
🖤🖤🖤
Tahun ajaran baru. Bukan, sudah lewat seminggu tahun ajaran baru berlalu dan semuanya tampak baik baik saja.
Kecuali Mia.
Ia benar benar sebal karena Intan tidak ada kabar semenjak pertengaham Desember kemarin. Dan sudah ganti tahun tapi cewek itu tidak muncul muncul.
"Kalo cuma ngerjain gue sih ya gausah pake gamasuk dong. Kan sayang absen lo jadi banyak!" Mia mengumpat pada voice note lantas mengirimkannya pada kontak Intan.
Lantas seperti chat chat sebelumnya, hanya centang 2 abu abu. Seolah Intan tidak pernah pegang hp saja.
"Mi, gimana sih? Ada kabar dari Intan belum?" Sekertaris kelas udah nanya hal ini berulang kali.
"Gatau gue." Mia mengangkat hpnya. "Nih, chat gue gak dibaca. Padahal dia juga terakhir dilihat kemarin."
"Tanya pacar Intan deh."
Mia berpikir sejenak lantas menggeleng. "Biar gue langsung ke rumahnya deh."
"Oke."
🖤🖤🖤
Ketukan pintu itu membuat si pemilik rumah membukakan pintunya. Mia langsung tersenyum dan mengucap salam. "Permisi. Bu Ris, inget saya?"
Bu Ris terdiam sejenak. "Temenya Intan bukan?"
Mia mengangguk. Lantas Bu Ris mempersilahkan masuk dan membuat teh sejenak. "Tante kemana Bu?"
"Habis tetapi langsung baringan di kamar. Ketiduran. Adaapa kamu kesini?"
"Ini," ucapannya terpotong sejanak. "Intan kenapa nggak masuk ya Bu Ris? Guru guru juga pada nanya, kenapa nggak ngirim surat keterangan atau ngasih kabar lewat sms?"
Bu Ris terkejut sejanak. "Mia, kamu gak dikasih tau Intan?"
Mia mengkerutkan dahinya tidak mengerti. "Kasih tau apa?"
"Intan pindah keluar kota sama papanya." Bu Ris berkata pelan, takut terdengar oleh mama Intan di kamar sana.
"Bu Ris yang bener? Kenapa tiba tiba?" Mia sungguh tak suka kepada keadaan yang seperti ini. Dilanda ketidak tahuan yang menkmbulkan kebingungan.
"Iya Mia, waktu itu kalau gak salah habis ujian, udah selsesai ujian dan pas masa remidi Intan minta pindah lebih cepat ke papanya." Bu Ris menjelaskan sambil mengungat memori samar sebulan yang lalu.
"Desember?" Mia bertanya ragu. Ia ingat, 4 hari sebelum liburan tiba, Intan sudah tidak masuk dan hilang kabar.
"Iya. Ibu pikir kamu sudah dipamiti." Bu Ris menggeleng heran, tidak mengerti mengapa teman dekat Intan sampai tidak tahu berita ini.
"Bu, kenapa kok tiba tiba minta pinda?" Mia bertanya kembali dengan perasaan tingkat tingginya.
"Sebenernya bukan keinginan Intan sih, papanya yang ambil keputusan buat pindah keluar kota pas liburan. Tapi Intan pengen dipercepat waktuny," jawab Bu Ris dengan raut wajah sedih, wanita itu sudah kangen dengan anak majikannya itu.
Mia makin tak mengerti, ia mengusap keningnya yang lama lama makin berkerut. "Kenapa tante gak diajak?"
Bu Ris kian membulatkan mata. "Kamu juga gak tau?"
"Ada apalagi bu?" Mia sudah siap mendengar sesuatu yang disembunyikan Intan darinya.
"Mama papa Intan kan sudah cerai, hak asuh-nya jatuh di tangan papa Intan."
Mia tersentak kaget. Ia sungguh siap menangis saat itu juga.
Intan selama ini diam, tak bercerita padanya karena Mia sendiri gengsi untuk menerima maaf dari Intan.
Kini setelah berbincang sejenak ia pamit untuk pergi dan meminta penjelasan dari Enggar.
__ADS_1
Cowok itu pasti tahu semuanya, "Intan pasti cerita ke pacarnya."
🖤🖤🖤
Enggar tersenyum tipis lantas duduk disamping Meli yang tengah membaca buku paket Fisika sambil sesekali mencatat sesuatu pada buku catatan miliknya.
"Serius amat?" Enggar menoleh dan bertanya pada Meli.
Meli menoleh lantas menggembungkan pipinya seraya menggerutu. "Gue udah ketinggalan banyak materi Nggar, harus belajar dong. Sana deh, lo main ps aja."
Enggar mencebikan bibir lalu merebut buku paket itu dengan iseng. "Gue disini, jadi gue yang nentuin lo harus ngapain."
"Jangan mulai jadi nyebelin deh Nggar. Gue bunuh lo!" Meli sudah berteriak galak. Membuat Enggar buru buru mengembalikan karena tak kuasa menahan tawa akibat gemas melihat tingkah Meli.
Ia hendak kembali bicara, saat tiba tiba hpnya berbunyi nyaring meminta di buai manjah akibat datang seorang penelpon.
Saat melihat nama Mia, ia mengkerutkan dahi lantas bangkit. "Bentar ya, gue angkat telpon dulu."
Enggar memilih keluar dari rumah Meli lantas duduk di kursi teras. "Hallo?"
"Kak, bisa gue bicara sama lo?"
"Iya ngomong aja. Ini Enggar kok." Enggar berkata sambil terkekeh.
Mia mendesisi di ujung sana. Sebal karena Enggar tak mengerti maksud ucapannya tadi. "Bukan. Maksud gue kita omong omongan sambil ketemuan."
Enggar berpikir sejenak. Apa jangan-jangan, Mia hendak melabrak dirinya?
Apa Mia mau balas dendam karena ia memutuskan Intan?
"Ya gimana ya, lo gak ada rencana jahat ke gue kan?" Enggar bertanya dengan nada sok was was. "Ini bukan jebakan ke di film film ya kan Mi?".
"Ck!" Mia berdecak keras, "plis kak jangan main main. Gue butuh banget informasi dari lo."
Dirinya bangkit untuk berjalan ke rumahnya sendiri di sebrang rumah Meli. "Informasi tentang?"
"Ini serius kan?" Enggar mulai celimpungan. Ia tak tau harus berbuat apa.
🖤🖤🖤
Meski tak tau apa apa, dan bingung mengapa, Enggar memilih pamit ke Meli untuk keluar sebentar dan menghampiri lokasi dimana Mia berada.
.sekitar 10 menit berkendara ditambahi 5 menit mencari Mia. Cowok tinggi itu kini sudah berhadapan dengan Mia yang matanya sudah sembab. Tak lupa baju seragam masih melekat di tubuhnya. "Lo sampe magrib pake seragam lo? Gak balik pulang dulu?"
Mia menggeleng, "sini gue pinjem hp lo kak. Gue mau nelpon Intan."
"Lo gak mau bajak hp gue buat meretas kata sandi akun game––"
"Buruan!" Mia sudah sangat emosi semenjak ia mendengar berita Intan pindah. Maka jangan salahkan jika dirinya mudah marah pada orang yang suka bercanda.
"Lagian kenapa sih lo sama Intan?" Enggar ogah ogahan memberikan hp hitamnya kepada sahabat mantanya.
"Gue marahan sama dia––tunggu!" Mia yang tadinya sudah mau menslide hp Enggar langsung mendongak tegas. "Lo diceritain gak sama Intan?"
"Apa?" Enggar menjawab antusias.
"Orang tuanya Intan pisah," jawab Mia lirih. Bahkan dia berusaha untuk tidak menggerakan bibirnya
Mata Enggar langsung membulat tidak percaya. "Lo serius Mi?"
"Tuh, sama pacar aja gak cerita."
Enggar tidak peduli dengan gerutuan Mia barusan. Ia menepuk meja lantas meminta kejelasan lebih lanjut kepada Mia tentang ucapannya.
Mia menceritakan semua yang ia dengar dari Bu Ris tentang petceraian kedua orang tua Intan.
__ADS_1
Selepas bercerita Mia menunduk sendu ke arah meja. "Emang lo gak nanya alasan dia tiba tiba pindah? Dia pas pamit bilang apa?"
"Pindah apaan?" cowok itu bertanya diiringi kening yang bergelombang menandakan ia tak paham.
Kini tatapan sendu Mia menjadi tambah melotot. "Hah?"
."loh kok lo malah 'hah' ke gue sih?" Enggar berkata horor sambil kembali menatap Mia aneh.
"Kak, lo beneran kak Enggar kan?" Mia sudah panik, takut jika ia salah orang, jangan jangan ini bukan Enggar. Buktinya ia dari tadi nanya da gak tau apa apa. Masa pacar se-gak tah itu kepada pacarnya?
"Iya, nih kalo gak percaya gue masih ganteng."
Mia menggeleng heran. "Bodo ah, susah amat ngomong sama lo. Juga, gue ga habis pikir, harusnya lo konfirmasi dong ke kelas gue kalo Intan udah gak sekolah disana, jadi skretaris gaperlu susah susah nyari Intan." Mia kini kembali menunduk menatap hp Enggar, mencari kontak Intan.
"Intan pindah!?" Enggar bertanya sambil nge gas. Otot-otot dimukanya bahkan ikut menegang.
"Jangan bilang lo gak tau."
"Gue––" Enggar teringat ia sudah tak pernah bertemu dengan Intan sejak Desember. Ditambah cewek manis itu tak memmuncukan batang hidungnya di sekolah membuat Enggar benar benar terdiam kaku.
"*Gimana kalo kita LDR?"
"Sorry kalo gue tiba tiba hilang kabar*."
Kalimat Intan tempo hari membuat Enggar tersadar. Ia bernapas tidak beraturan. "Ke mana?"
"Gue gatau, Bu Ris gak kasih tau––eh iya! Intan ke Kota Malang." Mia lantas menatap heran kearah Enggar. Entah sudah berapa kali ia terheran heran. "Lo kenapa gak dikasi tau Intan heh!?"
Enggar kini diam tak berkutik. "Dan lo juga gak diceritain sama Intan?"
Biasanya, ketika habis putus seorang cewek akan bercerita kepada teman temannya. Nah ini? Mia saja tidak tau tentang ia putus dengan Intan. "Gue udah putus sama Intan."
Dan detik itu juga Mia langsung tidak jadi menghubungi nomor Intan lewat hp Enggar. "Lo gila?"
Enggar menggeleng polos.
"Duh!" Kali ini ia mengusap kepala frustasi. "Kak, coba lo pikir. Pertama, Intan berantem sama gue, dan lo cukup tau kan? Gimana sakitnya tengkar bareng sahabat? Kedua! Intan dan mamanya berantem hebat, tiga, Mama papa-nya cerai. Empat! Dia gak bagi masalah ini kesiapapun, lima, kalian putus? Kurang apalagi sih derita temen gue itu?"
Mia bangkit berdiri lantas membanting hp Enggar, "nyesel gue mau minta bantuan lo. Mana mungkin Intan mau jawab telpon lo. Sekarang kasih tau gue! Siapa yang mutusin?"
Enggar dibuat pusing. Karena, ia benar benar tak tau siapa yang memutuskan. Karena Intan yang meminta dan Enggar yang memutuskan mau bagaimana hubungannya 'waktu itu'. Lalu apakah mereka berdua yang memutuskan?
Suara gebrakan meja menyadarkan lamunan Enggar. "Nah! Kan! Lo diem berarti lo merasa bersalah. Itu artinya lo yang mutusin. Gue gak ngerti, lo punya hati gasih kak? Sampe pas pacar butuh tempat buat bersandar lo malah meninggakan. Apaya? Lo brengsek?"
"Bye!" Mia menghentak kaki lantas berlalu pergi.
"Eh, gue difitnah!? Enak aja. Mi, lo jangan nyebar hoax yang gak-gak dong!" Enggar berkata frustasi. Apayang dikatakan Mia barusan tidak 100% benar. Ia tak memutuskan Intan. Tapi Intan sendiri yang meminta.
Dan Enggar menyetujuinya
Tapi mau bagaimanapun juga, Enggar tetap tersentil dengan ucapan Mia barusan. Apa ia sebrengsek itu?
Pelan, Enggar melangkah keluar kafe lantas mencoba menghubungi nomor Intan. Sayang, nomor itu tidak aktif sejak tahun baru kemarin.
Andai waktu itu Enggar memilih mengesampingkan Meli, maka ia bisa menahan Intan dan bisa mencegahnya untuk tidak pergi. Tapi Enggar terlalu pengecut hanya karena takut Intan membencinya. Padahal apa yang ia lakukan sekarang––bersama Meli––jauh akan membuat Intan lebih membencinya.
Dan, entah bagaimana bisa, perasaan sesal yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan perlahan merambat mengusik hati dan pikirannya.
Terlambat, mau sesal sebesar apapun. Intan sudah pergi. Tak lagi cewek itu menapakkan kaki dihadapanya sambil mendesis jengkel akibat gombalannya.
"Gue berasa kek cowok di novel yang lo kasih Tan. Bedanya, dia nyesel ke sehabatnya dan gue nyesel ke lo Intan, gue salah pilih."
-selesai-
Me; akhirnya selesai🎊🎉 kisah Enggar-Intan selesei sampe disini. O yah, 1 part lagi buat penutupan cerita Mei. Part Epilog.
__ADS_1
Kan kalo ada Prolog juga ada Epilog. Jan ngarep tinggi tinggi buat part Epilog yap :" entar sakit.