
Selama dua hari bukan hanya perasaan cemas berlebih yang ia rasa. Tetapi gemetar bercampur dengan rasa takut yang memuncak menjadi kegelisahan. Delia bukan tidak ingin jujur, hanya saja takut menambah beban pikiran Din. Ia masih bergelut dengan pikiran, kegelisahan dan rasa takut.
"Nggak bisa gini." Din meyakinkan Delia, "Aku ini suami kamu."
"Aku.... Takut... Selama dua hari ini... "
Sorot matanya menjelaskan segalanya. Din mengambil ponsel Delia, ia memeriksa berapa banyak umpatan yang datang.
"Bahkan siang tadi," ucap Delia dengan nada suara rendah.
Tidak dipungkiri bahwa sebagian umpatan yang didapatkan olehnya bersumber dari kebencian menggigil dalam diri seseorang. Din tidak ingin memperkeruh suasana dengan membalas umpatan yang lebih kasar.
+6288********
Jijik banget melihat wajah oplas lo, *****! Iyuh! Mati sana!
Din mengamati pola penulisan pesan, tidak terlihat seperti orang dewasa sama sekali - mungkin seorang remaja tanggung yang salah sangka.
"Aku nggak pernah punya masalah sama seseorang," ucapnya seraya meneteskan air mata. "Ini sedikit mengejutkan, mengguncang mentalku."
Hanya beberapa jam; teman satu klub motor yang kebetulan ahli IT sudah mendapatkan lokasi peneror Delia. Salah satu alasan kenapa ia ingin mengobrol serius dengan Delia. "Bagaimana ini, Sayang? Aku udah melacak peneror ini."
Kekuatan uang dan relasi memang luar biasa. Delia patut memuji sang suami. "Terima kasih banyak, Din, Sayangku."
"Ehem," Din berdeham. Ia menarik tubuh Delia agar semakin dekat. Wajah mereka hanya berjarak lima senti. "Malam ini kamu jangan ke luar kamar, oke?"
"Aku harus makan malam," ia memberikan alasan.
"Jangan turun."
"Kenapa?"
"Aku mau makan di kamar," bisik Din.
Semenjak Din merekrut pekerja baru untuk memberi makan dan memandikan hewan peliharaan, ia lebih bebas menikmati waktu bersama Delia.
"Nggak, itu bukan makan." Delia menatap Din, "Bagaimana bisa kamu sekuat ini, Sayang?" ia juga menyentuh bahu lebar sang suami.
"Kamu lagi ngapain?" Din merasa geli, ia juga merasa sedikit panas setiap kali jemari lembut itu menjelajahi bagian tubuhnya. "Ini masih banyak orang."
"Hah, aku bisa gila... " Din menarik napas lalu menghembuskan pelan.
__ADS_1
Ia dengan nyaman berbaring di pangkuan Delia. Mereka sedang menonton film thriller. Tidak peduli keberadaan Tony.
"Jangan cemas lagi." Din berusaha untuk meyakinkan Delia, "Ada aku, kamu aman."
Setiap hari bersama Din, membuatnya berpikir -- menikah tidak salah. Ada banyak perbedaan di antara mereka yang perlahan dapat disatukan. Din yang mulai belajar untuk memahami kebiasaan Delia, maupun Delia yang ikut mengimbangi Din.
"Aku pikir... Kamu sudah mencintaiku?"
Din mengangguk setuju, "Sangat."
Wajahnya memerah karena terpesona juga bahagia. Bagaimana bisa, kebahagiaan ini begitu terasa tidak nyata. Awalnya, ia pikir untuk menyerah dengan cepat karena mantan kekasih Din yang sulit dihadapi.
Malam hari ketika ia mengunci pintu kamar, ada tatapan yang menggoda. Seorang pria muda dengan segala pesona, tidak pandai dalam berbicara manis meskipun ia seorang penulis hits.
"Aku sering dibuat takjub... " Din berbisik di telinga kanan Delia. "Kamu, Delia, kenapa nggak dari dulu menyukaiku?"
Delia sendiri tidak mampu menjawab. Bagian tersulit yang ia hadapi saat masa SMA adalah tuduhan ia menyukai Din.
"Aku ingat saat kamu begitu jatuh cinta dengan orang lain."
Din memegangi kedua bahu Delia, "Aku juga ingat, saat dia adalah segalanya buat kamu, Del. Aku ingin mengulang waktu."
...****************...
Kelas sudah berakhir. Beberapa murid tidak langsung pulang. Kebanyakan dari mereka aktif mengikuti ekstrakulikuler. Din bahkan mengikuti dua eskul, basket dan seni. Yang lebih ia utamakan adalah basket. Tony merupakan wakil ketua tim basket putra SMA.
"Gue haus, Din." Tony bisa bersikap semena-mena saat latihan bersama tim basket. Kapan lagi ia mendapatkan kesempatan menyuruh Din Sjarier membeli minuman. "Tolong, lo beli juga, minuman isotonik, jangan lupa camilan wajib gue."
Din menurut, ia berjalan menuju kantin dengan membawa potongan kertas permintaan Tony yang ia catat.
Delia berada di kantin. Satu-satunya eskul yang ia ikuti hanya kelas tata boga. Ia terlihat menikmati kelas memasak. Tidak banyak anggota bahkan terancam dibubarkan oleh guru BK.
"Hei," Din menyapa Delia. Ia juga mengambil beberapa botol minuman isotonik. "Lo, lagi nggak banyak kegiatan di kelas memasak?"
Delia menatap sayu Din, "Cuma lima orang adik kelas yang datang."
"Mendingan gabung ke tim basket, kan?"
Delia menepuk pantat Din, "Enak aja! Tim kalian kan curang, cuma mengandalkan tampang."
"Tapi nggak usah nabok pantat gue, Del." Din membalas, ia mencubiti pipi Delia di depan ibu kantin.
__ADS_1
"Kalian pasti bentar lagi pacaran, hem, "ucap Ibu Kantin dengan nada datar namun tampang bak penyidik.
Mereka tertawa karena menyadari tidak akan tumbuh sepercik pun cinta.
Din mengantar minuman terlebih dahulu kemudian ia membantu Delia membawa kotak kayu ke ruang kelas memasak.
"Makasih, Gecko!" Delia mengelus rambut Din dengan santai, tidak ada beban. "Nanti gue beliin batagor Mang Saswi dua porsi, oke?"
"Hahaha, semurah itu ya balas budi lo."
Din beranjak dari ruang memasak, tetapi ia sedikit malas pergi ke gedung olahraga untuk latihan basket lagi. Ia hanya membiarkan batinnya memimpin langkah kaki. Berjalan dari koridor lantai satu dengan santai.
Sore itu adalah sore yang tidak mungkin ia lupakan. Tiga orang senior kelas dua belas sedang berbincang, tetapi, mereka menyebut nama Delia.
"Delia yang anak IPS kan? Dia beneran deh, tipe yang sok jual mahal."
"Hahaha. Pacaranya nggak cakep sama sekali, berani banget dia dulu nolak Bintang.''
"Padahal kalau dia jadian sama Bintang, dia akan aman. Nggak bakal jadi bahan m*st**b*** kita-kita!"
Ya, Din tidak peduli apakah mereka lebih tua. Mereka melakukan pelecehan seksual kepada Delia. "Kalian tadi ngomong apa?" Din mendekat dan memegang kerah baju salah seorang, "Bilang apa tentang Delia, hah?"
"Bukan urusan lo, anjir," ucap salah satu dari mereka dengan santai.
"Ya wajar kan setiap cowok punya cewek idaman, hahaha." Bahkan ada yang tertawa dengan nada girang.
Plak! Plak! Plak!
Din tidak ragu menampar mereka bertiga, ia sebagai orang yang tumbuh bersama Delia sejak belia sangat marah. "Bajingan mesum!" matanya tampak seperti pemangsa.
Anak kelas tiga yang ditampar Din langsung menyeret Din ke lapangan. Tidak peduli hujan deras mengguyur -- harga diri sedang dipertaruhkan.
"Jangan mentang-mentang lo ini si paling kaya, si paling hits, kita bakalan takut? Nggak, Jok! Kita bakal habisin lo sore ini! Cowok yang bersembunyi di balik pakaian branded biasanya banci!"
Din melayangkan satu tamparan ke mulut seniornya, "Diam."
Tetesan hujan mengguyur mengiringi perkelahian. Anak-anak sekolah ramai, guru yang masih berjaga juga ikut melerai. Wajah mereka babak belur -- Din mengamuk brutal.
Sesaat, ia menatap ke atas, melihat Delia yang juga menatapnya kecewa. Hatinya bagai ditusuk jarum berkali, bahkan saat ia membela Delia, malah membuat hubungan mereka semakin jauh.
"*Aku ingat hujan deras saat usia kita tujuh belas. Kamu menatapku kecewa. Tahukah, kamu? Aku baru pernah merasakan sedih yang mengguncang batin, saat kamu menganggapku berandalan. Kamu bahkan mulai membuat jarak denganku. Andai kamu tahu, Delia, saat itu... aku menjagamu." *
__ADS_1
Bersambung...