Marry Din

Marry Din
Part 39


__ADS_3

Saat hujan turun di pertengahan siang. Bumi menjadi basah, daun-daun mungkin merasa lebih gagah. Hujan kala itu, mungkin sudah menjadi kenangan bagi seseorang.


"Mas Donny," ucap Lady dalam batin.


Dua kali melihat mantan suaminya makan malam di tempat yang sama. Setiap kali melihat mantan suami, istri baru dan anak bungsu mereka membuat Lady terisak.


"Bagaimana dengan Din? Apa kamu juga sering mengajaknya makan malam?"


Digo maupun Dina tidak menyukai kehadiran Lady. Mereka tidak pernah sopan ataupun menyapa duluan.


"Bu!" Asisten Lady, Mema memanggilnya.


Lady mencubit tangan Mema. Seharusnya lamunan tadi tidak membuat fokus kacau. Tetapi, setiap melihat Donny Sjarier, ia selalu kacau. Pria berusia lima puluh tahun seharusnya tidak setampan dirinya. "Sial!"


"Masih memikirkan ayahnya Din?" tanya Mema asal.


"Dia masih setampan itu ternyata."


Mema hanya mendengar kisah cinta yang lumayan dramatis atasannya. Seorang perempuan keluarga terpandang yang hampir dibuang.


"Faktanya, aku tetap mencintainya." Lady masih menyimpan foto pernikahan mendadak mereka. Raut wajah mertuanya saat itu tidak terlalu sumringah. Berbeda dengan saat ia tersenyum lebar di pernikahan Din.


"Tapi, bukankah kalian masih dalam ikatan pernikahan secara agama?" tanya Mema. Ia hanya ingat pria itu pernah datang ke rumah Lady tengah malam.


Lady hanya tertawa. Mengingat kejadian di masa lalu. Dimana, ia hanya bertugas melahirkan Din. Tapi dalam kartu keluarga, Almira adalah ibu yang diakui secara negara.


"Cukup lahirkan anak ini dan bersembunyilah dengan tenang sambil menyelesaikan kuliahmu yang tertunda." Ny. Aliyah, ibu mertua Lady, tidak pernah menyukainya.


"Baik... " Lady hanya menurut.


"Ibu yang akan urus semuanya.''


"Terima kasih, Bu.''


Meski terlihat elegan, mertuanya adalah sosok tegas. Ia sangat kecewa dengan fakta anak tersayangnya melakukan hal yang tidak bermoral.


"Mas Donny... '' setiap malam sebelum tidur, Lady hanya melihat punggung lelaki itu. Tidak ada pelukan atau kecupan mesra.


Pernah suatu hari, Donny menjemputnya usai kelas ibu hamil. Tidak banyak percakapan terjadi. Tetapi, ia mengajak makan malam.


"Apa ini, Mas?" Lady terkejut mengetahui hadiah kecil yang Donny siapkan di meja. "Cincin berlian."


"Selamat ulang tahun, Lad.''


Lady pun menangis. Ia hanya sedang berpikir ini mimpi dan sulit menjadi kenyataan. "Aku pikir ini cuma ada dalam imajinasi atau mimpi."


Donny memegangi tangan Lady, "Selamat bertambah usia. Semoga panjang umur dan sehat selalu."


"Makasih, Mas," Lady reflek mencium pipi Donny.

__ADS_1


Ada satu kalimat indah lain yang masih sulit Lady binasakan dari ingatannya. Ketika ia selesai melahirkan Din. Dokter dan perawat memberitahu bahwa proses lahiran berjalan normal dan termasuk cepat.


"Terima kasih, Sayang. Kamu udah bekerja keras. Terima kasih juga anakku, kamu lahir ke dunia."


Lady hanya tersenyum kala itu. Menikmati pemandangan indah -- Donny menggendong Din dengan hati-hati.


Hanya tiga bulan ia menikmati momen bahagia bersama Donny dan Din. Pihak keluarga Sjarier telah memilih Almira untuk menjadi istri sah. Bukan dirinya.


"Ibu akan menjamin keluargamu nggak macam-macam lagi." Janji ibu mertua juga menggiurkan meski ia akan menerima konsekuensi besar di masa depan.


"Lalu, kenapa Pak Donny Sjarier datang tengah malam saat itu?" Mema masih penasaran.


"Dia datang untuk mengabari pernikahan Din lalu tidur."


"Wow! Apa Bu Almira tahu?"


"Mungkin dia yang lebih tahu."


Lady menyudahi makan malam dan mengalihkan topik. Ia mengajak Mema untuk belanja beberapa baju baru.


"Bajumu udah lusuh tuh," ledek Lady.


"Ibu paling pengertian, deh."


"Hahaha."


...****************...


"Pulang lo!" ancam Tony melalui pesan suara hampir setiap pagi.


"Lo udah punya pacar masih suka gangguin orang bulan madu." Din membalasnya dengan hati tenang. Biasanya, ia akan lebih mengomel.


Berkat pekerja baru yang membantu mengurus hewan peliharaan, Din semakin tenang ketika berjauhan dengan hewan-hewan peliharaannya. Setiap siang ia akan video call untuk mengecek detail.


"Bruno... Papa kangen kamu... " ucap Din gemas melihat video kucingnya.


Sementara dua orang di depan Din sedang sibuk berunding, Delia dan Mas Jarot. Mereka sedang mengubah siasat untuk lomba memasak kilat yang akan dilaksanakan tingkat desa.


"Masak kilat cuma 17 menit, pokoknya kita harus menang sebagai perwakilan RT."


"Gimana kalau bikin ayam teriyaki?" Delia memiliki banyak ide, tetapi ia sedang dilanda galau. "Atau bikin gebrakan baru?"


"Terong crispy yummy yummy!" ucap Mas Jarot semangat, "Ini adalah resep yang dulu aku bagikan dengan kalian!"


"Ah, Saras sering bikin ini tapi masakan dia enggak enak, wlee..." Delia pernah menyicipi masakan Saras dan rasanya ia menyesal.


Dua orang itu saling tatap, perasaan sesama korban.


"I feel you... "

__ADS_1


Mas Jarot pun pergi. Ia sudah memiliki janji dengan sang adik untuk pergi ke bengkel motor.


Din menahan Delia yang akan beranjak pergi dari teras. Dengan tidak tahu malu, ia justru menyandarkan kepalanya di paha Delia. "Sebentar, ya?"


"Kamu mengantuk?" tanya Delia sambil mengusap puncak kepala Din. "Apa yang menganggu kamu akhir-akhir ini, Sayang?''


"Apa ya?" Din mengalihkan topik. Ia tahu Delia akan cemas. Belum lagi, Delia pernah mendapat teror. "Sekarang, aku lagi menikmati momen kita."


"Ah, gombal," katanya.


"Kamu tau Del, aku benar-benar udah jatuh cinta."


"Sama siapa?"


"Kamu!" jawab tegas Din.


Delia tertawa geli.


"Ada yang bilang menikahi orang yang kita cintai itu indah, tapi mencintai orang yang kita cintai itu hal terbaik." Din mendapat nasihat dari seseorang saat acara resepsi pernikahan. Ia akan selalu ingat nasihat baik.


"Thank you," kata Delia sembari menutup wajahnya yang memerah. "Ini kaya pengakuan cinta."


"I love you, Delia." Din berbalik menatap Delia, ia terus memperhatikan wajah elok setengah malu. "Jangan bosan denganku."


Delia memeluk Din agresif, "Nggak akan!"


"Jangan meragukan suami kamu," Din menggodanya. "Jangan juga cemberut seperti anak TK."


Bibir Delia menyentuh bibirnya. Terasa lembut dan lucu. "Kamu lagi ngapain?"


"Menyegel milikku."


"Aku resmi disegel, dong?" Din menatapnya serius.


"Ya!" jawabnya.


Din merangkul Delia dan membawanya untuk berjalan-jalan di halaman belakang rumah. Terlihat hamparan sawah hijau.


"Angin sore semakin dingin." Din menikmati angin sore segar sambil memejamkan mata. "Kamu tetap ada di sisiku."


Delia terus tersenyum. Hanya dengan berdiri sambil berpegangan tangan dengan Din, semua menjadi lebih baik. Ganjalan di hatinya pun menghilang. Tidak ada yang perlu diragukan lagi.


"Saat membuka mata, cuma ada aku."


Din membuka matanya perlahan. Benar, hanya ada Delia. Sejak dahulu, setiap kali menikmati angin sore yang dingin. Dia selalu ada di dekat Din.


"Terima kasih atas kehadiran kamu."


"Sama-sama," jawab Delia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2