Marry Din

Marry Din
Part 20


__ADS_3

Saras bertemu dengan Rasti. Mereka tidak begitu dekat untuk saling sapa mengingat kegilaan Rasti yang berniat menghancurkan bulan madu Din dan Delia. Tidak ada hal yang perlu dibicarakan, ia berpura-pura tidak melihat Rasti.


"Hei," Rasti mencegatnya untuk pergi.


"Kita nggak sedekat ini buat saling sapa kan?" Saras bersikap awas.


Selama dua tahun sekelas (SMA), mereka tidak dekat hanya saling mengetahui nama. Rasti adalah siswi berprestasi. Rumor yang beredar, ia mendapatkan beasiswa penuh selama tiga tahun sekolah. Karena Saras tahu kondisi keluarga Rasti, ia semakin geli jika menatap gaya angkuhnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Saras heran.


Delia tidak mengetahui apa yang membuat sahabatnya begitu menjaga jarak dengan seseorang. "Kaya bukan lo banget. Kenapa?"


"Dia... "


Saras berani untuk cerita setelah sampai di rumah Delia. Ada banyak hal yang mulai ia cemaskan.


"Dia itu anak Bu Asti."


Delia melirik, "Tunggu, eh, beneran?"


Saras adalah keponakan pejabat. Om yang sangat ia hormati sebagai sosok terkeren di keluarga, ternyata melukai hati keluarga besar. Berita pernikahan sirinya tidak diendus media. Keluarga membayar mahal untuk pencegahan berita maupun artikel.


"Hari itu gue melihat sendiri Om datang membawa Rasti ke pertemuan keluarga. Tante Ami menangis setiap hari dan tentunya Raffa begitu hancur. Ibunya terobsesi menjadi istri orang kaya, anaknya juga sama. Gue cuma takut, Din itu adalah target sejak dulu. Keluarga Sjarier itu keluarga konglomerat kelas atas. Berita pacaran Rasti sama Din juga udah sampai ke telinga Om gue, bahkan Bu Asti sering pamer, anaknya adalah calon menantu dari keluarga Sjarier."


Delia memeluk Saras dan menepuk halus bahu sahabatnya. Pantas saja, Raffa, sepupu Saras tidak berniat untuk pulang ke Indonesia.


"Gue benci Rasti, gue juga benci ibunya. Mereka adalah perebut." Saras mengepalkan tangan kanan. Kesedihan di masa lalu yang selama ia pendam mulai berani ia curahkan.


"Gue ikutan sedih dengarnya."


"Raffa sangat membenci kenyataan karena memiliki ayah yang sama dengan Rasti."


Ketika melihat tangisan seseorang pecah, yang terbesit dalam benaknya hanyalah memberikan pelukan tanpa banyak bertanya. Luka hati, kecewa dan kenyataan hidup sering kali akan bercampur putus asa.


"Lo pernah peluk Raffa kan, Del?"


Delia mengangguk. Kejadian itu sudah lama, saat mereka kelas delapan (2 SMP). "Gue baru pernah melihat Raffa meneteskan air mata, mungkin karena Tante Ami juga menangis. Gue nggak pernah menyangka anak Bu Asti adalah Rasti."


"Om sengaja nggak bikin rumah di lingkungan ini, Del. Tapi Kakek gue tetap menjaga rumah Raffa tetap aman. Kami berharap dia pulang."


Din, Delia, Lucky, Raffa dan Saras tumbuh di lingkungan yang sama. Karena sebaya, mereka sering menghabiskan waktu bermain bersama sejak kecil. Menuruti kegilaan Din dan yayasan penyelamatan tokek miliknya.

__ADS_1


Suatu hari di pertengahan bulan Juni, saat usianya dua puluh tahun.


Kalian masih sering main bersama?" tanya Raffa kepada Delia. Mereka tidak sengaja bertemu.


"Din punya pacar, dia juga punya dunianya."


"Bagaimana denganmu, Del?" Raffa menatapnya dekat. "Apa kamu berkencan dengan seseorang di kompleks Andaro?"


"Aku putus dengan Lucky." Delia menatap datar ke arah jendela. Rasa sakitnya masih membekas. Diselingkuhi itu tidak indah.


"Baguslah, harusnya kamu berkencan denganku kalau nggak Din. Hahaha."


Saat pertemuan itu, Delia menyadari Raffa sudah berubah. Mungkin karena tinggal di Eropa, ia menggunakan bahasa baku, tidak seperti di masa lalu. Tatapan mata tajamnya masih sama. Sorotan matanya semakin berbahaya.


Bahkan setelah acara resepsi, Raffa mengiriminya ucapan selamat dan pesan yang menggelitik.


Raffa Bastian


Loh, kalian malah menikah duluan. Selamat ya buat Delia dan Din! Semoga menjadi keluarga yang bahagia selalu! Aku jadi sedih, padahal aku juga mau mengejar cinta Delia, tapi kalah telak sama Tokek.


...****************...


"Bu Direktur!" Delia langsung memeluk Mama Marini.


"Anak kesayanganmu sudah pulang nih, Sayang." Mama Marini menyikut sang suami.


"Pak Indra!" Delia gantian memeluk Papa Indra. "Kangen!"


"Ayo masuk." Mereka kompak masuk saling merangkul.


Kebiasaan yang tidak akan hilang. Bagi mereka, Delia masih terlihat seperti anak kecil yang merengek minta permen.


"Bagaimana rasanya menjadi istri dari Din Sjarier?" tanya Papa Indra.


Delia tersenyum.


"Sepertinya Din memperlakukanmu dengan sangat baik ya? Mama ikut senang loh."


"Hmm."


Dua jam berlalu mereka melepas kerinduan. Delia menceritakan betapa indah Kopenhagen. Dan tentunya ia juga tidak lupa menceritakan betapa baik Din menjadi suami.

__ADS_1


Din sehabis mandi berkeliling menelusuri isi kamar Delia. Kamar dengan nuansa ramai dan banyak poster penyanyi yang tidak ia ketahui siapa. Setiap kali melihat foto masa kecil mereka, ia pasti tersenyum. Apalagi ada foto Delia yang mengenakan kaos bergambar tokek.


"Imutnya," Din menyentuh bingkai pigura di meja belajar Delia.


Delia tidak mengetuk pintu dan menemukan Din yang tertawa bahagia melihat isi kamarnya. "Kamu kok mandi di sini?"


Din masih memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawah, ia lupa tidak membawa baju ganti dan celana pendek Delia tidak ada yang muat.


"Tunggu lima menit. Aku akan ambilkan baju ganti dan lain-lain. Bang Ryan kebetulan sering belanja underwear karena malas mencuci." Delia berlari, ia harus menghindari situasi gawat.


Jantungnya berdetak lebih kencang saat melihat rambut Din yang masih basah. Segera, ia mengambil baju ganti untuk Din.


"Din, ini," Delia menyerahkan celana pendek milik kakaknya dan ****** ***** baru dibeli kemarin (Calvin Kl*in).


Din langsung masuk kamar mandi dan berganti. Ia harus minta maaf kepada kakak iparnya kelak.


Ketika keluar kamar mandi, mereka nyaris bertabrakan. Delia sudah membereskan beberapa pernak-pernik fan girl yang akan membuat geram Din. Selimut dengan wajah idol K-pop sudah ia sembunyikan. Bantal wajah aktor kesukaannya, juga ia singkirkan.


"Mari kita bobo," Delia memasang senyum indah. "Selamat malam."


Din menyemprot parfum di beberapa titik tubuhnya. Ia menemukan beberapa botol parfum mahal milik Delia di meja rias. "Yakin mau langsung tidur?"


Delia langsung berbalik badan, ia menatap sang suami. "Kamu pasti lihat bantal dan selimutku yang berwarna pink, ya?"


Din menepuk jidat, "Ternyata kamu lebih parah dari Amel, keponakanku, astaga."


"Kamu lebih ganteng dari mereka! Kamu super ganteng!" Delia memohon belas kasih dan merayu Din.


Ia mengecup bibir Delia, "Aku nggak mempermasalahkan itu padahal."


"Idaman!" Delia memeluk erat tubuh Din. Tubuh yang lebih besar dengan wangi parfum yang sama. "Dylan tetap di hati."


"Ternyata ini alasan orang menikah."


Din tidak ingin melakukan banyak hal, ia hanya ingin menjadi pendengar baik. Delia menceritakan awal mula menjadi fan girl bersama Saras. Ia juga menceritakan beratnya saat mengerjakan tesis.


"Dan yang lebih bikin kaget, Mas Jarot, dia nonton konser BL*CKP*NK!"


Lelaki itu tertawa, ia merasa terhibur. Tekanan kerja yang ia rasakan berat perlahan memuai. Hanya mendengarkan dan saling berpegangan tangan, ia mendapatkan kedamaian hati yang lama ia cari.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2