MEI

MEI
32. Cemburu Pada Waktu


__ADS_3

*Me: part ini khusus Meli dan Enggar yuhu. Intan keluar cuman sedikit yep. ๐ŸŽ


Btw emot ๐Ÿ“น\= vidio yg dilihat Intan. Jadi klo ada emot gitu berarti it kalian lg nobar brg Intan di handycam yg dikasih Refa kemarin*.


๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค


Perlahan, jemarinya membuka handycam itu. Lantas menekan tombol power agar benda itu menyala.


Setelah menekan beberapa tombol dirinya disuguhkan vidio anak anak kecil. Sepertinya vidio itu diambil belasan tahun yang lalu. Dan itu berarti handycam ini cukup tua.


Vidio diputar. Intan diam mengamati.


๐Ÿ“น๐Ÿ“น๐Ÿ“น


"Enggar!" Meli memekik sambil menodong kearah bocah lelaki yang tengah berlari menjauh.


"Apa?"


"Balikin pancinya! Aku mau masak!" Meli sudah bersidekap sambil mengerucutkan bibirnya.


Enggar mendekat, lalu mengkerutkan kening. "Masak apa? Panci kecil gini."


"Duh! Aku mau main sama Kak Tia. Kak Tia! Ngapain itu?"


Seseorang yang tidak terlihat menyahut, "ini rekam kalian. Aku dapet handycam baru."


"Aku direkam?" Meli bertanya.


"Iya, udah lanjutin mainnya," Tia dibalik kamera menyahut.


"Mel, aku ikut main dong," Enggar mendekat sambil menyerahkan kembali panci mainan kepada Meli.


"Nggak boleh, anak cowok gaboleh masak Enggar. Yang boleh itu cuman anak cewek." Meli menggeleng tegas.


"Ah masa?" Wajah jenaka Enggar muncul, "kemarin aku liat di tv ada koki cowok."


Meli menampakan wajah berpikir. "Itu kamu salah liat Enggar, itu mungkin cewek tapi rambutnya dipotong pendek. Jadinya kek cowok."


Tia dibelakang kamera tertawa, mengakibatkan kamera bergetar. "Boleh kok."


"Iya! Tiap hari papaku bantuin mama masak. Kamu juga aku bantu ya Mel?" Enggar merengek sembari menggoyang goyang lengan Meli.


Kamera bergerak mendekati 2 anak berusia 4 tahun itu. Membuat Meli menoleh pada Tia. "Kak, Enggar maksa nih."


"Kalo papa boleh, kenapa aku gak boleh?" Enggar bertanya sembari menarik tangan Meli.


"Ya soalnya papa sama mama kamu udah nikah."


"Nikah?" Sahut Enggar tidak paham. "Apa itu?"


Tia menyahut, "Nikah itu kayak Tante Yuli sama Om Gilang kemarin. Mereka di dandani terus dapat hadiah banyak!"


Meli mengangguk, "habis nikah mereka dapet rumah sendiri, terus masak sendiri. Om Gilang boleh bantuin Tante Yuli soalnya mereka udah nikah."


Mata bulat Enggar tertangkap oleh kamera. "Meli!"


"Apalagi?" sahut Meli lalu mulai pura pura menggoreng sesuatu di wajan plastik warna pink miliknya.


"Ayo nikah!"


Meli menoleh lalu menatap Enggar bingung. "Ngapain?"


"Kalo kita nikah, kita bisa punya rumah sendiri. Terus kita tinggal bareng, jadinya kita bisa main terus tanpa disuruh mama pulang. Terus aku bisa bantuin kamu masak," Enggar berkata sungguh sungguh, membuat Meli ikut menatap Enggar serius.


Suara tawa Tia kembali terdengar. "Iya pinter! Kamu mau nggak Mel nikah sama Enggar?"


Meli menggeleng, "masih kecil. Kata mama kalo masih kecil gak boleh nikah. Nanti aja kalo udah besar!"


Raut wajah kecewa Enggar tampak di kamera. "Yah, kok gitu?"


"Ya emang," Meli lalu menyodorkan piring berisi sayuran plastik ke kamera. "Kak Tia makan nih."


"Padahal aku pengen bantuin masak," Enggar berkata kecewa. Ia menghela napas lalu mengetuk ngetukan ujung sandal jepitnya ke tanah tempat ia berpijak.


"Yaudah, sini, kita main mama papa aja. Kamu jadi papa-nya aku jadi mama. Kamu bantuin aku masak ya?" Meli menarik tangan Enggar agar sedikit mendekat lalu menyodorkan pisau plastik. "Potong sayurnya."


Enggar menurut sambil tersenyum merekah. "Tapi Mel. Kita belom nikah? Kenapa bisa papa-mama?"


Meli sudah melotot sebal. "Ini cuman bohongan Nggar! Apa namanya? Kura kura?"

__ADS_1


"Pura pura!" koreksi Enggar cepat.


Tia terbahak dibalik kamera. "Nanya mulu ih Enggar."


"Yaudah, hari ini kita pura pura jadi papa mama kan? Tapi kalo besar nanti jangan pura pura ya Mel? Nanti kamu nikah sama aku ya?" Enggar berkata serius. Meli mengangguk cepat. "Iya, nanti aku nikah sama kamu. Tapi kalo kamu jadi anak baik. Kalo nakal aku nggak mau.".


.


๐Ÿ“น๐Ÿ“น๐Ÿ“น


Vidio selanjutnya berputar.


Latar belakangnya ramai. Banyak anak anak berusia kira kira 6 tahun mengenakan baju pesta.


Kamera berputar menampilkan wajah perempuan yang kira kira berusia 11 tahun. "Hallo, ini diulang tahunya Meli!!"


Lantas kamera kembali berotasi dan menunjukan suasana sekitar. Namun tiba tiba vidio dijeda lalu beralih pada waktu yang lain.


Waktu pemotongan kue. Enggar berdiri paling depan bersama Meli. Menyanyikan lagu tiup lilin lantas lagu potong kue.


"Meli mau!" Enggar sudah memekik minta potongan kue itu.


Meli melotot ke Enggar lantas menggeleng. "Gaboleh! Kamu gaboleh minta kue soalnya belum ngasih aku kado."


Tia tertawa kembali. "Aduh kasihan, mundur sana Nggar."


"Sana! Beliin aku kado dulu! Sama ganti boneka berbie aku yang kamu ilangin kemarin," Meli mengusir dengan tatapan tajam.


Wanita yang berdiri disamping Meli terkekeh. "Enggar beneran gaboleh?"


"Iya, dia jahat. Masa kemarin ngilangin boneka berbie aku?" Meli lantas beralih dituntun oleh mamanya untuk memotong kue tart itu.


Tia sesekali tertawa ketika Meli membagikan kue kue pada temannya yang di undang ke ulang tahunya.


Suara mic yang bergemerusuk terdengar. Kamera buru buru berputar untuk merekam seseorang yang berada di panggung.


Tia heboh berteriak lantas berbisik pada kamera. "Temen temen, Enggar kayaknya mau tampil."


"Assalamualaikum," sapa Enggar ragu ragu, "hari ini temenku ulang tahun namanya Meli....."


Enggar menggantungkan kalimatnya untuk menoleh ke sisi panggung dan bertanya nama lengkap Meli pada mamanya yang berdiri di sisi panggung.


"Meli, aku gak bawa kado, kadonya aku nyanyi aja ya?" Enggar menampakan wajah polos melasnya. Ia benar benar ingin mendapatkan kue dan ia ingin itu bagainanapun caranya.


Enggar mulai bernyanyi dengan suaranya yang tidak merdu. Lagu bintang kecil dengan lirik yang tidak benar sedikit.


Selepas bernyai laki laki itu turun dari panggung lantas mendekat ke Meli. "Itu hadiahnya. Mana kuenya?"


"Aku kan ulang tahun? Kenapa nyanyi kagu bintang kecil? Kenapa kok nggak nyanyi lagu selamat ulang tahun?" Meli memprotes dengan pipi yangmenggembung sebal.


"Tadi kan udah dinyanyiin sama kaset dvd?" Enggar menjawab sembari menunjuk kearah speaker besar di pojok ruangan.


Meli diam tidak menjawab.


Enggar menoleh kesembarang arah untuk mencari alasan. "Oh, aku nyanyi lagu itu soalnya hari ini Meli kayak bintang. Paling bersinar."


Meli menoleh lalu tersenyum senang akibat dipuji oleh Enggar. "Beneran?".


"Iya. Meli itu bintang kecilnya Enggar." Enggar menjawab lalu meraih sepotong kue tart lantas berbalik pergi meninggalkan kerumunan.


๐Ÿ“น๐Ÿ“น๐Ÿ“น


๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค


Vidio terakhir. Intan diam kembali. Sepertinya ini bukan vidio masa kecil karena vidioย  ini menampilkan Meli yang sudah remaja.


Intan mengklik tombol putar.


๐Ÿ“น๐Ÿ“น๐Ÿ“น


Meli menatap kamera beberapa detik lalu tersenyum kecil sambil menunduk kearah lantai.


"Hay." Meli menyapa.


"Handycam ini punya Kak Tia. Tapi dikasih ke gue pas gue ketemu sama Kak Tia di ulang tahun mamanya Enggar kemarin. Gue baru sempet buka pas abis pulang sekokah, abis ada rapat calon ketua osis," Meli diam sejenak. Dia nenarik kamera mendekat lantas ia duduk dikasur.


"Gue nyalonin diri jadi ketua osis."


Hening sejenak. Meli menggigit bibir bagian bawah. "Ini malem minggu. Dan sahabat gue, depan rumah, Enggar. Dia lagi keluar bareng pacarnya." Meli menatap kamera kembali sambil menarik napas dalam. "Entah, gue gatau mau cerita kesiapa lagi. Jadi gue lebih baik curhat sendiri terus direkam kek gini. Dan lo, lo yang lihat vidio ini mungkin beruntung karena lo bisa lihat curhatan gue ini."

__ADS_1


"Apaya? Pernah nggak sih kalian kek kehilangan seseorang gitu? Gue lagi ngerasain soalnya. Iya, Enggar, dia mulai berubah gitu sejak pacaran." Di hadapan kamera Meli mengedikan bahu acuh. "Ekhm, ya kalo lo belom pernah ngerasain syukur, dan kalo bisa jangan sampe ngerasain kehilangan orang yang terbiasa bareng sama kita. Entar bawahanya sakit gitu."


Meli diam beberapa saat, dia seperti tertegun. "Terus, mau bilang apalagi ya gue?"


"Eh udah, gue masih harus latihan pidato buat debat jadi calon ketua osis."


๐Ÿ“น๐Ÿ“น๐Ÿ“น


"Gue abis pulang dari pesta perayaan." Wajah Meli tampak begitu senang. Sepertinya vidio ini direkam tepat setelah malam pesta perayaan keberhasilan anak Osis.


"Entah gue gatau kenapa jadi seseneng ini. Padahal juga iniโ€“โ€“aduh gimana sih jelasinnya?" Meli memekik karena dia salting. Dirinya bahkan menutup mukanya sendiri dengan bantal karena hal yang tidak diketahui.


"Oke jadi gini....tadi, eh gue jahat gasi? Tadi itu, gue, bener bener dapet perhatian si Enggar! Dia bahkan berani nyampakin si Intan demi gue? Iya, gue seneng cuman gara gara ini. Gue berasa dapet sahabat gue lagi, Enggar balik."


Meli terkekeh kekeh pelan di vidio itu. Lantas ia menarik napas dalam untuk kembali bercerita. "Terus, tadi, gue sama Enggar itu ciโ€“โ€“aduh gak gue bahas deh. Udah sampe sini aja gue curhatnya. Mau ganti sama bersihin make up."


๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค


Segitu bahagianya lo liat gue menderita kak?


Intan tertawa hambar lantas memutar vidio selanjutnya.


๐Ÿ“น๐Ÿ“น๐Ÿ“น


Mata sembab, hidung merah, raut wajah sedih.


Meli mengusap wajah lelahnya. Ia mencoba tersenyum manis namun berakhir terlihat miris.


Suara seraknya terbuka. "Gue barusan habis flash back. Gue liatin vidio kenangan gue bareng Enggar. Dan, gue merasa kangen banget."


Meli menggeser duduknya menjadi posisi yang lebih nyaman. "Entah, malem ini, gue merasa satu hal berbeda sama hati gue. Aneh, daritadi siang gue liat Enggar itu jadi lebih semangat, gue jadi deg degan sendiri kalo dia ndeket ke gue."


Meli tersenyum geli ditempat. Kontras dengan keadaannya yang kacau entah karena apa. "Jujur, gue gak asing sama perasaan ini."


Meli mulai kembali menjelaskan kejadian di siang hari ketika ia bertemu dengan Enggar. Ia tersenyum senang saat menceritakanya. "Ini....gue beneran suka ke Enggar."


"Tapi. Kata temen temen gue semua, gue sama Enggar itu cocok, dan katanya Enggar juga kayaknya nyimpen rasa ke gue?" Meli berpikir sejenak untuk membuktikan pernyataan itu.


"Dan satu hal yang gue rasa sekarang, gue pengen dapetin Enggar."


Hening.


Kamar Meli lenggang menyisakan bunyi angin yang masuk lewat jendela.


"Apa gue egois?"


"Entah, tapi kalo gak gini apa bisa gue bahagia?"


"Karena sejauh ini, selama ini, gue baru sadar kalo gue cemburu ke Enggar dan Intan. Dan, itu udah cukup nyesekin, dan daripada gue sakit sendiri, gue lebih milih ngungkapin semua ini ke Enggar."


"Besok."


"Gue kali ini pengen egois, gue pengen gapeduli ke Intan. Gueโ€“โ€“gue cuman pengen Enggar natap gue, bukan Intan atau cewek lainnya."


Air mata Meli menetes perlahan. Ia kehilagan kata kata didepan kameranya sendiri.


๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค


Intan diam ketika ia terus melanjutkan semua ungkapan hati Meli.


Benar apakata Mia.


Meli kehilangan sosok seorang sahabat. Namun Meli juga ingin minta lebih daripada sahabat.


Intan kembali diam. Ia menatap keluar jendela.


Masih siang.


Ia memilih akan menyelesaikan masalah ini hari ini juga.


Serta satu hal.


Intan:


โ€ขpa. Ulangam smstr uda selesei, tolong kalo bisa besok aku urusin surat pindah. Biar besok juga aku bisa keluar kota ikut papa. Soal sekolah baru bisa diurus akhir tahun.


๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค


Me: lohaaaa muah. Maafkan kalo part ini sedikit gaje.

__ADS_1


__ADS_2