MEI

MEI
3.Hari itu yang punya mata indah sedang tak bahagia.


__ADS_3

🖤🖤🖤


Napasnya tersenggal senggal, isakan itu terdengar di penjuru ruangan, sementara matanya tak henti mengeluarkan air mata.


Kedua tanganya kini meremat erat sebuah foto lelaki yang berpose memeluk dirinya.


"Sialan!"


Pintu kamarnya berdecit, memunculkan sesosok lelaki jangkung yang memegang erat kresek Indomaret. "Mel...."


Meli menoleh pelan pada laki laki itu, lantas ia bangkit sembari melempar gumpalan foto tadi. "Lama amat sih Nggar!"


"Gue tadi habis disenyumin mbak Indomaret nya. Gue baper terus pingsan di pintu masuk."


Meli berdecak, ia menyambar kresek putih itu lalu membuka bungkusan coklat Deeka dan Silverqueen. Ini untuk kedua kalinya ia menyuruh cowok itu ke supermarket terdekat, beberapa saat yang lalu ia juga menyuruh cowok ini untuk pembali pembalut sebelum akhirnya menyuruh kembali ke toko untuk membeli coklat batang.


Enggar mendengkus lalu duduk disamping cewek itu, ia membuka kresek tadi lalu meraih sebatang coklat dan melahapnya. Cowok itu mulai memutar musik gak jelas yang tidak disukai Meli.


"Gue udah bilang, dia tuh gak baik buat lo. Ngeyel aja." Enggar berucap sok berwibawa.


Meli memutar bola matanya, lalu kembali berbicara ditengah isakanya, "gue udah bilang. Jangan puter playlist lo di kamar gue Enggar!" Meli merebut hp Enggar dan mematikan putaran musik itu.


"Ck! Ini katanya minta ditemenin?" sergah Enggar tidak terima. Ia merebut kembali hp-nya sambil cemberut.


"Yaudah, gue cabut dulu." Enggar hendak bangkit, ia mengenakan kembali jaket yang tadi, sebelum ia berangkat ke Indomaret, ia letakan di atas kasur bergambar panda milik Meli.


"Nggar...." Meli mencekal lengan cowok itu.


"Gue ada urusan Mel."


"Gue bilang temenin gue."


"Sibuk," cowok itu menjawab acuh dan kini sudah menyugar rambutnya.


"Enggar, temenin gue. Jangan kemana mana."


Meli ikut bangkit, ia menahan pergelangan tangan Enggar dengan tatapan memohon. "Lo boleh puter musik disini deh. Asal jangan kemana mana."

__ADS_1


"Iya, entar sore gue temenin. Sekarang gue ada urusan. Entar gue temenin ke toko buku Mel. Katanya buku sketsa lo habis?" Enggar menepuk nepuk pelan puncak kepalanya. "Gila ketombe lo Mel."


"Lo mau kemana?" Meli merebut jaketnya. Menggenggam erat jaket itu agar yang punya juga tetap disini.


"Mau keluar sama Reyan. Bentar."


"Plis Nggar, lo jangan banyak ulah lagi. Gue gak apa apa. Lo gak perlu kayak gini." Meli berucap memohon, semua yang ia minta dari Enggar adalah agar cowok itu tidak pergi ke tempat yang ia janjikan bersama Reyan.


Meminta membeli pembalut, coklat lalu minta di temani adalah agar cowok itu tidak berbuat hal hal aneh diluar sana.


Enggar tersenyum tipis, ia mengusap mata panda milik Meli. "Mel.... Mata lo bagus jadi item kayak gini. Cowok brengsek yang buat lo gini itu harus dikasih pelajaran."


"Gue aduin ke bunda kalo lo macem macem ke Arka!" Meli mengancam dengan sorot tajamnya. Memyuruh Enggar tidak macam macam.


"Gue masih bisa terima Mel, kalo dia putusin lo pake alasan yang gak jelas. Lah dia? Pertama dia selingkuh terus ngehina lo?" Enggar berbalik, meninggalkan Meli yang kembali terisak karena ulah si bodoh bernama Arka itu.


Hpnya bergetar, nama Reyan tercetak sebagai si penelepon. "Hem?"


"Dia ada di lapangan futsal Nggar," ucap Reyyan tenang.


"Ye. Otw." Enggar melangkah kearah pintu keluar kamar Meli. Saat ia sudah diambang pintu ia menoleh dan bertemu pandang dengan mata cantik yang sembab itu.


🖤🖤🖤


Reyan duduk dihadapannya sembari memainkan game. Dia sedang memanfaatkan Wi-Fi gratis.


"Nggar, gue bingung sama lo." Reyan berkata sambil matanya terus memperhatikan layar hp.


"Hm?"


"Lo bela belain Meli, lo korbanin waktu, terus lo intinya perlakuin dia kayak pacar lo. Padahal jelas Meli tuh udah punya orang lain. Tadi juga pas lo gebukin si Arka, lo udah kayak orang kesurupan. Itu semua demi apa? Demi Meli kan?" Reyan berkata pelan, seolah takut menyentil hati temanya yang emosimya kurang baik untuk hari ini.


"Ya kan wajar Yan. Dia sahabat gue sejak kecil, gue udah anggep dia kayak adek sendiri. Lo tau kan gimana sayangnya kakak ke adek. Kayak lo ke Tata kan juga sayang banget." Enggar lalu menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal.


Sementara Reyan tertawa kecil menyadari Enggar yang kentara sekali berbohong. Buktinya cowok itu harus menggaruk ujung hidungnya, ciri khas orang yang sedang berbohong.


"Gue gak bego juga Nggar, sejak gue tau lo sahabatan sama Meli, lo ngeliat Meli pake cara yang beda. Bukan tatapan pertemanan apalagi adek kakakan. Jelas Nggar lo suka ke Meli."

__ADS_1


Kata kata Reyan seolah membuat kepalanya berputar-putar. Jantungnya berdegup kencang tiba tiba. "Diem deh upil kadal."


"Tuh! Gue tau!!" Reyan kini meletakan hpnya lalu memandang lurus kearah Enggar. "Jangan pengecut Nggar. Telpon gih sekarang, bicara baik baik kalo lo masih takut bilang secara langsung. Bilang ke Meli, sekarang kan dia udah free sekarang."


Enggar menghela napas untuk mengumpulkan keberanian, sedetik kemudian ia meraih hp untuk menghubungi temanya itu.


"Hallo?" Suara Meli terdengar, suaranya persis seperti orang flu.


Kalau tau Meli sampai flu gara gara kebanyakan nangisi si Arka. Maka tadi Enggar akan memukuli mulut Arka sekalian.


"Mel... Nganu...."


"Kenapa? Buru ah, gue lagi nonton drama nih. Ga enak kalo ke pause kelamaan!" Meli merengek diujung sana.


"Gue mau bilang sesuatu nih." Enggar menatap Reyan yang kini berlari ke meja kasir untuk meminjam bolpen dan kertas.


"Iya cepet. Lo mau minta bunda gue masak pisang goreng?"


Enggar menggeleng, tindakan yang tak diketahui Meli. "Mel...."


Terdengar suara klik diujung sana. Pasti Meli kembali memutar drama berisi wajah orang orang negeri gingseng itu.


Enggar menatap Reyan yang menuliskan sesuatu diatas kertas, ia lalu menyodorkan kertas berisi tulisan.


Mel, gue suka sama lo.


"Nggar? Hallo???" Suara khas orang flu itu kembali terdengar.


"Mel...."


"Mal Mel Mal Mel aja terus!" Meli berdecak diujung sana.


"Iya nih gue serius." Enggar menghela napas lalu meraih secarik kertas berisi tulisan Reyan yang jelek dan sedikit tidak bisa kebaca. Maklum lah, Reyan ini blasteran orang jaman batu, jadi aksranya rada kayak sandi rumput.


"Mel. Gue mau bilang." Enggar kembali mengatur napas.


"Gue mau bilang kalau...." Ia menggantung kalimatnya sembari menatap Reyan yang kini memberinya semangat lewat wajah yang berotot dan bibir yang bergerak seolah berkata 'ayo! Ayo!'. "Kalo suara lo jadi jelek."

__ADS_1


Reyan menepuk meja seolah kesal dengan jiwa pengecut Enggar. Ia berdecak. Lalu membiarkan Enggar dan Meli yang berdebat terus menerus.


🖤🖤🖤


__ADS_2