
Tengah malam.
Din memakai kembali hoodie yang ia tanggalkan di lantai berserakan bersama pakaian tidur Delia.
"Mimpi yang indah," Din mengecup kening Delia.
Setiap kali membuka ponsel satunya. Ia mendapatkan pesan-pesan teror yang semakin mengancam mental. Mulai dari mengatainya anak haram, sampah hidup, manusia hina dan banyak makian kasar yang sulit dimengerti alasannya. Kenapa ini terjadi kepadanya?
Hal yang paling menyakitkan dari penelusuran hacker -- mendapatkan alamat IP dan lokasi pasti peneror. Setiap hari, ia ingin menyangkal. Tidak mungkin orang itu pengirim teror.
Din enggan membaca lagi pesan, anehnya ada satu pesan yang mengusik mata. Tentang Mommy -- tidak mungkin diabaikan.
+62889*******
Mau melihat wanita ini tetap hidup bahagia kan? Menyerahlah dengan semuanya. Kalian adalah kombinasi sampah dan aib keluarga Sjarier! Apalagi, wanita ini, dia sungguh seorang ****** perayu suami orang.
Din pernah menelepon, namun tidak ada suara. Konsep peneror memang selalu membuat was-was tapi Din bukanlah penakut.
"Mommy, masih belum tidur?'' tanya Din. Ia mulai sedikit cemas. "Tolong, Mommy, pulanglah ke Amerika."
Lady tertawa, "Ini kamu cemas atau mengusirku?"
Din terdiam. Meski terlambat untuk berperan sebagai seorang ibu, tapi Lady adalah ibu biologis Din. Seorang wanita yang mengandungnya selama kurang lebih 9 bulan.
"Mommy masih harus bekerja dini hari. Ada video conference dengan rekanan tadi."
"Jaga diri. Jangan sampai telat makan."
"Apa-apaan ini, anakku mulai dewasa ternyata... "
"Hem."
Setelah memastikan kondisi ibunya. Din berbaring kembali di ranjang. Meski tidak mengantuk, ia tetap berusaha tidur. Delia akan banyak mengomel jika menangkapnya begadang tanpa alasan.
"Din... Din... Din... "
Din memeluk erat Delia, "Kamu mengigau, ya?"
"Aku sayang kamu, Din Sjarier... sejak dulu... "
"Iya, aku juga sayang banget sama kamu." Din membalas ungkapan Delia.
Beberapa jam kemudian. Mentari pagi mulai menampakan sinar indahnya. Tidak terlalu terik namun cukup hangat di pagi hari.
"Bangun," bisik Delia.
Din tidak menjawab. Ia justru semakin erat memeluk guling.
__ADS_1
"Ayo, bangun," bisik Delia lagi.
Tangan Din melepas guling dan menangkap Delia yang duduk di sampingnya. "Aku masih ngantuk."
Delia mengecup bibir Din.
"Ah, aku malu."
"Aku cinta kamu."
Din yang tadinya masih mengantuk langsung membuka mata. "Kamu merayuku di pagi hari. Ini nggak adil, kan?"
Delia menjulurkan lidah. Terlalu menyenangkan menganggu Din yang masih mengantuk. Mata kantuknya sangat seksi.
"Minum air hangat dulu,'' Delia membantu memegangi gelas, "Lalu jangan lupa mandi habis ini."
Din justru tersenyum. Setiap pagi setelah membuka mata, ia merasa hidup kembali. Padahal tengah malam, ia harus berjuang menghadapi kecemasan. Delia adalah seseorang yang mampu mengembalikan kondisi baik di hatinya.
Setelah mandi, mereka pergi kembali ke gubug di sawah Mas Jarot. Kebetulan cuaca tidak terlalu menyengat dan cocok untuk mengambil beberapa jepret foto dari kamera Din.
"Aku bahagia hari ini karena bisa jalan-jalan ke sawah dengan Din Sjarier."
Din mengambil foto Delia tidak terhitung jumlahnya. Ia adalah fans fanatik Delia mulai saat mereka bulan madu pertama.
"Berhenti jepret kamera," pinta Delia manja. Ia juga bersandar di bahu Din.
"Aku kan fans kamu, Sayang."
"Kok ikan kembung?" tanya Delia sebal.
"Kamu, Sayang. Kamu itu lucu banget!" Din mencubit pipi Delia karena gemas.
Delia menatap Din. Baginya, melihat Din tertawa seperti kebahagiaan besar. Cara tertawanya selalu sama. Dialah Din. Orang yang tetap akan ia sukai.
...****************...
Odette, begitulah Din memanggilnya. Hubungan mereka sering disalahpahami banyak orang. Bahkan Odette, namanya Alina, mengira Din mungkin memiliki perasaan kepadanya meski sedikit.
"Apa-apaan ini, Kak Din?'' Alina menatap layar ponsel berkali-kali. Ia tidak percaya Din menjadi sedikit romantis.
Kenal sejak awal kuliah. Alina merasa Din adalah sosok pangeran di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Tidak disangka mereka mengambil jurusan yang sama; Sastra Indonesia.
"Dia beneran Din Sjarier, senior kita yang outfitnya seharga mobil itu?"
Alina pertama kali bertemu dengan Din di kelas yang sama. Din duduk di sebelah dan sangat fokus mendengarkan dosen. Sekali lirik, Alina mendapati sepatu mahal. Dua kali lirik, ia melihat pemuda mengenakan jam tangan Rol*x.
"Ini gila, dia bahkan menyalip jam tangan dosen kita," gumam Alina.
__ADS_1
Bukan hanya kemewahan mencolok Din. Kabar yang beredar, Din adalah salah satu mahasiswa yang tidak melirik bar/diskotik/klub. Motor yang ia kendarai merupakan motor termahal yang pernah parkir di kampus.
Awal kedekatan mereka karena bertemu di kantor penerbitan. Alina baru sadar kalau Din adalah Dylan -- penulis terkenal di kalangan gadis-gadis muda.
"Jaga rahasia, yak." Din hanya menyuruhnya untuk menjaga rahasia.
"Oke, Kak Din," jawab Alina menurut.
Mereka bertemu lagi dalam UKM yang sama yaitu
sinematografi. Semakin dekat, Din memperlakukannya seperti seorang adik. Padahal, semua orang sudah salah paham.
"Aku juga bisa salah paham," Alina membatin.
Faktanya, ia memiliki kekasih yang menyebalkan bernama Rasti. Apalagi, dia berada di jurusan ekonomi dan merupakan anggota BEM. Terkenal. Mereka adalah pasangan terkenal ; campus couple.
"Gue waktu liburan semester pergi ke Jepang ketemu Kak Din, Lin." Salah satu teman Alina menceritakan liburan mengesankan, "Eh, Kak Din masih sama Kak Rasti, anak BEM kan?''
Alina mengangguk pelan.
"Tapi gue lihat dia sama cewek cantik banget di Jepang, Lin. Dia tipikal yang selingkuhan nggak, sih?"
Alina menggeleng. "Kayaknya mereka masih mesra tuh tadi pagi."
"Gue yakin banget cewek yang di Jepang itu cantik dan bukan anak kampus kita. Lo mau tau nggak, satu hal epic yang nggak sengaja gue lihat saat di Jepang?"
Jangan memberitahu...
"Apa?" Alina kepo.
"Lo yakin dia masih sama Kak Rasti, kan?" teman Alina tertawa sinis, "Kak Din itu meluk cewek cantik itu, Lin. Seriusan, gue lihat sendiri."
Setelah menjelajahi sosial media Din. Alina menemukan satu nama, Delia. Perempuan yang menjadi ancaman bagi Rasti dan juga baginya suatu hari nanti.
Belum lama setelah kepulangannya. Alina bertemu Rasti yang sedang makan malam bersama sang suami -- anggota DPR.
"Kalau lo masih suka sama Din, gue bilang stop it now." Rasti menghadang Alina di dekat toilet.
"Maksud Kak Rasti, apa?" tanya Alina.
"Sekeras apapun cinta pertama bertahan, pada akhirnya kalah dengan kenyataan."
"Kakak kan mengejar dan gagal merebut Kak Din." Alina tidak terlalu suka dengan sikap sok Rasti sejak dulu.
"Lo, Alina," Rasti mengusap lengan Alina, "Bukan tandingan Delia."
Alina tidak ingin berkomentar. Terlalu malas menbahas orang asing yang tidaklah penting.
__ADS_1
"Delia? Memang sehebat apa dia?''
Bersambung...