
🖤🖤🖤
"Dari mana lo?" Cewek dengan balutan kaos warna pink itu menanyainya tepat setelah ia membuka pagar rumah.
"Ada lah," jawabnya sambil mengingat kembali kejadian tempo waktu.
Meli menaikan sebelah alisnya, setelah pagar rumah Enggar terbuka, cowok itu menuntun motornya dan Meli ikutan masuk.
"Lo nyebelin Nggar," kata Meli kembali.
"Hhmm?"
"Gue tadi nyariin lo. Tapi di kelas lo gak ada. Gue kan pen ke Gramed. Laknat lo!" Meli memanyunkan bibirnya seraya menghentak kaki lalu masuk kerumah Enggar.
"Loh? Kok gue yang salah sih. Kan lo yang tadi bilang mau pulang bareng Raka." Enggar berteriak menahan langkah kaki Meli diambang pintu ruang tamu.
Meli menoleh tegas, "dih! Ya kan harusnya lo konfirmasi dulu sama gue!"
"Ya amsipun! Lo emak gue emang? Mama aja gak gue kabari!" Jawabnya lalu mendekat, dia menepuk kepala Meli yang seolah tengah mendidih.
"Ya bukan! Kan gue emak dari anak anak kita!" ucap Meli seraya melotot tajam. Dan Enggar kini tengah mengembangkan senyumnya.
Keduanya lalu tertawa bersamaan. Meski demikian Meli tetaplah masih marah dengan Enggar yang tiba tiba menghilang saat pulang sekolah tadi.
"Lo kemana sih tadi Nggar?" tanya Meli kembali.
"Nganterin masa depan dengan selamat sentausa," cowok itu menuju meja makan dan mengambil asal nuget ayam yang tersaji.
"Tanteeee! Enggar ngambil nugetnya belom cuci tangaaaan!" Meli berteriak kencang membuat wanita di dapur itu menoleh cepat.
Tatapannya langsung setajam silet. Dan langkahnya seolah mengguncang bumi.
Wanita yang memakai daster dan celemek itu menghampiri dengan kuku tajamnya yang langsung menancap pada kulit sawo matang milik Enggar.
"Gila kamu Nggar! Habis pegang kaos kaki langsung pegang makanan!?" Mamanya memekik tajam lalu memutar cubitannya agar lebih membuat anak sulungnya jera.
Enggar mengadu kesakitan sambil menunjukan pose peace, "ma, aduh iya. Sorry sorry!"
"Sekeluarga bisa diare gara gara kamu!"
Tuh kan lebay, gegara gitu doang aja langsung di hubung hubungin sama penyakit. Kan gak bisa dong! Tapi seorang ibu memang kodratnya cerewet.
"Ya! Aduh, itu goreng apa ma? Gosong loh nantiii!" Enggar nyelimur agar cubitan itu segera terlepas.
Nyatanya berhasil, wanita dihadapanya segera berlari kembali kedalam dapur.
Selepas kepergian mamanya, Enggar mengusap usap bekas cubitan tadi dan menoleh dimana tempat terakhir Meli berada. Cewek itu sudah hilang kali ini.
Dari arah ruangan sebelah, terdengar suara tawa. Wah wah, minta di geplak.
Dengan langkah mantap ia membuka pintu kamar dan menemukan 2 gadis tengah memandang laptop bersamaan.
"Jiah jiah jiah! Kiss scene nih! Siap gak Nin?" Tanya Meli dengan pipinya yang sudah merona.
"Siap! Aduh oppa!" Nindi––adik Enggar––menjawab sambil mengulum senyum.
Bahkan kehadiran Enggar tak dihiraukan. Segara, sepersekian detik sebelum scene itu terjadi, Enggar langsung menutup laptop lalu menariknya.
"Ya! Oppa!!!" Nindi memekik tajam.
"Apa apa?" Meli menoel bahu Nindi minta penjelasan.
"Ini Kak Enggar––" ucapan Nindi terpotong dengan sahutan Meli.
"Lo panggil dia apa?" tanyanya tak percaya.
"Oppa."
"Dih, uratnya kecebong lo panggil Oppa. Ganteng aja nggak!" Meli mendengkus. Acara melihat drama dengan Nindi tertunda. Padahal ia baru sampai disini belum 2 menit.
"Ganteng ya!" Enggar menyahut dengan muka angkuh. Ia ikutan memangku tangan di depan perut.
__ADS_1
"Oppa! Balikin laptopnya, aku mau liat oppa." Nindi merengek diatas kasur
"Yaudah liat gue aja. Kan gue juga apa tadi? Oppa." Enggar menaik turunkan alisnya.
"Dih! Oppa yang ganteng. Liat lo mah udah bikin mata gue karatan! Balikin Nggar!" Meli ikutan merengek. Enggar berasa jadi seorang ayah yang menghadapi 2 putrinya. Sayangnya sang ibu masih di rumah mertua, untung untung tadi Enggar mengantarkan si ibu pulang ke rumah dengan selamat.
Enggar menjauhkan diri sedikit dari 2 remaja itu. Lantas ia membuka kembali laptop dan kangsung disuguhi adegan ciuman oleh 2 orang beda gender.
Setengah merinding ia menutup tab pemutar vidio di laptop itu seraya mengucap Istighfar.
"Gila ya Mel! Lo ngajarin adek gue liat sosor sosoran kek gini?" Enggar mengusap dada sambil menggeleng takzim.
"Dih Nggar! Ini tuh bukan soal napsu napsuan. Tapi ciuman itu bahasa cinta yang artinya itu melebihi apapun!" Meli membela tegas.
"Halah! Pantes aja anak SMP jaman sekarang main sosor sosoran. Ada yang ngajarin toh. Ckckck! Maaaa!!"
Nindi mendelik kala kakaknya menyangkut pautkan masalah ini dengan orang tua. "Kak apasih!"
"Kenapa?" Suara sahutan kembali terdengar.
"Sinii! Nindi ma! Liat drama korea yang ada sosor sosorannya."
Selanjutnya, suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Nggar apa apaan sih lo!" Meli bangkit dari atas kasur.
Sementara Nindi mulai berkaca kaca karena takut. "Kaaak...." Suaranya bergetar.
Tapi Enggar tak punya hati. Ia malah nari poco poco diambang pintu seolah mentertawakan kemalangan Nindi.
Sejam kedepan. Enggar mendengar mamanya menceramahi adeknya. Sementara Meli berulang kali menggigit bibir bawahnya. Khawatir dengan Nindi yang tengah terpojokan.
"Lo jahat banget Nggar. Dasar orang jahat!"
Enggar menoleh. Lantas ia tersenyum miring. "Jahat yang ini gabikin gue dipenjara kan?"
"Dasar gak punya hati!"
🖤🖤🖤
Dan yah, Senin bukanlah hari yang menyenangkan. Nanti pasti ada upacara. Lalu pelajaran berikutnya adakah Fisika.
Sudah kaki pegel, otak malah dibikin kaku!
"Ma. Aku sarapan di jalan ya?" Meli berucap sambil membuka aplikasi ojek online untuk segera memesan jasa antar tubuhnya ke sekolah.
Wanita diatas kursi roda itu mengangguk pelan. "Kenapa nggak dirumah aja?"
"Ada pr Fisika. Mau nyonto temen." Intan lalu mencium tangan mamanya dan memandang kaki sang ibu yang masih diperban.
"Kapan ganti perbanya?"
"Nanti siang sama Bu Ris."
Intan mengangguk lalu pergi keluar rumah sambil mengucap salam. Ia sebelumnya memasukan 2 potong roti kedalam plastik agar ia makan di boncengan babang ojek.
Setelah memakai sepatu, ia hendak menekan tombol pesan namun tertahan. Suara klakson sepeda motor membuat ia mendongak dan mendapati kakak kelasnya sudah nangkring di depan pagar rumahnya.
"Loh? Kak Enggar?" Intan mendekat lalu membuka pagar rumah.
"Ayo," kata Enggar sambil melirik motornya.
"Tapi––"
"Udah ah, ayo. Nih pake helmnya." Enggar menyodorkan helm warna pink itu. Helm yang biasa digunakan Meli.
Intan berdiri mematung. Ia tiba-tiba merasa lemas dan jantungnya berdegup kencang.
"Oh ngode ya. Oke kode diterima. Dedek Intan minta dipakain helm."
Sedetik kemudian helm itu telah mendekap kepala Intan. Cewek itu tersenyum kaku. "Kok gak ngabari kalo mau jemput?"
__ADS_1
"Biar terkejut."
"Tapi gue gak kaget."
"Iya gak kaget, tapi di hati terkejut."
Intan hanya mengiyakan dalam hati. Percuma mengelak. Ia tak bisa bohong pada diri sendiri.
Setelah keduanya sudah diatas motor. Motor Enggar melaju menantang angin pagi.
Intan membuka kantong kreseknya.
"Itu kresek buat persiapan mabok perjalanan?" tanyanya sambil menatap Intan di spion.
"Bukan. Ini roti gue. Lo mau?" Intan menawarkan.
"Iya boleh. Gue emang belom sarapan," dusta sekali mulutnya. Padahal ia sudah habis 2 piring nasi goreng sebelum menjemput Intan. Sebenernya jatah Nindi ia makan gara gara remaja usia 15 tahun itu ngambek dan mogok makan akibat kejadian drama korea kemarin.
"Iya tunggu di lampu merah aja yah. Biar lo sekarang fokus nyetir." Intan menggigit ujung rotinya.
"Gak ah. Sekarang aja Tan."
"Bahaya nyetir satu tangan."
"Yaudah suapin!"
Intan mendengkus sebal. "Ogah!"
"Duh padahal laper loh. Kan bahaya nyetir pas perut keroncongan. Bisa menimbulkan kecelakaan?"
"Yaudah, bentar, gue ambilin yang satunya." Intan hendak mengambil roti yang masih utuh. Namun suara Enggar terdengar kembali.
"Yang bekas lo aja."
"Jangan!"
"Udah gapapa. Dikit kok."
"Katanya keroncongan banget?"
"Ah aduh terpojokan gue."
Intan terkekeh pelan lalu melingkarkan tangan kanannya ke leher Enggar agar cowok itu bisa ia suapi.
"Hahh!"
Enggar membuka mulut lalu menggigitnya.
Setelah kejadian itu, keduanya diam. Suara deru angin membisik dan seolah menggoda kedua remaja itu.
Lima menit berselang, 3 kali perempatan dilalui dan 4 buah truk Intan lihat pagi itu dalam keheningan. Hingga tak lama, mereka sampai diparkiran sekolah.
"Ciye Tan. Itu tadi kenapa tangan lo geter geter gitu pas nyuapin gue?"
Boom! Intan mengumpat dalam hati. Kenapa kakak kelasnya ini resek si? "Ah, itu reaksi ilmiah kalo gue laper banget."
"Oh, kirain. Yaudah, entar pulang bareng gue ya? Tunggu di kelas."
"Gak bareng ke atas?"
"Enggak. Gue ada urusan di ruang guru. Gapapa yah gak gue anter?"
Intan mengangguk pelan. Meski dalam hati terbesit kekecewaan yang mendalam. Ia ingin berjalan bersama cowok itu. Oke, Intan diserang harapan berlebihan.
"Gue duluan." Intan pamit.
"Kalo kesasar share location. Entar gue dateng."
🖤🖤🖤
Me: Seneng seneng dulu. : ) Btw, soal drama korea gausah di contoh cukup dilihat, ta perlu dipraktekan. Yang bijak gaes 💞💞
__ADS_1