Marry Din

Marry Din
Part 21


__ADS_3

Delia lupa sesuatu. Semenjak mempersiapkan pernikahan, bulan madu dan beradaptasi menjadi istri Din Sjarier, ia melupakan undangan khusus menjadi pendamping pengantin wanita (Bridesmaid).


"Gawat!" Delia histeris, ia melupakan kotak pemberian Riri, gaun yang harus dipakai saat acara pernikahan berlangsung.


"Nggak usah panik." Saras datang di waktu yang tepat, ia membawa gaun Delia. "Waktu itu lo nitipin ke gue, Del. Ingat jaman lo nangis karena mau menikah, nggak?"


"Ras... " Delia memeluk erat Saras, "Kalau gaun ini sampai hilang, mampus, Riri bakalan ngambek banget sebulan."


"Cup, cup, cup," Saras menabok pantat Delia tapi ia berhenti karena seseorang menatapnya sinis. "Ada mas-mas pakai kacamata mahal menatap sengit."


Delia melirik ke arah Din. Ya, Din sedang duduk di ruang yang sama sembari mengetik beberapa naskah editan.


"Kita berangkat nanti malam ke hotel. Riri udah nelfonin gue melulu, Del."


Riri adalah salah satu teman kuliah saat mereka S2. Ia merasa kesal karena Delia mendahuluinya menikah. Kalau sampai mereka tidak datang, kemungkinan ia berani memenggal salah satu.


"Lo harus tahu seberapa sadis, Riri. Gue yang males banget terpaksa datang ke acara ginian." Saras menunduk, ia membaca ulang pesan Riri, "Guys, jangan lupa ya. Gue mau menikah. Ingat, yang nggak datang jadi bridesmaid, gue tumbalin kalian. Dadah. Tertanda, Riri cantik."


"Gue lebih takut dengan fakta rumah dia banyak reptil buas," imbuh Delia.


Saras memeluk Delia lagi, mereka berpelukan sebentar dan ia sadar harus segera ke luar dari rumah sahabatnya. Ia berjalan cepat, "Din terlalu seram! Cabut dulu!"


Din menutup laptop, ia berpindah tempat duduk. "Kamu mau minta ijin?"


Delia mengangguk pelan, "Boleh, nggak?"


"Boleh. Pokoknya cuma semalam. Habis acara, aku jemput kamu."


"Yeah!" Delia memeluk Din, "Makasih, Sayang."


"Aku malas makan siang."


Ia melupakan sesuatu. Din yang terlihat keren, elegan dan mahal ini masih memiliki sisi yang tidak biasa. Ia tidak pernah mengambil makanan sendiri. Bukan hal tabu. Para ART rumahnya sampai heran. Benar-benar seperti seorang tuan muda.


"Kamu berhenti disuapi Tante Almira sampai usia berapa?" Delia tidak enak tapi ia harus membasmi rasa penasarannya sejak lama.


"Mungkin awal kuliah." Din mengatakannya seperti hal yang normal, "Kalau Mami nggak di rumah, ya, dia nggak nyuapin aku."


"Apa orang-orang di bengkel tahu?'' tanya Delia lagi.


"Kecuali Tony, aku pikir nggak ada."


Ah, Delia paham kenapa Tony sangat benci diajak makan bersama Din. Dia seperti seorang kakak yang harus mengambilkan adiknya makanan.

__ADS_1


"Nih,'' Delia mulai menyuapi Din. Satu sendok nasi merah dan ayam panggang madu. "Enak, nggak?"


"Ini enak banget, Sayang. Hehehe."


"Coba bilang aem," Delia iseng.


"Dilarang banyak bicara saat makan." Din menolak untuk menurutinya.


Dari lantai dua, Bang Ryan melihatnya bersama sang tunangan, Kak Inez. "Itu beneran, Din?"


Kak Inez mengangguk setuju, "Ternyata rumor cucu bungsu konglomerat Andaro yang sangat manja itu benar."


"Beb, kamu harus suapin aku juga dong mulai hari ini kalau kita lagi makan bareng." Bang Ryan ingin merasakan hal yang sama.


Kak Inez menutupi mulut Bang Ryan dengan telapak tangannya, "Hadeh, dasar bocah!"


Bang Ryan menggenggam tangan Kak Inez dengan wajah berkaca, "Kamu terlalu capek di butik sampai lupa kalau wanita cantik sepertimu harus juga belajar menyuapi calon suami."


Kak Inez tertawa riang. Lelah yang ia rasakan sejak awal bulan perlahan lenyap berkat gurauannya. Cinta selalu saja mampu menciptakan rasa nyaman bahkan di saat suasana sekitarnya mulai tidak nyaman.


...****************...


Saras menjemput Delia pukul delapan malam. Sudah ada Din yang masih setengah hati meleoas sang istri untuk pergi.


Din menarik koper Delia, ia sebenarnya tidak ingin ditinggal malam ini. "Aku... "


Delia menebar senyum, ia menarik kembali koper dan memasukannya ke bagasi mobil Saras. Padahal sore tadi sang suami begitu bijaksana dan tidak merengek.


"Din, gue sama Delia pergi karena udah janji. Kalau sampai malam ini kita nggak datang apalagi besok, kepala kita bisa dipenggal."


"Dadah, Sayang," Delia mencium pipi kanan Din. "Kamu main sama Tony, sana."


Mobil Saras melaju sedang. Din melepas kepergian sang istri dengan wajah cemberut. Tiba-tiba, ia jadi malas melakukan apapun. Ajakan Tony untuk kumpul di bengkel pun ia tolak.


"Nggak asik banget lo, Din!" Tony tiba-tiba sudah ada di depan Din. "Gue tuh tadi nungguin lo di rumah Aa Sultan."


Din menatapnya hampa, ia menyandarkan kepala ke sofa. Tatapan kesepian yang menusuk. "Malam ini gue merasa sedih, Tony. Gue hargai effort lo buat menghibur gue."


Tony menatapnya jijik, "Lo mulai ugal-ugalan dalam mencintai Delia, kan?"


Lelaki itu terus menatap ponsel, berharap ada pesan baru dari sang istri. "Udah beberapa jam... "


"Ya elah, Delia lagi asik sama teman-temannya lah. Jangan jadi suami posesif. Wajah lo nggak pas soalnya!"

__ADS_1


Din tertawa keras, "Ya, lo benar."


Ia mengecek apakah benar kalau wajahnya meragukan, beberapa kali melihat pantulan diri - selfie. "Ternyata, benar. Gue secakep ini!"


Tony melempar bantal sofa ke wajah Din, "Sudahi kegilaanmu mari dangdutan bersamaku."


"Lo datang jauh-jauh dengan dalih ke bengkel, gue si nggak percaya. Jelas banget lo mau ikut mereka dangdutan ugal-ugalan."


Mereka tertawa bersama. Tony memang berwajah seperti bule, tapi ia tetap menjunjung tinggi kultur dalam negeri. Pecinta musik dangdut garis keras. Bahkan sebelum wisuda kelulusan, ia lebih memilih pergi ke acara dangdut TV. Tentu, mereka pergi bersama. Din terpaksa ikut karena dulu sering cek-cok dengan Rasti karena masalah sepele.


"Gue baru pertama kali lihat biduan secantik dan anggun itu, Bro," Tony bahkan tersipu menceritakan idolanya.


"Gue lihatnya biasa aja, Ton. Tiap orang beda, lo dengan selera lo, Mas Jarot dengan idolanya, Lisa. Mungkin gue emang susah banget buat ngefans sama publik figur."


Din memang berbeda. Semua orang memiliki satu sisi pandangan hidup yang berbeda. Tidak masalah menyukai atau mengidolakan seseorang, tapi baginya, ia lebih memilih menjadikan orang yang disukainya sebagai idolanya sendiri. Tapi, ia tidak pernah mempermasalahkan perbedaan.


Tangannya gemas mengetik banyak pesan tapi belum dibalas oleh Delia. Din langsung memencet tombol panggilan video. Delia mengangkat cepat.


"Aku lagi sama teman-teman kuliah," ucap Delia lirih. Ia tidak enak mengangkat telepon di tengah reuni kecil, apalagi mereka sedang pesta piyama. "Kamu nggak jadi pergi sama Tony?"


Din memperlihatkan kamera ke arah Tony. "Lihat kan? Tony lagi nonton kontes dangdut sama orang-orang dapur."


Delia tertawa, "Kok dia dari dulu masih suka banget dangdutan ya? Kalau kamu sukanya apa?"


"KAMU!"


Delia tersipu malu.


"Aku nggak bisa tidur kayaknya malam ini."


"Kamu kan jarang tidur," imbuh Delia.


Riri dan Saras menatap sengit. Mengisyaratkan Delia untuk menyudahi panggilan video. "Maaf, Sayang, nanti lagi."


"Iya. Besok, aku akan jemput kamu."


"Din, lo, benar-benar ganggu acara kita!'' Saras menyambar bagai kilat, "Lo mendingan nemenin bestie lo itu deh nonton dangdut!"


Delia mematikan panggilan, ia meletakan ponsel di meja dan bersiap melanjutkan acara pesta piyama tanpa mengetahui ada satu pesan ancaman datang.


+628*********


Lo bakalan mampus, ******!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2