tanya Din, "Nonton konser K-Pop?"


Tony berdiri di antara para gadis berkaos pink. Ia hanya mengikuti ritme dan terus tersenyum. Betapa indahnya menyatu dalam lautan manusia.


"Jennie!" teriak para penonton.


Perhatian Tony teralihkan. Tidak ada yang salah dengan keputusannya. Tony tiba-tiba bersemangat dan ikut berteriak seperti fans fanatik.


"Jennie, my precious... "

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2