
🖤🖤🖤
Hari itu, hari dimana alam mencoba membuat ia tersenyum dengan cara paling sederhana.
Selepas pelajaran olahraga usia, Intan duduk ditepi lapangan.
Ia membiarkan ikatan rambutnya agak kendor. Kali ini fokusnya hanyalah area leher yang sangat enak bila di kipasi.
"Mau ngantin nggak?" Mia bertanya kearah Intan.
Intan mendongak. "Makan bakso yuk?"
Mia mengangguk. Mereka berjalan bersama ke kantin tanpa tahu ada sesuatu yang terjatuh.
🖤🖤🖤
"Sumuk gilaa!!" Intan mengipasi area lehernya. Ditambah dengan pedasnya kuah bakso membuat keringat mengucur dengan deras.
"Makanya iket tuh rambut," celetuk Mia membuat Intan tersadar sesuatu.
Ia meraba raba rambutnya. "Ihh?? Mi, iket rambut gue mana?"
"Ya mana gue tahu Tan." Mia menyeruput es jeruknya dan menggeser mangkuknya yang sudah kosong agar menjauh dari hadapan.
"Ihhh, jangan jangan jatoh tadi!?"
Mia memanyunkan bibir sembari mengingat ingat, "hayoloh! Kalo ketahuan guru piket lo bisa kena poin! Kan aturanya rambut dibawah sebahu wajib diikat Tan."
Intan berdecak, "ya makanya gue panik Mia, ya gara gara itu."
"Udah ah, minta bu kantin karet cabe kan bisa?" sarannya membuat Intak menoleh secara dramatis.
Intan melotot, "enak aja! Sakit tau!"
Mia terkikik dan bangkit, keduanya meninggalkan kantin, sementara mata Intan terfokus pada jalanan. Mungkin ia bisa menemukan ikat rambutnya.
"Udah Tan, minta ke Nadia kan bisa, dia bawa karet kecil kecil itu loh. Minta pasti dibolehin." Mia membujuk temanya agar tidak terlalu berlebih-lebihan mencari ikat rambut.
Intan berdecak kembali. "Sayang tau Mi. Itu oleh oleh tetangga habis liburan dari Bali. Coraknya juga bagus."
"Terserah deh, tuan putri mau apa." Mia pasrah, adu mulut dengan Intan tak ada gunanya, ah, bukan, Mua hanya sedang malas membuka mulut.
"Ayo anter ke lapangan Mi, kali aja jatuh disana."
Mia mengangguk-pasrah. Sudah ia bilang, ia tak mau adu mulut. 2 sosok remaja itu berjalan menyusuri koridor dan melangkah menuju lapangan sekolah.
Sesampainya sisana, keduanya kini mengedarkan pandangan ke penjuru lapangan. Ada segerombol kakak kelas yang main sepak bola.
"Ihh kok nggak ada ya Mi?"
Mia kini terfokus pada kakak kelas yang kini sedang berlari lari menggiring bola. Tanpa mengalihkan pandangan ke cowok tadi Mia menoel noel lengan Intan. "Tan liat! Liat?"
"Apasih!?"
"Itu, kakak kelas!"
"Mia, gue mau nyari iket rambut, bukan mau liatin kakak kelas."
Mia kali ini berdecak dan menghampit kedua dagu Intan untuk dihadapkan kepada kakak kelas tadi. "Liat! Itu yang lagi nggiring bola!"
__ADS_1
"Ish kenapa emang?" Intan kemudian berdecak sewot.
"Dia rambutnya diiket, dan liat lebih detil beib. Dia pake kuncir lo!" Mia, entah bagaimana bisa matanya setajam itu dalam memperhatikan sesuatu.
Intan membulatkan mata lantas mempertajam penglihatan. Benar saja, ahh sialan.
Kakak kelas tadi menggiring bola lantas menendangnya ke gawang. Tepat sasaran, bola itu melesat dengan sempurna.
"Yoi! Makin jago aja lo!" kata teman temanya sembari ber tos ria dengan bangga.
"Padahal juga kemaren pala lo kena bola liar langsung ingusan."
"Weh gue mesti bangga apa kesindir nih?" kakak kelas berkuncir tadi menunjukan mimik memelasnya.
"Gue break bentar nih." Cowok itu lantas duduk ditepi lapangan dengan posisi kedua kaki lurus dan kedua tangan menopang tubuh
Lain tempat, Intan mendesah. "Mia!! Gimana ini?"
Mia tampak acuh, dia duduk di bangku panjang. "Gue tunggu sini."
"Anteriiinnn!!"
"Tan, buru deh. Ada guru piket keliling tuh!" Mia tak main main, dia menunjuk guru wanita dengan badan gemuk tengah berjalan santai untuk berkeliling.
"Aih!!" Intan memiringkan seluruh rambutnya ke bahu kanan lantas menggenggamnya.
"Mia. Ayo dong!" rengek Intan dengan mata dibesarkan. Membuat pose imut agar Mia luluh.
Mia tampak lebih acuh, dia membuka hp lalu sibuk menggulir layar, dia kemudian tertawa melihat sebuah vidio prank.
"Ihh!" kesal dan kepepet alias terpaksa, Intan mendekat ke pinggir lapangan. Jantungnya berdetak kencang akibat gugup dan takut.
"Hem? Apa fans ya?" kakak kelas tadi tampak PD, kemudian ia menyugar rambutnya dengan jemari tangan.
"Eung bukan, itu...," tunjuk Intan ke rambut kakak kelas tadi. "Kuncir aku di pake kakak."
Cowok itu lantas bangkit dari duduknya. Sayang, tinggi mereka tidak sama, si cowok terlampau tinggi.
"Masa?"
"Iya, tadi aku nggak sengaja jatuhin. Terus mungkin di temuin kakak."
Cowok tadi tersenyum, seketika wajah Intan terasa panas. Bagaimana bisa senyum itu berdampak sangat besar? "Oh gitu."
"Boleh aku minta?" tanya Intan ragu.
Kakak kelas mengambil ikat rambut di kepala, membuat rambut hitam lebat miliknya kelihatan, mungkin sudah saatnya dia potong rambut.
"Nih, jangan jatuhin lagi." Si cowok hendak memberikan ikat tersebut namun tertahan karena sorak teman temanya terdengar.
"Wahh Enggar! Gila aja, Meli di kemanain gini ini?"
"Nggar! Lo ketua-an buat dia. Bagi buat gue dong! Gue masi muda nih."
Cowok itu menyahut kearah teman temanya, "lanjut main sana!!"
"Eungg... Kak?" Intan memandang ikat rambutnya mengambang beberapa senti diatas telapak tanganya yang sudah siap menerima.
"Oh, sorry," katanya. "Mau kuncirnya balik?"
__ADS_1
"Iya, kalo rambut aku keurai entar kena poin." Intan menjelaskan lebih detil mengenai peraturan sekolah tentang rambut terurai yang mungkin belum diketahui banyak cowok
"Balik badan dulu," katanya dengan lembut.
"Eh, kak–-"
"Mau cepet balik kan iketnya? Makanya balik badan dulu."
Intan menurut, ia memandang kearah dimana Mia berada, sial. Cewek itu malah mengangkat ponselnya, kenatara sekali bahwa ia sedang bermain main dengan kamera. Pasti dia mendokumentasikan wajah buluk Intan saat ini.
Sebuah tangan menjumput satu persatu rambut milik Intan. Cewek itu terkesima, sentuhan itu seolah memberi getaran pada darahnya.
"Lo punya kakak?" tanya si pengikat rambut dengan pelan. Suaranya bahkan selembut angin.
"Eh? Eng...nggak ada. Anak tunggal." Ingan berkata terbata bata. Mulutnya sedang bodoh.
"Pernah diiket rambutnya sama ayah?"
Intan menggeleng, "ayah jarang dirumah."
Kakak kelas itu terkekeh, lantas mengikat rambut Intan dengan kuncir yang tadi ia letakan diantara kedua bibirnya.
"Nggak mau ucapin selamat?" Dia tersenyum senang. Untungnya Intan tidak melihat senyuman itu.
Inta menunjukan wajah bingungnya, "selamat buat?"
Cowok tadi mendekatkan bibirnya ketelinga Intan. "Gue cowok pertama yang ikat rambut lo."
Intan menelan ludahnya secara kasar. Lantas tubuhnya diputar oleh si kakak kelas. Matanya kontan beradu dengan iris bening itu.
"Sayang banget."
"Ngg?"
"Sayang banget lo pake baju olahraga, kalau pake putih abu abu pasti gue udah tau nama lo."
Intan tertawa garing, gugup melanda setiap inci permukaan kulitnya. Bulu kuduknya ikutan berdiri.
"Ikat rambutnya jangan sampe jatuh ya?"
"Iya makasih kak. Permisi." Intan hendak segera pergi, agar kebodohannya dalam bergerak tidak disadari oleh cowok ini.
Intan mengangguk lantas berbalik, tapi tertahan karena si kakak kelas menahanya.
"Eh tunggu!"
Intan menoleh pelan. Cowok itu menunjukan senyum merekahnya.
"Kalo hati lo mau jatuh biarin ya?"
Dan senyum sederhana itu timbul. Ahh Mia, dia punya vidionya kan?
🖤🖤🖤
*Me: Sudahlah mblo. Cowok kek yg diatas itu gabakal ada di dunia nyata :"
Mentok mentok hari ini ngebaperi, esoknya di hilang ditelan bumi.
Tokoh selanjutnya siapa*?
__ADS_1