MEI

MEI
8. Sang Perindu dan Tukang Cemburu


__ADS_3

🖤🖤🖤


Sungguh, Intan tidak bohong jika jantungnya berdegup kencang sekali. Saat sekolah selesai, semua temannya sudah berhamburan keluar dari kelas. Tapi dia malah sibuk dengan urusan hati.


Dan Mia sangat teramat paham dengan keadaan hati kawanya itu.


Saat itu pula sosok Enggar muncul dari luar kelas dengan gayanya yang sok cool.


Dan pada akhirnya, keduanya telah berada di atas jok motor. Namun Enggar masih belum juga menjalankan motor tersebut.


"Ngapain sih?" Tanya Intan kesal karena motornya belum dijalankan.


"Enggak."


"Terus?"


"Nabrak keknya."


"Serius Kak Enggar!"


"Iya, eh jangan kalo serius serius entar yang ada kita di pelaminan dong."


Intan mendengkus kuat kuat, "bukan gitu begis ih lo."


"Begis?"


"Plesetannya bego, gue jadiin begis. Biar sopan dikit ke kakak kelas."


"Oh, punya adat istiadat toh."


"Iyalah wajib."


"Kalo sama camer keknya juga sopan deh. Oke kalo begithat ke rumah gue ya yang?"


"Paan sih!?"


Enggar terkekeh kecil, sebelum ia benar benar menjalankan motornya, ia membenarkan sedikit spion sebelah kiri agar ia bisa melihat wajah Intan lewat spion itu.


"Gak pegangan?" Tawarnya setengah modus.


Intan mengulurkan tanganya ke arah tas hitam Enggar. Kemudian tangannya memegang erat tas Enggar tersebut.


"Udah!" Kata Intan setengah berteriak melawan suara mesin motor.


"Dih, gitu amat pegangannya."


"Mau gimana?"


"Di pinggang gue lah!"


"Oh, emang gak geli?"


"Enggak kalo sama lo."


"Yaudah."


"Yaudah apa?"


"Gue pegang di tas aja."


Enggar menghela napas pasrah, apa Intan kurang peka ya? Lalu yang ia lakukan menjalankan motor miliknya. "Tan."


"Hm?" Jawabnya pelan.

__ADS_1


"Tadi sibuk?"


"Iya, sibuk. Banyak tugas."


"Definisi sibuk adalah banyak tugas, dan tugas lo itu rindu ke gue?"


Selepas berkata demikian, Enggar mengulum senyum. Melihat wajah Intan dari spion membuat ia ingin mesem mesem sendiri.


Intan menahan rasa kesalnya pada Enggar, kenapa ada spesies menyebalkan seperti cowok dihadapanya ini?


"Mulai deh nyebelin. Kalo definisi sibuk kek gitu, maka gue gak akan pernah sibuk." Intan berkata kuat kuat, dirinya lalu melempar pandangan kepada awan yang membentuk seperti sebuah lingkaran penuh.


"Gapapa, cewe emang hobi bohong, untungnya gue cenayang hebat. Jadi gue tau kalo lo itu emang bohong dan berkata sebaliknya," kali ini, cowok itu terus menatap Intan lewat kaca spion sebelah kiri.


"Dasar dukun!" Maki Intan dengan melotot kearah spion kiri.


Motor berhenti di perempatan lampu merah. Timer mundur dimulai dari detik ke 60.


Enggar bergaya angkuh dan pura pura mengancam kemudian."Yep gue dukun. Siap siap entar malem gue santet lo biar jatuh cinta ke gue!"


"Dih, gausah di santet gue udah jatuh cinta kali!" Intan langsung melotot dan menepuk mulutnya 2 kali.


"Apa tadi? Bilang apa tadi?" Enggar buru buru menatap lurus kearah bayangan Intan di cermin.


Ditatap seperti itu membuat Intan mau tak mau gelagapan sendiri. Bagaimana mulut mungilnya itu keceplosan dengan manisnya?


"Intan?" Panggil Enggar, namun tak ada sahutan dari yang punya nama. Sembari menjalankan motornya ia sesekali menatap Intan dari spion.


"Sayang? Beb? By? Mama?"


"Hih apasih! Jijik deh panggilan lo itu! Emang gue ini pacar lo apa!?" Sentak Intan kemudian mengembungkan pipinya.


Enggar tersenyum tipis lalu memasang muka polosnya. "Loh, dedek Intan ngerasa di panggil sayang? Padahal gue manggil bapak jualan mangga loh!" tunjuknya ke pedagang kaki lima di trotoar sebuah toko.


Intan meringis lalu menepuk bahu Enggar sekencang mungkin. "Malu maluin!"


"Duh, emes deh, cemburu ya gue sayang ke orang lain?"


"Gr lo! Amit amit! Tobat deh, ngaca sekalian." Ia berucap sambil bergidik ngeri.


"Tapi serius deh," kata Enggar sembari mengubah mimik wajahnya menjadi serius, "tadi bener ngomong begitu?"


"Apaan?" Tanya Intan pura pura polos.


"Yang tadi. Yang dukun dukun itu."


"Oh lo dukun? Bisa ngusir roh jah--"


"Bukan Intan sayangkuuuu. Lo bener gak perlu di santet? Bener udah jatuh cinta ke gue?" Enggar mencoba menahan mati matian senyumnya. Terutama degup jantungnya.


"Eh?" Intan menggigit bibir bawahnya, ia lalu menatap tas Enggar yang sudah ia remat remat akibat salting.


"Kok natep ke tas sih? Calon pacarmu Enggar loh, bukan tas."


"Anu! Ini tas lo kok kotor sih? Ada debu dikit dikit." Intan menunjuk tas Enggar yang sedikit terkena serbuk entah apa. Otomatis ia menepuk nepuk tas tersebut pelan.


"Jadi ini ceritanya lo lebih perhatian ke tas gue nih?" Tanyanya dengan nada merajuk.


"Etapi serius tadi ada kek kotor gitu." Tanganya bergerak terus untuk sekedar menepuk benda hitam itu.


.


Ya walau memang kotor dikit, tapi itu adalah siasat Intan untuk sekedar mengalihkan pembicaraan rumit dengan cowok yang tengah mengemudi ini.

__ADS_1


"Oke fiks, lo bisa tutup telinga bentar nggak Tan? Gue lagi mau ada rapat sama tas gue nih."


Intan menatap Enggar lewat spion. Ia menaikkan alis tanda kurang paham. "Hah?"


"Pokonya gue lagi mau ngomong sama tas. Oke, tas lo tau kan, lo itu udah sama gue sejak kelas 2 SMP. Itu artinya kita udah hampir 3 tahunan. Dan yah, tiap minggunya gue pasti bersihin lo. Dan ini balesan lo? Lo nikung gue?"


Intan menahan tawanya, sementara Enggar menampakan muka sok seriusnya. "Oh good. Kenapa harus lo yang di pegang Intan? Kenapa bukan gue coba?"


"Kalo gue pegang lo kan bukan muhrim!" Jawab Intan setengah teriak.


"Terus kalo tas?" Enggar bertanya dengan nada yang sama.


"Dia kan gak ada gendernya." Intan tersenyum kecil menjawabnya.


"Apa gue perlu hilang gender biar bisa lo peluk? Hum?"


"Hush!"


Keduanya terkekeh pelan kemudian. Lalu Enggar melanjutkan. "Tas, ayo tuker tempat ya? Lo yang nyetir gue yang di tengah."


"Eh jangan! Entar gue pegang apa?" Cegah Intan sebelum Enggar benar benar melakukan.


"Bahu ada, perut ada. Sabuk ada. Silahkan dipilih neng." Enggar menatap jalanan lalu berhenti untuk memindahkan tas ke bagian dadanya.


"Dih, enakan pake tas kalii!" Intan menggerutu pelan diiringi menggembungnya pipi.


"Gak ah! Gue gasuka! Bisa ketikung tas entar guenya." Enggar pura pura ngambek lalu seolah ngomel pada tas tersebut.


Hatinya mendadak menghangat, apa kalimat Enggar adalah merupakan kalimat cemburu tersirat?


"Dasar tukang cemburu!"


"Eh lo kan juga? Tadi pas gue nyapa sayang tukang jual mangga lo ngambek!"


Intan menepuk bahu Enggar kuat kuat, sebagai bahan pelampiasan kekesalan.


"Nggakkk!"


Intan hendak menyerocos panjang lagi namun tertahan karena sadar sudah sampai di depan pagar rumah.


"Yah, perjalanan kita telah usai Tan. Ga nyangka ngobrol gitu aja sama lo udah habis waktunya." Enggar menampakan wajah kecewanya.


Sembari turun dari motor Intan mengerutkan kening, "lo ngomong apasih?"


"Tan...."


"Oh iya! Gue tadi nggak ngasih tau apa apa loh soal jalan ke rumah gue, kok lo tau rumah gue?" Intan bertanya curiga. Takut takut jika Enggar selalu menguntitnya.


"Aku juga tau kapan ulang tahun mu. Aku juga tahu siapa Tuhanmu."


"PLAGIAT DILAN!!"


"Miripkan?"


"Besok gue temani beli cermin gede, oke? Keknya kaca spion masih belum cukup." Setengah frustasi Intan setidaknya menawarkan jasa penyembuhan penyakit PD si Enggar.


"Oh oke, jadi lo ngajak gue jalan nih? Hmmm, sip oke. Bye Baby Tatan. Oh ya, salam buat mamamu aku gabisa mampir, ada urusan. Bye sayang."


Selepas mengatakan hal demikian cowok itu menjalankan motor tersebut menimbulkan asap tipis yang mengiringi degup jantung seorang Intan.


Ya, setidaknya ia ingat. Hari Selasa, bulan Agustus. Ia senang sekali. Bahagia, lalu merasakan bagaimana rasa jantung berdebar kencang sekencang kencangnya.


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2