
🖤🖤🖤
Ekstra Seni Lukis dimulai hari ini, tentu saja gadis dengan rambut terurai itu bahagia.
Bukan main, ia bahkan sepanjang hari itu selalu tersenyum hanya karena membayangkan sang senior yang bernama Enggar itu menyapanya. Lalu mengajak berbincang bincang diselingi gombalan recehnya.
Mia mendengus sebal, kalau Intan sudah gila ya gila. Gak ada sisi warasnya. Mungkin obatnya hanya dengan diajak ngobrol bareng Enggar.
"Mi, udah rapi belum?" Intan bertanya sambil mengusap puncak kepalanya.
"Idih, serapi apapun lo. Tetep aja jelek."
Intan mengerucutkan bibir mendengar jawaban dari kawanya itu. Tindakan itu menimbulkan gelak tawa dari Mia. "Iya deh iya, udah rapi."
"Mi."
"Hm?"
"Eung, gimana ya ngomongnya?"
"Ya tinggal buka mulut aja, apa susahnya?"
Intan menatap ruangan yang biasa digunakan anak anak ekstra lukis itu. Mendadak jantungnya berdegup dengan kencang hanya karena melihat Enggar berjalan memasuki ruangan itu.
"Gue gak yakin mau ikut nih ekstra." Intan kontan berhenti. Membuat Mia ikutan berhenti dan menoleh dengan cepat.
"Ish! Kok lo gitu?" Mia mendelik dengan harapan Intan mengubah pemikirannya.
"Takut ketemu Kak Enggar...."
Dih, Mia hampir saja terbahak, masa takut? "Emang Kak Enggar ngapain lo?"
"Ya gak ngapa ngapain sih."
"Terus kenapa takut?"
"Gugup sih, bukan takut."
Mia menarik tangan temanya sembari melangkah ringan. Ketika memasuki ruang lukis, Intan menunduk dalam, sumpah grogi.
Ia mendongak sedikit lalu menemukan Enggar tengah duduk disebuah meja dibawah kipas angin.
Matanya terpejam dengan kepala yang mendongak keatas, tanganya ikut mengibas ibas kemeja putih itu untuk menambah angin.
"Gila sumuk, neraka bocor!" Katanya dengan nada yang lebay.
Intan menelan ludah. "Mia, kita duduk dimana?"
"Ah di bangku itu!" Mia menunjuk meja dimana Enggar duduk. Intan mendelik namun Mia malah menarik kembali tangannya.
"Misi kak."
Enggar membuka mata lalu menoleh, dia tersenyum mengetahui ada Intan didekatnya. "Ciye ikut lukis. Duh bahagia gue."
Intan terkekeh canggung. Hingga akhirnya Enggar menarik pelan tangannya dan mendudukkan Intan pada bangku tadi. "Duduk dulu, kalo capek entar aku yang susah."
"Hih, lebay amat kak." Mia mendengkus pura pura jijik.
"Yaampun dedek gemes, kan kasihan kalo Intan gak duduk. Entar dia capek dan gabisa aku ajak jalan-jalan. Ya nggak Tan?"
Mia menoleh pada Intan dengan cepat, "lo mau jalan?"
Intan mendelikan mata dan menoleh pada Enggar. "Hah?"
"Becanda kok, tapi gapapa kalo mau serius. Abang siap."
Sumpah ya, Mia mau muntah. Tapi Intan malah mengulum senyum, hello, orang lagi kasmaran itu memang sedang masa bodo. Apa yang terucap dari si punjangga hati memang terdengar selalu manis, jadi plis gausah protes Intan.
"Jadi?" Enggar berdiri mematung dihadapan Intan, jantungnya sedikit berdegup kebih kencang karena takut jika ajakannya ditolak.
"Aku gabis––"
"Yaampun Intan, lo hari ini bebas banget, pr buat besok juga gaada. Hari ini les? Ah enggak. Kayaknya lo bisa santai dikit deh." Mia menyeletuk sembari men cek jurnal pr. Ngomong ngomong, dia bohong sedikit soal tidak ada pr. Padahal, besok sepenuhnya semua mapel punya tagihan pr.
Kimia, Fisika, Matematika.
Astaga, itu pr atau ajang membunuh siswa coba?
"Oke, entar pulang bareng gue ya Tan," selepasnya, Enggar mengacak pelan puncak kepalanya lalu ia duduk di bangku belakang sendiri.
__ADS_1
Intan cemberut seraya melotot kearah Mia setelah cowok jangkung tadi berlalu. Sementara Mia hanya terkekeh, "gue tau lo mau. Gengsi aja kan?"
"Ya tapi baru kenal Mia pinter. Dikira gue cewek gampangan tau!"
"Kan yang maksa gue, gak usah khawatir, jangan dengerin apa kata orang. Cukup jalani aja Intan sayang."
"Mia...." Intan menggigit ujung bibir bagian dalamnya. Tanganya meremas ujung rok abu abu itu. Pikiranya melayang memikirkan rencana rencana yang akan dia lakukan sepulang sekolah.
"Udah, jalani kek biasa aja Tan. Bayangin lo lagi jalan sama gue. Kalo kalian jodoh, pasti kalian punya kesamaan, nah kesamaan itu bisa jadi topik obrolan Tan."
Entah, Mia untuk kali ini sok bijak sekali, seolah dia sudah sering mempraktikan teori tersebut secara benar.
Pekikan didepan kelas berasal dari seorang cewek yang tengah berjalan bersama cewek lain disebelahnya. "Duhhh, Enggaar!!"
Intan langsung menoleh cepat mendengar nama itu.
"Gas poll nolehnya," sindir Mia terhadap tingkah Intan.
Intan tak peduli, ia memperhatikan 2 cewek itu. Satunya pucat, satu lagi tengah meruntuk sembari menuntun si pucat.
"Napa?" Suara Enggar terdengar.
"Meli sakit nih, lo main tinggal tinggal aja!"
"Dih! Kok nyalahin gue sih? Emang gue yang bikin kek gitu?"
"Ih, Meli abis lo apain Nggar?" Sahut suara lain di belakang sana. Intan menoleh pelan, sedikit.
"Gue belai manjahhh" lalu Enggar tertawa setelah berucap demikian.
"Dih, bener itu yang lo bilang sahabat Mel?" Cewek tadi lalu menuntun Meli duduk di bangku belakang Intan persis.
Mia melirik ke Intan, ia lalu menoel lengan kiri temanya. "Pembina ekskul dateng Tan. Nggadep depan gih!"
Intan tersenyum tipis, ia benar benar memandang ke pembina eskul tersebut, seolah benar benar fokus. Nyatanya tidak, malahan ia terfokus pada sosok kakak kelas dibelakang nya. "Mel?"
Namanya Meli? Sahabat Enggar?
Intan memekik dalam hati. "Mereka deket gak? Sahabat doang kan? Ih apa coba urusanya sama aku?"
Jarum jam pendek menyentuh angka 3. Sementara jarum panjang di angka 6. Setengah jam lagi waktunya pulang, dan Intan sama sekali tidak fokus hanya karena 2 kakak kelas dibelakang itu.
"Gak deh Din. Lo fokus aja ke Pak Satria, gue oke."
"Ck! Enggaaaarr!! Sini tuker tempat, lo duduk sebelah Meli."
Intan mendadak merinding, apakah Enggar akan duduk dibelakangnya? Tapi bersama orang lain? Oke Intan, sekali lagi ini bukan urusanmu.
Bangku dibelakang berdecit pelan, suara bokong yang sedikit dihantamkan ke bangku cukup terdengar disusul ringisan pelan.
"Sakit Mel," suara Enggar terdengar manja.
"Yakali gue usuk usuk pantat lo!"
"Hehehe, leh uga! Coba sini mana tangan lo!"
"Nggar!!! Ihhh sakiiit!"
Meli mendadak kembali mengadu kala perutnya terus kaku, seolah kram, seolah ditusuk tusuk. Intinya sakit.
"Kenapa emang?" Enggar bertanya dengan lembut sembari mengusap kening Meli yang berkeringat. "Lo keringetan gini kek orang kebelet boker aja."
"Ihhh lo nyebelin tau gak!"
"Ya terus gue harus apa? Yakali gue usuk usuk anu lo? Mau?"
Meli diam namun lebih memilih menghantamkan kakinya ke atas kaki Enggar. Suara ringisan terdengar kembali.
Pak Satria mengakhiri kelas lukis hari ini. Dengan wajah legah, semua anak berhambur keluar.
Intan masih diam membeku ditempat. Bagaimana ini? Dia tadi diajak sama Enggar kan?
Tapi cowok itu malah kini tengah mengelus pelan punggung Meli yang berguncang sedikit. Cewek itu menangis karena perutnya kian sakit. Apa mungkin dia sedang dalam masa PMS?
"Tan?"
"Mi!"
"Ayo kedepan bentar."
__ADS_1
Intan bangkit dari duduknya lalu menenteng tas biru langit miliknya. Membuntuti Mia sampai didepan ruangan.
"Hm?" Sahut Intan pelan.
"Lo gimana sama kak Enggar?"
"Itu Mi. Gue juga bingung."
"Ish! Gue gemes sama kakak kelas yang lagi kram itu deh! Kenapa nggak pulang sama temenya sih! Malah ngerepotin Kak Enggar!"
Mia mendumel lalu melotot kala menyadari sesosok lelaki keluar dari ruangan. Bukan, bukan sendiri, tapi di punggungnya terdapat eh kok terdapat?
Ahh intinya, Meli sedang di gendong oleh Enggar. Dan cowok itu dengan entengnya melewati Intan dengan senyum manisnya.
"Din! Lo bawa tasnya Meli ya, gue ke mobil dulu taroh nih demit!" Pekik Enggar pada cewek berbandana pink itu.
Meli yang mendengar hal itu disela tangisnya ia mencubit lengan Enggar.
Tak lama Dinda, cewek berbandana pink itu keluar sembari menenteng 2 tas. Ia menoleh pada Intan dan Mia yang sedang terpaku menatap punggung Enggar dan Meli.
"Eh Dek? Belom pulang?"
Mia tersenyum lalu menggeleng, "bentar lagi."
Menyadari Intan yang tengah memandang sesuatu, Dinda mengikuti arah pandang Intan. "Oh, Meli sama Enggar!"
Intan menoleh pelan pada Dinda. "Mereka emang sweet tau! Kayak orang pacaran, eh tapi cuma sahabatan! Dih gemes gue, pokony gue shiper mereka! Hehehe, malah ngebacot. Gue duluan ya dek!"
Mia mengangguk lalu ia menggeleng setelah kepergian Dinda. "Gilak! Itu bener Kak Enggar? Cih! Playboy bukan sih?"
"Kayaknya gue harus berhenti berharap deh Mi."
"Intaaaann! Ih kok lemes."
"Gue patah hati sebelum jatuh cinta."
Hpnya bergetar singkat, pesan masuk itu bukanlah kabar yang baik.
Pak Yayan:
Intan, bapak nggak bisa jemput. Soalnya nganter ayah ke Bendahara.
Intan:
Bandara pak, bukan bendahara.
Intan tersenyum kecil. Aih, rumah akan sepi, ayahnya itu akan pergi menjalani tour ke negara negara tetangga bersama bundanya.
🖤🖤🖤
Langit itu sedang cerah, namun gadis itu memilih melangkah sembari menunduk.
Beberapa saat yang lalu ia memilih menundukan muka agar air mata tak terlihat.
Dan kini, rasa sesal kembali datang, mengapa ia dengan bodoh mau jatuh ke Enggar? Sementara cowok itu punya Meli.
Kenapa juga ia harus berharap?
Namun langkah Intan terhenti kala sepatu hitam putih dengan merk adidas itu ada dihadapannya. Menghadang langkahnya.
"Intan...."
Suara itu, Intan tak mau mendongak. Ia rasa melihat matanya akan membuat rasa sesal itu kembali datang.
"Intan, liat gue––Sorry, sumpah gue tadi bingung, gue khawatir sama Meli. Jadi lupa kalo kita udah buat janji."
"Iya gak apa apa." Intan menjawab tanpa mendongak menatap lawan bicara.
"Ayo Tan. Gue ajak jalan jalan."
"Maaf Kak. Ternyata Mia salah, pr buat besok itu banyak. Jadi gue gak bisa buang waktu gitu aja."
Tanpa permisi ia melangkah kembali, langit biru perlahan menjadi senja.
Sementara perasaan yang tadi menggebu itu perlahan sirna.
🖤🖤🖤
Me: Intan apa Meli?
__ADS_1