MEI

MEI
26. Aku Rindu Saat Awal Kita Bertemu


__ADS_3

🖤🖤🖤


Matanya sembab keluar dari bioskop. Benar benar cerita yang menguras air mata. Dia menunduk, membuntut dibelakang Enggar dan Meli.


Lampu yang begitu terang di lorong penghubung membuat bayang bayang manusia yang lewat begitu jelas.


Tak terkecuali bayangan Enggar dan Meli yang bergerak mengikuti objek.


Intan masih menunduk mengamati bayangan mereka berdua, begitu dekat. Keduanya menatap bersamaan lalu tertawa.


Tawa bahagia, tapi begitu pilu di dengar Intan. Jadi, mereka seperti orang pacaran? Lupa segalanya ketika bersama?


Intan tersenyum kecil, ia menjejakan kakinya ke kepala Meli.


Oh, bukan, tapi ke bayangan Meli. Biar, biar ia lampiaskan kekesalannya ke bayangan Meli yang menyebalkan itu.


Intan menarik napas lalu berlari membela dua remaja itu. Ia kini berada di tengah. "Sekarang jam 5 sore nih. Pencahayaan nya bagus buat foto foto. Gimana kalo ke Taman Bunga Dandelion yang di deket Kafe itu?"


Meli berpikir sejenak lalu memandang Intan. "Deket banget sama jalan raya. Rame. Bising"


"Mel, bagus kok. Lagian daritadi juga kita udah turutin lo kan. Sekarang biar Intan juga berpendapat."


Intan sebisa mungkin untuk tidak tersenyum miring. Tapi ia benar benar tak bisa tersenyum karena Meli berpindah posisi ke dekat Enggar lalu menghapit lengan cowok itu dan melangkah lebih dahulu meninggalkan Intan.


Ya Tuhan, beri hamba kesabaran sebanyak air laut.


Intan menepuk nepuk dada menyabarkan diri.


🖤🖤🖤


Taman yang baru dibuka sekitar 3 minggu yang lalu ini cukup banyak menarik perhatian penduduk kota.


Meski lokasinya tepat di tengah tengah jalan raya yang jika menyebranginya harus benar benar lewat jembatan penyebrangan--alias kecepatan pengendara kendaraan yang tidak bisa dikontrol. Tapi tempat ini begitu rindang. 5 Pohon beringin berusia ratusan tahun yang tidak jadi di tebang karena memang tujuan dibuatnya taman adalah tempat dengan oksigen yang lebih baik daripada daerah perkantoran.


"Gue beli minum dulu," Meli berpamitan setelah Enggar dan Intan sepakat titip minuman.


"Mau foto dulu Tan?" Enggar berkata sambil menoel pelan pipinya.


Intan mengangguk lalu meraih hp-nya. Mengambil beberapa foto selfie dengan Enggar. Kalau diingat-ingat, ini pertama kalinya dia satu frame kamera dengan Enggar.


"Bagus kan?" tanya Enggar dengan bangga, jika tidak segera berkata 'bagus' maka takutnya ia akan terjebak Intan yang meminta selfie lagi dan lagi. Cewek tidak akan pernah puas dengan 1 kali jepretan kamera. Pasti ada saja alasan, difoto ini kelihatan jelek lah, pipi tembem lah, atau pencahayaan yang kurang lah. Intinya pasti ada saja kekurangan dari sebuah foto.


Intan menoleh lalu tersenyum. "Iyain biar seneng."


"Foto ini bagus, gara gara ada cowok gantengnya," Enggar berkata bangga lalu meraih hp Intan, "Astaghfirullah!!"


Enggar memekik membuat Intan terkejut. "Kenapa?"


Enggar menutup sebagian mulut dengan tangannya yang bebas, ia lalu menatap Intan sungguh sungguh, "cowok ganteng tadi foto bareng bidadari!"


"Ish!" Intan lalu menepuk lengan Enggar sebal. Ia kira Enggar terkejut karena penampilan dirinya di foto itu menyeramkan. "Gue kira gue jelek di foto itu."


Enggar terkekeh, "lo selalu cantik Tan."


"Semua cewek juga."


"Tapi kalo yang bilang itu cowok ke cewek, itu artinya cantik spesial. Gelar yang spesial."


Intan tersenyum senang, memukul lengan Enggar kuat kuat.


"Gue fotoin sini." Enggar meraih hpnya.


"Full badan ya?"

__ADS_1


"Iya."


Enggar mengambil angle sebaik mungkin, lantas mengambil gambar. "Cantik," ucapnya.


"Masa sih?" Intan berlari mendekat lalu meraih hpnya.


"Ada yang kurang."


"Apa?" Tanya Intan memperhatikan hasil foto tadi.


Enggar terkekeh, lalu menarik ikat rambut Intan agar rambut hitam itu terurai. "Gue udah lama pengen liat lo kek gini."


"Ekhm," Intan berdehem mengurangi canggung akibat dekatnya jarak antara dirinya dan Enggar.


"Ini ngingetin awal kita ketemu," Enggar berkata tulus, menatap Intan dengan tatapan bahagia, seolah Intan adalah satu satunya objek.


"Kok jadi ginisih? Buruan ambil gambar ih, malah puter memori," Intan mendumel, tapi jujur ia senang. Memori kecil itu diingat oleh cowok ini sebagai memori bahagia.


"Sini rambutnya dibetulin dulu." Enggar menarik lebih dekat dirinya. Lantas membelai tambut Intan dengan lembut, menyempilkan anak rambut ke belakang telinga Intan. Menyibak rambut poni yang memanjang agar wajah Intan terlihat jelas.


"Permisi!" Meli menyela, menjauhkan keduanya, "Ayo deh pulang. Gue ogah lama lama disini."


Intan menoleh cepat, "kita juga baru nyampe loh kak."


"Gue udah gabetah, bising sumpah. Yok Nggar, mama keknya udah nyariin gue." Meli menarik legan Enggar paksa.


"Bentar Mel, gue belom foto Intan." Enggar tetap pada pijakan.


"Tadi udah kan?"


"Itu pas rambutnya diiket, sekarang pas rambutnya diurai Mel," Enggar tetap membantah lalu membidil kamera si ponsel Intan, "Tan, coba munduran dikit."


"Mau difoto kek gimanapun juga gak bakal bikin dia jadi secantik Selena Gomez Nggar," Meli berkata judes sambil membuang muka dan memutar bola mata.


"Mel, ngomong yang bagus," Enggar berkata dengan menghela napas lelah.


"Udah, ayo pulang, gue gak bakal nyerocos kek gini kalo gue di lingkungan yang tentram. Disini bener bener bikin stress." Meli menarik lengan Enggar paksa.


Ia menariknya sampai di dekat parkiran, disini jalan raya benar benar terpampang bagaimana ributnya, bagaimana bisingnya, dan cepatnya kendaraan yang berlalu lalang.


"Kak Meli!" Intan buka suara lalu menahan langkah keduanya.


"Apa?" Sahut Meli ketus.


"Mel, plis lo jangan kek gini deh, sebenernya lo kenapa sih?" Enggar mengacak rambut frustasi. Beberapa saat yang lalu bahkan Meli masih ketawa ketiwi di dalam mobil.


"Gue. pingin. pulang," tekan Meli lalu melirik Intan. "Lo bisa pesen ojek online Tan. Rumah gue sama Enggar kan emang deket, dan kalo kerumah lo dulu itu sama aja puter balik jauh banget."


Intan menganga sambil menaikan sebelah alis, ia lalu tertawa sambil membuag muka. "Kak Meli, kenapa lo jadi ngatur kita berdua sih? Ini niatan awalnya gue sama Kak Enggar mau nge-date loh. Dan harusnya kita juga yang nentuin mau gimana gimana."


"Intan....udah, kita anter Meli duluan baru kita lanjut yah?" tawar Enggar sembari mengusap puncak kepalanya.


Melihat itu Meli buru buru menepis tangan Enggar dan menariknya menjauh, "gabisa Nggar, anter gue ke Gramed, gue perlu buku pendalam materi biologi."


"Mel, besok ya? Dua hari yang lalu gue udah anterin lo, sampe gue gajadi anterin pulang Intan."Enggar berkata dengan sesabar mungin.*baca prolog.


"Nggak Nggar, gue butuh sekarang," Meli tetap membantah.


"Kak Meli," Intan menyahut cepat, "ini me time gue sama Kak Enggar. Jadi udah yah, besok besok aja."


"Yang sopan Tan, gue kakak kelas lo!" Meli berkata dengan ketus dan hendak mendorong Intan. Buru buru Enggar menghadang langkah Meli dan menyembunyikan Intan dibalik punggungnya.


"Meli!"

__ADS_1


"Lo kenapa belain dia sih!? Lo gak kesel liat dia nempel terus ke lo?" Meli mulai bernapas putus putus akibat emosi.


"Mel, lo jangan marah marah dulu. Tenang. Gue belain Intan karena dia gak salah apa apa."


Meli menatap Enggar dengan nanar, "lo gak lupa kan kalo gue sahabat lo? Bukanya lo bilang sahabat bakal selalu dukung? Hem?".


"Gue bakal dukung argumen lo kalo itu emang bener, lo disini marah marah gak jelas ke Intan."


"Dia manja ke lo Enggar! Gue marah gara gara itu!" Meli berteriak marah, tangisnya pecah diantara bisingnya kendaraan yang berlalu lalang.


Intan ambil alih keadaan, "lo gak lupa kan kalo gue pacarnya Kak Enggar?"


Meli tertawa kesal, tanpa banyak bicara telapak tangannya pipi menampar Intan dengan cepat.


"Mel!" Enggar menarik Intan menjauh, lantas menatap Intan. "Lo gapapa kan?"


Intan mengangguk buru buru.


"Semua rusak gara gara dia Nggar, lo gapunya waktu buat gue gara gara dia. Lo cuekin gue demi dia, dan sekarang lo berani bentak gue gara gara dia doang Nggar. Se spesial apa dia dibandingin gue yang udah 10 tahun bareng lo?" Meli kembali berteriak, isaknya keluar membuat Enggar benar benar merasa bersalah. Apalagi Intan. Ia kembali mengingat kata kata Mia. Meli kehilangan sesosok sahabat.


"Iya gue cemburu! Gimana bisa lo tega kek gitu ke gue." Meli menunduk lemas, air matanya jatuh ke rerumputan di bawah mereka.


"Gue bakal luangin waktu lagi, geu gak nyadar kalo--"


"Cemburu gue bukan cemburu sahabat. Tapi cemburu seorang cewek ke cowok yang dia suka Nggar."


Seluruh perkiraan Intan menjadi kenyataan. Meli benar benar suka ke Enggar. "Mel..."


"Iya, lo nggak salah denger Enggar. Gue suka ke lo. Gue cemburu kalo lo deket sama Intan, gue gasuka lo deket sama Intan, gue beneran benci sama Intan Enggar!" Meli memekik terus terusan, matanya sudah mengeluarkan butiran butiran air mata.


Sementara Intan malah berdiri kaku disamping Enggar sambil memegangi pipinya--yang sebenarnya sudah tidak perih--ia benar benar merasa serba salah jika bergerak sedikit saja.


"Dan, gue selalu cari cara buat misahin lo berdua. Egois? Kadang kita perlu egois buat nemuim kebahagiaan," Meli berkata lemah, tidak seperti beberapa jam yang lalu dimana Meli dengan semangat masuk ke gedung bioskop dan minta menonton film romantis.


Dan Intan mengakui hal itu, ia benar benar pernah merasa egois hanya agar Enggar mau melihatnya. "Nggar, lo jangan diem aja. Jawab gue, gimana? Lo juga punya perasaan yang sama kan?"


Enggar menunduk, hal itu kian menyayat hati Intan. Ia yakin, Enggar punya sebuah jawaban yang akan menyakiti seseorang.


"Enggar....," panggil Meli lemah.


"Mel, gue." Dirinya menarik napas sejenak. Sementara Meli sudah meremat botol plastik minuman yang ia beli tadi. "Gue nyaman ke Intan."


Bunyi bising kendaraan memekikan telinga. Meli tertawa keras, ia bergerak maju mendorong Intan hingga cewek itu terhuyun kebelakang.


"Sahabat gue jadi ***, gara gara lo!"


"Mel!" pekik Enggar kewalahan.


Meli tertawa sinis lantas berlari menyebrang jalan tanpa memastikan keadaan.


"Kak!" Intan bangkit segera.


"Lo gapapa kan?" Enggar memutar mutar bahunya, mencek kondisi Intan saat ini.


Cewek itu menggeleng cepat cepat, lalu menatap khawatir ke Meli. "Kak Meli!"


Suara klakson yang bersaut sautan kian memekikan suasana. Sepersekian detik kemudian, tubuh gadis itu terpental.


Botol minuman isotonik itu hancur dengan isinya yang meluap menyatu dengan tetesan darah.


Belum genap satu menit, jalanan ramai itu macet hingga 10 meter kebelakang. Entah, mungkin besok akan ada berita di siaran televisi lokal atau sebuah koran dengan berita utama:


Remaja siswi meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2