
🖤🖤🖤
Sirene ambulans membelah jalanan, semua kendaraan menepi, memberikan kesempatan pada pasien yang mengalami kecelakaan itu.
Intan mengusap air matanya, duduk bersama Enggar di dalam taksi yang membuntut dibelakang Ambulans.
Semua doa ia panjatkan, semoga belum terlambat. Itu saja.
Lebih lebih, Meli, seperti ini hanya karena pertengkaran hebat di tepi jalanan tadi.
Andai, andai Intan meng-iyakan permintaan Meli tadi.
Andai Intan tidak mengajak ke tamam tadi.
Andai ia tidak menjawab atau mengajak Meli untuk berdebat.
Ini tidak akan terjadi.
"Telpon keluarga Kak Meli," Intan berkata tegas kepada Enggar.
Cowok itu mengangguk seraya berkata, "Udah Intan. Mereka lagi di jalan."
Taxi yang mereka tumpangi berhenti di perempatan, tidak seperti ambulans di depan mereka yang bisa terus melaju karena memang keadaan darurat.
"Pak, kenapa berenti?" Intan memekik.
"Maaf mbak, kalo nerobos lampu merah, yang ada kita kena tilang. Malah makin panjang," supir berkata lugas, Intan kembali mengusap air matanya.
Tangan kekar itu bergerak menepuk nepuk kepala Intan. "Calm down."
Intan menoleh cepat, "gimana bisa? Gimana bisa gue tenang kalo yang bikin Kak Meli gini itu gara gara gue?"
Enggar tersenyum kecil, mencoba menenagkan, "Intan, lo jangan nyalahin diri sendiri. Yang harus lo tau sekarang, Tuhan nyoba bikin skenario paling indah. Ini semacam takdir yang udah di tulis dan baru kelaksana sekarang. Semua sekarang kita serahin ke dokter sama doa terus."
Intan terus terisak, ia menutup mukanya dengan telapak tangan lalu menggeleng, "harusnya lo ikut masuk ambulan tadi. Nemenin Kak Meli."
"Disana udah ada perawatnya. Meli bakal aman kok, yang butuh gue itu lo Tan." Enggar masih saja menepuk nepuk kepalanya.
Kenapa dengan cowok ini? Bukankah Meli lebih membutuhkan Enggar? "Dia sahabat lo."
"Tapi gue sakit hati gara gara dia ngatain lo kek gitu."
Hening, Taksi itu mulai memasuki halaman rumah sakit. Intan segera turun dan menepi ke dekat UGD. Enggar tampak mulai menghubungi satu per satu keluarga Meli yang tak kunjung tiba.
🖤🖤🖤
Meli dioperasi setelah dokter men diagnosis bahwa terdapat gumpalan darah pada kepala bagian belakang. Yang bila tidak segera dilakukan operasi, maka akan membahayakan sistem saraf pasien.
Seluruh keluarga Enggar dan Meli berkumpul didepan ruang tunggu. Enggar memeluk Nindi yang sudah tertidur, disampingnya Intan terduduk lesu.
"Enggar, kamu nggak pulang dulu?" Mama Enggar bangkit mengusap puncak kepala anaknya yang sudah kusut.
Intan ikut mendongak, lantas bangkit untuk mencium punggung tangannya, "ini anak cantik siapa? Temenya Meli?"
Intan tersenyum, hendak menjawab namun disahut oleh Enggar, "Temen spesialnya Enggar."
Mata wanita itu membulat lalu ia terkekeh. "Cemewew mu toh. Intan itu?"
"Iya tante." Intan tersenyum diantara wajah kusut khawatirnya.
"Jadi kamu yang bikin Enggar pegang novel terus?" tanya Mama Enggar dengan senyum menggodanya.
"Eh?" Intan menatap tidak mengerti.
"Iya, Enggar bela belain makan sambil baca novel demi kamu. Katanya kamu nyuruh Enggar baca novel. Tante emang pernah denger dari Nindi kalo cerita itu punya amanat yang bagus meskipun masih dalam versi Wattpad," mama Enggar berkata pelan lalu menoel noel Nindi untuk bangkit dan diajak pulang.
"Nindi baca Wattpad?" tanya Intan kagum. Seolah menemukan teman seperjuangan.
"Iya, kamu nggak pulang dulu Tan?"
"Nanti dulu , jam 9 aja," Intan menjawab halus. Lalu perempuan tadi pamitan dan berlalu bersama ayah Enggar.
Kini tersisa Papa Meli yang hendak pamit untuk ke kamar mandi. Enggar mengangguk dan mengatakan akan tetap disini bersama Intan.
__ADS_1
"Mama Kak Meli?" tanya Intan sambil menyibak rambutnya yang masih terurai––sisa dari kejadian foto di taman tadi sore.
"Dirumah, mereka nggak berani bilang dulu. Om Irfan minta supaya mama ngalihin perhatian Tante Irma dulu, tahukan seminggu yang lalu dia baru aja kumat," jelas Enggar, ia menatap mata Intan yang sembab. Cewek ini masih terus merasa bersalah.
"Lo baca novelnya kan?" tanya Intan, memastikan.
"Iya Intan, gue baca kok." Enggar terkekeh, lantas memutar tubuh Intan agar membelekanginya. "Ayo, buat kenangan indah lagi. Gue iket rambut lo, saksinya ubin rumah sakit dan suara mesin di dalam ruang operasi."
Intan tersenyum tipis, Enggar mencoba mencairkan rasa tegang Intan selama menunggu operasi Meli berjalan lancar.
"Udah sampe mana bacanya?" tanya Intan sembari menikmati belaian tangan Enggar.
"Sampe si tokoh utamanya ninggalin sahabatnya demi cewek lain," Enggar berucap pelan lalu merapikan tatanan rambut Intan. Selepasnya ia memutar bahu Intan agar menatap dirinya.
"Oh....," kata Intan pelan.
Kayak lo dong. Demi gue. Harus seneng apa sedih.
🖤🖤🖤
"Operasinya udah selesai," ucap Irfan sembari menghela napas.
Enggar ikut menghembuskan napas legah, lalu mengusap wajah kusutnya. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya proses pembedahan selesai.
"Belum sadar," Irfan melanjutkan, "katanya perlu waktu buat Meli bisa sadar, benturan di otaknya waktu itu keras banget Nggar, intinya otaknya masih terlalu kaget dan belum bisa balik ke kinerja sebelumnya."
Udara malam bertiup, cowok berjaket hitam itu mengangguk. "Meli bakal cepet sadar om. Gamungkin dia betah tidur lama lama."
Irfan tersenyum kecil, kini, dokter tengah memindahkan tubuh Meli ke ruang inap.
🖤🖤🖤
Enggar:
•operasinya ud selesei.
•tidur ya, jan banyk mikir. Entar stress trs jerawatan.
•tan. Insom nih, lo jgm insomiah yah, gue aja.
Enggar mengetikan pesan itu pada jam satu pagi hari tadi. Saat ia selesei bercakap cakap dengan Irfan. Dan dilanda rasa khawatir serta kekosongan pekerjaan.
Dan pesan itu mendapat balasan dari Intan.
Intan🙌
•oh, gimana? Kak Meli bilang apa? Gue mau minta maaf nih.
Kak Enggar:
•blm sadar. Btw, pala gue sakit.
Intan🙌:
•Jadi Kak Meli blm siuman?
•kira2 kapan?
•gue nnti pul.sek kesana ya?
•ruang apa?
•Kak
Enggar:
•Tan, gue tadi kejedot kusen pintu.
•sakit, cimihiw🤸
Intan🙌:
•Kak, gue lagi nanya Kak Meli.
__ADS_1
Enggar:
•Meli baik2 aja. Yg sakit it gue skrg.
Intan🙌:
•klo Kak Meli baik2 aja, gamungkin dia dia dioperasi, jgn becanda ah.
Enggar🙌:
•etapi serius, gue masuk angin.
Intan🙌:
•bodo amat, ngapain aja lo sampe masuk angin?
Enggar:
•semalem begadang.
Intan🙌:
•tuh, siapa suruh begadang?
Enggar:
•bukan begadang sih, gabisa tidur gue.
Intan🙌:
•oh iya, lo gapulang kerumah emang? Semeleman d rumah sakit?
Enggar:
•iya. Iba kan lo?
Intan🙌:
•harusnya bawa jaket yg tebel.
Enggar:
•uda :(
Intan🙌:
•y udah lo nya aja yg manja. Mikir apa lo sampe gabisa tidur? Mikirin Kak Meli?
Enggar:
•iya :(
Intan🙌:
•Oh
•Gue mau sarapan.
Enggar:
•Than, di anter sp?
•gojek nih?
•msh jam set.6 gue jemput ya?
Enggar memutar mutar layar hp hingga lima menit kemudian.
Tidak mengherankan seorang Intan tiba tiba menghilang dari papan chat.
Untung pacar. Kalo engga ya mungkin Enggar bakal ajakin pacaran.
🖤🖤🖤
__ADS_1