MEI

MEI
17. Ruang Rindu


__ADS_3

πŸ–€πŸ–€πŸ–€


"Kemana aja lo?" tanya Mia ketika mendapati Intan mendekat ke mejanya di jam istirahat kedua ini.


Intan duduk dihadapan Mia dengan muka lesu. Ia menarik gelas jus jeruk Mia lalu menyeruput perlahan sebelum menjelaskan.


"Dari ruang bk." Intan menjawab dengan nada entah sebal, entah malas.


"Hah?" Mia menarik gelasnya kembali, takut bila Intan menghabiskan. Awas saja jika itu terjadi.


Intan menunduk sambil menjelaskan alur kejadian dari ia menuju lapangan untuk mencari Enggar hingga berakhir di giring Bu Rosa ke ruang bk untuk diadili dan menjalankan hukuman.


Mia menatap prihatin ke tubuh Intan, cewek ini melewatkan dua jam pelajaran di kelas. "Tapi, serius tadi...." Mia mendekat lalu melanjutkan ucapannya dengan bisikan. "Kak Enggar gendong Kak Meli?"


Intan mengangkat wajah menatap Mia, "iya. Sesuai yang gue ceritain."


Mia tampak berdecak, ini kali kedua Intan melihat Enggar menggendong Meli. Pertama adalah saat selesei Eskul lukis 2 atau 3 bulan yang lalu.


Dan yang kedua adalah tadi. "Tan, kok jadi ribet ya."


"Ribet gimana? Eh Mi, gue haus tuh abis bersih bersih ruang BK. Gue ambil ya minum lo?"


Karena Mia kasihan ia menyerahkan jus jeruknya untuk teman tercintanya.


"Ribet gimana?" ulang Intan menanggapi pertanyaan Mia tadi.


"Yah, Kak Enggar itu, bukanya Kak Meli udah punya pacar? Kenapa bukan pacar Kak Meli aja? Kenapa harus Kak Enggar?"


Intan sejenak minum lalu menurunkan gelasnya untuk menjawab argumen Mia. "Mi, bayangin kalo tadi itu Kak Meli pingsan, terus Kak Raka itu pas lagi pup di toilet. Yamasa kita harus nunggu Kak Raka selesei terus gendong Kak Meli ke UKS? Gak kan? Nah makanya Kak Enggar itu punya sisi manusia yang penolong dan bantuin Kak Meli. Gitu!"


Mia menaikan sebelah alis, kurang setuju atas argumen Intan barusan. "Tapi ya Tan––"


"Udah Mi, udah. Gausah dibahas. Lo gak lupa kan kalo mereka sahabatan?" Intan menyela cepat, sudah risih dengan pendapat Mia yang justru membuat dirinya semakin entahlah apa sebutannya, yang jelas ia tak suka melebih lebihkan kedekatan atau kepedulian Enggar dan Meli.


"Tan." Mia hendak kembali protes, astaga, kenapa mulut iti tak bisa diam?


"Mia, denger, gue udah capek. Gue gak mau debat sama lo lagi. Oke? Ini bukan suatu masalah."


Mia memutar bola matanya malas, padahal ia sudah siap menumpahkan unek uneknya. "Lo keknya diliatin Kak Refi tuh!"


Intan langsung menoleh kesembarang arah demi menemukan orang yang dimaksud Mia, hingga tatapannya bertemu dengan sosok cewek cantik dan tinggi dengan rambut terkepang apik dikepalanya. "Siapa itu? Lo kenal?"


"Dia itu kek, apa yah? Most wanted sekokah, ratu, ratu gosip." Mia berkata pelan. Takut salah sebut gelar Kak Refi.


"Eh dia jalan kesini Mi!" Intan mendadak panik, apa lagi kakak kelas itu membawa pasukan. 3 orang dibalik punggungnya.


Refi tiba di mejanya namun tetap berdiri tegap, enggan duduk.


"Hay!" Sapa Refi dengan mata memincing. "Lo pacar Enggar bukan?"


Patah patah Intan mengangguk, apa ia punya salah? "Gue cuman mau ngingetin."


Intan membeku. Apa kakak kelas ini adalah penggemar berat Enggar yang hendak melabrak dirinya gara gara ia jadian dengan Enggar? "Pacar lo, lagi nantangin pacar Meli di gudang belakang."


Buru buru, pikiran tadi ia tepis dan langsung tergantikan oleh bayangan Enggar.


"Lo tau kan arah pembicaraan gue?"


"Iya."


Refi tersenyum, "ada baiknya lo gak dateng telat. Ya seengaknya lo bisa selametin Enggar dari Bu Rosa."


Intan mendadak merinding mendengar nama Bu Rosa disebut.


"Oke gue cabut dulu." Refi melontar senyumnya lalu berbalik.


Buru buru Intan bangkit, Mia yang hendak ikut malah ia cegah. "Lo disini dulu! Jangan ikut, bentar lagi bel masuk!"

__ADS_1


Mia mendumel, ia sebenarnya ingin ikut, tapi jika Intan mencegah maka dia tidak bisa ikut campur. Toh ini urusan pribadi. Kan dia tidak ikut punya pacar. #savejomlo.


Intan berlari secepatnya menuju gudang belakang, ayolah kenapa koridor mendadak sangat padat. Eh atau ini hanya perasaanya aja? Biasanya koridor akan seperti ini.


Napasnya terengah saat tiba diujung koridor,ia buru buru menepuk kening saat ia sadar ia tak tau dimana gudang belakang itu. Ia kembali berlari ke belakang dan mendatangi siswa laki laki yang tegah bersandar di tembok depan kelas.


"Permisi, mau nanya. Gudang belakang ada dimana ya?" Intan bertanya dalam satu tarikan napas. Ini terjadi karena ia panik.


Cowok itu menoleh dan menatap Intan sesaat, "lo belok ke kanan terus jalan ke ruangan paling pojok."


Intan mengangguk cepat dan berucap terimakasih. Buru buru ia berlari lalu belok ke kanan. Ternyata, punya sekolah luas bukanlah hal yang menguntungkan saat ini. Intan menatap horor koridor ini. Sepanjang kiri kanan koridor adalah ruang ruang sepi yang jarang digunakan.


Menghela napas, Intan buru buru berlari ke ruang pojok dan mendengar hentakan keras di dalamnya, oke. Tidak salah lagi, Intan langsung membuka keras pintu itu. Pemandangan ia lihat pertama kali adalah keadaan Enggar terjepit sementara Raka hendak menghantam muka Enggar.


Segera Intan berlari dan langsung menggenggam tangan Raka untuk menahan gerakan cowok itu. "Kak!"


Intan menatap sungguh sungguh manik mata Raka, memohon agar tidak memukul Enggar.


Enggar mendengkus melihat pemandangan dihadapannya, Intan menggenggam Raka? Menatap Raka?


Buru buru ia menyahut tangan Intan dan merengek kepada Intan. "Taan, kok lo malah megang tangan si **** sih?"


Intan menahan napas, disela keseriusan ini Enggar masih ambil kesempatan untuk cemburu?


"Kak, udah ini apa apaan sih? Ayo balik!" Intan hendak menarik Enggar tapi cowok itu tak bergerak sedikit pun.


"Tan, tunggu diluar, lo dulu! Gue mau seleseiin. Bentar aja."


Intan menggeleng, meninggalkan Enggar sama saja dengan membuat ia kembali dalam masalah.


Raka buru buru mendorong bahu Intan menjauh, "lo denger!?"


Intan tersentak atas bentakan Raka barusan. Melihat itu, Enggar langsung menarik kerah kemeja putih Raka dan memandang tajam padanya. "Gausah nge-gas ke Intan!"


Melihat Enggar hendak memukul Raka, Intan menahanya kembali dengan tatapan memelas. "Plisss!"


"Gue janji, gue bakal nurut permintaan lo kalo lo nggak ngelanjutin ini."


Sebuah ide muncul, Enggar butuh apa yang dijanjikan Intan.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Padang rumput belakang sekolah lenggang. Menyisakan desauan angin yang menerpa masing masing wajah 2 remaja itu.


Intan menunduk, mengingat kejadian 2 bulan lalu di tempat ini, saat itu ia meminta Enggar untuk menjauh.


"Tadi kenapa? Kok sampe ada urusan gitu sama kak Raka?"


Enggar diam sejenak lalu menoleh, ia sedikit kecewa karena dirinya, Intan malah bolos sampai jam pulang nanti.


"Tan, gue gitu soalnya dia bentak lo kan?"


Intan menghela napas malas, "itu terjadi pas lo udah ngajak Kak Raka tengkar."


"Hehehe."


....


....


....


Hening, hingga Intan memutuskan buka suara. "Ada hubungannya sama Kak Meli pingsan?"


Enggar menoleh segera. "Tau darimana?"


"Bisa segera jawab?" Intan melontar balik pertanyaan.

__ADS_1


"Meli sakit, tapi maksa buat masuk demi nemuin si ****."


"Namanya Kak Raka." Intan memperingatkan.


"Iya itulah, nggak tau kenapa pas tadi pagi Meli nggak nemu si Raka, kayak tuh orang lenyap hilang dari bumi. Pas jam kelas gue olahraga, Meli ijin keluar kelas. Mau ke kopsis dia, lo tau kan kopsis deket lapangan, jadi gue liat. Bego ga sih? Uda sakit tapi malah jalan jalan.


"Pas dateng ke kopsis, dia liat si Raka lagi pegangan tangan sama adek kelas, temen sepantaran lo. Dia kaget tapi gak berani negur, terus balik ke lapangan, tapi pas gitu, malah si ferguso nggak sengaja nendang bola terus kena si Meli. Kasihan nggak sih? Udah sakit, liat pacar selingkuh, terus kena bola. Uda jatuh ketiban tembok."


"Ketiban tangga Kak." Intan mengoreksi peribahasa yang dilontarkan Enggar.


"Iya, terus pingsan, gue nolongin dia. Terus dengerin cerita dia, terus yaudah, gue ngajakin Raka ribut." Enggar menutup ceritanya dengan tarikan napas.


"Kak Meli gimana?"


"Udah baikan, pulang dijemput mamanya," jawabnya sambil menghadap Intan. Menatap manik mata yang juga menatap dirinya.


"Apa? Eh coba liat tangan lo," tanpa mendengar jawaban Enggar, Intan menarik tangan pemuda itu dan menatap ruas jari Enggar yang memar kebiru biruan. "Ini lo mukul apa aja? Lo mukul Kak Raka apa tembok?"


Enggar terkekeh sebentar melihat kekhawatiran Intan. "Ini bukan gara gara mukuli orang."


Intan mendongak, menatap Enggar. "Terus?"


"Tangan gue kek gini gara gara penyakitan."


Raut wajah Intan nampak dua kali lebih khawatir. "Penyakit apa?"


"Ini sih gejala penyakit R."


Intan masih diam menunggu penjelasan Enggar. "Gejala ini muncul karena tangan gue udah terlalu lama gak dielus cewek yang namanya Intan Permata Areta. Penyakit rindu."


Mendengar itu Intan langsung menghempaskan tangan Enggar, agar cowok itu menjauh. Tapi tawa renyah Enggar malah membuat Intan tambah sebal.


"Bodo ah."


"Bener tadi lo bosen?"


Ah, masalah yang tadi pagi. Saatnya membahas dan minta maaf.


"Sorry, gue cuman lagi kelepasan. Lo nyebelin sih, masa iya sampe koar koar gitu?" Intan lalu menggigit bibir bawahnya. Merasa menyesal, sesal yang sangat dalam.


Enggar tersenyum, tampak legah dengan penjelasan Intan. "Gue takut lo beneran bosan. Karena rata rata hubungan para remaja berakhir cuman dengan alasan bosan. Gue tadi buru buru pergi soalnya takut lo bakal bilang sebuah kata yang cukup nyeremin itu, bosan selalu merujuk pada kata 'putus'. Makanya gue pergi, gue pengen ngasih lo ruang rindu, rindu yang ngusir rasa bosan lo ke gue."


Intan tersenyum tipis, lihatlah, ia merasa sedikit bahagia atas ucapan Enggar barusan. "Kalo gitu selamat. Lo berhasil nyiptain ruang rindu Kak."


Mereka tak berani saling tatap. Memilih memandang ke rerumputan di bawah kaki mereka. "Tan."


"Apa?"


"Gue punya satu permintaan. Yang wajib, harus dan kudu lo turuti kan?" Enggar kali ini menoleh.


"Iya apa?"


"Lo boleh ngomong dan ngatain gue apa aja pas ngambek. Tapi jangan pernah ya, bilang kalo lo bosen ke gue. Jangan pernah lo bosen sama gue."


Intan terdiam, permintaan sederhana yang membuat hatinya menghangat seketika.


Dengan pelan ia mengangguk. "Iya."


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


*Me: aku beberapa hari terakhir sempat gak ngeh sama Mei, setelah mereka jadian kayak di otak udah blank. Sampe akhirnya di tengah kegabutan jaga adek nemu ide. :) Makasih buat kalian yang masih bertahan untuk membaca.


Btw, part ini balikin senyum aku ke Enggar.


Nantikan kelanjutan Mei


Baby, kalo suka klik tombol like yaaa*

__ADS_1


__ADS_2