Marry Din

Marry Din
Part 30


__ADS_3

Delia mendapatkan undangan makan malam dari Mark. Butuh waktu dua hari merayu Din agar dapat ijin.


"Boleh aja si... " Din melirik awas, "Tapi, kamu harus ditemani Saras. Jangan berdua dengan Mark."


"Makasih, Sayang."


"Hem," gumamnya.


"Cuma beberapa jam doang kok." Delia masih berusaha menenangkan sang suami, "Kamu nggak perlu cemas."


"Ini bahaya tepatnya," jawabnya datar.


Delia memberanikan diri bertingkah imut, mengenakan bando telinga kelinci agar Din luluh. "Uuh... Sayangku... "


"Apaan si, Del." Din berusaha menghindar dari serangan imut tiada tanding itu, "Kamu lagi ngapain?"


"Merayu kamu."


Kedua tangannya mengepal manja dan mulai berayun sesuai irama hati. Langkah kakinya mengitari seseorang. Dengan wajah malu, ia tidak ragu menuai senyum. Bibir berpoles lipstik pink itu membuatnya semakin jauh terpikat.


"Got me spinning like a ballerina... " ia juga bersenandung sambil tersenyum riang. (Lagu Lana Del Rey - Queen of Disaster)


Din tertawa keras.


"Jadi, bagaimana, Suamiku?" Delia bertanya sekali lagi.


"Oke."


Delia memeluk Din, "Nanti kamu jemput aku selesai acara makan, yak?"


"Siap," Din menyentuh hidung Delia, "Jangan dandan terlalu cantik."


Pertama kali melihat ekspresi cemburu Din membuat Delia sempurna bahagia. Selain mendapatkan ungkapan cinta setiap malam sebelum tidur, ia juga mendapati Din cemburu.


"Pakai baju ini," Din bahkan memakaikan jaket Balm*ain yang baru ia beli.


"Wow, ini, Balm*ain," Delia melihat pantulan dirinya yang keren.


"Cantik."


"Haha, terima kasih."


Din melingkarkan kedua tangannya di leher Delia, "Kalau bisa, nggak usah pergi. Main dan makan malam sama aku aja, oke?"


"Begini lagi!" Delia menabok pantat Din, "Kan tadi udah dapat ijin."


"Tiba-tiba aku berubah pikiran. Aku jadi mau mengekang kamu."


Delia sedang bersiap untuk pergi tetapi seseorang mulai menahan tubuhnya, "Hei, ayolah, Sayang. Aku kan pergi sama Saras juga."


Din enggan melepas dekapan, ia bahkan menggigiti lengan Delia.


"Kekanakan banget, help!" Delia sudah tidak tahan, "Ayolah, Sayang. Jangan begini."


"Kamu juga jangan begitu."

__ADS_1


Delia menepuk jidat Din, "Din Sjarier, kamu bukan anak kecil lagi."


"Hah? Kamu pikir aku nggak tahu itu, Delia." Din semakin songong.


"Kamu kalah dewasa sama bocah geng lato-lato kompleks Andaro."


Tidak diterima disebut kekanakan. Din malah semakin berulah, mengambil kunci mobil Delia.


"Lo, dimana? Gue udah di depan rumah Din." Saras datang tepat waktu dan menelepon begitu sampai di depan gerbang rumah keluarga Sjarier.


"Bentar lagi turun, Ras. Ini ada drama bocil ngambek."


"Din?" Saras asal menebak karena ia melihat Din berlari ke luar rumah dengan wajah girang, "Tadi suami lo lari ke rumah Sultan Andaro."


"Kita naik taksi."


"Oke."


Setelah Delia menemui Saras, mereka berjalan menuju tempat pangkalan taksi. Mereka juga melewati rumah Lucky. Terlihat Lucky sedang menggendong anaknya.


"Woi, Bapak Lucky!" sapa Saras.


Delia hanya tersenyum biasa. Tidak ingin menyapa takut disalahpahami seseorang.


"Din ngumpetin kunci mobil?" tanya Saras heran. Yang lebih mengherankan adalah pakaian Delia. Tidak sesuai eskpetasi. "Lo pakai jaket Balm*ain Din, Del? Gue pikir lo bakal pakai dress malam ini."


"Ini outfit yang dia pilihkan, Ras," Delia merangkul Saras, "Din semakin ugal-ugalan."


"Itu si kelihatan jelas."


"Apa?" tanya Delia panik.


"Hati-hati di jalan. Jangan lupa kalau udah selesai acara, chat langsung."


"Inilah dia kelakuan dua bucin yang akan berpisah beberapa jam." Saras mencegah kecupan di kening Delia. "Jomblowati ini minta sedikit dihargai."


"Aku berangkat dulu." Delia berpamitan, ia mencium tangan kanan Din.


"See ya, Babe."


Saras hampir mual karena menyadari betapa tragis nasibnya sebagai lajang seperempat abad. Satu-satunya orang yang ia sukai bahkan tidak melihatnya sebagai wanita.


"Miris, tragis dan no romantis." Saras menatap Delia, "Jangan pamer kemesraan kalian lagi."


"Lo harus dapat inspirasi langsung dari gue, dong.''


Mereka kemudian naik taksi menuju restoran.


...****************...


Setelah dua tahun mengenal Delia. Ini perpisahan mereka. Mark memutuskan untuk mengakhiri rasa tersisa dan tetap menghormati sebagai teman yang baik.


Keputusan yang diambil Delia untuk menikah bukanlah sebuah kesalahan. Gadis itu merupakan gadis baik dan berbakti. Mark percaya bahwa segala hal tentang Delia adalah sesuatu yang istimewa.


"Delia," gumamnya sembari melihat foto pertama yang Delia kirim di masa lalu. "Kamu, gadis yang sangat cantik dan baik."

__ADS_1


Ia sudah mendengar bahwa suami Delia adalah pria dari kalangan atas, tetapi ia salah. Din Sjarier seperti bukan tandingannya. Seorang pemuda biasa asal Swiss bahkan harus menyerah dengan hati gundah.


"Mark!" Saras melambaikan tangan begitu melihatnya.


"Long time no see, Mark," ucap Delia sopan.


"Mari duduk dan pesan makanan.''


Saras dengan cepat duduk begitu pun Delia.


Mereka memesan menu andalan restoran, steak premium.


"Aha, terima kasih banyak, Mark." Delia tidak lupa etika, ia pun membawa hadiah perpisahan untuk Mark. "Ini hadiah kecil buat kamu."


"Boleh aku membukanya sekarang?" tanya Mark.


"Boleh."


Mark dengan hati-hati membuka isi kotak berukuran sedang tersebut. Sebuah dompet kulit asli. "Wow, thank you so much."


"Aku juga bawa hadiah untukmu." Saras membawa novel pertamanya yang sudah dicetak, "Simpan dan baca saat kamu sampai rumah, Mark."


"Terima kasih. Aku senang memiliki teman yang baik seperti kalian. I hope, we keep this friendship until the end."


Perpisahan tidak selalu buruk. Terkadang dengan berpisah, seseorang akan mulai menyadari bahwa ruang kosong di dalam dirinya sudah berpenghuni. Mark tidak membenci Delia. Ia tidak membenci perjuangannya sendiri. Berkat Delia, ia mengerti arti berjuang lebih keras.


"Aku akan melanjutkan S3. Aku harap suatu hari nanti, kamu berkunjung ke rumah sederhana milikku."


"Tentu. Aku dan suamiku akan berkunjung ke sana."


"Terima kasih. Aku harap pernikahan kalian selalu bahagia sampai tua."


Mereka saling bertatapan lalu tersenyum. Perpisahan dengan seorang yang pernah singgah di hati memang terkadang menyesakkan dada. Tetapi, tidak ada kebencian lagi di masa depan.


"Aku masih mencintaimu, Delia." Mark tidak pernah mengutarakan perasaannya, ia hanya memendam dan diam.


Saras memperhatikan tatapan Mark. Ia peka. Ia juga merasakan hal serupa. Cinta sepihak.


Din menjemput Delia. Tidak seperti biasa, kali ini, dia membawa mobil Rover. "Hei, Sayang!"


Delia berlari ke arah Din, "Din!"


"Ayo jalan-jalan sebentar denganku malam ini."


Delia mengangguk setuju.


Ketika mobil mereka melesat. Mark masih terdiam di area parkir. Banyak sekali penyesalan yang ia mulai sesali.


"Seandainya aku lebih memperhatikanmu saat dulu. Seandainya waktu bisa diputar ke dua tahun lalu. Aku minta maaf karena pernah mengabaikanmu. Aku berharap kebahagian untukmu. Tetapi, apa kamu tahu rasanya? Tersenyum di acara pernikahan orang yang kamu cintai sambil berbohong dengan bilang aku baik-baik saja."


Bersambung...


...****************...


Jaket Balmain Din

__ADS_1



__ADS_2