MEI

MEI
34. Tentang Hubungan yang Terlepas.


__ADS_3

πŸ–€πŸ–€πŸ–€


"Papa gak masuk. Cepet beres beres, papa tunggu di mobil." Suara berat pria berusia 43 tahun itu memekikan telinga Intan.


Intan dengan mata sembabnya menatap 2 koper yang sudah tergeletak manis di kaki tempat tidur. Dirinya sudah menyiapkan ini selepas pulang dari rumah sakit, sebelum akhirnya memeluk guling dan terisak.


Intan mengenakan jaket asal. Ia menarik 2 koper itu lantas bertemu pandang dengan Bu Ris yang sedang berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.


Tanpa banyak bicara, Intan melepas gagang koper lantas mendekat ke Bu Ris untuk memeluk tubuh tua itu. "Intan titip Mama."


"Kamu gak pamit ke mamamu?" Tanya Bu Ris selepas melepas pelukan hangat itu.


Intan diam sejenak. "Di mana?"


"Kamar."


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Tubuh wanita itu terbalut selimut tipis berwarna oranye. Mulai bagian leher hingga ujung kaki semuanya tertutup.


Intan menelan ludah lantas mendekat. Ditatapnya wajah mamanya sesaat lantas beralih menarik tangan mamanya yang tersembunyi dibalik selimut. "Aku pamit."


"Kapan kapan kalo kita sudah baikan kita telponan. Aku pindah ke Malang," Intan berkata sendiri, seolah instingnya mengatakan mama pasti mendengarnya. "Mama bener emang, aku udah kurang ajar ke papa."


2 tarikan napas terlalui. Lantas Intan melanjutkan, "Tapi itu karena aku sayang mama."


Mata wanita itu terbuka. Membuat hati Intan tersentil. Ia menarik seulas senyuman.


"Yang nurut sama papamu."


Intan kembali terisak, pelan. Mamanya bangkit duduk lantas menarik Intan agar duduk di bibir kasur. "Iya, aku bakal nurut ke papa."


"Jangan berani ke papamu." Mamanya kembali bersuara pelan. Eskpresinya benar datar, dia bahkan tak tersentil melihat anak semata wayangnya menangis.

__ADS_1


Intan mengangguk cepat, "iya aju gak bakal berani. Tapi, jangan salahin aku kalo rasa hormat aku ke papa udah hilang."


"Tan," potong mamanya dengan tajam.


"Biar, asal aku nurut kan ke dia?"


"Sulit ngomong ke kamu ya? Apa temenmu ngajarin kamu buat bantah omongan orang tua?"


Intan segera mengusap air matanya. Ia bangkit untuk segera pergi bersama papanya. Saat di ambang pintu ia kembali menoleh serta menatap mamanya yang diam tak beranjak.


"Aku tunggu," ucap Intan dengan tatapan sendu. "Aku tunggu mama jemput aku ke Malang. Dengan keadaan mama udah bisa jalan dan lari. Gak pake kursi roda lagi."


Mamanya tertegun mendengar harapan itu. "Jaga diri, mama kalo disuruh Bu Ris terapi ya tetapi, jangan bandel."


Pintu itu lantas tertutup kemudian. Disini mamanya hanya menatap kosong kearah pintu tadi.


Semenit kemudian suara mesin mobil yang mulai berjalan terdengar.


Semenit kemudian samar. Lantas hilang.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Enggar terdiam menatap Meli yang tengah menatap dirinya dengan binar mata kerinduan. "Nggar?"


Enggar diam tak menjawab, kini di hatinya tengah berkecamuk sebuah tanya tanya yang perlu ia jawab.


Meli atau Intan?


Lantas dirinya berangsur mendekat ke tepi ranjang. Mendekat ke tubuh Meli yang masih belum pulih seutuhnya.


"Nggar, kenapa lo baru dateng sih? Gue udah nyariin lo dari pagi tadi. Liat, sekarang gue udah banyak omong tau!" Meli mencoba mencubit lengan Enggar tapi jemarinya masih tak berdaya untuk melakukan hal itu.


"Mel...."

__ADS_1


"Kenapa?" Meli menaikan sebelah alis lantas kembali tersenyum akibat bahagia melihat sahabatnya sendiri. "Duduk dong, kesel gue ndongak mulu."


Enggar menurut, ia duduk di kursi bundar yang berada di samping ranjang Meli.


Lantas Meli berceloteh pelan. Dan Enggar sekuat tenaga kembali menanyakan kepada hatinya.


"Enggar," panggil Meli sebal. "Diem aja! Gimana?"


"Apa?" tanyanya tidak mengerti.


"Ah, nyebelin lo." Meli menoleh ke arah jendela. Malas menatap wajah Enggar.


"Soal kejadian waktu itu. Sorry."


Entah bagaimana bisa ia berpikir mengatakan ini. Ah bukan, ia berpikir untuk melakukan ini sejak lama.


Enggar bangkit lantas memeluk tubuh Meli yang berada diatas ranjang itu. Ia bisikan kata kata yang selama ini ia tahan didalam hatinya.


"Gue kangen sama lo."


Meli terdiam beberapa saat lantas membalas pelukan Enggar meski tidak erat. "Gue sayang lo Nggar."


Enggar tidak menjawab dan malah mempererat pelukannya. "Gue lepas Intan."


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Kak Enggar:


β€’Intan. Sesuai apa yg lo bilang.


β€’gue ngelepas lo, tapi bukan berarti kita berhenti temenen ya? Kalo lo ketemu gue disekolah gausa sungkan buat nyapa.


Padahal, mereka tidak akan bertemu kembali.

__ADS_1


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


__ADS_2