Marry Din

Marry Din
Part 12


__ADS_3

Sudah lima hari mereka habiskan untuk bulan madu. Din ingin menghabiskan dua hari tersisa untuk bersantai di kamar, ia terlalu malas keluar apalagi cuaca lumayan panas.


"Kita rebahan aja di kasur, Del." Din membujuk sang istri yang masih bersemangat untuk mengunjungi gedung tua lain di sekitar Kopenhagen. "Simpan energi yang tersisa untuk kita nikmati berdua, oke?"


Mendengar bujukan Din, ia menuruti tanpa satu pun bantahan. Mereka sudah menikah. Papa bahkan menekankan berulang kali untuk patuhi suami.


"Oke," ucapnya pelan.


"Gimana kalau kita nonton film aksi?"


"Hah?" Delia melirik, itu bukan genre film kesukaannya.


"Kamu nggak semangat banget... " Din memeluknya dari belakang, ia juga mencoba mencari posisi nyaman untuk bersandar. "Wanginya istriku... "


"Stop!" Delia mencegah sebuah ciuman yang akan mendarat di bibirnya, "Kamu bisa melakukan hal lain kalau ini dibiarin."


"Hei, Sayang..."


Mata mereka bertatapan lama.


Din tidak mampu menyangkal peson Delia. Kenapa ia mulai merasakan bahagia saat menghabiskan waktu bersama? Kenapa ia tidak membenci semua kebiasaan buruk Delia. Bagaimana bisa hati manusia berubah dengan mudah?


"Kamu benci nggak kalau kita bahas mantan?" tiba-tiba ia ingin bertanya.


"Benci!" jawab tegas Delia. Wajahnya muram seketika.


"Duh gadis cantik kok muram," celoteh Din.


"Aku benci bahas mantan... "


"Del, so sorry," Din menarik tangan Delia. Ia memberikan pelukan ketenangan, "Maaf ya, Sayang."


Delia punya sebuah ide cemerlang, "Kamu mau nggak pelihara kucing yang lain? Bruno dan Runo kan ada kaitannya sama Rasti. Jujur, aku benci melihat kalian ketemu."


"Aku udah pelihara kok satu," bisik Din.


"Argh, nyebelin!"


Din mengangkat tubuh Delia menuju kasur. Sesuatu yang membuatnya semakin berdebar ialah tatapan Delia. "Kamu cantik banget!"


"Masa si?" Delia ingin lebih menggoda Din, ia diam-diam memakai lingerie dan menutupnya dengan cardigan panjang.


Din langsung paham dengan gerak-gerik Delia. Mulai dari melepas cardigan sampai berpose ala model ternama.


"Jadi bagaimana dengan aku? Cantik nggak?"


"Woah!" Din tidak ingin banyak bicara, ia adalah orang yang lebih menyukai praktik, "Sayang, ayo olahraga bareng!


"Ini gila banget, kamu nggak pernah capek?"

__ADS_1


"Nggak!"


Melihat semangat Din memang menyenangkan tapi tidak dengan siksaan yang ia berikan kepada Delia. Mulai dari berganti posisi tidur, berendam bersama dan bahkan ia berniat pindah ke kolam renang untuk membuat momen indah.


"Aku capek... " Delia setengah merengek, "Kamu memang mantan atlet, aku harus akui ini."


Din merasa tidak enak, ia berlutut dan terus menatap dalam Delia. "Aku yakin setengah hatimu pasti mau bilang aku gila ya?"


"Ya jelas!"


"Aku baru segila ini karena seseorang." Din tidak berdusta. Sejak malam pertama mereka, ia benar mulai menyukai sosok Delia sebagai istrinya.


Salah satu cara untuk memutus rantai ikatan masa lalu yang masih mengganggu adalah dengan membuat kenangan baru yang lebih dari sekedar indah. Mungkin kenangan bersama masa lalu akan menghampiri dalam lamunan sebentar, tapi begitu sadar masa depan dimana sosok itu menghilang, tidak ada lagi sisa rasa.


Ketika orang baik terusik, jangan pernah salahkan keadaan kelak. Delia sudah menahan beberapa hari. Ia mengamati beberapa kali. Rasti sering menelepon Din, bukan hanya menelepon, ia sering melakukan spam pesan. Din memiliki dua handphone. Satu dengan nomor pribadi, dimana hanya pihak orang tua, penerbit, Delia dan Tony yang ia perbolehkan tahu.


"Rasti sering menelepon kok beberapa kali. Aku nggak sengaja lihat notifikasi."


Din membalikan ponsel flip miliknya, "Aku nggak mau diganggu saat bulan madu." Din kembali mematikan ponselnya.


Kisah yang ia dengar dari Tony mungkin benar. Hubungan mereka sudah lama hancur. Hubungan yang toxic bisa menghilangkan perasaan perlahan. "Din, eh, Sayang. Aku nggak bermaksud tanya ini, tapi aku penasaran. Kenapa kamu nggak undang Rasti ke resepsi pernikahan kita? Padahal mantan pacar kamu yang lain datang."


Din menghela napas, "Hubungan kami rumit."


"Maaf karena bertanya, Sayang." Delia mencium pipi kanan Din, "Kamu pasti kesulitan dan banyak pikiran."


"Hmm," balasnya.


"Selamat tidur, Sayang," Din berbisik, ia juga mencium kening sang istri.


Delia berpura-pura tidur. Ia bahkan tahu saat sang suami diam-diam meneteskan air mata. Perasaan yang bercabang, mungkin pernikahan yang ia jalani seperti bukan pernikahan impiannya selama ini.


"Kamu diam-diam menangis saat menatap foto masa lalu... " Delia membatin.


...****************...


Hari terakhir di Kopenhagen.


Delia bangun lebih awal, ia tidak melihat Din. Kemungkinan besar adalah pergi ke area fitness tanpa pamit. Semalam, ia sudah berpikir lebih keras. Sekeras apapun usaha Rasti untuk menganggu bulan madu apalagi berpikir menjadi perebut suami orang itu sulit. Din tidak akan pernah menceraikan Delia. Jika itu terjadi, sama dengan ia suka rela dicoret dari Kartu Keluarga Sjarier.


"Gimana bulan madu kalian?" Saras kepo. Ia ingin mendengarkan kisah membara pasangan muda.


"Capek banget! Capek badan, capek hati! Jalan kadang gue susah, Ras." Delia menampilkan ekspresi memelas. Mereka sedang melakukan video call.


"Gue yakin banget Gecko emang tipikal bar-bar. Tapi, Del. Gue melihat ekspresi nggak bahagia dari wajah lo?" Saras peka.


"Kadang saat kami bergenggaman tangan mau tidur, itu cuma kaya kewajiban semata. Ah, gue yang merasa bahagia karena bisa memiliki Din, bisa tidur dalam pelukannya setiap malam. Tapi tadi malam... Gue melihat ekspresi sedih dia saat menatap foto masa lalu. Ah, sial, Ras. Gue kayaknya jatuh cinta banget sama Gecko... "


"Del, percaya satu hal. Bukannya dia yang harusnya merasa sangat bahagia sekarang? Dia bisa memiliki Deliana Iristi Indra seutuhnya bahkan di unboxing dia duluan. Gue curiga, apa Rasti masih menelfon Din? Gue juga lihat story instagram dia, sad girl parah."

__ADS_1


Lima belas menit setelah menyelesaikan panggilan video. Din pulang dengan membawa banyak barang. Oleh-oleh khas Denmark mulai dari aneka coklat, permen, mainan lego dan buku Hygge untuk keponakan.


"Sayang!" Delia langsung memeluknya, "Kamu kenapa nggak ngajakin aku belanja oleh-oleh?"


"Kamu kan masih tidur. Aku nggak tega bangunin kamu. Kayaknya kemarin kita terlalu berlebihan, maksudnya... " Din agak malu untuk bicara lagi.


Delia menutup mulut Din dengan jemari, "Aku takut kamu marah, kecewa atau kamu mulai merasa bosan."


"Nggak sama sekali. Kamu tipeku banget sekarang apalagi dua hari lalu."


Delia membantu mengemasi pakaian Din, ia juga sudah memisahkan buah tangan untuk anggota keluarga sesuai arahan Din.


"Makasih." Din tidak berhenti menatap Delia, "Kamu beneran Ibu Peri."


"Gecko... " Delia jadi ingin menggoda Din.


"Jangan menggodaku."


"Gecko, ayo kita tidur dulu sebentar."


Tidak banyak bicara lagi. Din langsung memahami kode keras sang istri. Tinggal beberapa jam lagi sebelum berangkat menuju bandara.


"Gendong aku," Delia memberikan kode. Ia ingin sekali menang mengalahkan masa lalu Din.


Din mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya. Mereka terus bertatapan, tertawa dan menikmati menit yang indah karena begitulah naluri alami pasangan yang menikah. Berjalan natural.


"Aku cinta kamu, Din." Delia mengelus wajah Din sambil meneteskan air mata, "Aku harap suatu hari nanti, kamu bakal bilang hal yang sama."


Mendengar kata-kata cinta membuatnya semakin bergejolak. Din mengangkat tubuh Delia. Ia ingin membawa sang istri menuju bathtub. Dalam perjalanan, ia tidak menyadari sesuatu. Lantai yang licin karena sabun cair dalam tas kecil milik Delia tumpah, membuat mereka terpeleset.


"Ah, sakit!" Delia refleks memukul bahu Din.


"Hahaha!" Din justru tertawa. Ia hanya ingat, wanita yang ia nikahi kan Delia. Sifatnya masih sama. "Kamu selalu mukul bahu aku ya sejak dulu kalau marah?"


Delia melotot, "Bar-bar boleh tapi harus hati-hati dong. Pinggang dan kaki aku sakit banget loh!"


Merasa tidak enak, ia memijat kaki Delia. Karena rasa bersalah semakin menumpuk, ia jadi menuruti kemauan Delia. "Kamu mau apa lagi, Del?"


"Pokoknya kamu harus bikin story instagram dan posting foto aku dengan caption siap jadi pengabdi istri, oke?"


Din mengangguk, ia juga menuruti permintaan konyol Delia. Mungkin nanti beberapa temannya akan mencibir habis-habisan. Ia akan melakukan apapun demi membuat suasana hati Delia membaik. Sama seperti dulu. Siklus yang ia rasa familiar. Delia mampu menaklukannya.


Bersambung...


...----------------...


Din's insta story be like:


dinsjarier

__ADS_1


Siap jadi pengabdi istri💖



__ADS_2