
🖤🖤🖤
Selepas seharian tidak mau bertemu Enggar karena alasan mata hitam, Intan memilih menengok mamanya yang sedang senyum senyum sendiri.
"Kenapa?" tanya Intan to the point.
"Mama mulai bisa jalan." Mamanya berkata antusias dengan senyum cerahnya.
Intan memekik senang. "Terus?"
"Sebenernya masih perlu terapi sekali lagi, nanti, latihan di tempat terapi tiap beberapa hari sekali." Mamanya menjelaskan sambil mengelus tempat pegangan kursi roda.
"Kenapa nggak latihan di rumah aja? Kan ada aku sama Bu Ris yang bisa bantu?" tanya Intan sambil mendekat kemeja untuk meraih remote.
"Kalo itu masih belum bisa Tan." Bu Ris datang sambil membawa segelas susu untuk mamanya. "Perlu sama orang ahli."
"Emang mama hewan buas?"
"Kalo mama udah bisa lari. Entar mama buat perhitungan sama ucapan kamu barusan."
Intan tertawa puas sebelum akhirnya Bu Ris memutar topik lain. Mengenai Enggar, "pacarmu Tan. Udah 3 kali kesini. Nggak mau ketemu?"
Intan berdecak sebal mengingat Enggar, ayolah. Setelah kejadian kemarin malam, di hari Minggu ini Intan tak mau masa istirahatnya hancur karena Enggar.
"Marahan ya kamu?" tebak mamanya dengan tepat.
Bu Ris terkekeh lantas berpamitan, "ke dapur dulu."
"Enak aja, ngapain juga marahan sama dia?" Intan membela diri tidak terima.
"Halah halah, matamu aja merah ada item itemnya. Benjol dih Tan. Bener kata Mia kamu udah kek siluman." Mamanya bergidik ngeri, persis seperti Mia yang tadi mengajaknya vidio call dan menemukan wajah Intan yang sama mengerikannya saat 2 minggu yang lalu.
"Kan kemarin habis marathon baca drama eh kok baca. Nonton." Intan menepuk kening, lantas kembali melirik HP-nya yang kembali bergetar.
Masih sama pelakunya. Enggar yang segala mau minta maaf. Tapi tidak tahu kesalahannya apa.
Sebenernya Intan tidak ngambek, ia hanya kecewa pada suasana yang selalu tercipta harus hancur karena kedatangan Meli. Eh, tapi kalau disimpulkan ia jadinya kecewa kepada Meli, atau ngambek? Atau marah? Ah! Benci!?
Ia rasa tidak jauh dari itu semua.Â
Intan:
•gue blok dulu kontak lo.
Berisik, plus satu permintaan,
Jgn ganggu gue sampe hari Selasa.
----
Selepas mengetikan jawaban itu, Intan bernapas lega diikuti gumpalan rasa sesal akibat mengacuhkan Enggar.
__ADS_1
Tapi siapa dulu yang mulai?
Kemarin, Enggar mengajaknya ke pesta, kelihatannya asyik. Tapi boro boro asyik, Intan aja nggak bisa senyum ikhlas kemarin.
Enggar ketawa ketiwi bareng temen lainya, gitu itu apa nggak nyelekit coba? Terus foto sana sini, gitu itu juga nggak ngelihat Intan sama sekali. Lupa atau gimana itu cowok!?
Ya kalau Enggar tipikal cowok dingin Intan masih bisa terima di cuekin. Lah? Enggar? Dia itu cowok yang gimana gimana juga humble. Ceria, apaya? Ya gitulah.
Terus kenapa kemarin jadi nggak punya hati gitu?
Intan termenung sejanak sebelum putaran kenangan kecil bersama Enggar lewat dipikirannya, seolah itu adalah iklan yang tanpa permisi muncul.
Awal bertemu, kuncir rambut, kertas ekstrakurikuler, berakhir pada pertemuan di ruang ekstrakurikuler melukis. Lalu membuat janji dan Enggar meninggalkan Intan demi Meli.
Dan putaran memori itu menghempaskan Intan pada tebakannya bahwa Enggar suka kepada Meli.
Meli.
Terlihat seperti lebih dari sebuah persahabatan. Kembali Intan terjebak dalam lamunannya, apa benar dugaannya terhadap perasaan Enggar?
Lalu, apa ia hanya objek pelarian atas cinta bertepuk sebelah tangan?
Lagi, ia mencoba berpikir dua kali, sampai sebuah keputusan bulat sudah menjadi tekatnya.
🖤🖤🖤
Kebetulan itu kadang memiliki dua dampak, menyenangkan atau malah menyedihkan.
Contoh kebetulan yang tidak mengenakan adalah yang sedang Intan alami.
Ia terjebak di toilet cewek hanya karena takut keluar untuk menghadap sesosok kakak kelas paling mengerikan di sekolah. Kakak kelas paling ceplas ceplos, nggak punya hati atau sifat buruk bad girl lainya yang sering diceritakan di novel novel remaja.
Nana dan geng-nya malah asyik ngobrol sana sini ngomongin doi-nya.
Intan bergerak gelisah saat Nana sedang ngidam main main sama adik kelas.
"Seru kali, coba deh cek semua bilik." Nana berujar tegas dengan nada mengerikan menurut Intan.
"Boleh sih," sahut temanya.
Lantas suara pintu yang di dobrak satu per satu membuat Intan makin berkeringat. Namun, lagi lagi sebuah kebetulan menyelamatkan dirinya.
Bunyi bel masuk yang sangat merdu sekali membuat Intan menarik napas lega. "Ah, pelajaran si Marta lagi. Tuh guru nggak ada keseleo atau jatoh biar nggak ngajar gitu?"
Temanya tertawa lalu menjawab. "Doanya sayang, yang bagus."
Suara mereka semakin hilang, tanda mereka sudah menjauh dan pergi dari kamar mandi perempuan ini.
Intan menoleh pada kran lantas yang kurang rapat saat sebuah suara pintu terbuka dari bilik sebelumnya.
"Mau mati gue. Kak Nana nyeremin tau!" suara cempreng cewek terdengar.
__ADS_1
Intan mengulum senyum, ia kira hanya dirinya yang terjebak. Ia sudah mau memutar knop pintu saat sebuah suara yang familiar memasuki indra pendengarannya.
"Lo kira gue nggak!?" mereka tertawa bersama sama.
Meli, dan temannya.
Intan menggigit bibir bagian bawahnya. Menimang nimang keluat lantas menyapa mereka berdua atau diam dulu. Menguping––
"Kalau ketauan Kak Nana lo mau nelpon Enggar nggak?"
Nah ini, Intan memilih menyimak dari dalam. Tanpa suara yang mencurigakan
Meli terdengar tertawa geli. "Ngapain sih? Kurang kerjaan?"
"Dih!" sahut temanya antusias, "lo berdua cocok banget sih. Apalagi pas kejadian sabtu kemarin. Gemesin!!"
"Nita! Ngapain lo ingetin gue!!" Meli memekik keras dengan sebal.
Sementara Intan masih diam menyimak. Pertanyaan yang muncul kali ini adalah, apa yang terjadi di pesta waktu ia sudah pulang?
"Untung pacarnya Enggar uda pulang waktu itu. Kalau enggak, gimana sih kira kira reaksinya liat pacarnya malah ciuman sama Meli yang cantek ini!!" Si Nita malah mengatakan hal itu dengan nada menggoda.
"Ck! Gue amplas mulut lo! Enggar cuman nggak sengaja kedorong terus pipinya nempel ke mulut gue! Itu bukan ciuman!!"
Ci...uman?
"Gue berani sumpah Mel, lo sama Enggar kemana mana juga cocok. Kenal dari kecil, bareng terus lagi, sama Enggar yang selalu bantuin lo, nggak mau nolak juga. Diem diem nih. Gue perhatiin lo sama Enggar, pas kemaren di acara pesta. Lo kan minta apa aja ke Enggar juga di turuti, sampe Enggar bela belain ninggalin pacar demi apa? Demi lo kan?" Nita tampak legah menjawabnya. Terdengar tepukan di bahu seseorang, mungkin Nita melakukanya kepada Meli.
Intan, disini ia sudah akan merosot ke lantai basah dibawahnya, tapi sekuat tenaga ia tahan karena ia harus menjaga agar dirinya tidak tertangkap basah oleh 2 kakak kelasnya ini.
"Nit, udah deh. Tiap hari aja lo bilang kek gitu ke gue!" Meli hampir berteriak karena sebal diceramahi.
"Ck!" Nita berdecak sebal, "dari semua sikap Enggar ke lo, itu udah buktiin kalo Enggar suka ke lo Meli, peka dong! Peka!!" Nita berucap gusar dan gemas bersamaan.
"Nggak, lo makin aneh. Mungkin gara gara kemasukan roh penjaga toilet deh."
"Melii!! Denger! Gue belom selesei!" Nita memekik menahan umpatan Meli. "Bisa aja Enggar suka ke lo, tapi dia nggak mau bilang gara gara nggak mau ngerusak hubungan sahabatan lo sama dia, Enggar mau bilang terus keduluan sama Raka atau mantan mantan lo sebelumnya. Gue sering kok baca cerita kek gini di Wattpad! Jangan remehkan pembaca wattpad kek gue, gue udah bisa menebak kearah mana cerita ini bakal berlanjut. Ini alasan yang pasti sama di setiap percintaan antara 2 sahabat."
Intan tidak lupa jika dirinya sering membaca cerita seperti itu. Favorit mungkin, tapi ayolah. Apakah benar itu akan terjadi di dunia nyata ini?
"Enggar udah ada Intan Nit, lo gausah mikir aneh aneh!" Meli menghela napas secara cepat. Terdengar gusar dan entahlah, Mungkin bingung.
"Gimana kalo Intan cuman pelarian? Enggar ngelampiasin semuanya ke Intan?"
Ruangan itu hening seketika, Meli tak mau bersuara, sementara Intan tengah menahan air mata.
"Bu Ketua Osis, lo bisa narik Enggar perlahan. Dia sahabat lo, sahabat hidup, bukan lagi teman hidup."
Fiks, kalau memang mulai detik itu diadakan sebuah ajang mempertahankan Enggar dan merebut Enggar. Intan masih kuat menahan genggaman tangan Enggar saat itu juga.
🖤🖤🖤
__ADS_1