
"Matilah, itu permintaan terakhirku."
Rasanya setiap kali membaca pesan teror, jantungnya berdetak lebih cepat seperti maraton. Apa benar itu permintaannya? Apa benar ia salah karena menganggap semua baik-baik saja seperti angin berlalu.
"Apa itu cukup?'' Din membalas pesan. Tidak seperti biasanya, ia yang abai menjadi peduli.
Perasaan manusia itu sulit dijangkau akal sehat. Terkadang mudah berbalik, terkadang jungkat-jungkit.
"Din," Delia menatapnya sendu. Ada sesuatu hal yang harus ia katakan, tetapi batinnya seolah menuduh.
"Delia, istriku." Din tidak ingin mengacaukan liburan mereka. Tetapi, waktunya sudah tepat untuk memberitahu Delia. "Sayang, ada yang ingin aku bicarain serius malam ini."
"Oke."
"Jadi gini, Sayangku. Tentang teror yang aku dan kamu alami itu beda orang. Kamu mungkin diteror Rasti, kalo aku itu diteror orang rumah."
Ternyata Din sudah mengetahuinya. Delia juga diam-diam menyelidiki peneror Din.
"Aku sebenarnya mau nyimpan ini seorang diri, tapi kita udah menikah. Aku punya kamu, istriku."
Delia dengan cepat memeluk Din dari belakang, "Pasti berat menjadi kamu selama ini."
"Hmm... Tentu."
"Kamu boleh menangis sekarang."
"Laki-laki nggak boleh kan menangis, tapi di depan kamu, aku lemah."
Delia melingkarkan erat kedua tangannya di pinggang Din. Ada kalanya, ia tidak perlu melihat air mata orang lain. Din tidak terlihat baik ketika menangis.
Air mata yang menetes itu jatuh ke telapak tangan Delia. Air mata dari orang yang paling ia sukai. "Jangan menderita sendirian begini, Sayang."
"Apa kelahiranku adalah kesalahan besar? Aku yakin nggak ada anak haram di dunia ini."
"Nggak ada," Delia melepas pelukan dan mendapatkan pemandangan mengharukan. Wajah rupawan yang dikagumi banyak orang itu banyak meninggalkan jejak air mata. "Kamu itu anak baik, kamu anak yang tumbuh dengan banyak cinta dan kamu banyak dicintai."
Din memandangi wajah bangga Delia saat menghiburnya. Seorang yang bahkan di masa lalu tidak pernah ia bayangkan masuk dalam hatinya sebagai kekasih, justru menjadi pendamping hidup.
"Din yang selalu menyanyangi binatang, itu keren," ucap Delia.
"Mommy bilang, Delia itu menantu idamannya selama ini. Ternyata benar, Delia, kamu itu istri idamanku."
Delia tersenyum. Memang ada yang janggal dengan kehadiran Tante Lady di tengah keluarga Sjarier. Belum lagi, Din sudah mengetahui identitas peneror. Hatinya bukan hanya hancur, tetapi sudah remuk.
__ADS_1
"Aku kaget saat mengetahui dia adalah peneror. Kamu juga menyelidikinya, kan?" Din tidak ingin istrinya ikut sedih.
"Aku minta tolong Mark. Maaf, aku baru menceritakan ini."
"Aku berterima kasih, Sayang. Kamu ikut memikirkanku sejauh ini."
"Aku yakin kamu nggak baik-baik aja," ucap Delia lagi.
Rasanya seperti tertipu muslihat musuh, begitulah kira-kira Din berpikir. Ia banyak mendapatkan jawaban memuaskan. Tentang seseorang yang paling ia hormati di rumah dan sosok terbaik yang memberi kasih sayang tanpa banyak keluhan. Meninggalkan jejak trauma.
"Setelah kita liburan, aku akan bicara empat mata dengannya." Din sudah memiliki rencana.
"Aku mendukungmu, Sayang. Apapun yang terbaik menurut kamu. Apapun, Din... "
Din tersenyum kembali, "Kamu sering mengatakan hal itu. Apapun, Din... Apa kamu tahu? Sekarang, aku cinta banget sama kamu, Delia."
"Apapun, Din," bisik Delia. Ia hanya ingin mengingat bahwa lelaki itu sudah jatuh cinta. "Aku cinta kamu, Din Sjarier."
"Jangan mengabaikanku. Jangan mencampakanku.''
"Of course... "
...****************...
"Mas Indra!" Pak Donny menyapa Pak Indra. Ia kaget, tapi pandai mengatur ekspresi.
"Hei, Don. Lagi makan sama siapa?" tanya Pak Indra langsung.
Bu Marini mengenal baik wajah perempuan cantik yang duduk di sebelah Pak Donny. "Lady, ya?''
Lady mengangguk dan menjabat tangan Bu Marini. "Halo, Mbak."
Pertemuan canggung mereka terjadi hanya beberapa menit. Pak Indra memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Sementara, Pak Donny masih terlihat tenang dan menikmati obrolan dengan mantan istrinya.
"Donny itu masih ketemu sama Lady? Bukannya ini agak kurang sopan?" tanya Bu Marini kepada suaminya.
"Entahlah, aku sendiri kurang paham hubungan mereka. Tapi, yang aku dengar dari Donny. Dia belum pernah menceraikan Lady."
Sepertinya, Bu Marini mulai paham kenapa teman baiknya, Almira, sedang malas untuk diajak ke luar rumah.
Pagi hari setelah olahraga pagi. Mereka bertemu lagi dengan Pak Donny dan Lady. Terlalu aneh, tapi mereka tidak ingin mendengar skandal baru kompleks Andaro.
"Anu, Don. Maaf lancang tanya. Kamu itu sama Lady dari semalam bareng atau gimana? Kok pagi juga masih barengan?" tanya Pak Indra kepo.
__ADS_1
"Lady nginep di rumah," ucap ayahnya Din.
Bu Marini saling tatap dengan Lady. Ada banyak pertanyaan, tetapi ia malas menanyakan. "Kabarmu gimana?"
"Baik, Mbak. Senang rasanya melihat Din menikah dengan Delia. Kalian pasti mertua yang baik."
Tunggu. Bu Marini semakin mengerti keadaan. Rumor di masa lalu yang sempat berhembus mungkin benar. "Kenapa kamu terlihat seperti ibunya Din, Lad."
"Aku memang ibu biologis Din."
Berharap gurauan semata namun eskspresinya memaksa mereka untuk yakin.
Kejadian itu masih mereka ingat. Mereka sedikit lega karena Din dan Delia sedang pergi berlibur. Suasana rumah Sjarier setelah pembacaan hak waris menjadi mencekam.
Lagi, Bu Marini mendengar hal-hal di luar prediksi.
"Wo asal kamu tahu, dulu sekali, pas Mas Din kecil. Aku nggak sengaja melihat dia hampir dicekik." Satpam rumah Sjarier sedang mengobrol dengan Ujang di taman belakang rumah Bu Marini.
"Eta beneran, Wo?" tanya Ujang tidak percaya.
"Mas Din pas masih TK kalo nggak salah saat itu. Pas dia lagi mulai suka binatang. Aku ingat betul, Jang." Siswo sudah bekerja puluhan tahun di rumah Sjarier. Jika shift selesai, ia terkadang berkeliling mengecek keadaan sekitar rumah.
"Eh, saha yang mau nyelakain si aden?" tanya Ujang.
"Janji, ya. Ini cukup kita yang tahu. Aku kedua kali cerita ini. Pertama dengan istriku, kedua ya kamu, Jang."
"Beres itu, mah. Saya teh amanah, Wo."
"Nyonya, istri Pak Donny sekarang. Ibu Almira..."
"Astagfirullah!" teriak Ujang. Ia terkejut bukan main.
"Bahkan sampai sekarang, istriku masih sulit percaya cerita itu."
"Ini miris banget, Wo.''
"Yang lebih miris, Mas Din inget kejadian itu. Orang rumah mengira itu hanya mimpi buruk."
Sementara, di tempat yang jaraknya hanya beberapa langkah. Bu Marini segera mengatur napasnya. Ia lebih dari terkejut. Tidak mungkin. Itu hal yang tidak masuk akal. Tetapi, Pak Siswo adalah orang yang jujur.
"Del, gimana liburan kalian? Mama akan mentraktir kalian makan malam di hotel Helton setelah pulang."
Bu Marini mengirim pesan sebelum ia tidur. Entah mengapa ia sulit mengatur emosi diri saat mendengar fakta tentang Din.
__ADS_1
Bersambung...