Marry Din

Marry Din
Part 37


__ADS_3

Hari ketiga liburan di kampung halaman Mas Jarot.


Delia mengamati kegiatan sehari-hari para ibu rumah tangga. Kebanyakan dari mereka mulai belanja ke warung sayur setengah enam pagi. Sambil memilih sayuran segar, mereka saling sapa dan mengobrol bebas. Tidak ada topik berat yang ia dengar.


"Mbak ini yang temennya Jarot, kan?" tanya pemilik warung.


Delia mengangguk, ia lalu tersenyum sopan. "Iya benar, Bu."


"Cantik banget Mbak Delia ternyata. Aku pikir dulu Jarot bohongan punya teman-teman kaya dan cantik di kompleks Andaro."


"Hehehe... " Delia meringis, ia juga tidak menyangka disambut dengan ramah oleh tetangga Mas Jarot.


"Mbak Delia datang sama suami, ya?"


"Iya, Bu. Laki-laki yang kemarin ke sawah sama saya itu suami saya. Hehehe... "


"Wah, beruntung banget lihat pasangan serasi. Yang cowoknya ganteng banget, yang cewek juga sangat cantik."


"Hehehe... "


Pulang dari warung, Delia masih merenges. Ia suka mendengar pujian bahwa mereka adalah pasangan serasi. Masak pun ia sambil tersenyum-seyum.


"Kenapa?" tanya Din. Ia hendak mengambil gelas, namun melihat Delia terus tersenyum lebar, "Apa yang merasukimu, wahai istriku?"


Delia mengabaikan pertanyaan Din. Ia lanjut masak.


"Kamu lagi kenapa?" tanya Din lagi.


"Nggak kenapa, hehehe."


Aneh. Melihat gelagat Delia, Din merasa ia harus mendekap sang istri sebelum kewarasannya pudar. "Hap! Menghilang lah wahai roh-roh jahat!"


Perempuan itu tertawa. Tidak disangka, kecemasan berlebihan Din tampak imut. "Hahaha. Kamu lebay banget, Sayang."


"Nggak! Aku lagi was-was banget padahal."


"Aku lagi masak. Jangan dipeluk dari belakang." Delia agak terganggu karena geraknya terbatas. "Tolong lepas pelukanmu, Sayang."


"Nggak mau!"


Delia mematikan kompor, ia berbalik lalu menatap sang suami.


Setelah sarapan.


Din menatap langit biru. Indah. Ada kedamaian yang baru ia rasakan setelah sekian lama. Ternyata ide liburan di desa bukanlah hal buruk. Banyak ide muncul ketika ia memejamkan mata. Bukan hanya, ide untuk menulis. Tentang keputusan berat yang harus ia ambil; melepaskan Revo atau ikut campur.


Suara sapu gemelitik sapu lidi yang mengusik suasana. Gerakan-gerakan kaku Delia yang memagang sapu lidi membuat Din tertawa. Banyak hal baik terjadi dalam hubungan mereka akhir-akhir ini.


Ia menjepret beberapa foto Delia sedang menyapu halaman dan mengunggahnya di instagram. "My only one... "

__ADS_1


Din beranjak dari duduk nyaman. Langkahnya lebih cepat menuju ke tempat Delia. Seorang perempuan berisik yang mulai mengusik hati Din akhir-akhir ini.


"Sapunya kaya milik Harry Potter," katanya dengan raut wajah gembira.


Din hanya tersenyum.


"Kamu duduk lagi sana," Delia mendorong tubuh lelakinya. "Jangan berkeliaran di halaman."


"Aku baru pertama kali melihat orang menyapu halaman tapi berisik."


Delia menaruh sapu lidi. "Ini pengalaman kedua menyapu halaman. Dulu, saat kita ikut perkemahana kan juga membersihkan jalanan."


Apa nama perasaan yang membuat seseorang dengan cepat berubah? Cinta? Mungkin betul. Cinta itu datang tanpa memberi aba-aba. Bahkan, bisa datang di antara hubungan persahabatan. Setelah dipikirkan kembali, Delia adalah sahabat sejak ia kecil. Sebelum mengenal Tony dan orang-orang bengkel, hanya dia -- Delia.


"Kenapa akhir-akhir ini, aku terus memikirkan kamu."


"Halah ini pasti gombalan," Delia hanya menanggapi dengan enteng.


"Beneran!" ucap Din tegas. Ia ingin membuktikan bahwa hanya Delia satu-satunya perempuan yang ia cintai saat ini.


...****************...


"Kamu itu sampah hidup!"


Din membaca lagi pesan teror yang kembali masuk. Seperti biasa, ia tidak ingin menanggapi teror lagi. Fokusnya saat ini hanya menghabiskan waktu bersama istri. Tidak peduli bagaimana orang itu mengobrak-abrik mental Din. Ia ingin diam sementara.


"DIN!" suara teriakan Delia membuat Din panik dan berlari menuju ruang tamu.


"Tada!" Delia menunjukan seragam SMA, "Ini dari keponakan Mas Jarot yang baru lulus tahun ini."


Ah, Din ingat sesuatu. Akan diadakan karnaval di kampung demi memperingati Hari Kemerdekaan. Semua warga, tidak peduli pendatang atau pelancong diminta ikut berpartisipasi. Kostum sudah ditentukan.


"RT Mas Jarot dapat tema back to school!" Delia begitu antusias. Ini pengalaman pertama ikut karnaval. "Mas Jarot udah minjemin seragam STM milik adiknya buat kamu, Sayang."


Din menggeleng, ingin menolak tapi hati tidak enak. Terpaksa. "Oke, aku cobain."


Beberapa menit kemudian. Mereka takjub satu sama lain. Din melihat Delia dengan seragam SMA kembali, seperti de javu di masa lalu. Apalagi Delia menata rambutnya ala anak hits SMA.


"Wow!" Din sampai melotot tidak percaya.


Delia berputar di sekitar Din, "Hei, Kakak Kelas."


"Kamu lagi meledekku?" tanyanya dengan gelisah.


Mereka tidak lupa mengambil foto selfie. Din yang memeluknya dari belakang sambil mengenakan kaca mata. Seperti parodi adegan komik romantis remaja.


"Kamu terlalu ganteng... "


Din mencubit pipi Delia, "Kak Din, panggil gitu dong, Sayang."

__ADS_1


Seperti terhipnotis, Delia menurut. "Kak Din, selamat atas kelulusannya yak!"


Din menatap lembut Delia, ia juga memberi pelukan penuh kasih sayang. "Terima kasih, Dek."


"Tapi masa anak STM pakai kaos Balenci*aga gini?" sindir Delia.


Din hanya memadukan style sesuai dengan dirinya. Saat SMA, ia juga mengenakan sepatu Jord*n seharga puluhan juta belum lagi kaos-kaos branded mencolok ; Balenci*aga, L*V, Guc*ci, Stus*sy dan Balma*in.


"Kamu seperti tokoh utama komik, Sayang," ucap Delia. Wajahnya memerah setiap kali bertatapan lama dengan Din. Meski sudah menikah, tetapi ia masih malu.


"Kamu ngomongnya sambil malu-malu?'' Din merasa senang menggoda Delia, "Padahal kita di level udah nggak bisa malu lagi."


Mendengar ucapan Din, Delia semakin malu.


Terbesit sebuah ide gila Din. Ia meminjam motor adik Mas Jarot dan membawa Delia pergi keliling kota. Mereka masih mengenakan seragam sekolah dan hanya ditutupi jaket (Din) dan cardigan (Delia).


"Pegangan yang erat!" ucap Din lantang.


"Oke, Bos!"


Baru beberapa menit melaju. Ada segerombolan anak-anak dengan seragam berbeda mencegat motor Din.


"Turun lo, anak STM Bakti!" katanya.


Din menurut, kebetulan ia masih memakai masker. "Ada apa ya?"


"Bilangin ke Tomket, si penguasa STM Bakti itu buat mundur dari kompetisi balap sepeda bulan ini."


Dari lima orang yang menghadang, tiga diantara mereka sedang berdiskusi siapa sosok yang mereka hadang. Tubuhnya tinggi, baju yang dikenakan berbeda dari standar anak STM.


"Bro, dia pakai Jord*an asli," bisik salah satu.


"Mohon maaf tapi anak STM Bakti kan nggak ada yang setajir Bima."


"Tapi ini beneran kok motornya Rangga, lihat aja stiker motornya. Tapi... Rangga emang ceweknya spek bidadari gini?"


Mereka saling tatap.


Din mulai paham situasi. Ia merangkul dua orang yang tidak ia kenal itu, "Rangga ada di rumah lagi nonton TV tuh."


"Nah, kalian salah target," ucap Delia.


Ingin tertawa tapi malu. Lima orang itu hanya bisa minta maaf sembari menutupi kebodohan mereka.


"Sumpah, orang tadi pakai sepatu yang harganya dua belas jutaan Bro! Belum lagi jaketnya, gue ngecek nih di google."


"Wow, saudaranya si Rangga tajir dan pemberani."


"Wow... "

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2