
🖤🖤🖤
Bingung, entah apa yang harus Intan katakan kala ditanyai teman temanya tentang kejadian beberapa hari yang lalu di tepi lapangan.
"Siapa ih?"
"Cie, pacar?"
"Siapa namanya? Ini di vidio gak keliatan jelas mukanya."
"Kakak kelas bukan sih? Kelas berapa? Sebelas apa dua belas?"
Kira kira pertanyaan seputar itulah yang diajukan oleh teman temannya tentang kejadian tempo waktu.
Dasar si Mia, dia langsung saja menyebar vidio tersebut di grup kelas, untung untung tidak sampai menyebar ke satu angkatan.
Ditengah sesi wawancara menyedihkan itu, sosok laki laki dari luar masuk sambil menggebrak pintu. Ketua kelas datang, dia membawa setumpuk formulir. "Heh, duduk semua!"
Beberapa anak ngeyel tetap berdiri, akhirnya, si Bahar—–-ketua kelas––-berbicara tanpa peduli keadaan.
"Ini ada formul––-Ndra! Duduk gak lo!"
Indra yang tadi sedang asyik menggoda Gishel langsung duduk. Ah dasar si Bahar, mudah marah dan si dingin. Kayaknya tubuh dia sudah disiram bensin, sehingga mudah tersulut api.
Bahar berdehem sebentar, lantas kembali berbicara, "ini ada formulir pemilihan eskul. Lo tinggal isi nama, kelas, sama nomer telepon. Terus di kolom yang ini, tulis lo mau ikut eskul apa."
Bahar mengangkat tinggi tinggi selembar kertas berisi formulir, "terus, setiap anak maximal milih 2 ekskul. Terus pramuka ini wajib."
"Yahh!! Kok ada pramuka sih!" salah satu anak berdecak, diikuti anak anak yang lain.
Memang sih, waktu kelas 9 SMP tidak ada pramuka, mereka di tuntut fokus UN. Namun, setelah status mereka berubah menjadi anak SMA dan juga kembali menjadi adik kelas, pramuka merupakan hal yang wajib lagi. Padahal, berpanas panasan itu akan membuat beberapa anak perempuan mendumel karena takut kulitnya menggelap.
"Diem deh!" Bahar menyentak beberapa anak yang protes. Matanya ikut memincing dan kemudian melotot.
Satu kelas diam, "gue bagi, entar istirahat kedua. Gue ambil udah harus diisi, lengkap."
Setelah formulir itu dibagi, Intan memandang kearah kertas itu. Lantas ia membubuhkan nama, kelas dan nomer telpon.
Ujung bolpen gel pink miliknya mengambang satu senti diatas kertas, ia bingung harus memilih eskul apa.
"Pilih apa Tan?" Mia mendekat padanya dengan tatapan penasaran.
"Lo apa Mi?" Intan balik bertanya.
Mia menunjukan kertasnya, cewek itu memilih eskul seni lukis. Intan ragu, memang Mia bisa?
"Satu doang?" Tanya Intan dengan mengerutkan alisnya. Ya walau itu bukan hal yang aneh juga.
"Gausah banyak banyak deh Tan, satu aja cukup."
Intan mangut mangut, ia menghela napas lalu memilih eskul jurnalistik. Dia sedikit suka tentang menulis menulis.
🖤🖤🖤
Legah, Intan mengelus pelan area perutnya. Setelah menahan pipis beberapa jam ditambah dengan antrian kamar mandi yang panjang, ia akhirnya selesai dengan urusan kamar mandi.
"Lama amat ke toilet, lo boker?"
Intan mengeleng lantas mengambil formulir eskul dari dalam tas. "Bahar mana?"
__ADS_1
"Barusan ke ruang guru, ngumpulin for––"
"Mia!! Punya gue gak lo kumpulin juga!?" Intan berdecak sebal, mana bisa cewek disebelahnya itu tidak mengikut sertakan formulir Intan?
"Ih, gue gatau. Lupa juga." Mia lantas berucap tanpa menunjukan wajah berdosanya. Mau Intan tendang rasanya.
"Bodo iii.....ayo, anterin ke ruang guru!" Intan bangkit sambil menarik lengan Mia.
Sayang, guru mata pelajaran satu jam kedepan datang. Intan menggigit bibir bagian bawah dan berdiri mematung didepan pintu kelas.
"Mau kemana?" Guru gemuk itu bertanya dengan pandangan menyelidik.
"Bu, saya izin nyerahin formulir." Intan berucap sopan.
"Iya," jawabnya pelan lalu menyela kembali. "Satu orang saja."
Mia terkekeh lalu kembali ke tempat duduk. Intan mendumel pelan dan menghentakan kaki disepanjang koridor kelas 10.
Matanya secara spontan melebar saat melihat Bahar berjalan dari arah berlawanan, cowok itu kini berjalan melewati anak tangga, hendak menuju lantai atas, ya kelas 10 ada di latai 2. "Bahar!!"
Bahar mendongak, lalu melanjutkan langkahnya. "Kenapa Tan?"
"Nih, punya gue gak lo kumpulin."
"Formulir? Bukannya tadi gue udah tanya siapa yang belom? Kenapa tadi diem aja?" Bahar tampak kesal, aih, kenapa harus memilih ketua kelas sensian kek dia sih? Liat tuh marah mulu kerjaannya.
"Gue tadi ke toilet, jadi gak tau." Intan mendengkus setelahnya.
"Lo kumpulin gih!" Intan menyodorkan selembar kertas itu.
Bahar ikutan mendengkus, "lo aja. Gue ini mau manggil Pak Rohman."
"Yahh, tapi gue gak tau Ruang Guru itu dimana Bahar."
Intan menyumpah serapahi temanya itu, ia lantas menuruni anak tangga pertama. Namun entah sesinetron apa hidupnya. Sampai angin datang menerbangkan selembar formulir itu.
Lalu ada selendang yang terbang, dan Intan jadi joget joget seperti Tina dalam film Kuch Kuch Hota Hai.
Ah tidak.
Intan melotot dan segera berlari, huh untung kertas itu hanya jatuh diujung anak tangga terakhir.
Namun langkahnya tertahan di anak tangga ke-4 dari bawah. Seseorang memungut kertasnya sembari mengerutkan kening.
Lantas dibacanya isi formulir itu. "Intan Permata Areta. Nomor absen 15 kelas 10.3. Good name, gue yakin orangnya cantik."
Lantas dia mendongak, dan pandangan mereka bertemu untuk kedua kalinya, "oh, jadi lo?"
Intan mengangguk patah patah. Seluruh udara habis disekitarnya.
"Untuk kedua kalinya, sayang ya?" Kakak kelas waktu itu memanyunkan bibir agar dramatis.
Intan menuruni satu anak tangga. "Sayang kenapa?"
Wajahnya berubah berseri seri lalu mendongak menatap Intan. "Aku gak papa kok Yang. Cuma sakit dikit aja."
Intan membeku lalu salting, "bukan itu maksudnya kak. Tadi kan kakak yang bilang 'sayang ya?' nah aku nanya, apa yang disayangkan itu."
"Ohhh," katanya sambil mangut mangut. "Sayang lo gak ikut eskul basket atau seni lukis. Jadi kita gak se eskul."
__ADS_1
Intan menggigit bibir lagi, kalau tau ada kakak kelas ikut seni lukis maka ia akan langsung memilihnya, sebuah ide langsung muncul dibenaknya. "Eh, gue ikut eskul lukis kok."
Kakak kelas menunduk mengamati formulir itu. "Ini...."
"Tadi gue tulis pake pensil. Soalnya masih ragu ragu, mungkin tadi temen gue iseng ngehapus."
Yah, namanya juga usaha, bohong dikit gak apalah. Yakan? Yakan? Ya.
"Ouwh, kita seeskul nih ya?" Kakak kelas mengambil hp dalam saku celananya. Lantas ia memotret formulir itu sembari terkekeh. "Buat kenangan."
Lantas kakak kelas menyodorkan kertas itu pada Intan. "Kakak tau ruang guru ada dimana?"
Sembari mengangkat alis dia menyodorkan hpnya. "Di play store ada, di app store juga."
Intan terkekeh samar, "bukan itu. Ruang guru disekolah kita maksud gue."
"Ohhh jauh tuh ruang , perlu gue pesenin gojek?"
"Eh?"
"Jangan deh, mahal. Naik punggung gue aja gimana?"
"Kakk... Serius."
Kakak kelas itu terkekeh lalu menarik lengan Intan agar sempurna menapak tanah, bukan lagi anak tangga.
"Ruang guru tuh, lo luruuus, terus di koridor itu belok kanan, terus kanan lagi. Nah disitu." Dia berkata sambil menunjuk nunjuk suatu tempat.
"Oh disitu ruang gurunya ya kak?"
"Bukan, disitu ada pak penghulu nikahan kita."
Pipi Intan menghangat mendengarnya, membuat kakak kelas tadi terkekeh kecil. "Bercanda, iya disitu ruang gurunya."
Intan menganggukan kepala, "makasih ya kak. Aku permisi dulu."
"Eh tunggu!"
Intan menoleh dan berhenti melangkah, "ya?"
"Tadi formulir nya kan udah difoto. Sekarang orangnya."
"Eng?"
"Iya, biar gue gak lupa kalo yang namanya Intan Permata itu––nah udah, cantiknya Ya Allah."
Kakak kelas itu mengamati hasil jepretan wajah Intan.
"ENGGAR!!! LO AMBIL BUKU CATETAN GUE YA!!"
Teriakan itu menggema dipenjuru koridor, dari lantai 2 seorang cewek tengah berjalan sambil menghentak hentakan kaki disetiap anak tangga.
"Eh Mel––"
"Diem! Eh dek, misi bentar ya, gue mau ngehajar nih cowok laknat."
Intan tersenyum canggung lalu permisi pergi meninggalkan 2 insan yang tengah berdebat itu.
Saat langkah Intan sudah jauh, ia menoleh kebelakang, yang ia dapati adalah si cewek mengomel sementara si cowok tengah melambai lambai kearah Intan lalu memberikan kiss bye kepadanya.
__ADS_1
Intan menelan ludah lalu segera berlari menuju ruang guru.
🖤🖤🖤