Marry Din

Marry Din
Part 27


__ADS_3

Sehari terasa lama. Tampaknya Din masih belum bisa mengerti alasan kenapa Delia berubah sikap. Ekspresi wajahnya kacau. Berkali-kali, ia mengingat kesalahan kecil apa yang mungkin ia lewatkan.


"Pasti ada sebabnya."


Din mengecek ponselnya. Delia tidak mengirimkan pesan, "Dia ngambek."


"Delia kemarin telfon gue, Din. Dia tanya Odette dalam hidup lo itu siapa," Tony tidak enak hati jika diam dan berlagak acuh.


"Kan, pasti ada sebabnya. Pantesan dia kemarin nangis, dia baca chat kayaknya." Din menyambar jaket lalu bergegas pergi.


Motornya membelah jalanan menuju Andaro Estate. Din tidak memikirkan satu kemungkinan yang ternyata membuat Delia gusar dua hari. Mungkin juga ia membaca pesan ancaman.


Begitu sampai di gerbang rumah sang mertua. Din langsung masuk, ia tahu betul rasa bersalahnya lebih besar. Ia merasa menjadi sampah dalam sekejap. Menyakiti hati istri sendiri.


Ding dong. Suara bel berbunyi. Delia enggan beranjak dari ranjang ternyamannya. Bi Surti lantas berjalan cepat membuka pintu rumah.


"Mas Din, mari, masuk." Bi Surti membuka pintu lalu memandu Din, "Mbak Delia lagi di kamar, Mas. Langsung naik saja, ndak di kunci."


Din tersenyum, "Makasih, Bi. Maaf, aku baru datang."


Bi Surti membalas senyum lalu beranjak ke dapur.


Pintu kamar Delia tidak ditutup rapat. Din tidak langsung mengetuk pintu. Ia lebih menikmati mendengar keluhan Delia -- dia mengadu di depan boneka.


"Popo... Aku sebel banget sama Din!" Delia mencubit pipi boneka lalu meninju bantal, "Dia nggak peka atau dia memang nggak sayang aku?"


Din menahan tawa, ia berusaha untuk sabar.


"Gimana nih, Po? Aku kayaknya suka banget sama Din." Delia memeluk boneka, ia merebahkan tubuhnya. Berbaring adalah hal yang terbaik saat hatinya gundah.


Sudah empat puluh jam mereka tidak bertemu. Delia bahkan sampai asal mengambil cardygan Din. Wangi parfum kuat dari Bvlgari Pour Homme yang mewakili pesonanya. "Aku kangen... "


"Sayang.''


Delia mendelik, ia melihat seseorang di dekat pintu kamarnya berjalan mendekatinya tanpa rasa malu, "Aku lagi nggak mau deketan sama kamu."


Din tersenyum lebar sembari menata rambut Delia yang berantakan, "Kamu benar-benar deh, Delia."


Delia tidak mudah untuk diluluhkan ketika ngambek. Sejak kecil, meski ia dijuluki Ibu Peri sekali pun.


"Aku minta maaf," ucap Din dengan ekspresi penuh penyesalan, "Jangan ngambek lagi."

__ADS_1


"Aku kecewa... Aku juga syok... " ia masih tidak percaya gagal memahami suami yang ia kenal sejak belia.


"Aku udah menerima pesan teror sejak lama, Del." Din enggan untuk membuka lebih banyak rahasia dan luka lama yang keluarga besarnya tutup rapat dari media. "Aku nggak pernah selingkuh. Odette itu junior di kampus. Dia memang berlebihan."


Delia ingin sekali percaya dengan ucapan Din. Tapi, ada perasaan yang sulit dimengerti dan membuat jiwanya sedikit lara. Apakah orang yang punya perasaan lebih besar biasanya mudah tersakiti seperti ini?


"Aku benar-benar merasa jadi sampah sejak kemarin melihat kamu menangis, Del." Din menyandarkan kepalanya di bahu Delia, "Aku tidur di bengkel dan terus-menerus mikir, apa penyebab istriku menangis? Dimana letak kesalahanku? Apa aku ini suami yang kurang respect? Banyak pertanyaan datang dan ingatan menyerang tentang kamu."


Delia menepuk bahu Din, ia juga tidak ingin membuka luka lama Din. Sebenarnya beberapa orang di Andaro sudah mendengar rumor -- Din anak di luar nikah. Bisa dibayangkan betapa banyak saingan keluarga yang ingin menjatuhkan Din Sjarier.


...****************...


Pukul sembilan malam di tempat persembunyian. Din tidak melakukan banyak hal, ia hanya menatapi Bruno dan beberapa hewan peliharaannya. Meskipun sudah berbaikan dengan Delia. Ternyata, memang tidak mudah menaklukan hati Delia.


"Pantesan dulu Lucky hampir gantung diri, ah, sial." Din memangku Bruno dengan segenap kasih sayang, "Brun, apa yang harus gue lakukan sekarang?"


Ia mulai melakukan penelitian dari kejadian masa lalu tapi sial, ia justru teringat masa asmara sang istri dengan cinta pertamanya yang sangat memuakkan pikiran.


"Din, lo lihat Delia?" tanya Lucky kala itu dengan wajah panik.


"Lo yang pacarnya aja nggak tahu, apa lagi, gue?" jawab ketus Din.


"Wah, gila," Tony tidak menyangka Delia tidak bergeming saat Lucky memohon ampun sepanjang kompleks Andaro, "Lucky benar-benar setara dengan udara. Nggak terlihat meski ada di sekitar."


"Yang, sure, aku nggak bermaksud ngebentak kamu. Aku juga nggak bermaksud buang bekal makanan dari kamu... " Lucky hampir menangis histeris, ia juga sangat malu karena Din dan Tony tampak menikmati penderitaan yang ia alami.


Din dan Tony saling tatap, mereka tidak berniat membantu Lucky.


"Beli ayam, kagak?" tiba-tiba Mas Jarot dengan motor sayur uniknya datang.


"Dua kilo deh, Mas." Delia langsung membayar dan menerima bungkusan daging ayam tanpa memperdulikan Lucky.


"Eh, ini, pacarmu lagi memohon ampun loh."


Delia menghela napas, "Hah, apaan si, Mas Jarot. Nggak ada orang kok."


"Loh, ini di sebelah kan ada Mas Lucky bukan bakteri." Mas Jarot menyikut bahu Lucky, "Minta maafnya diperbaiki lagi yak!"


Sudah setengah jam ia berusaha menjelaskan, tetapi Delia tidak semudah gadis lain. Dia memiliki satu sisi kejam jika marah. Menghilangkan objek pandangan dengan sengaja, membuat mereka setara dengan udara. Ia sudah pernah dimarahi oleh Papa dan Mama agar memperbaiki sikap buruk. Bahkan Bang Ryan menyarankan Delia untuk datang ke rumah Mbah Alam -- sesepuh hits di kompleks Andaro yang sering memberi petuah kehidupan.


Lucky tiba-tiba tergeletak tak sadarkan diri, ia kejang seperti orang kesurupan membuat Din, Tony, Mas Jarot dan Delia sangat cemas.

__ADS_1


"Lo, nggak papa?'' tanya Din dan Delia kompak.


"Lo, kesurupan?" tanya Tony lebih cemas lagi.


"OMG!" seru Mas Jarot.


Kejadian itu berlalu dan Delia memaafkan Lucky dengan cepat berkat akting berbakatnya.


Din sedang memutar otak. Ia mulai mencari tahu style idola Delia -- kebetulan pernah melihat sekilas di sosial media Delia. Berkali-kali Delia mengomentari postingan idolanya.


"Oppa, cukkae."


"GWS, Oppa."


"Long time no see you, Oppa."


"Saranghae, Oppa."


Din terbakar api cemburu, dengan cepat ia bertindak. Menaklukan kembali sang istri. "Awas kalau sampai membuatku lenyap seperti Lucky dulu. Kita main tiga ronde!"


Delia awalnya sedang berbincang dengan tetangga rumah sebelum seseorang dengan pakaian mencolok datang. Din mengenakan jubah tidur.


"Hei," Delia menarik Din ke sudut teras rumah, "Kamu ngapain pakai jubah tidur begini?" ia hampir memanggil Din dengan sebutan Oppa seperti dalam drama.


"Aku mau ngajak kamu tidur dong."


Delia mencubit bibir Din, "Aneh!"


"Del, kami pamit ya! Kalian mau siap-siap tidur. Maaf ya, Din." Dua orang tetangga langsung beranjak pergi.


"Aku takut... " bisik Din, "Aku takut lihat kamu marah dan menghilang dari objek pandanganmu."


"Nggak mungkin," balas Delia setengah malu. Ia tidak menyangka Din mempunyai pesona yang luar biasa.


Din menggendong Delia. Karena suasana tidak begitu ramai, ia juga berani mengecup bibir istrinya beberapa detik sebelum menutup pintu rumah.


"Sial!" Lucky tidak sengaja melihat adegan kecupan mesra pangantin baru. "Mantan gue bener-bener jadi istri tetangga sendiri."


Jokes di masa lalu yang pernah dilontarkan salah seseorang menjadi kenyataan keji bagi Lucky. Sudah terjadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2