
Tidak seperti dirinya. Din yang lebih sering menggunakan kendaraan bermotor, kini lebih memilih mengeluarkan mobilnya di garasi.
"Aku ingat pertama kali kamu naik motor saat SMP."
Din tersenyum sambil menatap pantulan wajah cantik istrinya. "Kamu adalah orang yang pertama bonceng, kan?"
"Hahaha! Penumpang pertama."
Kenangan mereka mengalir alami. Masa-masa paling indah adalah masa pernikahan. Awalnya, Din hampir menyerah dengan keputusan Oma. Menjodohkan dengan Delia. Tidak mudah meyakinkan Din untuk mau menikah di usia 25 tahun.
"Oma bilang, menikahi Din akan membuatku semakin bahagia."
Perempuan ini, dia sama sekali tidak menolak keputusan sepihak Oma. Berat baginya untuk memutuskan perasaan yang mulai berkembang. Din mendengar dari Tony, dua tahun lalu. Hubungan Delia dengan pria asing.
"Apa cita-cita kamu, Delia?" tanya Wali Kelas saat mereka kelas 12, "Minimal yang bisa terwujud dan bukan halusinasi seperti menikahi artis luar negri."
Anak laki-laki di kelas berteriak histeris. Mereka penasaran dengan cita-cita mulia bidadari sekolah.
"Spill, Del!" ucap seseorang.
"Uhuy!"
Delia berdiri dan sudut bibirnya mulai melengkung membentuk senyuman indah, "Saya ingin migrasi ke Swiss, Bu."
"Uhhh... " ledek mereka.
Din yang sedang menggambar cover buku, tiba-tiba teralihkan mendengar gurauan Delia tentang migrasi ke Swiss.
"Ngomong apaan dia?'' tanya Din kepada Tony.
"Migrasi ke Swiss."
Gurauan Delia saat dulu mungkin adalah ungkapan fakta impiannya di masa depan. Din pernah melihat postingan sosial media Delia -- pindah ke negara paling damai di dunia.
"Anu... Impian kamu saat SMA, tentang migrasi ke Swiss. Apa alasannya?" tanya Din penasaran.
"Om paling kecil dulu pernah mengamuk dan bilang... Saat semua orang terdekat menyakitinya dan nggak membiarkan hidup tenang. Dia akan migrasi ke negara paling damai di dunia. Di negara tanpa ada konflik apapun."
"Aku pikir itu merupakan pelarian. Bukankah, lebih baik hidup berdampingan dengan konflik agar kita didewasakan keadaan."
Din adalah Dylan. Penulis terkenal yang sudah menyentuh hati Delia. Kalimat bijaknya mampu membius jutaan pembaca. Bahkan, Delia ingat kalimat melegenda buku pertama Dylan. "Saat aku bukan lagi satu-satunya, itu artinya hubungan kita berakhir dengan tidak baik."
Din mengelus pucuk kepala Delia, "Aha, aku terharu banget, Sayang."
__ADS_1
"Aku harap suatu hari nanti. Ada buku yang kamu tulis tentang kita.''
Din sedang menyiapkannya diam-diam. "Tentu."
"Aku minta maaf karena nggak menyadari sekeren ini kamu."
"Aku maafin, tenang."
"Ayo kita makan bakso dekat sekolah. Aku akan mentraktir kamu, Dylan." Delia mendapat uang saku tambahan dari Papa, Mama dan Bang Ryan kemarin.
Mobil menepi di dekat warung bakso tua yang terkenal sejak dulu.
"Pak Slamet!" sapa Delia.
"Mbak Delia. Tumben nggak sama Mbak Saras?" tanya Pak Slamet. Ia baru menyadari kalau Delia sudah menikah. Ia juga hadir dalam acara resepsi pernikahan. "Ternyata sama suami."
"Hehehe, iya dong, Pak. Ini gunanya punya suami."
Din memilih duduk di dekat jendela. Ia ingin menikmati sepoi angin sebentar sambil memejamkan mata.
Delia datang dengan membawa dua porsi bakso dan dua gelas es jeruk, "Pesenan siap."
"Aku baru ingat. Kita dulu beberapa kali makan bakso di sini bersama Tony dan Saras."
Din memegangi kedua tangan Delia lalu mengecupnya, "Hari ini berbeda. Aku bukan cuma tersenyum, tapi jatuh cinta."
Delia tersipu malu. Wajahnya merah merona. Bahkan beberapa anak SMA yang melihat mereka mungkin akan mengupat iri.
...****************...
Lady Nathalina merupakan ibu biologis Din. Dua bulan setelah melahirkan Din, ia menyerahkan sang putra kepada ayahnya. Ia bahkan tidak membiarkan ibu kandungnya untuk datang ke pernikahan.
"Donny, pria angkuh itu!" ucapnya kesal.
Saat usia putranya tujuh belas tahun. Demi melindungi harga dirinya sebagai seorang ibu, ia rela dibenci setengah mati oleh Din. Toh, bagi Din, ibunya hanya Almira. Belum lagi Digo, anak pertama mantan suaminya begitu membencinya.
"Anakku, selamat atas pernikahanmu. Mommy berharap dapat bertemu menantu cantikku segera!" Lady mengirim pesan kepada Din.
"Jangan harap."
Biasanya Din tidak akan menanggapi pesan darinya. Semenjak menikah, anaknya mulai terlihat dewasa. Mulai menganggapnya sosok ibu biologis.
"Mommy." Saat berusia dua puluh dua tahun, Din pernah datang ke Amerika demi menemuinya.
__ADS_1
Lady menangis begitu melihat sang putra menunggu di depan pintu rumah, "Din... "
Ternyata kedatangan Din adalah bentuk perhatian Donny. Ia merasa bersalah atas kejadian di masa lalu. Setiap kali bertemu, hanya kata maaf yang diucapkan terlebih dahulu. Seperti sistem default dalam otaknya.
"Katakan sesuatu. Aku yakin kedatanganmu nggak mungkin tanpa tujuan."
Din mengangguk, "Papi bilang, dia minta maaf karena nggak bisa menemaniku datang."
"Pria menyebalkan itu!" Lady masih merasa kesal. Bagaimana bisa, Donny menghindar seperti menghindari kotoran di jalanan.
Din melihat sekeliling isi rumah. Benar yang dikatakan Digo, ibu kandungnya hidup terlalu nyaman di Amerika. Memiliki rumah di kawasan Beverly Hills. "Mommy hidup dengan sangat nyaman, ya?"
Lady menuang kembali wine ke dalam gelas kosongnya, "Saat aku mati. Semua akan jadi milikmu."
Seorang wanita berusia empat puluh delapan tahun, hidup di lingkungan yang sama dengan selebriti kelas dunia. Membuat banyak orang bertanya, dari mana asal mula kekayaannya?
"Ini aset keluarga besar kita, Din. Kakekmu punya beberapa rumah di luar negri, salah satunya rumah ini. Datanglah ke acara keluarga kita jika kamu sudah siap berperang dengan beberapa anjing gila."
"Kenapa Mommy nggak menikah lagi?" tanya Din serius.
Lady menenggak habis segelas wine, ia terlalu malas membahas perasaan yang tersisa. "Aku berbeda dengan Donny."
Din menyodorkan gelas kosong, "Aku akan dengar cerita cinta kalian malam ini."
Lady tersenyum puas. Ternyata memiliki seorang putra tidak terlalu buruk. Din bahkan menemaninya minum wine sambil bicara nostalgia masa muda.
"Donny adalah pria tertampan di jurusan kami. Aku terkejut mengetahui bahwa dia adalah duda yang ditinggal mati sang istri. Semua gadis hampir berpikir untuk menggodanya. Tapi, aku melihat hal lain. Donny diam-diam menelepon orang rumah dan memantau perkembangan anaknya, Digo."
Mata yang berkaca karena kenangan indah mereka masih terlintas begitu nyata. Lady masih menyimpan perasaan untuk Donny.
"Apa Papi adalah cinta pertama bagi Mommy?"
"Iya. Aku masih mencintainya. Tapi, dia sudah menikah dan bahagia dengan Almira. Bagi mereka aku adalah aib, gadis gila yang menggoda Donny saat tidak berdaya karena merindukan mendiang istrinya."
Din merangkul ibunya. Tidak disangka kisah cinta mereka lebih tragis daripada kisah Tony.
"Donny nggak pernah bilang cinta sama sekali denganku. Dia selalu bilang maaf. Semenjak kami tidur bersama hingga berpisah... "
Bukan tanpa alasan. Digo begitu membenci Din dan terus terang menyatakan perang. Ada juga alasan kenapa Dina tidak terlalu dekat dengannya. Mereka dilahirkan dari rahim wanita yang berbeda.
"Sebuah alasan untuk menjaga jarak ternyata."
"Melihat Din tumbuh dewasa seperti sekarang ini adalah kebahagiaan yang luar biasa."
__ADS_1