
Intan dengan santai duduk di bangku bawah pohon mangga yang letaknya di taman sekolah.
Jarinya menari pada layar hp. Ia sedang bermain permainan serupa piano tiles. Ia pikir ini adalah salah satu cara untuk melarikan diri dari guratam masalah hati.
"Kenapa?"
Mendengar suara itu Intan buru buru mendongak dan tersenyum. Tapi setelah menyapu pandangan di seluruh taman, yang ia temui hanya udara. Tak ada objek manusia selain dirinya.
"Oke, mungkin cuman imajinasi. Gak ada setan siang bolong gini." Intan menenangkan hati lalu kembali menarikan jarinya. Memencet setiap tombol yang berjalan.
Suara langkah kaki terdengar, kali ini Intan mendongak kembali. Untung, ini bener manusia yang datang.
"Tan, lo ngapain disini?" Mia ikut duduk lalu melihat sekeliling.
"Cuman duduk duduk," tanpa menoleh lagi, Intan menjawab.
"Yaelah Intan, di kelas itu ada 34 bangku buat duduk. Ngapain lo jauh jauh kesini? Hem?" Mia mendumel pelan seraya menggeleng.
"Rame tauk, disini kan sepi."
"Sepi? Gila lo Tan. Lebih ramean disini kaliii. Dih, lo betah banget disini?"
Mendengar jawaban Mia yang terdengar misterius. Dengan nge gas Intan menoleh. "Mi? Maksud lo?"
Mia kali ini berdecak. "Yailah. Hampir satu setengah bulan kenal gue, lo masih gatau juga?"
"Apaan?"
"I can see."
"Ya gue juga bisa liat kali. Lo pikir gue buta," cibirnya pada Mia.
"Bukan!" Mia menyergah, "Gue bisa liat mereka yang gabisa di liat kebanyakan orang."
Entah, Intan langsung merinding. Lihat saja, Mia berkata dengan senyum misterius. Mau rasanya Intan mengeplak kepala Mia.
Mau tak mau, Intan ambil keputusan,"Ekm, yuk balik!"
Mia tersenyum lalu mengangguk, saat ia akan berdiri, ia mendapati kakak kelas yang sering menggoda Intan itu datang. Ia menoleh pada Intan lalu tersenyum. "Disini aja deh. Kek nya Kak Enggar mau ngomong sama lo."
Mendadak Intan membeku dan tidak tau cara bergerak. Ia hanya berdiri mematung memandang Mia yang menjauh sementara Enggar mendekat.
Cowok itu berdiri dihadapannya lalu tersenyum. Senyum yang hangat. Tiba tiba tubuhnya tak lagi membeku, kini perlahan ia bisa mengerjapkan mata lalu bergerak. Seolah senyum Enggar memancarkan kehangatan untuk meluluhkan es yang membuat Intan membeku.
"Kenapa?"
Tunggu sebentar! Suara itu persis seperti apa yang ia dengar tadi. Saat ia masih sendiri.
"Eh? Gue mau tanya dulu. Lo tadi kesini gak?"
Dengan raut bingung Enggar menggeleng, "Baru nyampe. Gue tadi udah keliling kota nyariin lo. Eh ketemunya disini."
"Jodoh gak perlu dicari kak. Dia datang sendiri, kalo lo nyari gue berarti kita nggak jodoh."
__ADS_1
Intan menjawab kalem lalu duduk. Ia sedang menyindir agar Enggar tidak perlu menganggunya lagi. Dia punya sahabat yang terlihat seperti pacar.
"Siapa yang bilang gitu? Thomas Alva Edison aja gak pernah nemu teori gituan Mell."
Mel. Lagi.
"Kenapa lo nyari gue?" Intan mengalihkan topik. Mencoba tidak peduli dengan panggilan Mel barusan.
"Kangen."
"Siapa lo?"
"Calon pacar, calon tunangan, calon suami, calon imam, calon segalanya," di akhir kalimat cowok itu menepuk dadanya bangga.
"Calon mantan juga?" sembari mengunyingkan senyum Intan bertanya.
"Kita itu entar pacaran aja. Kosakata putus apalagi mantan itu patut dibakar, soalnya entar kita bakal jadi goals kopel Tan."
Helaan napas terdengar kembali. Intan mendengkus lalu memilih melanjutkan permainannya.
Sementara Enggar tengah berpikir keras menentukan topik obrolan. "Mel--ekhm. Tan."
Sumpah demi apapun Intan tengah menahan mati matian rasa kesal dan menahan air matanya yang siap terjatuh kapanpun itu.
"Apa?" suaranya bergetar kala menyahut.
"Lo marah?"
"Marah kenapa?" suaranya kini terus semakin bergetar, sementara napasnya mulai tak beraturan.
"Gue gak tau apa apa. Emang lo ngapain aja sama kak Meli."
"Lo nggak marah? Atau ngambek?"
"Emang gue siapa sih kak? Mau marah sama tingkah lo?" memberanikan diri, Intan menoleh dan menatap mata Enggar.
Dan saat itu, Enggar melihat tatapan terluka milik Intan. Matanya sudah berkaca kaca. Enggar kini merasa sangat bersalah.
"Yaudah Tan, ayo pacaran biar lo punya hak buat marah atau cemburu ke gue."
"Manggil nama gue aja masih gak becus. Gitu lo mau ngajak gue buat njalin hubungan?"
Mati matian Intan menahan air mata, dan napasnya terus tersenggal senggal.
"Gue serius Tan...."
Penuh penyesalan Enggar menyahut.
Cewek dengan rambut terikat itu kini bangkit lalu menyeka air mata yang keluar barusan. "Gue juga serius kak. Gue punya hati, perasaan dan otak. Yang masih berfungsi."
"Tan..."
"Jauhi gue kak. Lo udah punya orang yang lo suka, Kak Meli."
__ADS_1
Intan melangkah pergi sementara Enggar kini terduduk sembari menatap punggung Intan yang menjauh.
Rasanya ia bersalah pada setiap air mata milik Intan yang terjatuh.
Segera ia menyusul dan menarik lengan cewek itu hingga Intan jatuh pada pelukannya dan menangis.
"Sorry Tan. Sorry." Enggar menempelkan dagunya pada puncak kepala Intan. Hei, meski cewek dihadapanya ini pendek, tetep aja. Enggar sayang, lebih tepatnya mulai sayang.
"Kak. Jauhi gue ya? Plis?"
"Gak, gak bisa."
"Plis. Gue udah tau lo sama Kak Meli itu udah lebih dari sahabat."
Ia mendorong tubuh Enggar agar tak lagi memeluknya, kini ia mendongak dan menatap rambut Enggar yang terbelai angin.
"Meli udah punya pacar Tan. Gue gak pernah suka sama dia."
"Hargai selagi ada, gue gak mau lo nyesel kek kebanyakan orang. Nggak pernah sadar sama orang orang yang beneran sayang sama lo." Intan berkata dengan lemah, air matanya kini sudah mengering.
"Gue sukanya sama lo Tan. Bukan Meli." Enggar ikut melemah diujung kata. Tak ada lagi yang bisa dilakukan.
"Kalo lo semakin kek gini. Gue bakal makin benci Kak, jadi plis. Jangan bikin gue makin benci."
Enggar tertawa miris lalu membuang muka kearah lain. "Sampe kapan lo mau gini?"
"Sampe gue siap," jawabnya pelan dan samar.
"Sebelum jauhan, gue mau titip pertanyaan."
"Silahkan."
Enggar meraih selembar daun yang sudah layu dan telah terhempas angin. "Lo--" ia berhenti bicara untuk mengatur napas.
"Gue sayang sama lo. Lo mau bales gak?"
Intan hendak membuka mulut untuk menjawab. Namun buru buru Enggar menggeleng.
"Gue titip pertanyaan ini sama lo. Jawab sampe lo bener bener siap, dan waktu lo mau jawab. Bawa daun ini Tan, gak peduli gimana lagi bentuknya, tetep lo harus bawa daun ini. Anggap itu hati gue yang harus lo jaga.
Inget, setiap hari daun itu bakal mengering dan makin rapuh. Itu yang bakal terjadi sama hati gue kalo kelamaan nunggu lo."
Jawaban panjang dari Enggar sediki mengusik hati Intan. Tapi, mulutnya dengan mantap menyahut jawaban barusan.
"Maka hancurlah kak. Ketika daun ini udah hancur, dia bakal terlahir kembali dengan wujud yang berbeda. Hati lo juga, harus terlahir kembali dengan perasaan yang beda."
Hening seketika, mereka hanya bicara lewat tatapan mata, suara jangkrik terdengar, angin membelai lembut pipi keduanya.
"Gue pamit, gue jaga hati lo ini."
Intan berbalik dengan membawa sehelai daun perasaan. Yang sudah layu, namun masih bertahan, menunggu massa saja yang menghancurkan dirinya.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Me: *typo? Maafkan, kalo bisa tandai. Makasih udah baca. Btw udah kisah Enggar Intan berakhir disini aja?
Lanjut ke Enggar Meli ato gimana? 👻*