
Diana terus menangis di dalam tempat itu dan kini dia semakin ketakutan sebab tentunya perhiasan yang dicuri itu pasti telah ditemukan oleh polisi karena tidak berada di dalam ruangan rahasia ketika polisi ada di sana melakukan pembongkaran.
'Aku tidak mungkin menghabiskan seluruh hidupku berada di dalam penjara, dan aku juga tidak tahu apapun mengenai roh dari tubuh ini kapan roh tubuh ini akan kembali?' ucap Diana dalam hati sembari terus terisak dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan bilamana dia benar-benar harus menghabiskan waktunya di dalam penjara.
Apalagi, barang yang dicuri itu bukanlah barang yang bernilai kecil, tetapi sesuatu yang sangat berharga dan merupakan peninggalan seorang Ratu.
Clek!
Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan Evan yang masuk ke dalam ruangan hingga membuat hati Diana merasa sedikit lega.
"Kau,, kau sudah membuka kotak yang kuberikan padamu?" Tanya Diana dengan air mata yang terus berlinang membasahi pipinya dan penampilan yang sudah sangat berantakan.
__ADS_1
Evan tidak langsung menjawab pertanyaan Diana, tetapi pria itu duduk di depan Diana sembari meletakkan berkas yang ia bawa lalu dia berkata, "itu masalah pribadi, kita akan membicarakannya nanti."
Setelah berbicara, Evan membuka berkas di depannya untuk memulai menginterogasi perempuan di depannya tetapi Diana yang ada di sana segera menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan mengatakan apapun sampai kau membuka kotak itu!" Tegas Diana.
Evan yang mendengarkan ucapan Diana kini menutup kembali berkasnya, lalu dia duduk dengan tenang memandangi Diana dan kembali merasakan gejolak perasaan aneh yang selalu ia rasakan ketika melihat Diana adik sepupunya bersedih.
Melihat pria di depannya sangat tidak mempercayainya, maka Diana kembali meneteskan air matanya lalu dia berusaha menghentikan tangisannya.
"Itu,, Saat Aku memberikanmu hadiah itu, aku berkata bahwa hanya ada satu kali kesempatan untuk membuka sandinya. Kalau satu kesempatan itu kau memasukkan kode yang berbeda, maka barang yang ada di dalam sana akan hancur oleh sistem otomatis yang ada pada kotak itu. Apa aku benar?" Tanya Diana aja yang jelas mengingat hal itu sehingga dia tahu mengapa pria di depannya sangat berhati-hati dan sampai sekarang setelah beberapa bulan belum pernah mencoba membuka sandi kotak itu.
__ADS_1
Evan yang mendengar ucapan Diana juga sangat terkejut, sehingga pria itu mengepal kuat tangannya dan entah kenapa jantungnya terus berdegup amat kencang yang membuatnya merasa begitu risih dan fokusnya teralihkan.
Evan belum mengatakan apapun saat Diana kembali lagi berbicara, katanya: "kotak yang kuberikan itu berwarna hitam, tetapi bagian pinggirnya berwarna biru sesuai dengan warna kesukaanmu. Bagian kuncinya berwarna emas dan ada tiga lubang kecil di bagian atasnya. Dahulunya di lubang itu tertancap sebuah aksesoris tapi sayang sekali benda itu telah hilang dan aku tidak tahu di mana keberadaannya."
Ucapan Diana kembali lagi mengejutkan evanes sebab Dia tidak menyangka bahwa perempuan itu akan mengetahui detail seperti itu, sehingga dia akhirnya menggerakkan giginya lalu berdiri membawa berkasnya keluar dari ruangan tersebut.
'aku harus memastikannya, aku harus memastikan Mengapa perempuan itu mengetahui banyak hal tentang kotak itu, bahkan semua yang ia katakan itu benar. Dan tidak mungkin sepupuku berbagi informasi dengan perempuan seperti dia, kecuali jika perempuan itu mengirim seseorang untuk memata-matai sepupuku. Tapi,, Bagaimana bisa iya tahu sampai detail-detailnya?' ucap pria itu dalam hati sembari melangkah ke arah ruang pengawasan.
"Matikan CCTV dan juga penyadap suaranya, aku akan berbicara secara pribadi dengannya!" Perintah Evan pada dua orang yang ada di sana hingga dua orang itu mau tak mau Akhirnya mengikuti perintah Evan dan mematikan seluruh pengawasan pada ruangan tersebut.
Selain itu, Evan juga menyuruh keduanya untuk keluar dari ruangan lalu mengunci ruangan pengawas dan dia pergi ke ruangannya mengambil kotak yang diberikan oleh sepupunya padanya sebelum masuk ke dalam ruangan tempat Diana duduk sambil menangis.
__ADS_1