Marry Din

Marry Din
Part 23


__ADS_3

Din membuka matanya. Sayup, ia tidak sengaja melihat notifikasi ponsel sang istri. Delia mendapatkan pesan ancaman.


+6288********


Hei, *****! Lo bakalan mampus!


Perlahan, ia paham kenapa istrinya mendadak tidak bersemangat semalam. Delia mendapatkan teror dari nomor tidak dikenal. Sudah berlangsung beberapa hari, ia juga masih diam. Din akan mencari waktu terbaik mereka untuk bicara.


"Kamu udah bangun?" Delia membawakan segelas air hangat untuk Din. "Minum dulu."


Din menenggak perlahan sembari menatap lama sang istri. Bahkan, kebiasaan kecil mampu membuat hatinya luluh.


"Kata Mami, kamu setiap bangun tidur harus minum air hangat."


"Betul."


Delia menyentuh wajah Din, ia memastikan apakah pria ini sudah mencuci muka dan siap untuk menyarap.


Setiap kali tangan kecil itu menyentuh tubuhnya, menyuapi makanan ke mulutnya dengan sangat sabar. Ia bukan hanya takluk, tapi lebih dari tunduk. Apapun akan ia lakukan demi melindunginya.


"Enak?" tanya Delia dengan lirih. Ia banyak mengetahui kesukaan Din bukan hanya tentang makanan. "Makan yang banyak."


Din menyelesaikan makan lebih cepat. Hari ini, ia harus pergi ke kantor penerbitan. Ada beberapa masalah dengan sampul buku baru. "Kamu mau ikut?"


"Nggak, aku harus menemani Oma."


Din mengecup pipi Delia, "Kamu baik banget sebagai cucu menantu."


"Ya beginilah Delia... "


Merasa gemas, Din langsung menggendong tubuh istrinya. "Kamu kok menggemaskan begini, Del?"


Delia tertawa riang, ia tidak mengerti kenapa rasanya Din seperti tersihir pesona dirinya. "Hahaha! Kamu telat menyadari ini, kan?"


Rasanya ingin menghentikan waktu. Ingin pergi ke masa remaja. Bertukar dengan posisi cinta pertama Delia -- Lucky. Betapa beruntungnya jika ia juga menjadi cinta pertama Delia. Namun, menjadi cinta satu-satunya adalah yang terbaik.


"Aku berharap saat ini... " Delia terlalu malu untuk mengutarakan isi hatinya.


"Mulai saat ini, Delia itu cintanya aku."


Mereka tersenyum bersama.


Pukul dua siang. Din pergi ke kantor penerbit sendirian. Sudah berapa lama ia tidak menginjakan kaki di lantai kantor. Rasanya lumayan juga menjadi editor penerbitan mayor. Gaji yang ditawarkan lumayan. Meski, tidak sebanding dengan gaji manajer di Equestrian Sjarier (Equestrian: tempat pacuan kuda besar).


"Hoi, pengantin baru!" ledek seorang editor senior di kantor. "Udah puas bulan madu?"

__ADS_1


"Bang Taki pasti lebih paham dan nggak usah tanya, masih kurang bagiku." Din mengambil kursi di sebelah Bang Taki, ia mengeluarkan laptop kerja dan masuk mode serius bekerja.


"Novel karya Chabbby lagi digemari banget sekarang, ya? Dylan jangan lama-lama hiatus dong!" Bang Taki mengompori, berharap ada sebuah naskah datang dari Dylan.


"Gimana sama tim desain, Bang?" tanya Din.


"Katanya, Chabbby lagi di sini, tuh," Bang Taki menunjuk ke arah seseorang yang tak asing bagi Din.


"Saras?" ia memastikan bahwa benar Chabbby itu orang terdekat Din. Orang yang rumahnya tidak jauh. "Jadi... Chabbby itu Saras, hahaha."


Tunggu. Din sedang berpikir. Jika Chabbby menulis novel barunya berdasarkan seseorang yang ia sukai. Din mengetahui siapa orangnya dengan cepat. "Anj**, ini mah, Tony! Hahaha!"


"Tony, temen lo? Yang mukanya blasteran dan suka dangdutan itu, Din?" Bang Taki lebih heran lagi. "Hahaha."


Membayangkan saja sudah cukup muak. Tony akan kegirangan, koprol dan melakukan banyak pose kayang jika terbukti Saras menyukainya sejak SMA.


Mereka masih tertawa, membuat beberapa orang melirik sinis dan mengisyaratkan untuk diam.


...****************...


Kunjungan mendadak sepupu Oma Aliyah, Oma Sariya. Mereka tiba-tiba pulang dan membawa kejutan. Tidak ada persiapan atau pesta penyambutan.


"Sari... " Oma Aliyah memeluk sepupunya.


Oma Sariya tampak tenang, ia tidak terlalu banyak bicara. Tapi sosok Delia, mengalihkan perhatiannya. "Kamu istrinya Din, bukan?"


"Kamu gadis yang sangat cantik, Delia," Oma Sariya memegang tangan Delia. "Terima kasih sudah menjadi bagian keluarga kami."


Delia menyadari memang benar keluarga Sjarier ini berbeda dari keluarga konglomerat lainnya. Tidak membedakan status sosial seseorang, mereka sering melakukan donasi besar tanpa banyak pertimbangan. Prinsip keluarga kaya yang jarang ditemui olehnya.


Oma Sariya datang bersama seorang cucu. Gadis berusia dua puluhan awal, ia tidak banyak bicara. Hanya menatap ponsel, sesekali tersenyum. Seperti orang yang jatuh cinta -- dimabuk asmara.


"Hihihi... " gadis muda bernama Abel itu tertawa.


Oma Aliyah dan Oma Sariya mengabaikan Abel. Mereka sudah paham watak cucu masing-masing -- yang penting bahagia.


"Abel, ya?" Delia mengambil inisiatif untuk duduk di sebelah Abel.


"Hei, Kak Delia." Abel merendahkan tubuh, ia memberi hormat. "Hehe... "


"Kamu kelihatannya lagi seneng banget, nih."


Abel menunjukan ponselnya, ia sedang membaca komik komedi. "Aku nggak nyangka bakal selucu ini, hahaha."


Delia merasa justru Abel yang lebih lucu, "Hadeh, kamu wibu?" (wibu: pecinta anime/komik)

__ADS_1


Suara pintu gerbang yang terbuka dan suara motor besar mengalihkan perhatian Abel. Ia sudah lama tidak melihat kakak sepupunya, Din. Apalagi, ia membawa seorang teman - Tony.


"Gawat, temen Kak Din yang ini, tipeku banget." Abel menatap Tony seperti terpesona dalam pandangan pertama.


Din dan Tony masuk ke dalam rumah. Mereka tidak lupa memberi salam kepada kedua Oma. Dan tanpa malu-malu, Tony langsung duduk di meja makan. Rumah Din sudah seperti rumahnya sendiri, apalagi ia harus akui masakan asisten rumah Sjarier terbaik.


"Mbak Ipeh bakal sakit hati lihat lo makan lahap di sini,'' ledek Din.


"Tony memang nggak tahu diri," imbuh Delia.


"Mending gue daripada bayi kaplak yang harus disuapi, kan?" Tony pintar membalas, ia juga tersenyum tanpa rasa bersalah lalu lanjut melahap gurameh bakar, "Mantap mania!"


Abel duduk di depan Tony. Ia tidak perlu memperkenalkan diri, yang jelas mereka sudah saling mengikuti di instag**m. "Kak Tony, lapar banget?"


Tony mengangguk, ia malas menjawab karena sedang lahap. Tetapi ia begitu sebal melihat Din yang disuapi oleh Delia. Ternyata menikah sangat bermanfaat bagi Din; ia diurusi dengan baik oleh istrinya.


"Mau disuapi juga, Kak?" tiba-tiba Abel bertanya dengan nada datar.


Din dan Delia menatap Abel sinis.


"Sepupumu... " Delia berbisik di telinga Din, "Dia emang pecinta cowok tampan?"


"Tony kan kenal Abel udah lama, Sayang."


Delia berhenti menyuapi Din. Ia langsung mengetik pesan untuk Saras, "Ada ancaman."


"Gue mau ke atas, Ton," Din beranjak dari kursi makan menuju anak tangga. Ia juga membawa sang istri.


"Mau ngapain?" tanya Delia.


Din mengajak Delia untuk duduk di sofa, ada beberapa hal yang harus dibicarakan. "Kamu... Harusnya bilang kalau di ancam, kan?"


Delia mulai lemas, ia menyembunyikan dengan baik selama dua hari. Tetap tertangkap dengan gesit oleh Din.


"Kamu, Delia Iristi... " Din memeluk Delia, tidak terlalu erat. "Aku akan melindungimu."


"Aku... "


Bersambung...


...****************...


Din Sjarier🤣


__ADS_1


Delia Iristi Indra



__ADS_2