MEI

MEI
Prolog


__ADS_3

“Kamu membaca cerita ini bukan untuk menghibur diri, melainkan untuk patah hati.”


—Allebsa Bella


🖤🖤🖤


Mungkin tak lagi asing bagimu, persahabatan 2 orang dengan kelamin berbeda.


Mereka tumbuh bersama, melewati hari yang tak lagi sama, tumbuh menjadi remaja.


Ada yang bilang, tak ada persahabatan antara perempuan dan laki laki yang kekal abadi, pasti salah satunya ada yang menyimpan hati.


Aku adalah salah satu orang yang tidak percaya hal itu, aku harap kepercayaanku benar benar menjadi kenyataan.


karena sejatinya, aku berada diantara mereka. Mereka yang tumbuh bersama, berbagi tawa setiap harinya, sementara aku aku adalah orang yang mungkin sedang bersiap diri kehilangan dia diantara rindu.


-Mereka menyebut Mei.


🖤🖤🖤


Aku berjalan dengan wajah lesu, hari ini hari Jumat dan seperti biasanya, aku kebagian tugas piket hari ini. Yang paling menyebalkan adalah, hanya aku dan Rahma yang menjalankanya. Teman teman yang lain sudah kabur dari saat bel tanda pulang berbunyi.


"Cewek," goda sebuah suara dari arah sampingku.


Aku menghentak kaki sebal, melirik ke cowok tersebut lalu melemparinya topi pramuka yang tadi aku gunakan untuk menghalau mentari.


"Ih! Lo nyebelin banget ya! Balikin nggak HP gue!"


Aku berteriak sebal, pasalnya dari jam istirahat pertama sampai sepulang sekolah hp ku ditahan oleh mahkluk mengerikan ini.


Dia terkekeh, senyumnya seolah mengurangi rasa penatku. Aku mendongak menatap langit, ah lebih tepat ke mentari. Dia kini tertutupi awan.


Dasar mentari genit! Abis liat senyumnya sekarang malu malu kucing, heh sini! Jangan sembunyi dibalik awan!


"Nih hp lo!"


Setelah puas dengan adu argumen pada matahari aku menyahut hp ku. Sudah kutebak, dia pasti membuka seluruh file hpku.

__ADS_1


"Ini apasih! Kok daftar blokir whatssapp gue nambah!?"


Aku kembali berteriak lalu memelototinya.


Dia memasang wajah polosnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, "ih masa? Kayak cintaku dong, makin nambah?"


Aku mendorong wajahnya menjauh. "Ini Pak Yayan juga lo blokir?"


"Pacar lo itu gue Tan, jadi jangan ada chat sama cowok lain, gue ada hak cemburu kan?"


"Tapi kan Pak Ya——"


"Sssstt!! Tetep aja ya Tan, gue gamau ya, kayak di sinetron, pembantu atau sopir atau apalah itu jatuh cinta ke majikanya! Oke?" Dia mungkin kebanyakan nonton drama Indonesia yang receh itu. Ck, dasar.


"Pak Yayan itu udah Tua Kak Enggar! Dia uda ada istri, punya anak juga, gila apa dia mau sama gue?"


Aku kembali mengotak atik hp ku, melihat apa saja yang ia lakukan pada benda kesayanganku.


Dasar aneh, masa Pak Yayan, supir ayah, dia cemburui? Aku segera membuka blokir whatssapp Pak Yayan.


"Tan, semua cowok itu sifatnya sama, dia itu nggak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, apalagi kalo urusan cewek, beuhhh! Makanya gue juga was was ke Pak Yayan."


Aku melangkah meninggalkanya. "Eh Bukan yang itu juga Tan, aku ini orang yang paling setia, cowok limited edition tau gak?"


"Beneran?"


Dia mengangguk.


"Eh, topi gue tadi mana?"


"Dipake aku," katanya sambil mengangkat topi miliku. "Farhan siapa Tan?"


"Temen SMP," jawabku seadanya.


"Kok chatnya panjang amat, itu ada di daftar panggilan masuk juga. Ngapain aja dia?"


Aku berdecak, "dasar posesive."

__ADS_1


"Loh, gini gini gue sayang kan?"


"Masa?" aku meledeknya sambil terus berjalan menuju gerbang.


"Iya, bukti sayang itu gue bakal terus ada disamping lo, suka duka. Gue juga bakal terus berjalan disamping lo, gak akan berbeda haluan, terus melangkah bareng Tan."


Aku pura pura memutar bola mata, pura pura enek dengan gombalanya, "berjalan kemana memangnya?"


"Kemasa depan Tan."


Aku hampir melepas senyum,  namun tertahan oleh teriakan yang memanggil namanya, kami berdua menoleh kebelakang.


"Enggaar!!" cewek itu terengah engah berdiri didepan kami. Aku mulai menggigit bibir bagian dalam. Cemas.


"Ape nyet? Lo udah jelek keringetan lagi. Deket deket juga, galiat gue lagi mau-—"


Tanpa aba aba dia menarik narik tangannya. "Anterin ke Gramed ya Nggar? Gue butuh banget buku soal soal. Pliss!!!"


"Gabisa! Gue mau anterin Intan pulang, naik babang gojek sana!" dia mengusir perempuan itu.


Aku masih diam ditempat, "mahal tauk! Ini duit gue udah pas pasan buat beli buku. Kalo sama lo kan tinggal disogok pisang goreng mama udah, ya ya ya?"


"Nggar, anterin gih!" aku memandangnya penuh harap. Padahal seperti biasanya, aku berharap Dia menggeleng lalu mimilih aku dan mengajak ku pergi.


Nyatanya tidak se sinetron itu, dia lalu mengangguk dan menepuk kepalaku tiga kali. "Ati ati ya, nenek lampir emang nyusahin kok."


"Apasih Nggar!" perempuan itu menendang kakinya.


"Intan, aku pinjem Enggar ya?"


"Iya Kak Mel, ati ati. Bilangin jangan ngebut ya?"


Perempuan tadi mengangguk dan berjalan bersamanya menuju parkiran.


Bahkan beberapa saat yang lalu dia berkata hendak terus berjalan disisiku ke masa depan, tapi lihat, berjalan menuju gerbang saja kita sudah berbeda haluan.


...

__ADS_1


Me: Ah iya. Semoga dapet feelnya. Semoga kepo sama lanjutanya.


__ADS_2