
🖤🖤🖤
"Sini, daripada mubazir," Enggar menyahut kue milik Intan yang sedari tadi enggan ia makan.
"Padahal enak sih Tan. Nggak lo makan gara gara liat wajah kebo barusan ya?" tanya Enggar ceplas ceplos. Ia mengunyah lamat lamat kue dimulut.
"Pengen pulang kak," Intan berucap pelan.
Enggar yang tadinya menikmati makanannya langsung menoleh dengan nge-gas. "Masih jam setengah lapan loh Tan."
"Papa buat aturan jam malam. Gue harus sampe rumah sebelum setengah sembilan." Intan berkata se stabil mungkin.
"Sejak kapan papa lo buat aturan kek gitu?" tanyanya tidak percaya.
"Entah," jawabanya acuh lalu mengusap gaunya yang sedikit tersingkap.
"Yaudah jam lapan lebih gue anter, sekarang tungguin gue ya? Makan dulu gih, puding di pojok enak Tan." Enggar menunjuk tempat yang dimaksud, tapi Intan sudah kehilangan selera makan hanya karena tingkah Enggar yang tidak kenal urusan luka hati.
"Enggak, gue nunggu disini aja. Enak buat ngobrol." Intan berkata pelan, mengode sedikit agar Enggar mau menemaninya bercakap cakap atau sekedar duduk disampingnya.
"Kenapa sih? Kok lo lesu gitu? Hem? Gara gara Adit?" tanya Enggar dengan khawatir. Ia ikut menangkup pipi Intan yang dingin karena pintu dan jendela ruangan ini dibiarkan terbuka.
"Adit tadi bilang apa aja? Hem? Dia ngancem apa Tan?" tanyanya begitu menyenangkan di telinga Intan. Entah, itu adalah wujud perhatian Enggar yang dirasakan Intan.
"Enggak, Kak Adit cuma nemenin gue ngobrol dikit. Seenggaknya dia peka sama perasaan gue," perkataan Intan membuat Enggar langsung melotot.
Hal itu ditanggapi Intan dengan gidikan ngeri. "Apasih!? Mata lo mau copot tuh!"
"Gimana bisa ada cowok lain yang bisa peka ke lo?" tanya Enggar dengan mata memincing.
Intan memutar bola matanya, "dih, emang harus gimana? Kalo emang Kak Adit punya insting kuat? Heh?"
"Gabisa gitu Tan, lo pikir deh, peka itu artinya memahami isi hati lo. Otomatis lo sama Adit sehati lah!" Enggar berkata tidak terima sambil memegangi bahu Intan. Ia menatap Intan dengan sungguh sungguh.
Intan segera menepis tangan Enggar, "udah gila ya lo? Ini lo doain gue sama Kak Adit sehati nih?"
"Nggak!" jawabnya nge-gas. "Enak aja. Kan lo pacar gue. Pokonya gue gak sudi Adit peka ke lo."
"Ayo gue anter ke rumah sakit jiwa. Masa iya ada cowok cemburu cuman gara gara pacarnya di ngertiin cowok lain? Lo beneran gila." Intan menatap horor ke Enggar seolah Enggar adalah mahkluk alay mengerikan. Tapi siapa tahu, jika hatinya menerima perkataan manis Enggar dengan hangat?
"Dan lo tau siapa yang bikin gue gila." Enggar berbisik menggemaskan di telinganya.
"Lagian, siapa suruh...." belum sempat Intan menyelesaikan ucapannya, ia langsung berhenti dan menghela napas. Ia ingin mengumpat hanya karena kehadiran Meli di tengah suasana hangatnya.
"Enggar!!" Meli berucap manja lalu bergelayut pelan di lengannya. "Foto yuk! Buat kenang kenangan."
"Lo emang mau kuliah di Hongkong? Sampe mau bikin kenang kenangan?" Enggar bertanya sambil matanya masih fokus menatap Intan dengan senyumanya. "Biasa Tan, memang lagi manja. Kek SiBad."
Intan mengulas senyum tipis. "Hari ini itu perayaan buat Kak Ken sama Kak Meli. Ada baiknya lo turuti."
Jujur, kalimat tadi benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hatinya. Harapannya hanya satu, Enggar menggeleng lantas menggenggam tanganya lalu mengajak dirinya menjauh dari keramaian.
"Tuh Nggar, Intan aja paham. Thanks ya Intan. Lop U. Yuk Nggar, latar belakang lampu tumblr bentuk lope lope bagus keknya."
__ADS_1
Enggar mendumel sebelum berlalu dihadapan Intan. Cowok itu seolah tak punya pilihan untuk menolak Meli.
Di kejauhan, Enggar tengah berdiri disamping Meli dengan teman temannya yang lain. Lalu berlanjut foto khusus anak Osis.
"Gue foto sama Enggar dong! Berdua!" Meli memekik senang.
Suaranya yang keras sampai ke telinga Intan. Lagi, Intan berharap Enggar menggeleng tidak mau lantas kembali pada Intan.
Nyatanya, cowok itu kini menatapnya. Senyumnya, yang tanpa dosa membuat hati Intan terasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Perih, demi apapun.
Enggar tersenyum kearahnya sebelum akhirnya menoleh ke Meli untuk berdebat kecil. Setelah Meli mengerutkan bibir Enggar sibuk mengacak rambut Meli dengan mesra.
Intan tertawa miris, ia menarik rambutnya yang terurai, memandang mahkota paling berharga ini dengan tatapan nanar. Rambutnya tidak pernah di acak acak Enggar dengan mesra seperti itu.
Tapi tentu, ingatan tentang Enggar pernah mengikat rambutnya membuat hati ini menghangat. "Seenggaknya masih ada kenangan yang bagus buat bikin senyum gue balik."
"Duh! Nempel teros!" Rega selaku fotografer dadakan mengumpat. "Jadian aja deh lo berdua, gayanya aja sahabat. Gimana kalo tiba tiba Meli ikut lo embat? Hah?"
Enggar tertawa atas ejekan Rega barusan. "Gabisa dong. Enggar udah ada yang punya."
"Halah," sela cewek dengan rambut terkepang itu. "Kemana mana juga lo sama Meli lebih cocok. Heran deh. Kehalang gengsi sih lo berdua!!"
Dan Intan memilih bangkit, menjauh dari tempat ia berpijak dan menerobos kerumunan untuk mencari jalan keluar.
Ketahuilah, Intan sama seperti kalian. Tidak tuli.
Ia perlahan keluar dari ruangan itu lantas meraih hp untuk membuka aplikasi ojek online.
Men-klik tombol pesan, Intan menghela napas saat layar memunculkan nama abang ojek yang akan mengantarkan dirinya pulang.
"Kirain masih sibuk." Intan berkata dingin sambil sibuk pada hp di genggaman.
"Iya sih. Mau kemana?" Enggar beralih bertanya dengan dahi terlipat.
"Pulang, gue genak badan," lagi, jawaban tanpa selera itu diterima Enggar.
Gaenak hati juga.
"Sama siapa? Gue bilang jam lapan Tan. Bukan sekarang," kali ini, lelaki itu mencengkram erat pergelangan tangannya.
Senyum tipis muncul di bibir Intan, ia lantas tertawa. "Oh, terus kalo gue jawab gue pulang naik ojek lo mau apa?"
"Heh, enak aja. Ngapain pulang sama ojek?" Enggar kali ini menariknya untuk mendekat.
"Kenapa? Seenggaknya, abang ojeknya nggak sesibuk pacar gue. Udah kek selebritis tau gak? Foto sana foto sini." Intan mendengkus diakhir kalimatnya diikuti menghempaskan tangan Enggar ke udara.
"Intan, astaga! Lo cemburu!?" pekiknya keras. Nyaris seperti kebanyakan cewek cempreng lainnya.
Kali ini Intan tertawa keras sambil bersiap pergi karena matanya menangkap sosok pria dengan balutan jaket dan helm nuansa hijau. "Besok besok kalo mau nuduh gue kek gitu mikir dulu. Emang lo cakep sampe gue harus cemburu!?"
Sebenernya, jika keadaannya berbeda, Enggar akan tertawa gemas akan tingkah Intan. Tapi kali ini suasananya, Enggar tengah sibuk, dan itu tidak dapat ditinggalkan.
Karena Meli yang meminta.
__ADS_1
"Diem kan? Yaudah, selesein sana tugas lo. Gue pulang. Salam." Intan lantas bergegas naik, namun sayangnya Enggar kembali menariknya turun dan melepas helm yang dikenakan Intan.
"Ini bang. Makasih." Enggar menyodorkan helm penumpang dengan selembar uang berwarna ungu kepada pria yang tengah memegang setir ini.
"Loh, mbaknya nggak jadi naik?" tanyanya bingung.
"Kak––" buru buru Enggar membekap mulut Intan dan tersenyum kepada pria tadi.
"Kita cuman lagi social eksperimen, gimana rekasi orang liat pasangan lagi berantem. Gitu." Mendengar itu Intan langsung melotot kearah Enggar sambil mengumpat dalam hati.
Oh! Pandai sekali mulutnya mengeluarkan alasan. Enggar terkekeh lantas mempersilahkannya pergi.
Setelah dirasa cukup jauh, Enggar kembali menatap Intan dan melepas bekapan tadi dengan senyum manisnya. "Duh, gemesin. Untung pacar gue. Kalo enggak...."
"Apa!"
"Mau dansa nggak?" entah, cowoknya ini mulai meniru kebiasaan Intan––memutar topik.
"Najisin kalo gue nyentuh lo!" Intan bergidik ngeri. Entah rasa kesalnya menguap pergi. Bergabung bersama awan awan diatas sana.
"Emmeli?" sambung Enggar tidak jelas.
"Hah?" Intan ikut menyahut bingung.
Entah, mengapa siklusnya selalu sama. Intan berdua dengan Enggar––bercanda sedikit––lalu Meli datang––Intan sebal, tapi tidak tahu harus apa.
Kan!
"Acara inti mau mulai. Lo bisa nggak bantu gue, nemenin gue ngasih sambutan atau pidato gitu?" Meli tersenyum hangat kearah Enggar. Entahlah, saat ini Intan merasa seperti sosok tak kasat mata.
"Mel, lo bisa sendiri kan? Gue lagi pen ngomong sama Intan." Enggar menjawab tidak enak, ada beban saat mengatakannya.
"Kok gitu? Lo tadi kan udah janji?" Meli berjalan mendekati dengan tampang sebal andalannya.
"Ya mau gimana? Gue keknya kehilangan banyak waktu buat Intan gitu," perasaan Intan sedikit menghangat atas ucapan Enggar tadi. Sedikit.
Kali ini Meli beralih menatap Intan, pandangan itu dingin dan tajam. "Intan bisa nggak kalo Enggar sibuk bentar? Ini penting banget soalnya. Ya?"
Kali ini Intan terkekeh, entah. Bagaimana arti kekehan barusan. "Yaampun. Terserah mau gimana, lagian gue juga mau pulang."
"Gue anterin." Enggar menyela sambil menggenggam lenganya kuat.
Intan langsung menggeleng, "gausah lebay. Gue pulang sama Pak Yayan."
Meli tersenyum kepada Intan setelah tatapan tak mengenakan tadi. "Good girl. Yuk Nggar."
"Gue temenin Intan sampe Pak Yayan dateng. Buru telpon!" Enggar masih setia menggenggamnya dengan erat, seolah Intan akan kabur jika tidak ia genggam sedemikian rupa.
"Enggar!" rengek Meli menggemaskan.
Enggar menoleh pada Meli, "bentar ya. Gue nemenin Intan," tak lupa ucapan tadi diiringi tangan Enggar yang bebas mengacak rambut Meli dengan gemas.
Sekarang, apa Enggar sudah terlihat seperti **** yang menarik semua cewek dan memainkannya bersamaan?
__ADS_1
🖤🖤🖤