
Ting!
Evan itu segera keluar dari lift dan mencari kamar nomor 16.
Namun kau mah pria itu sangat terkejut ketika dia melihat Diana keluar dari dalam kamarnya dengan langkah yang tidak stabil dan bahkan perempuan itu tidak menggunakan sepatunya.
Lebih parahnya lagi, dia melihat pakaiannya acak-acakan rambutnya yang basah berantakan tidak di sisir dan terakhir dia melihat bahwa perempuan itu berada dalam keadaan yang sangat buruk karena nafasnya yang terlihat sangat berat.
Maka pria itu cepat-cepat untuk menghampiri Diana demi menolong perempuan itu ketika dia yang baru berlari beberapa langkah melihat Diana telah terjatuh ke lantai.
"Hei!!" Teriak Evan semakin mendekati Diana dan dia dengan cemas memegang tubuh Perempuan itu.
Tubuh Diana terasa begitu panas, dan dia bisa melihat bahwa mata perempuan itu sangatlah sayup yang menandakan bahwa perempuan itu sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kak,, to,, tolong,," ucap Diana sembari mengulurkan tangannya menggapai tubuh sebab dia bisa merasakan bahwa tubuh pria itu sangatlah sejuk dan memberinya ketenangan.
Event yang merasakan itu tentunya tidak ingin terlalu dekat dengan perempuan itu, tetapi menyadari bahwa dia harus menolong perempuan itu, maka Evan cepat-cepat membawa Diana kegendongannya dan masuk ke dalam kamar.
"Aku akan memanggil dokter, Jadi kau berbaringlah di sini," ucap Evan membaringkan Diana Di atas ranjang, tetapi saat dia menarik tubuhnya untuk menjauhi perempuan itu Diana malah semakin mendekatkan diri ke arahnya sebab kesadaran perempuan itu sepenuhnya telah menghilang dan kini dia berada di bawah pengaruh obat.
"Hmm, kak,, kakakku,, hah,,, tolong,," ucap Diana sembari terisak dengan tangan yang memeluk erat Evan sehingga membuat Evan menggertakan giginya.
Pria itu mengulurkan tangannya untuk melepaskan pelukan Diana dari tubuhnya, tetapi Diana dengan kencang memeluk pria itu dan juga mengulurkan kakinya menahan pria itu supaya tidak kabur darinya.
Evan yang melihat sikap perempuan itu jelas mengetahui bahwa saat itu Diana berada dalam pengaruh obat-obatan, jadi dia mengulurkan sakunya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tolong datang ke kamar dilan--"
__ADS_1
Brukk!!!
Buk!!
Belum selesai Evan berbicara ketika ponsel milik Evan sudah direbut oleh Diana dan dibuang ke lantai hingga pecah dan ponsel itu meredup menandakan bahwa barang elektronik itu telah rusak.
"Kau!!" Evan sangat marah hingga dia mendorong keras Diana dan membuat Diana tersungkur keranjang dengan Evan yang kemudian cepat-cepat mengambil ponselnya sebab Dia menyadari bahwa ada begitu banyak kenang-kenangannya bersama dengan Diana di dalam ponsel itu.
Tetapi Diana yang melihat pria itu menjauh darinya cepat-cepat berdiri dan menghampiri pria itu lalu memeluk Evan dari belakang.
"Hiks,, hiks,, hiks,, Jangan kasar padaku! Jangan kasar! Jangan kasar! Hiksss hiks,,!!!" Ishak Diana benar-benar membuat Evan merasa kesal pada perempuan itu.
Perempuan itu telah merusakkan barang berharganya yang berisi kenang-kenangannya bersama dengan adik sepupunya yang sangat ia sayangi, dan sekarang perempuan itu berkata supaya dia tidak bersikap kasar padanya?
__ADS_1
Maka dengan cepat Evan kemudian memegang tangan Diana dengan kasar dan berdiri melemparkan Diana ke atas ranjang sembari menatap Diana dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kau!!! Aku tidak akan pernah peduli lagi padamu!!!" Teriak Evan dengan tangan memegang erat ponselnya lalu pria itu kemudian berbalik untuk keluar dari kamar Itu sebab dia benar-benar merasa tertekan berada satu ruangan dengan Diana firdania.