
🖤🖤🖤
Ruang ekskul lukis hening kala guru ekstra menjelaskan materi tentang pemilihan objek yang bagus. Mengajari bagaimana cara agar mencari tempat yang nyaman saat melukis di tempat terbuka.
Sementara Intan, mati matian menahan nyeri di perutnya. Ini gejala akibat datang bulan atau memang ia kebanyakan makan pedas ia tak tau.
Yang ada dan yang penting adalah saat ini ia harus bersikap tenang. Jika ia menampakan wajah kesakitan sedikit saja, maka lelaki disempingnya akan langsung menyerocos cerewet.
Oh, andai saja ada Mia disini. Mungkin ia tak akan duduk disamping Enggar, sayangnya Mia tidak masuk mengakibatkan Intan duduk dengan Enggar yang posesifnya naudzubilah. Masa tadi, pas temen cowoknya meminjam rautan, Enggar langsung noleh sambil memincingkan mata.
Enggar meraih rautan lalu menyodorkanya ke arah cowok itu. "Kalo mau minjem ke gue. Gausa liat Intan."
Intan berdecak mengingat kejadian pinjam meminjam tadi. Ia melirik jam. Syukur, 5 menit lagi eskul akan berakhir.
Pembina eskul langsung mengakhiri pertemuan saat jarum jam menunjuk angka 4 persis.
"Baiklah, pertemuan berakhir disini. Saya permisi. Selamat sore."
"Sore!!"
Enggar langsung menoleh pada Intan yang bermuka tegang. "Tan? Kenapa?"
Intan menggeleng kuat kuat lalu mengulas senyum tipisnya. "I'm okay. Let's go home."
Enggar meneliti wajahnya lebih dalam, membuat Intan kian melebarkan senyumnya––senyum paksaan untuk menutupi rasa nyeri di perutnya.
"Iya, keburu hujan."
"Enggar!!!"
Lagi, Intan mendengar suara itu. Suara Meli yang kian hari terus memekikan nama Enggar. Terakhir kali, Meli membuat ia tersisihkan di meja kantin. 2 hari yang lalu.
"Apaan?" sahut Enggar sambil membantu Intan memasukan kembali alat tulis yang sempat digunakan saat eskul berlangsung.
"Lo gak lupa kan mau nganter gue ke Gramed? Buku sket gue abis nih."
Intan meringis mendengar ucapan Meli. Apa iya, Enggar sudah mengajak janjian Meli? Jika iya, lantas bagaimana ia akan pulang. Oh, Pak Yayan bahkan kali ini mungkin sedang mengantar mamanya periksa keadaan kaki.
"Nanti Mel, gue mau anter Intan dulu. Keburu hujan."
Meli menatap Intan sekilas lalu mengembungkan pipi. "Kapan?"
"Entar malem, ayo Tan."
Meli menggigit bibir bawahnya, "Tapi Nggar ini sama sekalian beliin mama lo kado ulang tahun. Lo gak lupa kan?"
Enggar yang tadinya hendak melangkah keluar kelas terhenti atas ucapan Meli. Ia tidak lupa malam ini mamanya ulang tahun, ia hanya lupa membelikan kado.
"Mel, lo bisa naik ojek kan? Plis gitu. Gue mau nyari kado sama Intan aja," Enggar tampak menghela napas pelan, sungguh ia berada dalam 2 pilihan.
Intan mendongak, lantas menggeleng, "Cari sama Kak Meli gih. Gue beneran capek jadi pen langsung pulang. Gabisa nemenin lo."
Enggar kini menaikan alisnya. "Lo dijemput Pak Yayan?"
"Ojek online," Intan menjawab cepat sembari menahan sakit di perut.
"Nggar, ayo dong. Gue juga pen ngasih mama lo hadiah yang bagus." Meli menyela sambil memaksa.
Intan menggigit bibir bawahnya, "iya, gue bisa pulang sendiri kok."
Enggar nampak menghela napas, ia menatap Intan lagi sebelum mengiyakan permintaan Meli.
"Ayo, gue anter lo sampe ojeknya dateng."
Intan menepis tangan Enggar, menggeleng tidak setuju. "Gue mau ke toilet. Lo bisa pergi duluan."
"Nggak, gue ikut ke toilet, gimana kalo ada yang ngintip?"
Intan langsung memukuli bahu Enggar, "yang ada lo yang ngintip!"
"Enggar, yuhuu waktu berputar gais." Meli kembali menyela.
"Serius? Oke ayo keluar bareng bareng."
Intan mengangguk mengiyakan, "lo tau kak?"
"Apa?" Enggar berjalan disampingnya menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Lo adalah pacar teraneh yang gue punya." Intan berkata cepat, namun pelan, tak ingin Meli mendengar percakapannya.
Enggar terkekeh, "lo bilang gini kek lo udah pernah punya banyak pacar."
"Emang."
Buru buru Enggar menoleh tajam. Intan bener punya banyak mantan? "Siapa?"
"Ayo Nggar, Intan duluan ya. Sorry, kita buru buru." Meli langsung menarik lengan Enggar.
Sementara Intan terpaku di pijakan. Menatap 2 punggung yang berangsur menjauh. Enggar sempat menoleh dengan tatapan yang seolah berkata: maaf.
Kali ini, rasa nyeri itu kian menjadi jadi diiringi jatuhnya air hujan dari atas langit. Suhu dingin itu kian membuat perutnya nyeri.
"Gue...aw!" kontan Intan berjongkok, meremas perutnya. Berharap bisa meredakan nyeri perutnya.
"Kak..." panggil Intan lemah. Berharap sosok itu kembali hadir.
Air matanya sudah mengalir hanya karena perutnya terus mengalami kenyerian. Ia meraih hp untuk menghubungi Pak Yayan, setidaknya mungkin Pak Yayan sudah pulang dari rumah sakit.
"Hay." Seseorang menyapa. Intan langsung mendongak. Berharap ini adalah Enggar.
Namun, bayangan itu lenyap saat ia sadar bukan Enggar yang berdiri dihadapannya. Sosok lelaki yang kalau tidak salah ia temui seminggu yang lalu.
"Lo?"
"Kalo lo inget, pas itu lo nanya tempat gudang belakang ke gue?"
Oh, Intan mengangguk. Ingat dengan cowok ini.
"Lo keliatan nggak sehat. Mau gue bantu?"
Intan tersenyum tipis, "lo bisa anter gue pulang? Gue rada sakit di bagian perut."
Intan tak tahu siapa ini. Tapi melihat ia tersenyum jauh membuat ia merasa aman. Ia yakin, selama ia percaya pada Tuhan maka tak akan ada bahaya. Ia tidak peduli jika ia disebut cewek gampangan karena dengan mudah menerima ajakan cowok.
Cowok ini mengulurkan tangan yang disambut Intan cepat. Mereka melangkah menuju parkiran sekolah.
"Untungnya gue bawa mobil. Lo gak perlu kedinginan."
Intan mengangguk dengan senyum tipis, rasa pening dikepalanya membuat ia tak banyak bicara.
Ayolah, kenapa disaat pening seperti ini Intan malah halu mendengar suara Enggar?
Tapi nyatanya itu bukankah halusinasi Intan, cowok itu benar datang dengan jaket merahnya, rambutnya sudah basah acak acakan karena menerobos air hujan.
Intan mendongak, demi melontarkan senyum kepada Enggar. Lelakinya mendekat dan langsung melepaskan genggaman cowok disamping Intan.
"Lo nggak perlu pegang dia segitunya." Enggar menatap tidak suka pada cowok ini. Kemudian merengkuh Intan dan memeluknya.
"Lo bawa apa kesekolah?" tanyanya dengan menaikan sebelah alis.
Enggar menoleh, "motor."
"Lo mau bawa cewek sakit pake motor? Pikiran lo kemana? Ini hujan. Ini nggak aman buat dia."
Enggar tertawa sumbang lantas melepaskan jaket merah di tubuhnya dan memakaikan itu pada Intan. "Dia bakal selalu aman sama gue."
Intan mencoba tersenyum atas kalimat Enggar, kalimat yang membuat dirinya aman dan nyaman. Selalu.
"Ayo Tan."
"Kak Meli?"
"I love you too, udah gausah banyak ngomong."
🖤🖤🖤
Intan mengerjap membuka matanya, ia memandang keadaan sekitar bukanlah ruang yang asing. Oh, ini kamarnya
Ia lantas memutar ingatan, dan baru sadar saat diperempatan tadi. Di tengah perjalanan ia pingsan karena suhu dingin dan rasa nyeri serta pening yang tak kuat ia tahan.
Kali ini, telapak kakinya geli karena sebuah jari bergerak menggelitik dibawah sana. Buru buru Intan menatap ke kakinya dan menemukan Enggar tersenyum lebar kearahnya.
"Udah bangun?" tanyanya basa basi.
"Enggak, Intan masih tidur." Intan menjawab pendek sambil berusaha untuk duduk.
__ADS_1
Enggar terkekeh pelan sambil membantu Intan duduk.
"Ini rumah gue?" tanya Intan memastikan.
Enggar mengangguk, "kenapa?"
"Baju gue....." Intan mengintip bajunya yang telah berganti.
Engga malah terkekeh puas, "kenapa? Gue yang gantiin. Habis dirumah lo sepi."
Buru buru ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut, "sejauh apa yang lo lihat!"
"Gausah di tutup tutupi, gue udah lihat semuanya lon Tan."
Muka Intan memanas, malu itu berkumpul menjadi satu membuat wajahnya seolah akan meledak. "Kak!"
"Iya iya, Bu Ris yang gantiin, gue gak liat apa apa." Enggar membuat Intan lega sambil mengelap wajah.
"Mama gue kemana?"
"Tidur, dia tadi sempet khawatir tapi gue minta dia tenang sama minum obat. Ketiduran di kursi roda, terus dibawa Bu Risa ke kamar," Enggar menjawab lalu menyodorkan teh hangat ke Intan.
"Thanks. Jam berapa sekarang?"
"Lima."
"Oh."
Hening, tak ada sahutan. Hingga akhirnya rasa kepo Intan mengakhiri keheningan ini. "Tadi gue pingsan kan?"
"Iya, udah kek Snow White lo Tan. Gue panik. Tau apa yang terjadi?" Enggar sengaja membuat pertanyaan agar Intan dilanda kepo.
"Apa?" mempan. Intan tambah penasaran.
"Gue cium lo kek pangeran. Dan keajaiban pun terjadi." Intan langsung menepuk Enggar kuat kuat, pipinya merona malu. Tentu itu bukanlah guyonan yang bagus untuk menggoda Intan.
"Serius!!!" Intan memanyunkan bibirnya.
"Tadi ya gitu. Lo pingsan tapi gajatoh. Kan lo pengangan ke gue kek koala meluk pohon. Erat banget Tan, sampe gue sesak. Lo gitu gara gara takut kehilangan gue ya?" Enggar kembali menggodanya, dasar.
Intan memutar bola matanya, "gue gak bakal gitu kalo lo gak maksa."
"Tapi lo selamat kan?"
"Lo udah nyari hadiah buat mama lo?" Intan memutar topik lain, malas jika ia tetap menggunakan topik tadi maka Enggar akan kembali menggodanya.
"Hadiah gue buat mama udah siap," ucapnya pelan.
"Kalo boleh tau, apa?" Intan bertanya.
"Kado gue buat mama lagi sakit." Enggar kembali berucap membuat kedua alis Intan terangkat dan menatap Enggar bingung.
"Kado gue buat mama lagi natap gue bingung," lanjut Enggar kembali.
Intan buru buru menyahut, "maksud lo?"
"Kado gue buat mama yang barusan bilang 'maksud lo?'."
Intan memandang kearah lain, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memanas.
"Gue?" tanya Intan memastikan.
"Siapa lagi?"
"Kok gue?"
"Gue mau kenalin lo ke mama. Dia pasti seneng liat anak kesayangannya udah nggak jomblo sejak seminggu lebih yang lalu," dia berkata antusias dan bangga.
Intan malah tertawa meremehkan, "lo udah nggak jomblo? Emang siapa yang nerima lo?"
"Oh, emang siapa yang nulis di daun i'm yors I love you? Hem?"
Ayolah Intan kalah berdebat dengan Enggar lagi. Cowok ini pintar sekali memutar balikan keadaan.
"Bodo amat!"
"Iya sayang? Gimana?"
__ADS_1
🖤🖤🖤
Me: typo? Hahaha aku juga benci ke dia. Btw Intan Enggar kalian yg sering sering bahagia ya?