MEI

MEI
18. Meja Penuh Tawa, Hati yang Terluka


__ADS_3

Bulan bulan November seperti saat ini biasanya sekolah mereka sudah mulai mengumumkan akan terjadinya pergantian ketua Osis sekolah mereka.


Biasanya, anak anak kelas 11 akan berlomba lomba mencalonkan diri menjadi kandidat ketua Osis. Dan tentu saja, semua kandidat akan bersaing hingga menemukan orang yang cocok menjadi ketua.


"Serius?" ulang Intan tak percaya.


"Tau, tuh bocah emang udah hilang akal. Emang Meli cocok jadi ketua Osis? Lembek gitu, abis diputusin aja udah hancurin kamar, gimana kalo nanti dia pas di protes sama anak satu sekolah?" Enggar tertawa meremehkan kemudian.


Intan Langsung menyikut perut Enggar, melotot marah. Tidak pantas meremehkan seseorang yang baru saja ingin mencoba. "Doain Kak Meli menang Kak. Jan malah––"


Suara cempreng khas Meli tiba tiba datang, memecahkan percayakan Enggar dengan Intan barusan. Meli tersenyum kearah Intan, "hay!"


Intan mengangguk dan melontar senyum ke Meli sebagai balasan.


"Mel," ucap Enggar memotong lontaran senyum 2 gadis itu.


"Apa?" Meli kali ini duduk di kursi, berhadapan dengan Enggar dan Intan.


"Lo mesti bayar."


"Dih, gue emang punya utang ke lo?"


"Barusan lo dapet senyum dari Intan, padahal Intan cuman boleh senyum ke gue. Ya Tan?"


Intan meliriknya sebal, lalu memilih menyendok nasi dan ayam di piringnya.


"Sorry banget ya gue ganggu lo berdua, tapi berhubung gue emang perlu banget maka disinilah gue, menghadap saudara Enggar," Meli berucap dramatis sambil menunjuk Enggar.


Melihat itu Enggar bergidik ngeri, sementara Intan malah menaikan kedua alis tak paham.


"Oke, to the point, gue kesini mau bilang ke lo. Laptop gue tuh rusak, padahal lo tau kan gue mesti nyiapin beberapa proposal dan pidato buat persiapan pemilihan ketos. Nah, kalo laptop gue rusak gue mau ngetik pake apa?" tanya Meli, yang tentu saja pertanyaan itu tak memiliki jawaban.


"Terus?" tanya Enggar sambil meminta ayam di piring Intan.


"Pinjem laptop lo yah? Punya temen temen gue dipake gitu. Mereka so sibuk." Meli mengerjapkan mata memelas.


"Lo bisa kan pake laptop atau komputer di ruang komputer. Plis deh lo ganggu bat," Enggar berkata fruatasi menatap Meli.


Mendengar itu, Intan buru buru kembali menyikut perut Enggar, bicaranya tidak sopan.


"What?" Meli memekik mendengar saran Enggar, buru buru Meli menoel tangan Intan.


Cewek itu mendongak menatap Meli serius."Kenapa kak?"


"Lo denger? Enggar minta gue pake komputer di ruang komputer?"


"Kenapa sih?" Enggar mendengkus dan menjauhkan tangan Meli dari tangan Intan, "Tuan Putri tidak boleh disentuh oleh kalangan bawah."


Meli memutar bola matanya, "lo gak tau? Komputer disana itu masih pake Windows jaman kita masih TK. Serius gue harus pake begituan? Enggak! Nggar pokonya gue pinjem laptop lo entar. Terus anter gue ke tukang servis komputer. Oke?" Meli menaik turunkan alisnya. Memohon kepada Enggar atas permintaan barusan.

__ADS_1


"Enggak ah, hari ini gue sibuk."


"So sibuk lo." Meli mendengkus sebal.


"Emang. Hari ini gue mau ngerayain anniversary gue sama Intan yang ke-satu minggu."


Intan buru buru terbatuk mendengar ide konyol Enggar barusan, mendadak kepalanya pening, hanya karena kata kata Enggar.


Cowoknya segera meraih gelas jus jambu dan menyodorkannya pada Intan yang disambut dengan senang hati. Intan menegaknya hingga rasa tersedak itu hilang terbawa aliran air jus ke perut. Dia menarik napas sebelum akhirnya menoleh tajam ke Enggar. "Apa!?"


"Iya, kita entar jam 3 anniv ke-satu minggu. Inget kan lo?" mendadak Enggar alay, apa gak salah nih anak?


"Dih, ngapain? Daripada lo mau nyusun rencana konyol lo, mending temenin Kak Meli, dapet pahala. Lagian gue hari ini sibuk, mau ada arisan di rumah mama," Intan buru buru menolak ajakan Enggar yang mengerikan itu.


Enggar menghela napas, "Intan, dengerin ya? Gue gabisa nuker waktu berharga gue cuman buat liat wajah Mak Lampir kek dia."


Meli langsung buru buru menyentil jidat Enggar yang mampu ia gapai. Ia lalu mengumpat kearah Enggar, "heh, lo tuh yang kayak buto ijo!"


Intan terkekeh melihat kedekatan 2 orang ini. Kekehan yang terdengar dipaksankan.


"Tan, liat dia galak," adu Enggar dengan menggenggam tangan Intan rapat.


"Lo temenin Kak Meli ya?" Intan berucap kembali.


Cowok itu menggeleng cepat, "lo entar pulang sama siapa?"


"Pak Yayan yang jemput gue."


"Yaiyalah! Kan Pak Yayan udah besar eh, dewasa, dia jauh lebih berumur dari lo. Udah handal dalam berkendara, udah punya SIM, udah ada ktp!"


"Gue juga punya KTP, SIM juga. Apa?"


"Dih, Pak Yayan tuh handal nyelip––"


"Kok lo jadi nge-agungin Pak Yayan sih? Apa hebatnya?"


Intan memutar bola matanya. "Kenapa emang? Dia baik kok!"


"Duh kok gemesin sih?" Meli menyela cepat, ia menopang dagunya diatas meja, menatap kearah mereka dengan iri.


Enggar kini ikutan menopang dagu, mendekatkan kepala ke kepala Meli dengan senyum miringnya, "kenapa Mblo? Iri? Keinget kenangan bareng mantan?"


Meli menetap pada posisi, ia kini menaikan sebelah alisnya, "Enggak, emang gue pernah punya pacar?"


"Oh, lo lupa?"


"Gue gak lupa, tapi emang gue nggak ngerasa punya man––"


"Yoi Raka! Sini sini!" Enggar kini menatap kearah cowok yang barusan masuk ke area kantin. Melihat itu, Intan terkekeh geli sementara Meli melotot ke Enggar.

__ADS_1


"Nggar!"


"Apa?" dengan santai Enggar menjawab. Ia mengangguk kala Raka pergi mencari meja terjauh dari Meli.


"Lo apaansih!" Meli tetap mempertahankan ekspresi melotot miliknya.


Enggar terkekeh, "Kenapa? Lo lupa kalo Raka tuh temen SD kita? Hem? Lagian gue juga udah gak ada urusan berantem sama dia."


Meli mendengkus lagi, ia membenarkan posisi menopang dagunya lalu memandang Enggar intens. "Gausa cari gara gara."


"Agar agar?" sahut Enggar tidak nyambung.


"Gue jadi yakin lo keturunan asli setan budek."


"Jadi lo ngatain mama papa gue setan budek?" Enggar memutar balik fakta.


Meli menggeleng buru buru, "dih, mama papa lo itu nemu lo di tengah malam, terus ngangkat lo jadi anak, padahal mereka gatau kalo lo anaknya setan budek."


Enggar tertawa renyah mendengar cerita konyol milik Meli, ia mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Meli, "Ide bagus, bikin novel sana."


"Lo mau bantuin?"


Enggar mengangguk sok meyakinkan. "Asal ada bayarannya sih."


"Dih! Kalo gitu kita mesti benerin laptop gue dulu, anter ke tukang servis ya? Entar gue bikin novel horor. Judulnya, 'Enggar Setan Nyasar'.  Gitu?"


Enggar tertawa sambil menyentil kening Meli, "Entar lo jadi pemeran utamanya yang selama ini jadi sahabat gue, terus lo menguak fakta tentang gue yang keturunan setan! Huhuy, yakan!?"


Meli tertawa memperlihatkan gigi putihnya, "Oh! Intan! Entar Intan jadi pacar lo. Tapi cuma lo manfaatin doang, soalnya Intan punya kekuatan yang dibutuhkan setan kek lo buat menguasai dunia."


Meja itu dipenuhi kekehan, seolah semuanya tengah berbahagia dengan candaan yang ada.


Percakapan Enggar dan Meli mengalir deras, bak air sungai. Sesekali tertawa, melempar senyum, atau terdengar decakan ataupun dengkusan. Ramai.


Tapi mereka tak pernah sadar, jika Intan. Yang ikut tertawa ketika tertawa, yang ikut terkekeh pelan, yang ikut tersenyum saat melihat mereka berdebat. Intan yang hanya pura pura demi kenyamanan dua sahabat itu.


Padahal sedari tadi, ia mencoba menyalurkan emosinya lewat mencengkram sendok dan roknya kuat kuat.


Fokus Enggar berubah, Enggar yang tadi menatapnya dengan lembut dan sesekali melempar tawa. Kini hanya mengabaikanya, menatap Meli dengan sungguh sungguh. Seolah Meli adalah fokus paling penting hari ini.


Intan menunduk, kini ia kehabisan stok untuk tersenyum. Hingga akhirnya tangannya digenggam oleh lelakinya.


Genggaman hangat yang kuat.


Intan mendongak, menoleh ke Enggar. Cowok itu masih tertawa bersama Intan. Menuangkan ide ide tentang apa yang akan terjadi jika Meli benar benar jadi ketua osis.


Tanpa mengucap apapun, Intan membalas genggaman itu. Melanjutkan makannya.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Me: :" Siapa yang kek pernah kek gitu? Au, sakit gak? 


Btw aku revisi ulang, gataunya hampir nangis pas adegan akhir. Argghhh, Meli zeyeng, yuk nyebur kelaut?


__ADS_2