MEI

MEI
23. Peran Antagonis


__ADS_3

🖤🖤🖤


Intan:


•jemput gue besok.


•sorry.


Kak Enggar:


•Tan?


Intan:


•ap


Enggar:


•Ketan?


Intan:


•gue lupa kalo


lo selalu retjceh


Kak Enggar:


•Ah, kalo gue receh pasti bikin hiduplo bersuara. Crik crik gituloh.


Intan:


•besok bisa jemput gue?


Kak Enggar:


•Pak Yayan?


Intan:


•oh, yaudah bsk gue bakal mengawali hari gue dgn Pak Yayan yg manisnya ngga ketulungan 😳


Kak Enggar:


•Intan? Lo beneran Intan?


Intan:


•Ye.


Kak Enggar:


•oh pantesan. Jadi nama lo Ye?, mana Intan? Lo bajak hp my sweety? Hem?


Intan:


•bisa nggak sih, obrolan


Ini jdi lbh singkat?


______


Mamanya menyela percakapannya lewat hp. Ia menoleh, "kenapa Ma?"


"Ekhm, papamu mau bicara." Mamanya berkata lemah dengan senyum yang dipaksakan.


Lihat, wajah mamanya sudah sangat kusam, matanya sembab dengan pipi yang mulai tirus. "Mama ada masalah?"


Wanita itu menggeleng, sementara Intan hanya terdiam, mencari cela dimana mamanya kelihatan berbohong.


"Papa mana?" tanya Intan setelah kesadaranya kembali kala pesan dari Enggar menggetarkan hp-nya.


"Oh, bentar ini."


Hp milik mamanya diulurkan, Intan meraihnya lantas menempelkannya pada telinga kiri. "Hallo?"


Tak ada sahutan, buru buru Intan menatap layar hp dan menemukan home screen yang menampilkan foto dirinya, mama dan juga papa. Senyumnya terbit melihatnya.


"Udah mati sambungannya ma, mungkin nanti Intan telpon balik."


Mama mengangguk sambil tersenyum, ia memilih duduk disamping Intan sambil memainkan hp. Intan kembali sibuk meladeni Enggar.


Kak Enggar


•Tan


•Baby Tatan


•wh, baby Tatan itu yg cwe?


•jwb dung. Beneran ini Intan?


•Tumben gitu, chat duluan.


•Tumben juga minta dijemput.

__ADS_1


•Tumben juga chat pake emot.


•Yg nggk tumben itu lo lama bales chta guy.


•nah malah typo.


Intan:


•berisik. Lo bener cowo?


Kak Enggar:


•kan udh dibilang. Lo beda bgt gth. Tumben.


Intan:


•lo ga lupa kan kalo kita pacaran?


Kak Enggar:


•gue ingetnya kita malah udah nikah.


Intan:


•Sering2 ajakin gue jalan jalan deh. Kalo perlu bayakin waktu buat selalu di deket gue. Jgn kebanyakan  d rumah apalgi sm cewe laen.


Kak Enggar:


•Mau gitu gue ajak main ke rumah?


•ketemu mamah?


Intan:


•iyA


Kak Enggar:


•ke kuburan mau?


Intan:


•yg penting sama lo


Kak Enggar:


•Mau peluk, baper🤗


Intan:


•yg penting yg lo liat cm gue.


Intan tidak memiliki cara lain selain ini. Selalu mengawasi Enggar, membuat Enggar dekat denganya, lebih perhatian ke cowoknya dan segala rencana menyusul lainnya.


Yang penting lelakinya tidak direbut oleh cewek lainnya.


🖤🖤🖤


Jika biasanya Intan akan mendengkus sebal kala Enggar menggodanya, kini ia hanya tersenyum dan mencoba menerima––dengan terpaksa.


Itu semua agar Enggar tidak apayah, intinya agar Enggar nyaman bersamanya, dan agar Enggar tidak jengah apalagi ada niatan meninggalkan dirinya demi Meli.


Takutnya Meli beneran suka ke Enggar. Terus gimana kalo rencananya Meli buat ngerebut Enggar beneran? Ia menatap koridor yang masih sepi karena kali ini masih pukul 6.


"Tan, ngelamunin apa?" Enggar menarik map biru yang hari ini Intan tenteng karena tasnya sudah penuh.


"Kemaren ada abang angkot godain gue. Terus baper, orangnya ganteng sih." Intan asal jawab. Yang justru candaanya berujung pada Enggar yang cerewet.


"Hah!? Ngapain! Dia ngomong apa sama lo?"


Dari kejauhan Intan menajamkan penglihatan, ia yakin. Sosok perempuan dengan rambut terurai itu sedang berjalan kearah mereka berdua dengan senyum manis––yang menyebalkan.


"Oh, shit!" umpat Intan langsung.


"Mulutnya?" tegur Enggar sembari mencubit bibir atas dan bawah Intan bersamaan.


"Enggaaaarr!!" Meli datang sambil menepuk lengan Enggar. Tentu saja akibat tepukan itu tangan Enggar terlepas dari bibir Intan.


"Double shit," kata Intan lirih.


"Laptop, binder, sama buku catetan Fisika punya gue. Sini!" Meli sudah berdiri bersedekap didepan Enggar.


Intan berdecak, apa kompetisi ini sudah dimulai?


Ia memutar otak sejenak. Memikirkan rencana utama dan rencana cadangan untuk seharian ini kalau kalau Meli benar benar nekat mau mengambil alih perhatian Enggar.


Enggar tampak sibuk membuka tas dan mengeluarkan barang yang dimaksud Meli. "Nih, bawa semuanya."


"Ekhm!" Meli menerima barang itu sambil berdehem pelan. "Berat Nggar, bantu bawain ke ruang OSIS dong. Ada rapat pagi ini."


Kali ini Intan menatap sinis kearah Meli sambil menyilangkan lenganya.


Enggar berpikir sejenak lalu menatap Intan. Intan balas menatap dia dengan datar.


"Oke gue bawain. Tan, nggak lupa jalan ke kelas lo kan?" tanya Enggar memastikan.

__ADS_1


Baiklah, Intan langsung melirik kearah barang bawahan Enggar. "Kak Meli, laptop itu ringan banget kok. Ditambahi binder yang isinya cuman dikir sama buku catatan yang nggak tebel tebel amat. Kalo ditotal paling paling nggak ada dua kilo. Dan bawa beban bermuatan 2 kilo itu  nggak bakal bikin tangan lo patah."


"Intan?"


"Ah?" Intan tersadar atas lamunannya, ia mengumpat, ia pikir unek uneknya sudah tersampaikan, tapi sayangnya barusan adalah ucapan hatinya saja.


"Duluan ya?" Kata Meli bersemangat.


Saat itu pula Intan langsung menahan langkah Enggar lewat menggenggam lengan Enggar, "kak."


Enggar menaut alisnya.


"Gue udah beberapa bulan sekolah disini. Tapi gue nggak tau letak UKS."


Oh, alasan paling pinter. Kenapa jadi bego?


"Gue mendadak sakit kepala." Lanjut Intan membuat Enggar langsung memutar tubuh dan menempelkan punggung tangannya pada jidat Intan.


Intan menghela napas, "gue bilang gue sakit kepala. Bukan demam."


Enggar berpikir 2 detik untuk melawan argumen Intan. "Tapi, kalo demam kan yang sakit kepala."


"Pusing, maksud gue pusing."


"Nggar? Ini udah mau mulai rapatnya." Meli menyela dengan tatapan memohon. "Oh iya, lo juga harus ikutan rapat ya? Lo mungkin punya ide buat––"


"Nggak bisa Mel, ini lo bawah ya. Gue mau anter Intan."


Enggar menyerahkan barang barang tadi pada Meli,


"Intan kelihatannya nggak papa?"


Mendengar itu Intan langsung mengubah mimik wajah menjadi melas dan tak berdaya. Ia kemudian terbatuk batuk dengan sengaja.


Kok gue kesannya kek peran antagonis di sinetron yang biasanya di tonton mama ya?


"Ssst, gue gak mau ada cowok yang ambil kesempatan kalau Intan lagi sakit."


Diam-diam Intan tersenyum miring melihat wajah kecewa Meli.


Oh, benar benar peran antagonis yang sempurna.


🖤🖤🖤


Bunyi bel masuk terdengar jelas didalam UKS, Enggar masih belum menjawab pertanyaan dirinya.


"Lo mau jelasin sekarang, apa biarin ini jadi kesalah pahaman? Ya, kalau ini beneran salah paham." Intan menatap datar dirinya.


Enggar menelan ludah, bangkit berdiri lalu menepuk nepuk kening Intan pelan, "ini salah paham. Tungguin penjelasan gue."


Intan membuang napas kecewa.


"Sana lo!"


"Iya, sekarang, gue nuntut ilmu dulu. Biar pinter, biar lulus.  Entar biar gampang cari kerja, uangnya entar buat beli mahar dapetin lo. Oke?"


Sialnya, Intan hanya bisa diam. Menatap punggung Enggar yang tertelan oleh pintu UKS.


Membiarkan pertanyaan yang ia lontarkan tergantung pada pikiran, tanpa jawaban.


"Gue mau tanya sesuatu." Kata Intan setelah Enggar membantu nya masuk ke UKS tadi.


"Apa? Lokasi nikah kita kek nya di Belgia. Terus penghulunya juga mentri agama terkemuka."


"Lo....waktu itu?"


"Apa?" Sahut Enggar sambil membantunya melepas sepatu. "Ini penjaga uks kemana?"


"Waktu gue udah pulang dari acara perayaan Kak Ken jadi Ketua OSIS." Intan menggigit bibirnya, rasa kepo akibat mendengar percakapan Meli dengan temannya saat itu membuat Intan berani bertanya.


"Kenapa?"


"Bener lo cium Kak Meli?"


Wajah Enggar mendadak berubah, ia terdiam sejenak.


"Gue tanya loh, sebuah tanya yang harus lo jawab."


"Nggak semua tanya ada jawabnya."


"Lo tinggal jelasin. Beruntung banget lo ketemu cewek kek gue, cewek yang mau luangin waktu buat dengerin penjelasan." Intan menatapnya dingin, ia butuh penjelasan Enggar mengenai kejadian yang ia dengar lewat orang lain itu.


"Makanya, gue beruntung."


"Jawab!"


Lantas bel masuk terdengar. Membuat Enggar harus meninggalkan Intan karena jam pertama adalah pelajaran Matematika yang gurunya tidak menerima alasan murid terlambat.


Pikirannya melayang kembali, memikirkan kemungkinan yang terjadi di pesta perayaan Ken waktu itu.


Melihat bagaimana santainya Enggar membuat ia diserang dilema. Apakah Enggar.... Ah sudahlah, yang harus ia lakukan sekarang adalah: pura pura sakit.


Oh, mengapa kali ini ia seperti seorang gadis yang mencari sensasi untuk diperhatikan?


Sungguh menyedihkan.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Me: Holla!!! Apa Intan sudah kayak pemeran antagonis? 🤔


__ADS_2