MEI

MEI
12. Cerita yang Hampa


__ADS_3

Meli mengerjapkan mata berkali kali, ia bingung mendapati sahabatnya tengah duduk melamun di balkon kamar.


Di tangannya sebatang rokok sudah terbakar ujungnya tengah mengeluarkan asap tipis.


"Enggaaaarrr!!" teriaknya lagi mencari perhatian.


Tetap sama, 2 panggilan sebelumnya juga di campakan.


"Ck! Sshhh!" sebal, Meli melepas cassing hpnya dan melemparkannya pada Enggar.


Nyatanya cara yang efektif untuk menarik perhatian Enggar. Dia menoleh dengan wajah kaget. "Hm? Sejak kapan lo disini?"


Oh lihat wajahnya tak berdosa ketika bertanya demikian. "Sejak tadi pagi."


Meli lalu menyodorkan sekantung kresek berisi sekotak kardus makanan. "Nih!"


"Bentar bentar!" Enggar yang tadinya lesu berubah 180 derajat. "Lo disini dari pagi tadi? Berarti lo liat gue ngupil, kentut, sama gue copot baju dong? Astaga Mel, udah mesum ya lo!?"


Tuduhan asal asalan itu keluar mulus dari mulut Enggar ke Meli.


"Bodo amat. Nih gue bawain martabak spesial buat lo."


Enggar menatap tak tertarik pada kresek yang mengambang karena Meli bersikukuh menyuruh Enggar menerima.


"Taroh di dapur kan bisa. Kasih ke mama." Cowok itu menghisap kembali rokoknya. Menatap kosong ke hamparan awan diatas sana.


"Udah, gue tadi beli banyak. Di bawah udah 2 kardus. Di rumah 3 dan yang ini satu buat lo tapi spesial!" Meli berkata dengan nada sok membanggakan Enggar.


"Hm. Taroh di meja sana." Enggar menjawab cepat.


Melihat raut wajah sahabat yang seperti ini. Meli segera duduk di kursi sebrang Enggar. Ditatapnya Enggar dengan prihatin.


"Lo kenapa sih? Hem?" Meli menoel pelan lengan Enggar.


Cowok itu tak bereaksi, malah kembali menghisap rokok lalu menempelkan punggung di punggung kursi. Ditatapnya mata Meli dengan lurus.


Meli diam. Berpikir Enggar akan segera bercerita, tapi nyatanya, cowok itu hanya diam seperti itu seterusnya. Tak tahan ia kembali menyeletuk. "Gila ya Nggar, apa lo gini gara gara kurang gue perhatiin? Gue tinggal pacaran belum seminggu aja hidup lo udah kacau."

__ADS_1


"Makanya Mel, putusin Raka. Pacaran sama gue, urus gue Mel."


Terdengar datar memang, tapi siapa yang tahu didalam hati sana akar cintanya tengah bercabang dan masih mengharapkan Meli tetap disisinya.


Ingatan tentang perkataan Intan berputar dikepalanya. Ia tak boleh menyerah dan pasrah. Jangan menyia-nyiakan kesempatan.


"Dih, ogah gue kalo pacaran sama lo. Bawahanya kek gue bakal ketiban sial gitu Nggar." Meli sempat mengerutkan muka, seolah sudah ada bayangan tentang apa yang diakatakan Enggar.


Enggar diam, harapannya seolah api kecil yang disiram air satu ember. Langsung padam. Ia memilih membuka martabak tadi dan mencomotnya dengan ganas.


Meli terkekeh melihat cara makan Enggar yang ganas. Dikira itu adalah kegiatan melawak Enggar, tapi nyatanya cowok seperti itu untuk melampiaskan amarahnya.


"Cemot ih!" tunjuk Meli pada area sekitar mulut.


Enggar menelan sisa makanan tadi lantas mencondongkan tubuhnya kearah Meli. "Lap-in!"


Meli ringan tangan membantu. Ia meraih tissue lantas membersihkan area sekitar mulut Enggar dengan telaten. Saat ia akan menarik tanganya, Enggar menahan tangan itu agar tetap diposisi.


Mata mereka beradu pandang, lantas Enggar beruara dengan raut wajah serius. "Gue mau tanya."


"Itu pemberitahuan, bukan pertanyaan," tentangnya pada Meli.


"Ye terserah," malas Meli tetap menjawab, lantas sepersekian detik ia mengubah mimiknya dengan tersenyum. Tangan kanannya yang tidak di cengram Enggar ia tepukan pada cowok itu. "Uttuututu, tanya aja deh. Apa aja buat kamu."


Menarik napas dalam Enggar menajamkan matanya untuk menatap Meli. "Lo pernah gak sih, kepikiran buat suka ke temen sendiri--"


"Ya!" belum belum Meli sudah memotong dengan antusias. "Gue bahkan suka ke temen gue Nggar."


"Hah?" Enggar pura pura cengo.


"Lo....." demi apa Meli berkata barusan? Hatinya berdesir pelan ditambah dengan semilir angin yang menyejukan. "Lo....gak salah tanya beginian? Oke iya, gue kan emang suka ke temen sendiri. Raka Armandika! Temen SD gue."


"Oh," pelan dan datar, Enggar membuang muka kearah lain dengan kesal. "Gini Intan nyuruh gue berjuang."


"Intan?" Meli samar mendengar nama itu disebut. "Iya, dia apa kabar?"


"Baik. Intan baik. Tapi kita gak baik."

__ADS_1


Meli menoleh tidak paham.


"Lo belom cukup dewasa buat ngertiin ini Mel." Enggar berkata bak orang dewasa. Ia melancarkan aksinya sambil menepuk puncak kepala Meli.


Pintu kamar Enggar berdecit lumayan keras. Muncul sosok remaja 15 tahun itu dengan wajah sebal.


"Oppa! Pinjem korek api." Nindi berdiri diambang pintu. "Eh ada Kak Meli. Thanks martabaknya."


Meli mengangguk mengiyakan. Lantas Enggar mengambil alih percakapan. "But apa? Lo mau ngerokok?"


Nindi berdecak pada tuduhan un faedah Enggar. "Buat bakar kamar kakak! Buru ih!"


"Astaghfirullah, dorhaqa kamu dedek!"


"Mau praktek IPA. Sini ih!"


"Pake kompor sana."


Nindi mendengkus. Sementara Enggar menahan tawa, sekuruh rumah tau jika Nindi adalah cewek yang masih belum bisa menyalakan kompor. Dia ada trauma saat di usia 5 tahun.


"Kompor sana. Korek gue terlalu suci buat mahkluk najisin kek lo." Enggar menaikan sebelah alis menantang Nindi.


Cewek itu menggeram sebal. "Oke!" Nindi berteriak seolah menantang.


"Oke pergi lo." Enggar menjawab dengan nada ringan.


"Kasih deh Nggar, nyusahin amat pinjem gitu doang." Meli turun tangan membantu.


"Kemarin lo di panggil bk kan? Terus bukanya panggil mama lo malah sewa orang lain. Aduin ke mamah ahh." Nindi mengancam dengan wajah licik.


"Mapus lo Nggar!" Meli kompor di belakang Enggar.


Korek api berwarna hitam itu melambungng 1 detik diatas udara sebelum akhirnya mendarat pada telapak tangan Nindi.


"Gomawwo oppa!"


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2