MEI

MEI
15. Daun Itu Berpulang Pada Tuannya


__ADS_3

Today


Kak Enggar:


•Tan, :))))))


•Bersiaplah.


Intan:


?


Kak Enggar:


Pangeran berquda vutih akan datang menjemputmu.


Intan:


Iya.


----


Selepas menjawab guyonan receh Enggar ia memilih membiarkan hpnya teregletak diatas meja. Lalu ia menoleh pada Mia yang sudah membereskan buku bersiap pulang.


Bahar segera memimpin doa untuk pulang. "Persiapan!"


Bahar berteriak, suaranya serak. Kata Mia itu gara gara Bahar kebanyakan makan gorengan Bu kantin.


"Berdoa mulai."


"Selesai!"


Semua siswa bangkit, bersalaman dengan guru didepan lalu keluar kelas dengan perasaan gembira.


Mia buru buru menyikut perut Intan saat melihat di dekat pintu ada sesosok kakak kelas yang 2 bulan terakhir jarang muncul dihadapan mereka. "Ada Kak Enggar," bisik Mia pada Intan.


"Hah?" Intan gelagapan lalu menoleh pada pintu. Cowok itu sudah didepan sana sambil menyapa satu per satu teman sekelas Intan.


"Selamat jalan, terimakasih telah berbelanja di Indomaret. Silahkan datang kembali," Enggar menirukan ucapan Mbak Indomaret di perempatan Kembang Kuning.


Beberapa dari mereka terkekeh pelan. Sementara Intan menelan ludah berkali kali, sial, ucapan cowok itu di chat tadi ternyata tidak salah.


"Hay! Ciao! Hello!" sapa Enggar saat tau Intan yang lewat, "Miabi Intan punya gue hari ini. Bay!"


Enggar buru buru menarik Intan dan menjauh dari Mia yang kesal akibat dipanggil Miabi.


Intan masih terpaku atas kedatangan Enggar dan kini cowok itu malah menarik tanganya membelah kerumunan siswa yang berlalu lalang.


"Cie, udah jadian nih?" goda teman perempuan Enggar yang lewat barusan.


Enggar terkekeh lalu mempererat genggaman tangan. "Heheh, bentar lagi. Doain diterima ya Ni."


"Amin!"


Intan mendadak berkeringat, jantungnya berdegup kencang, sepanjang perjalanan ia hanya fokus memandang wajah Enggar saja.


Bahkan sampai di parkiran dan sampai Enggar memakaikan helm dikepalanya Intan tetap mematung menatap Enggar.


"Naik Tan," Enggar memecahkan konsentrasi Intan.


Cewek itu mengerjap lantas menatap heran Enggar yang tersenyum padanya.


"Kak? Sehat?"


"Gue gak bakal baik baik aja kalo lo liatin gue terus kek tadi," jawab Enggar lalu mengancingkan kaitan helm Intan dengan seksama dan sengaja pelan pelan agar ia bisa lama lama memandang Intan dari jarak dekat.


"Ah? Gue ngeliat lo? Bisa buta gue!" Intan menyergah dengan gelagapan.


Tapi cowok ini malah terkekeh, "iya, cinta itu emang buta Tan."


Intan menelan ludah, percuma juga jika ia ingin menyahut dan mengajak Enggar berdebat kembali. Toh cowok ini pasti akan menang.


"Yaudah ayo!" ajak Intan buru buru. Ia tak mau kepergok dan disudutkan seperti barusan.


"Kemana?" tanya Enggar pura pura tidak tahu.


"Kemana? Kan lo yang ngajak," Intan lalu naik ke boncengan sesudah Enggar naik.


"Telpon mama lo dulu deh. Ijin mau keluar sama suami," Enggar sudah tertawa menyebalkan saat ini, lalu ia mengenakan jaket abu abunya.


Tapi Intan hanya menurut dan memberi tahu akan pulang dengan teman pada mamanya. Sehingga wanita itu tidak perlu repot repot menyuruh siapapun untuk menjemputnya.


"Udah, ayo," Intan menepuk tas Enggar kuat kuat.


"Beneran mau diajak jalan sama gue nih?" tanya Enggar memastikan. Ia kemudian menyalakan mesin motor.


"Jalan?" tanya Intan tidak mengerti.


"Iya, ini mau jalan jalan kita," Enggar bicara lantang melawan suara mesin motornya.

__ADS_1


"Nggak ah, anter gue pulang langsung! Udah capek."


Enggar tertawa lalu menjalankan motor melewati gerbang sekolah. "Percaya satu hal."


"Apa?" Intan bertanya sambil memandang pantulan wajahnya pada helm Enggar.


"Kalo lo di deket gue niscaya capek lo bakal ilang," Enggar berkata percaya diri.


"Gak ih, yang ada bawahanya gue makin kesel sama lo."


Enggar tertawa atas jawaban Intan barusan. "Oh ya Tan. Coba cek saku jaket gue, ambil hp gue."


Intan sedikit mendekat lalu merogoh saku Enggar. Benda pipih itu ada di genggamanya.


"Cek home screen hp gue."


Intan menurut, saat ia menyalakan hp Enggar yang muncul adalah gambar salah satu scene film Dilan dimana Milea memeluk Dilan diatas motor.


"Dilan?" Intan memandangi wajah Iqbal dengan senang hati.


"Yang dilihat Mileanya aja. Dilannya jangan. Gue lupa belom sensor wajah si Dilan," Enggar mendengkus, pasti Intan tengah memandang Iqbal mati matian.


"Kenapa Milea?" tanya Intan penasaran.


"Lo gak mau kayak mereka? Si Milea meluk Dilan?" Enggar sudah tersenyum penuh kemenangan.


"Enggak ah. Milea mau meluk soalnya Dilan kan cakep. Lo? Udah kek dengkul kecoak tau!" Intan berkata sebal lalu memandang nanar pesan yang muncul di papan notifiksi barusan.


Dari Meli.


Ia lalu menyimpan hp Enggar kembali ke saku jaket.


🖤🖤🖤


Enggar tidak mengajaknya keliling kota atau ke mall mengunjungi time zone. Ia malah mengajak Intan ke perpustakaan kota untuk mencari novel sebagai bahan untuk tugas bahasa Indonesianya.


"Duduk disitu Tan!" Enggar berbisik lalu menunjuk meja bundar untuk 4 orang. Perpus lumayan sepi, karena ini adalah hari kerja.


Mungkin perpustakaan kota akan ramai jika akhir pekan atau hari libur.


Saat mereka duduk Enggar bukanya mengeluarkan buku dia malah menopang dagu memandang Intan dihadapannya.


Sadar diperhatikan Intan menoleh, "udah kerjain pr nya!"


"Bantuin."


Intan berdecak sebal. Ia tadi sempat memilih milih novel untuk dibaca tapi sekarang niatanya untuk membaca harus tertunda untuk meladeni Enggar.


"Kak!"


"Iya, iya."


Suasana meja itu lenggang sejam kemudian, Intan fokus pada novelnya, dan Enggar fokus pada pr-nya. Ya walau sekali kali fokusnya tergantikan oleh wajah Intan yang sedang fokus pada novel romantis di tangannya.


Sesekali cewek itu tertawa, tersenyum lalu malu malu dan pipinya merona.


"Gemesin," Enggar bergumam lalu kembali semangat mengerjakan pr. Ya, karena ia punya bahan pembicaraan setelah pr ini selesai.


Setelah 15 menit berlalu, Enggar mendongak dan mengucap syukur atas selesainya pr miliknya.


"Tan, udah," kata Enggar berniat mengajak Intan bicara.


"Iya." Intan menjawab pendek.


"Udah."


"Hm."


"Intaaan...." Enggar menurunkan buku dihadapan Intan lalu memandang Intan serius.


"Iya, apa?" Intan memandang aneh kearah Enggar. Cowok itu memandang dirinya dengan serius dan sedikit tegang.


"Gue mau ngomong. Dengerin gue," Enggar menarik novel Intan agar cewek itu tidak kabur ke dunia non fiksi itu.


"Iya apa?" sebal karena novelnya diambil Intan menjawab.


"Gak tau mau ngomong gimana sih. Tapi harus banget gue omongin."


Intan mendadak juga ikutan tegang. Apa ini? Pembicaraan serius yang dimaksud Enggar jangan jangan.


"Lo mau jadi...."


Enggar mendadak grogi, entah memang benar jika cowok akan kelihatan bego dihadapan cewek yang ia suka. Coba kalian tanya ke teman cowok kalian.


"Iya apa seh?" Intan  ikut pura pura tidak tau dan bodoh. Padahal 100% ia tau Enggar akan bicara apa.


Ia menoleh ke arah lain lalu bicara dengan cepat. "Lo jadi pacar gue ya?" Lalu ia menggaruk garuk kepalanya.


Intan lalu ikut menoleh kearah apa yang Enggar lihat. "Lo nembak mbak mbak yang disana?"

__ADS_1


"Bukan, gue ngomong kek gini ke lo Intan Permata."


Kini giliran Intan yang salting dan menatap kearah lain. "Ekhm, harus banget dijawab sekarang?"


"Gue nanya kek gini udah 2 bulan yang lalu, lo mau gantung perasaan gue berapa lama lagi Tan?" tanya Enggar dengan wajah seriusnya.


Jujur saja, melihat wajah Enggar yang biasanya jenaka dan kini berubah serius membuat hatinya meletup letup. Cowok ini akan tampan 2 kali lipat jika serius begini.


"Tan?"


Intan berdehem pelan lalu terkekeh garing. Ia benar benar salting saat ini.


"Iya iya, lo kerjain dulu deh pr lo." Intan menuding nuding buku bahasa Indonesia milik Enggar. Berharap ia bisa sedikit lari dari pertanyaan Enggar tadi.


"Udah, udah gue kerjain, selesei semua." Enggar membuka bukunya lalu menunjukan hasil kerjanya.


"Oh! Tadi hp lo geter bolak balik, cek dulu deh."


"Intan Permata Areta," Enggar memanggil nama lengkap Intan, "Jawab pertanyaan gue dulu dong."


Lagi, Intan terkekeh garing. "Iya iya, lo cek pesan dulu. Pas lo ngecek gue mikir jawabanya."


"Intan, pertanyaan gue simpel. Lo cukup jawab iya atau oke. Ini bukan pertanyaan X + 2Y diakar 2 hasilnya berapa," Enggar meraih hp lalu menggelengkan kepala tidak mengerti.


"Buruan!"


Enggar menurut lalu larut pada membalas beberapa pesan dari temanya. Juga pada Meli yang merengek minta dibeliin martabak.


Meli


•pen martabak :"


En


•duit?


•beliin.


•sorry uang gue dah habis gara gara lo -_


•lo dmn? Lagi apa?


  Sejak kapan? Sama siapa?


  gimana keadaan sekitar?


  berapa lama lagi lo bakal


  pulang?


•lengkap bat kalo nanya


•karena gue memang lagi


kesepian.


• Pacar lo kmn?


•sibuk 😣


•gue juga bye sayang!!


•apasih


-----


Enggar meletakan hpnya lalu tersenyum miring menyudutkan Intan. Ini dia, ia akan mendengar jawaban Intan yang akan sangat ia tunggu tunggu.


"Gimana? Iya apa oke?"


"Itu pilihan yang maksa." Intan memanyunkan bibir


"Iya udah apa?"


"Merem dulu!" perintah Intan yang disambut Enggar dengan senyum miring.


"Apanih? Lo mau jawab dengan berupa ciuman?"


"Ish! Merem!"


Enggar menutup mata sambil menopang dagunya, namun mulutnya terus terkekeh. 10 detik tak ada apa apa yang terjadi. Malahan ia mendengar lagkah kaki orang yang menjauh.


Ia langsung membuka mata dan mendapati punggung Intan yang sudah menjauh.


"Eh Tan!" Buru buru Enggar bangkit dan menarik tas, tapi gerakannya tertahan. Ada selembar daun diatas meja. Daun coklat dengan tulisan rapi diatasnya.


Tulisan yang membuat Enggar jadi tersenyum senyum sendiri.


I'm yours. I love you.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Me: Panjaaaang! Btw, doain langgeng. 💟


__ADS_2