
π€π€π€
Intan meletakan hp dan meninggalkan percakapan dengan Enggar karena 2 alasan.
Pertama, tiba tiba ia merasa sesak sendiri. Bagaimana tidak? Enggar dengan enteng berkata, semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan Meli.
Entah, ini memang sifatnya atau karena rasa dengki yang mendalam membuat ia semakin berpikir yang tidak tidak.
"Kan! Ya wajar dong! Kak Enggar khawatir ke Kak Meli. Dih, kan emang Kak Meli lagi sakit!" Intan bergumam sambil menghentak kaki kesal.
"Taan! Turun gak!?" Bu Ris sudah memekik diluar sana.
"Iya Buu. Bentaar," jawabnya dengan buru buru.
"Tapi, dia sampe masuk angin gegara nungguin Kak Meli! Bego kan!" Intan kian mendumel, membuka pintu kamar lalu hendak keluar.
Ia menimang nimang sebentar untuk membaca chat Enggar, namun, saat jemari tangannya hendak menyentuh nama Enggar, panggilan tiba tiba datang menggetarkan hp-nya.
Kontak dengan nama papa sedang mencoba menghubungi dirinya.
"Taaan!!"
"Bu Ris, bentar. Aku turunnya nanti."
Selepas mengatakan hal itu, Intan berlari masuk kembali kedalam kamar dan menutup pintu. Panggilan dari papanya masuk ke log panggilan tak terjawab.
Sedetik setelahnya, kontak yang sama memanggilnya.
"Hallo? Assalamualaikum?" Intan sedikit bergetar menyapa si penelepon. Sudah beberapa hari ia kehilangan kontak dengan papa.
"Waalaikumsallam Intan, kamu ikut papa ya?"
"Maksudnya? Pa, bentar dulu. Aku mau nanya, bener papa mutusin buat ceββ"
"Iya," potongnya cepat. Entah bagaimana, rasanya Intan hendak menangis.
"Papa gini ini gara gara bentar lagi mama ulang tahun kan? Papa mau bikin kejutan ke mama kan? Iya? Jadi gimana skenario-nya? Aku jadi apa?" Intan buru buru berpikir positif. Siapa tahu memang ini hanyalah sebuah lelucon.
"Cerai bukan suatu hal yang bisa dibuat main main Intan. Papa serius."
Suara papanya sangat serius. Bulu kuduknya merinding mendengar setiap ucapan papanya. "Ya makanya itu pa, jangan main main. Ada apa? Papa ada masalah apa sama mama? Aku bisa bantu apa?"
"Enggak, kamu cukup ikut papa."
"Emang bisa pa? Cerai tanpa alasan yang jelas? Terus juga kenapa papa tiba tiba pergi gitu aja setelah ngasih mama surat cerai? Kenapa nggak ngasih penjelasan ke kita? Kenapa nggak bicara yang baik baik aja?" Intan bertanya dengan napas memburu, sebal dan entah bagaimana ke papanya ini.
"Papa nggak mikir aku masih sekolah? Gimana perasaan aku, papa juga nggak mikir? Oh, gausah jauh jauh deh pa, pikirin mama. Mama masih rapuh banget, papa gak lupa kan? Mama lumpuh gara gara apa? Perlu diingetin? Dulu mamaββ"
"Intan! Mulut kamu!" suara papa meninggi di ujung sana. Pintu kamarnya bergerak terbuka, tapi Intan tak peduli, ia malah terfokus dan emosi ke papanya.
__ADS_1
"Kenapa? Mau nampar? Iya boleh, ayo papa kesini, tunjukin muka. Masa habis nuntut mintak cerai langsung kabur? Malu aku pa, aku malu jadi anak dari laki laki yang....apayah? Pengecut?"
Suata tamparan terdengar nyaring kemudian. Hp miliknya terpental tak jauh, Intan menoleh dan memegang pipinya.
Mamanya memandang dirinya dengan marah. "Siapa yang ngajari kamu kurang ajar begitu?"
"Maββ"
"Minta maaf!"
"Ma, aku cumββ"
"Selama ini kamu makan pake uang hasil kerja siapa? Hah? Sampe ngata ngatain orang tua pengecut! Kamu udah ngasih apa ke papamu? Sampe berani ngatain gitu?" Mama menggerakan kursi roda, mencoba meraih benda pipih yang terlempar tadi. Karena posisinya di kursi roda, ia tak dapat membungkuk untuk mengambil hp.
"Ambil Tan! Minta maaf ke papamu!"
"Gamau," tolaknya sambil menyeka air mata yang turun. Jujur, dibentak mama bukanlah suatu hal yang sepele, apalagi jika sudah mengungkit rasa bakti dirinya sebagai anak.
"Ambil! Jangan bantah ucapan mama!"
Intan mendekat, meraih hp-nya. Ternyata panggilan tersebut belum terputus. Ia menarik napas dalam. "Hallo pa?"
"Mamamuββ"
"Sesalah apapun papa, di mata mama selalu bener. Liat, udah di bela belain sampe aku di bentak bentak kek tadi. Coba ya pa, matanya di buka yang lebar."
Selepas berkata demikian, Intan menekan tombol merah yang mengakhiri panggilan tersebut.
"Iya ma?" jawab Intan dengan nada yang mencoba sabar, seolah ta terjadi apapun di sebelumnya.
"Siapa yang ngajarin kamu ngomong kek tadi?"
"Menurut aku itu udah bener? Aku udah belain mama loh." Ia bergerak menarik ransel dan merapikan rambut.
"Siapa? Kamu bergaul sama siapa? Kamu bergaul sama anak anak gabener? Ini gara gara temen kamu itu atau pacar kamu?" Mamanya kembali membentak, Intan bahkan sempat kaget apalagi saat sang mama membawa bawa teman dan pacar. Ini tidak ada hubungannya sama itu semua, ini hanya bentuk berontak Intan atas sebuah keputusan tidak adil orang tuanya.
"Gak ada urusanya sama mereka. Jangan salahin mereka."
"Putusin pacar kamu itu, mama yakin gara gara dia kamu jadi gini. Intan!"
Intan berlalu dan melewati mamanya, percuma bicara pada orang yang sedang emosi. Tidak ada gunanya, masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.
Jadi, Intan memilih tidak melakukan pembelaan kepada mamanya terlebih dahulu.
π€π€π€
Intan melewati Bu Ris lalu keluar rumah tanpa salam. Teriakan mamanya teredam oleh dinding dinding rumah dan juga jarak.
Hal yang pertama ia lihat adalah, mata teduh cowok yang tengah duduk diatas jok motor sambil memegangi hp dan menggerutu.
__ADS_1
Jadi, dia yang mengirim boom chat pada hp-nya?
Intan bergerak naik lalu menepuk pundak Enggar.
"Pagi Inββ"
"Jalan, jangan banyak ngomong, gue bad mood," potongnya dengan suara serak.
Enggar paham, ia tahu teori ini. Jika ada cewek sedang emosi, bad mood atau sedih, jangan ditanyai dulu. Hibur, buat moodnya lebih baik lalu ajak dia bercerita.
Intan hanya diam diatas jok motor, sesekali mendongak agar air matanya tidak tumpah. Ucapan mama terus terngiang ngiang di otaknya. Tak lupa rasa sesal atas ke sikap kurang ajarnya pada papa ikut menjadi beban pikirannya. Dan saat ia melihat punggung Enggar, ia teringat perkataan Enggar bahwa, semalaman cowok itu tidak tidur demi Meli.
"Mau cerita?" tawar Enggar.
"Diem lo."
Sumpah, ini dalam mode galak. Enggar baru bertemu Intan versi ini.
"Yaudah, kalo gamau cerita. Gue ajadeh."
Intan memutar bola mata, malas. Tapi, tetap saja, suara Enggar akan selalu terdengar menyenangkan.
"Kemaren, di rumah sakit ada cowok ganteng."
Intan mengernyitkan dahi, "dan mendadak lo jadi gay?"
"Engga, cowoknya emang ganteng, dia gabisa tidur."
"Pasti kerabatnya lagi di rawat, jadi dia khawatir sampe gabisa tidur," jawabnya sambil memandang sebuah truk yang mengangkut bahan bakar.
"Bukan. Dia gabisa tidur gara gara khawatir ke pacarnya yang nge khawatirin orang lain. Padahal ini bukan salahnya." Enggar tersenyum senang selepas mengatakan demikian.
"Lo tau gak? Cowok itu sekarang ngapain?" tanyanya setelah bising klakson memekakan telinga berasal dari mobil pickup di depan mereka.
"Bernapas?" tebak Intan cepat.
"Iya, dia lagi napas, boncengin pacarnya ke sekolah. Pake jaket item, terus dia....pacar lo."
Intan tertegun sejenak. Apa Enggar baru saja berbicara mengenai dirinya sendiri?
Bila saja sudah boleh, Intan pasti akan sudah memeluk punggung Enggar, menenggelamkan kepalanya di bahu Enggar lalu mengucap terimakasih sebanyak banyaknya atas ucapan sesederhana barusan.
Makasih, udah bikin hari gue gak seberat yang gue kira.
"Iya. Gue juga sayang sama lo."
"Heh! Spionnya benerin gak!"
Sama. Seperti beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
π€π€π€