
Dia sangat merindukan pria itu, merindukan Bagaimana pria itu selalu memperlakukannya dengan hangat dan lembut sehingga membuatnya tak bisa menahan diri untuk menangis.
"Hiks,, hiks,, hiks,," Diana menangis dengan suara yang berusaha ditahan, dan air mata yang jatuh di pipinya membasahi tangannya yang masih berada dalam keadaan terbogol.
🔥🔥🔥
Hal itu membuat Evan mengepal kuat tangannya dan entah kenapa dia merasa menyesal telah menangkap perempuan itu meski sebelumnya dia sangat bertekad untuk menjebloskan perempuan itu ke dalam penjara.
Maka sambil menahan gejolak hatinya yang terus berkutat saling melawan, maka Evan berkata, "aku yakin ini tidak benar, Kau pasti berusaha meniru kata-kata adik sepupuku! Tapi tanda lahir yang ada pada tubuhmu itu, Bagaimana bisa kau mengetahui bahwa adikku juga memiliki tanda lahir yang sama hingga kau meniru nya?"
Pertanyaan Evan benar-benar membuat Diana semakin merasa hancur hingga dia kini tidak menahan lagi tagisnya, namun kini menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, hiks,,...!!" Tangisan Diana yang keras menghiasi seluruh mobil itu hingga membuat Evan menggertakan giginya karena entah kenapa dia merasa bahwa tangisan perempuan yang ada bersama nya itu juga sangat mirip dengan tangisan adik sepupunya.
"Berhenti menangis dan katakan padaku apa yang sebenarnya kau rencanakan dengan cara meniru berbagai hal yang dimiliki oleh adik sepupu?!" Tegas Evan yang kini berusaha mengendalikan dirinya sendiri sebab dia merasa bahwa rasa lemah menggerogoti tubuhnya melihat Diana yang saat ini terus menangis.
Padahal, se harusnya dia membenci perempuan itu, perempuan yang telah membuat sepupunya meninggal dan perempuan yang telah merundung sepupunya selama berada di industri hiburan.
Tetapi kemudian, pria itu tak menduga ketika Diana mengangkat wajahnya dan menatap dengannya dengan wajah yang begitu senduh.
"Aku,, hiks,, hiks,, Apakah kau akan percaya kalau aku menceritakan sesuatu?" Tanya Diana Langsung membuat Evan merasakan jantungnya berdebu sangat kencang dan entah kenapa dia sangat ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh perempuan itu.
Diana yang melihat pria di depannya terdiam kini meminjamkan matanya beberapa saat hingga tetesan air matanya kembali lagi meluncur di pipinya dan perempuan itu kemudian menoleh melihat rekan Evan yang mengendarai mobil.
__ADS_1
"Aku,, Aku hanya bisa mengatakan ini padamu, jadi,,, bisakah kita bicara berdua saja?" Tanya Diana dengan suara yang parau.
Evan yang mendengarkan itu langsung mengepal kuat tangannya lalu dia kemudian menoleh ke arah rekan kerjanya yang sedang mengemudikan mobil.
"Biarkan aku yang membawa mobil, kau bergabunglah dengan mobil yang lain," ucap Evan langsung dianggap oleh sang rekan kerja karena pria itu berpikir bahwa Evan hendak mencari sesuatu dari perempuan yang sedang bersama dengan mereka.
Oleh sebab itu dia menepikan mobil yang ia kendarai hingga membuat mobil yang ada di belakang mereka juga ikut menepi karena kebingungan dengan mobil yang ada di depan mereka yang tiba-tiba saja menepi.
Sementara itu, Evan yang ada di sana kini keluar dari mobil lalu dia kemudian membuka pintu mobil di sebelahnya dan memindahkan Diana ke bangku depan dan bertukaran dengan rekan kerjanya.
Setelah di dalam mobil itu hanya ada Evan dan Diana, maka Evan yang mengendarai mobil untuk lanjut ke rumah sakit kini melihat Diana, "Kau boleh mengatakannya sekarang, di mobil ini juga tidak ada penyadap," ucap Evan.
__ADS_1
.