MEI

MEI
13. Pesan yang Mampir


__ADS_3

Intan mengaduk pelan kuah baksonya selepas menambahkan beberapa sendok sambal dan kecap.


Asap kuah bakso itu mengepul diudara, menusuk indra penciuman 2 remaja yang duduk di bangku yang ada di kantin sekolah.


"Hemmm!!" Mia menggeleng tidak percaya, "bau sambelnya tajem bat Tan! Lo masukin berapa sendok hem?"


Intan tersenyum tipis tak menjawab. Mia mendelik karena hanya diberi senyum tipis. "Gini ya, lo akhir akhir ini kok makin aneh. Ngelamun, terus mata lo kek panda, sembab. Ya kali panda lucu. Lo?"


Mia menggeleng sembari bergidik ngeri. "Nyeremin. Mungkin lo bisa ikut cassting pemeran The Nun 2."


"Ada Mi?"


"Yakali, gue bukan anak sutradara."


Meja itu hening, hanya suara sendok dan mangkuk yang saling bergesekan menimbulkan denting denting pelan.


Setelah 5 menit fokus pada makanan masing masing, Intan lebih dulu buka suara. "Menurut lo, cowok itu ada berapa jenis Mi?"


Mia mencerna kalimat Intan sejenak sebelum akhirnya ia berseru antusias. "Menurut kebanyakan orang ada 2 tipe, kalo nggak **** ya homo."


Intan mengangguk pelan lalu meminum air mineral dari botol tupperware miliknya.


"Tapi ya...." Mia kembali menyela dengan mengipasi area leher karena ikut kepedesan––padahal dia hanya memasukan separuh sendok sambal ke mangkoknya.


"Hem?" sahut Intan penasaran.


"Gatau kenapa itu salah aja, masa cuma 2 aja? Kalo seorang eh maksudnya semua cowok itu ****, mungkin gak akan ada anak di dunia ini yang punya ayah."


Intan menautkan alis, ia tak paham.


"Kalo semua cowok **** ya Tan, ayah ayah kita mungkin gak akan mau nikah dan berkomitmen sama mama kita, kalo mereka **** mereka bakal cuma ngehamili maka kita terus ditinggal gitu aja. Lah, ayah gue? Dia gak homo, gak ****. Jadi tipe cowok gak cuma 2 itu tadi. Banyak kok." Mia menghembuskan napas pelan, ia minta minum Intan dan menegaknya hingga habis tak tersisa.


"Heheh, habis. Entar ngisi di tempat air kran siap minum," Mia menunjukan pose peace sambil nyengir lebar.


Intan hanya mengangguk, abai soal air minum tadi, "Kalo menurut lo, cowok yang mendua ahh bukan bukan! Cowok yang suka ke dua orang cewek itu gimana? Masuk kategori mana Mi? ****?"


Mia berpikir sejenak, dia menggaruk ujung bibirnya yang jontor akibat kepedesan. "Hem, gak bisa dijelasin Tan. Kodratnya emang rasa suka itu gak bisa diatur, kayak gue, misal gue suka ke EXO tapi juga BTS. Tapi ya tetep aja diantara 2 pilihan itu ada yang lebih dan paling disukai. Gue lebih milih BTS gitu. Terus dengan gue suka ke dua grup band itu gue masa harus dikata ****. Gak kan?"


Mia kembali melanjutkan. "Intinya gue suka BTS 51% dan EXO 49% beda tipis kan?"


Intan mengangguk anggukan kepala lemah, jadi meskipun kita suka pada 2 hal secara bersamaan, tetap saja kita pasti punya pilihan untuk lebih memfavoritkan salah satunya. Sekarang Intan menelan ludah, Enggar bilang dia suka Intan. Tapi tetap saja tak bisa di tutupi cowok itu kelihatan suka ke sahabatnya sendiri, Meli.


Mungkin saja Enggar suka ke Meli 51% dan Intan 49%. Atau sebaliknya.


"Tan." Mia membuyarkan lamunan Intan.


Cewek dengan rambut diikat kuncir ekor kuda itu bergumam sebagai jawaban.


"Ada Kak Enggar ihh! Toleh sana. Dia tadi lewat sambil liatin lo tuh."


Intan menelan ludah dan menahan napas sebentar. "Iya biarin."


"Lo berdua ada masalah?" Mia bertanya dengan posisi tubuh lebih mendekat.


Tak ada sahutan. Intan hanya diam sambil menggeser mangkok bakso kosong agar menjauh dari pandangan.


"Wah!" Mia menepukan kedua tanganya antusias. "Diammu adalah jawaban iya Tan!"


"Berisik ah. Balik yuk." Intan ingin segera bergegas menjauh dari kantin. Tak mau berlama lama dekat atau se-lokasi dengan cowok bernama Enggar.


"Oh iya lupa!" Mia berseru lengkap dengan aksi menggebrak meja. "Gue baru sadar, lo sama Kak Enggar nggak saling simpen nomer ya? Gila, gaya PDKT jaman bahula apa kalian?"


Intan mendengkus sebal, ia bangkit sembari menarik lengan Mia agar segera pergi.


Sialnya, sepanjang perjalanan, Mia bukanya diam. Dia malah membahas agar Intan menyimpan nomor Enggar yang baru didapat Mia.


Iya, barusan Mia minta nomor Enggar dari salah satu kenalannya.


"Mia diem! Gue udah nggak ada urusan sama Kak Enggar! Stop jadi mak comblang."


"Bodo amat Tan. Buru ah! Mana hp lo?" Mia menyimpan hpnya dan bergerak menggeleda tubuh Intan.


Segera, Intan menepis tangan temanya lalu melangkah lebih cepat. Saat itu ia tak sengaja menabrak seseorang.


Ah bukan, tapi 2 orang sekaligus. Mendongak, Intan mengucap maaf lalu mendapati orang yang ia tabrak adalah orang yang dikenalnya.

__ADS_1


"Intan?" Meli segara melepas genggaman tanganya dengan sosok lelaki disampingnya. Ia mengelus area bahu Intan, "lo gapapa?"


Intan tersenyum tipis dan menahan guratan sakit yang menjalar di bahunya. "Gue gapapa."


Kali ini Intan menoleh pada orang disamping Meli. Raka, kakak kelas yang pernah ia temui pagi itu saat bercakap dan berdebat kecil dengan Enggar.


"Btw, gue jarang liat lo sama Enggar akhir akhir ini." Raka bersuara setelah diam beberapa saat.


Meli ikut mengangguk. "Iyasih, sekitar seminggu terakhir. Enggar bahkan nggak cerita apalagi nyebut nama lo. Kenapa Tan?"


"Ah itu. Gue gabisa jelasin dulu. Kebelet soalnya. Heheh, duluan kak." Intan lari secepat mungkin. Ada apa hari ini? Kenapa beberapa orang mengajukan pertanyaan yang bersangkutan dengan Enggar.


Lebih lebih, pertanyaan yang malas ia jawab.


Hpnya bergetar kala memasuki kamar mandi, pesan dari Mia mungkin. Ia pasti mengomel karena dirinya hilang mendadak.


Salah besar, nomor tidak dikenal membuat ruang obrolan baru.


Unknow:


•save


•save aja. Gue cuma mau jadi temen wa lo. Enggar.


Intan mendumel, pastilah Mia yang memberi nomernya pada Enggar. Dasar, cewek itu kenapa jadi menyebalkan sih.


Segera Intan menyimpan kontak tadi dan meletakan hp pada saku seragam. Tapi hpnya kembali berhetar singkat. Ahh, cowok ini kembali mengirim pesan.


Kak Enggar


•serius dibaca doang?


Intan:


•iya udah gue simpen


Kak Enggar


•Tan


•mau nanya


Kak Enggar:


•sibuk gak seminggu terakhir?


Intan:


•tergantung sih.


Enggar:


•apanya yang tergantung?


•hem, kek nya disini yg tergantungkan perasaan gue.


Intan:


•tergantung gimana definisi sibuk yg lo maksud.


•kalo sibuk dalam artia byk org, gue sibuk. Pr numpuk, tugas sm bbrp kerja kelompok.


•tpi kalo sibuk dlm artian kgn lo. Gue enggak. Sama sekali.


Kak Enggar:


•andai ada pendeteksi bohong. Mungkin lo skrh udh ketauan. Bohong kan?


Intan:


•terserah. Lo bahkan masih menyebalkan.


Kak Enggar:


•gue sibuk Tan.

__ADS_1


Intan:


•t trs ngapa chat gue?


Kak Enggar:


•sibuk dlm artian gue. Bkn sibuk dalam artian byk org.


Intan:


•lo gk lupa kan sama permintaan gue seminggu yg lalu? Gue pengen lo mejauh ke gue.


Kak Enggar:


•menjauh secara fisik kan? Bkn secara digital apalagi batin.


•ya gue tau, lo kdg mikirin gue dan gue muncul dipikiran lo. Padahal waktu lo mikirin gue, gue cuman lagi duduk sambil nnton Spongebob. Bukan gangguin lo.


intan menatap chat dari Enggar, benar, kadang juga cowok ini muncul di kepalanya. Memberikam senyum hangat dan beberapa kalimat yang masih melekat dipikiran.


Kak Enggar:


•hallo? Msh disana kan lo?


•jgn jgn lo pingsan gegara gue bisa baca pikiran lo?


Intan:


•enggak. Gue cuma ada sebuah ide barusan


Kak Enggar:


•apa?


Intan:


•ide buat nge blok nih kontak.


Kak Enggar:


•ahh Intan. Canda ding. Iya iya. Maunya apa?


Intan:


•spt seminggu lalu Kak. Lo tolong jauhi gue, jgn melakukan pendekatan fisik atau secara digital gini.


Kak Enggar:


•aduh gabisa, kamu itu kayak oksigen. Jadi tolong jangan buat aku menjauh darimu, aku mati entar👵


Intan:


•syukur, jadi gada yg ganggu gue kek gini.


Kak Enggar:


•iyadeh, mau tanya utk terakhir kalinya deh.


Intan:


•silahkan.


Kak Enggar:


•Gimana? Lo samggup bales rasa sayang gue?


Intan:


•oke bay, gue mau blok lo.


Intan menekan pengaturan lantas memencet tombol block.


Selesai, ia tak lagi mendapat pesan dari Enggar. Sejujurnya, pertanyaan terakhir Enggar sempat membuat sekujur tubuh Intan dingin membeku.


🖤🖤🖤

__ADS_1


*Me: *ntah. Apa kabar mereka berdua. Cukup ber-semoga yang baik baik.


Maafkan typo :"


__ADS_2