Marry Din

Marry Din
Part 13


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, mereka tidak langsung pulang ke rumah, prioritas Din adalah Bruno. Kondisi kesehatan kucing kesayangan mulai membaik membuatnya tidak merasa terlalu bersalah.


"Bruno," Din mengelus kucingnya dengan bahagia.


Delia menunggu di depan. Ia duduk mengamati orang-orang yang berlalu membawa hewan peliharaan. Ia sama sekali belum tertarik untuk memelihara hewan peliharaan.


"Delia ya?" seseorang menyapanya. Seorang perempuan yang menatapnya serius. "Kamu istrinya Din kan, Deliana Iristi?"


Ah, Delia ingat kenapa ia tidak suka ditatap olehnya. Tatapan seperti itu seperti tatapan menghina berbalut serius. Menyebalkan. Setelah mereka honey moon masih ada juga rasa cemas melanda batinnya.


"Maaf ya, aku nggak datang ke acara kalian karena harus datang ke seminar Kementrian Keuangan." Rasti tersenyum seperti biasa. Ia tidak mengira akan bertemu dengan Din lebih cepat.


"Nggak masalah," ucapnya lirih.


"Kamu bareng Din?"


"Iya."


Tidak lama kemudian. Din datang dengan membawa Bruno. Ia memang sudah melihat Rasti dari balik jendela klinik, tapi tidak mengira kedua perempuan itu terlibat percakapan. Delia tidak biasanya berwajah masam, sementara Rasti memang sudah biasa ramah.


"Selamat atas pernikahan kalian." Rasti memeluk Din dengan nyaman, sama seperti saat mereka masih bersama.


"Ah, terima kasih," Din merasa canggung. Tangannya berusaha meraih jemari sang istri.


"Aku mau beli minum di kafe sebelah dulu.'' Delia tidak bisa menahan dahaga.


"Beliin aku kopi ya, Sayang." Din melepas pelukan Rasti, ia mendekati Delia dan memberikan dompetnya. "Makasih banyak, Sayang."


"Hmm... "


Delia pun dengan berat hati melangkah pergi dan membiarkan mereka untuk berbincang.


Din dan Rasti memiliki sejarah panjang. Mereka sudah sejak SMA saling mengenal bahkan dinobatkan sebagai pasangan paling serasi menurut teman-teman angkatan. Meski sering putus-nyambung, mereka bertahan lama. Sebuah sejarah bagi seorang yang terlihat berandalan mempertahankan kesetiaan.


"Ini berat bagiku, Din." Rasti tidak suka basa-basi. Perasaannya selama sepuluh hari sudah remuk tak berbentuk.


Din diam.


Rasti adalah gadis pertama yang membuatnya berani untuk mewujudukan mimpi yang mustahil menjadi penulis, bahkan Delia tidak mungkin tahu nama pena Din.


"Setiap kali baca bukumu, hatiku selalu bahagia. Aku juga sering bilang ke teman-temanku betapa hebatnya kamu."


"Terima kasih, Ras," Din menunduk.

__ADS_1


Perempuan itu masih menyimpan luka karena ditinggalkan demi suatu perkara yaitu paksaan keluarga. Rasa cinta yang dalam terkadang membuat seseorang lupa bahwa di atas cinta masih ada sebuah pengorbanan. Rasti tidak mengerti kenapa Din mulai terlihat menikmati pernikahan dengan Delia.


"Kamu terlihat bahagia dengan Delia, kamu juga manggil dia Sayang. Seharusnya itu posisiku kan, Din?" Rasti memukul dada Din, ia masih ingin merajuk karena ditinggalkan. "Pada akhirnya kamu juga meninggalkanku."


Janji masa lalu yang mereka ikrarkan adalah saling menguatkan di segala kondisi dan tidak boleh meninggalkan salah satu pihak selain karena perasaan berubah.


"Aku minta maaf." Din tidak mungkin mengatakan hal-hal seperti perasaannya terbagi atau berubah. Ia memahami keadaan Rasti lebih baik dari siapapun. "Aku harap kamu juga mulai berpikir. Berapa kali kamu menyakitiku, aku selalu memaafkanmu. Aku selalu berusaha menjadi rumah bagimu, tapi kamu sendiri yang merusak pintu rumahmu... "


"Bagaimana bisa aku melupakanmu?" tanya Rasti dengan tatapan haru.


"Pasti. Kamu akan melupakanku."


Rasti meninggalkan tempat. Ia harus membeli pakan untuk Runo. Sementara Din, ia masih duduk menunggu Delia.


...****************...


Delia menata pakaian milik Din di lemari baru yang sudah disiapkan para orang tua. Satu kenyataan paling menyakitkan adalah melihat betapa terpuruk lelaki tampannya setelah bertemu dengan mantan kekasih.


Menguping bukanlah kebiasaan Delia. Ia melakukan sesuai instingnya sebagai istri sah. Percakapan mereka lumayan dalam.


"Bagaimana bisa aku melupakanmu?"


Sial. Ia masih saja terngiang pertanyaan menusuk Rasti kepada Din. Ada rasa sebal yang mulai menjalar. "Argh, sebal!"


Din menyadari sikap Delia yang cenderung berubah sesuai mood. "Kenapa?"


"Nggak papa kok," ucapnya.


Mereka saling menatap lalu melempar senyum.


Delia merebahkan tubuhnya dengan nyaman di ranjang. Tidak lupa ia juga tetap memilih bahu lebar sang suami untuk bersandar. "Aku baru tahu kalau kamu memiliki badan sekeren ini."


"Kamu baru tahu ya? Padahal kamu setiap hari melihatku sampai bosan."


Din yang tidak banyak bicara dan menggenggam tangannya seperti seseorang dari dimensi lain. Sikapnya mulai berubah semenjak menikah. Sisi dewasa pun mulai terlihat. Pesona yang mereka katakan (gadis-gadis saat SMA) memanglah benar. Din Sjarier seperti tokoh komik yang sangat tampan, pesona yang memukau dan terkesan misterius.


Selama beberapa hari mereka tidur di kamar baru, Delia mengamati kesibukan Din. Tengah malam ia mengetik beberapa naskah, terkadang kertas coretan berhamburan di meja kamar. Ada beberapa tulisan indah yang sulit diungkapkan dengan lisan. Menakjubkan.


Ia menemukan buku-buku yang berjajaran dalam rak yang tersusun rapi. Seperti perpustakaan mini dalam kamar. Meski terkenal seperti berandalan, Din adalah seorang kutu buku. Mungkin salah satu alasan masuk jurusan sastra karena kecintaannya dengan prosa dan novel. Di tengah rak, ada sebuah pigura foto. Foto masa kecil mereka saat bermain tokek. Menggelikan jika mengingat masa lalu. Delia tak berhenti takjub melihat piagam yang berjejer. Din juga menyukai olahraga, pacuan kuda.


"Jangan kesitu." Din memperingatkan Delia.


"Kenapa?" tanyanya heran.

__ADS_1


Din berlari, ia lupa untuk menjelaskan. "Ada rak yang rusak."


Delia tidak menemukan hal janggal sejauh ini. Ia justru terus memandang buku susunan paling atas, ia berusaha untuk mengambil tapi sadar. "Aku nggak setinggi kamu."


Din tersenyum, "Aku akan ambilkan."


Dari jarak yang dekat. Wangi parfum maskulin mahal tercium jelas, belum lagi semenjak Din merubah gaya rambut di Eropa. Terasa berbeda. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia juga mendadak malu setiap kali bertatapan.


"Kenapa?" tanyanya dengan heran.


"Nggak papa kok."


"Kamu itu menatapku terus, kalau ditatap balik malah malu," bisik Din.


Delia langsung memeluk Din. Ia terlalu malu untuk bertatapan lagi. Sudah beberapa hari ini, ia merasa menjadi gila. "Nggak peduli ah, malu."


"Malu kenapa? Kita udah nggak bisa malu-malu lagi loh." Din menggodanya. "Apa perlu aku sebutin kenapa?"


"Hust, diam!" Delia malu, ia berjalan cepat dan tidak menyadari sesuatu. Rak rusak yang ia tidak sengaja senggol. Membuat beberapa buku jatuh mengenai kepalanya.


"Del!" Din langsung menyingkirkan buku-buku dan mengangkat tubuh Delia. "Kamu hati-hati kalau jalan."


Salah tingkah dan tidak mampu berkata-kata dalam beberapa detik.


Hari berikutnya.


Delia meminta bantuan Saras. Mereka pergi ke psikiater yang merupakan kakak sepupu Saras. Ia sudah tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari.


"Dok, ada masalah dengan kejiwaan saya akhir-akhir ini."


"Loh apa yang dirasa coba jelaskan?"


"Setiap hari saya seperti orang kehilangan akal."


Saras menyimak dan memperhatikan gerak-gerik Delia.


"Kalau melihat suami sendiri, saya jadi kehilangan kewarasan. Bahkan kemarin saya kepentok buku-buku harusnya saya merasa nyeri dan kesakitan, tapi berkat senyum suami, saya jadi lupa segala hal. Bagaimana solusinya, Dok?"


Dokter Rini menghela nafas, ia juga melempar senyum. "Kamu nggak gila, Delia. Kamu ini lagi bucin sama suamimu."


Saras merasa kesal, ia pikir Delia tertekan betulan. Ternyata jatuh cinta dengan suaminya sendiri.


"Sialnya gue percaya sama lo, Del."

__ADS_1


Delia tersenyum lebar.


Bersambung...


__ADS_2