
Setelah meninggalkan ruangan pertemuan, Diana menghentikan langkahnya lalu perempuan itu berbalik menatap pria yang ada di sampingnya.
"Aku merasa lega," ucap perempuan itu lalu memajukan badannya memeluk pria yang bersama-sama dengannya.
"Aku juga merasa lega karena sekarang semuanya terselesaikan dengan baik dan semua masalah Diana firdania telah diatasi," ucap Evan.
"Hm, mulai sekarang aku tidak akan menginjakkan kakiku di dunia hiburan lagi, sepertinya aku memiliki sebuah hal yang ingin aku lakukan," ucap Diana sembari tersenyum.
"Aku akan mendukung apapun keputusanmu," ucap Evan.
Baru saja selesai berbicara, ponsel yang Evan letakkan di saku jasnya tiba-tiba saja berdering.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
__ADS_1
Pria itu langsung mengambil ponselnya lalu menekan tombol terima pada layar ponselnya.
"Halo?" Ucap Evan pada orang berseberangan telepon.
"Brankasnya sudah berhasil terbuka," langsung kata orang dari seberang telepon tanpa ada basa-basi terlebih dahulu.
Evan yang mendengarkan itu langsung menatap perempuan di depannya dan berkata, "aku segera ke situ."
Setelah berbicara, Evan menutup panggilan telepon itu lalu dia menatap Diana yang kebingungan sembari berkata, "brankasnya sudah terbuka, Ayo kita pulang ke rumah dan melihat isinya."
Diana menganggukkan kepalanya lalu mereka segera pergi dari sana, tetapi ketika keluar dari tempat itu, mereka menghentikan langkahnya saat melihat bahwa ternyata Siloam telah menunggu mereka.
"Apa yang sudah Kakak lakukan? Apakah kakak lupa dengan hutang-hutang kakak? Beberapa waktu terakhir ini aku terus dikejar oleh para penagi hutang, tidak Kakak kasihan kalau melihatku seperti ini?!" Tanya Siloam dengan suara terburu-buru sembari mengepal kuat tangannya.
"Hutangmu adalah masalahmu," ucap Diana dengan tenang sembari mempererat genggaman tangannya pada tangan Evan.
__ADS_1
Siloam yang melihat interaksi itu benar-benar merasa bingung dengan kakaknya, tetapi ketika dia hendak berbicara Evan sudah lebih dulu mendahuluinya berbicara.
"Mulai sekarang, jagalah sikapmu terhadap Diana," ucap Evan memberi peringatan pada pria di depannya sebelum merangkul Diana meninggalkan tempat itu memasuki sebuah mobil yang sudah menunggu mereka.
Siloam yang melihat itu benar-benar terkejut, dan dia sangat tidak menyangka bahwa kakaknya akan berubah drastis seperti itu, tidak lagi mencari ketenaran dan kepopuleran, tidak lagi memikirkan uang, tetapi kakaknya yang ada di hadapannya sekarang tampak seperti bersikap acuh tak acuh pada segala hal.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Ucap Siloam dalam hati yang kini begitu takut untuk menghadapi para rentenir.
Tetapi, Diana yang ada di dalam mobil bersama dengan Evan, dia tidak terlalu peduli dengan pria itu, sebab Dia jelas tahu bahwa jika pria itu ingin terlepas dari hutang-hutangnya, maka pria itu hanya perlu menyerahkan barang-barang mewah yang ada di tangannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Evan dari samping Diana hingga membuat perempuan itu menatap ke arah Evan.
Diana menganggukkan kepalanya dengan pelan, "ya, aku sangat baik," ucap Diana.
"Baguslah," ucap Evan sembari mengulurkan tangannya mengacak rambut perempuan itu dan dia merasa lega.
__ADS_1
"Sekarang yang ku pikirkan hanya satu saja, Aku ingin memastikan Apakah nanti aku akan meninggalkan tubuh ini atau Aku punya kesempatan untuk hidup terus berada di sampingmu meskipun dalam rupa yang lain," ucap Diana yang merasa bahwa dia benar-benar tidak tega untuk kedua kalinya meninggalkan pria itu.
Evan yang mendengarkan itu kemudian menggenggam erat tangan Diana, "Jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Evan.