MEI

MEI
33. Dan Aku Menjadi Masalalumu


__ADS_3

🖤🖤🖤


Intan melangkah perlahan menyusuri koridor rumah sakit.


Dipandanginya dinding dinding putih yang dabalik dinding itu pasti menyimpan suka duka pasien yang selalu meminta kesembuhan kepada sang pencipta.


Kakinya tiba tiba kaku hanya karena tengah melihat Enggar berdiri di ambang pintu. Cowok itu mengintip kedalam, seolah ingin mendekat kearah Meli lalu memeluk tubuh ringkih itu.


Intan tersenyum getir lantas mendekat. Ia memanggil lemah nama Enggar, membuat lelakinya buru buru menoleh lantas tersenyum dan mengacak rambutnya. "Gue jadi heran. Lo kesini mau jengukin Meli apa modus mau liatin gue?"


"Gue mau ngomong sama lo." Intan menatap sekitar. "Ditaman keknya bagus. Kak Meli ada yang jagain kan?"


Enggar mengangguk, "dari kemarin lo selalu serius. Gue jadi pengen ikutan serius. Ke pelaminan nggak nih?"


"Stop kidding," balas Intan sambil menarik langkah menuju taman rumah sakit.


🖤🖤🖤


Seindah apapun taman rumah sakit, yang namanya tempat orang sakit itu tetap saja terlihat memilukan.


2 remaja itu melangkah menuju bangku kosong lantas terdiam beberapa saat hanya untuk menikmati suasana sekitar.


"Gimana novelnya?" Intan memilih mengulur waktunya.


"Udah tamat, bagus sih ceritanya. Tapi gue gak nangis kayak perkiraan si Nindi. Dia tadinya jamin gue nangis tapi gak kebukti tuh." Enggar tertawa meremehkan Nindi.


Intan terkekeh sejenak. "Sesuai janji. Lo mau kan ceritain ke gue?"


Enggar mengangguk mengiyakan. Ia memulai ceritanya lantas sesekali memperagakan scene scene yang ia ingat.


Cerita yang membuat Intan sejenak menatap Enggar dengan cara pandang lain. "Akhirnya, si cowok ini nyesel karena gak bilang rasa sukanya dari awal. Sekarang dia malah kehilangan sahabat dan cinta dia."


Intan mengangguk mengiyakan. Cukup, cerita itu cukup menggambarkan bahwa posisi Intan seolah berada di peran antagonis.


Lantas hening.


"Gue tadi pas disekolah gak langsung pulang," buka Intan sambil tatapanya tertuju pada lansia yang berada diatas kursi roda ditemani pria berusia 40 tahunan.


Enggar menoleh, "ada eskul apa emang?"


Intan menggeleng, lantas menatap rumput pada dibawahnya. "Gak ada. Gue tadi, abis nerima pesan lo, gue langsung nyariin lo. Pikir gue, gue mau bujuk Kak Reyan biar lo bisa anter gue ke rs."

__ADS_1


Enggar kini menoleh dan menatap Intan lurus. "Lo nyari gue kemana?"


"Ke kelas lo."


Punggung Enggar tiba tiba menjadi tegap, tubuhnya menegang hanya karena mendengar ucapan singkat yang dilontarkan Intan barusan. "Tan? Lo bener ke kelas gue?"


Intan sungguh tidak tahan untuk tidak menangis, ia memejamkan mata lantas mengangguk. "Iya, gue bener ke kelas lo."


Tangan kanannya terangkat untuk membekap mulut, ia tak boleh terisak. "Gue, gue denger semua."


Jantung Enggar rasanya mau meledak, ia bererak mengusap punggung tangan Intan lantas menggeleng. "Intan, dengerin penjelasan gue dulu ya?"


"Itu tadi––hiks––udah cukup jelas––hiks––lo gaperlu nambahin kak." Intan kini terisak. Ia menggeleng untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa menangis itu tidak perlu.


"Intan....plis." Enggar menggeleng meminta waktu.


Kini Intan mengusap air matanya. "Gini, kak. Gue nyuruh lo baca novel itu lo tau karena apa?"


"Karena lo mau baca cerita dengan cara yang berbeda?" Enggar menjawab resah, ia tak ingin membahas hal ini, dia ingin membahas apa yang Intan dengar di sekolah tadi.


"Iya. Dan satu hal lagi. Gue pingin lo sadar, kalo posisi lo dan cowok di novel itu sama. Kalo lo bisa aja jadi nyesel kek cowok itu gara gara telat nyadar." Intan mulai mengeluarkan air matanya kembali dan segera ia usap bulir bening itu.


Enggar kini mengusap puncak kepala Intan lantas menggeleng. "Gue udah bener milih lo waktu itu. Dan gue gak mau––"


"Intan...." Enggar tak tau harus menyahut apalagi ketika yang bisa ia lakukan hanyalah menyebut nama gadisnya.


"Plis, tanya ke hati lo. Hadapi, jangan pengecut, lo perlu jawaban. Jangan lari kak." Intan menarik napas dalam untuk menetralkan rasa sesak akibat terlalu lama terisak.


"Gue, gue udah nemu lo Tan. Gue udah jawab, kalo lo pilihan gue."


Intan menggeleng. "Plis."


Intan menarik lengan Enggar untuk berdiri. Ia menyerahkan handycam yang diberikan Refa padanya. "Ini, benda ini bakal bantu lo jawab apa isi hati lo."


"Intan, jangan gini dong."


Intan mengusap matanya pelan. "Iya, gue gak bakal nangis kalo lo selesei in urusan hati lo ini." Intan menunjuk kearah organ hati berada. Bukan di tempat jantung berada.


"Gue mau sama lo dulu. Gue masih gakepingin ketemu Meli. Lo butuh gue.".


"Disana." Tunjuk Intan ke arah pintu masuk gedung. "Kak Meli lagi nunggu lo. Dia jauh lebih butuh lo.".

__ADS_1


"Bukan lo yang butuh gue, tapi gue yang butuh lo. Plis jangan suruh gue kesana."


Intan mencoba untuk tidak kembali menangis. Ia seolah ingin memeluk Enggar tapi tertahan karena itu belum bisa ia lakukan atau mungkin tidak akan pernah bisa ia lakukan. "Gue mau lo turuti gue 3 hal."


Enggar diam lantas menarik tangan Intan untuk digegam. "Apa?"


"Pertama." Intan menunjuk ke area dada Enggar.  "Kalo jawaban hati lo milih Kak Meli, itu artinya kita putus. Tapi kalo enggak, berarti lo harus tetep berusaha pindah hati."


"Itu bukan permintaan, itu paksaan."


Intan tidak peduli dengan tanggapan Enggar. "Dua. Maafin gue."


"Lo gak salah."


"Maafin gue kalo––" Intan terdiam, gak mampu menjawab.


"Kalo apa?"


"Kalo gue ngilang." Lanjut Intan dengan suara yang lirih. Ia menunduk tak mau menatap mata Enggar.


"Lo mau kemana Tan?"


Intan menggeleng. "Maafin gue."


Enggar hendak meraih tangan Intan namun cewek itu dengan sigap menepisnya dan menolak. "Tiga. Jangan kejar gue. Jangan ikutun gue,"


"Gak!" Tolak Enggar, "gue gamau ikutin semua permintaan gak masuk akal lo."


"Turutin!" Intan membentak keras. Ia lantas berjalan menjauh namun lagi. Enggar mencegah langkahnya.


Maka Intan cukup mengeluarkan sebuah kalimat singkat yang selalu bisa dimengerti Enggar. "Gue butuh waktu sendiri."


"Gue gapeduli. Gue pingin lo tetep disini Tan, gue milih lo."


"Lo egois, turutin atau gue benci sama lo."


Selepasnya berkata demikian Intan terbebas.


Selesai. Masalahnya selesai.


Cerita ini selesai.

__ADS_1


Selesai


Becanda man teman. Nggak selesei dulu kok. Cuman ya gitu part depan keknya makin ngenes.


__ADS_2