MEI

MEI
14. Membuka Hati


__ADS_3

November, tahun ini.


Lapangan sepak bola tampak ramai di dominasi suara pekikan cewek cewek yang menyemangati teman temannya.


Tapi tidak semua demikian, terbukti dari beberapa gelintir siswi yang memilih untuk menepi dibawah pohon dan membicarakan topik topik menyenangkan.


"Mantan gue tuh pernah ngasih gue boneka **** gede gitu. Eh besoknya ngajakin putus," Tiara menyahut.


Mia terkekeh pelan, ikut membicarakan mantan mantanya.


Sementara Intan, ia mendengkus sebal. Mana bisa ia ikut bicara jika ia tak punya bahan obrolan berupa mantan.


"Sebenernya, gue putus gara gara Feri sering jalan sama Gia. Lo tau kan?"


Nah, sekarang mereka malah membahas Gia yang entah siapa itu Intan tidak kenal.


"Gue pernah sih sekelas sama Gia waktu SMP. Tapi ya gitu, dia emang ganjen ke cowok," Mia menambahkan.


Olahraga mulut tak dapat dihindari di lapangan itu, sementara suara bola yang ditendang dengan keras terdengar.


Mia memekik keras saat bola dari anak laki laki itu terlempar keras ke punggungnya, "Sialan!"


Baju olahraga miliknya kotor oleh debu, Mia bangkit dan langsung melotot kearah Deni yang malah cengengesan.


"Lo udah siap mati? Hah!" Mia berteriak kian sebal, andai saja ada Pak Rio ada disini untuk mengajar kelas olahraga, mungkin Mia akan segera mengadu.


"Udah ih, Mi, gausah ribut!" Intan ikut bangkit menahan Mia yang hendak mencakar Deni.


"Ya! Sialan."


"Udah ayo ambil minum ke kelas aja. Yuk, udah lo ngeladeni anak cowok nggak ada habisnya. Lihat! Deni bakal kek gitu terus." Intan memilih menarik Mia menjauh, menaiki anak tangga dan masuk kekelas untuk mengambil air putih.


"Udah Tan, minta air putih lo."


Intan hanya berdiri di tepi meja sambil menunjuk loker mejanya, menunjukan letak botol minumnya. "Ambil aja." Intan menatap jendela kelas.


"Eh, apaan nih? Lo kok nyimpen sampah daun?"


Mendengar itu, Intan noleh dengan nge gas. "Sini sini!"


"Buat apa?"


"Gausah kepo, sini ih!"


Mia dengan cemberut menyerahkanya, ia lalu menegak air didalam botol untuk meredakan emosi.


"Gak balik ke lapangan?" tanya Intan sambil memandang ke daun ini.


"Gak ah, Pak Rio juga nggak masuk, mending sini. Tiduran sama hp an. Bye gue mau stalking my bias!!"


Intan mendengkus, "Oke, gue keluar bentar, mau lihat anak anak dilapangan."

__ADS_1


Mia hanya berdehem sebagai jawaban. "Dasar."


Ia menatap ke lapangan yang ia lihat dari balkon lantai 2. Masih dengan keadaan yang sama. Kini ia menepi ke pembatas balkon menyadarkan siku tangannya ke permukaan pembatas balkon.  Tapi fokusnya berubah, ia memandang kearah daun coklat yang mengering.


Dari jauh, gadis dengan rambut terurai berjalan dengan setengah meloncat, entah bagaimana ia tidak takut bila bertemu guru piket dengan rambut terurai. Ia melangkah melewati Intan tapi ketika sadar ia langsung berhenti dan melangkah mundur.


"Intan?"


Intan langsung menoleh, menatap aneh ke arah kakak kelas ini. "Iya?"


"Tunggu, gue peramal yang hebat. Dari muka lo, lo bingung kan siapa gue?" tebaknya tepat sasaran.


Intan buru buru terkekeh lalu mengangguk, "iya maaf gue agak nggak inget."


"Tenang-tenang, gue santai kok. Lo inget gue pas itu di depan kelas si Enggar? Ya bukan kelasnya Enggar juga sih, cuma yaudah pokonya gitu. Inget?"


Intan memutar otaknya, mengingat lalu mengangguk, "Iya, lo temenya Kak Enggar?"


"To be honest, gue gak terlalu suka disebut temen dia," ucapannya dengan sebal, "Tapi okelah, gue Anya," dia memperkenalkan diri dengan semangat.


"Kak Anya?"


"Yup, lo ngapa bawa daun?" Anya menatap aneh kearah benda yang dibawah Intan.


Intan langsung menyembunyikan daun tadi dibalik punggungnya. "Ah, enggak. Ini cuman buat eh, gatau deh," Intan memilih membuang muka kearah lapangan, teman temannya masih tetap melakukan kegiatan sebelumnya.


"Ohhh! Gue inget! Jangan jangan itu dari Enggar ya?"


Lagi, Anya berhasil menebak dengan benar. "Kok? Lo tau?"


Intan tersenyum atas argumen Anya, "Btw Tan. Lo kenapa akhir eh bukan sih, dua bulan lebih lo keknya nggak kontak sama Enggar. Gue bener?"


"Iya, emang gitu."


"Kenapa? Apa lo udah ilfeel ke Enggar? Kalo dipikir ulang sih emang dia alay sih," Anya bergidik kemudian, ia mengingat, dulu Enggar pernah ngupil dengan khidmat dihadapannya.


"Bukan apa apa kak."


"Gue udah bilang kan. Gue peramal hebat, lo barusan bohong udah keliatan," Anya tertawa atas tebakannya yang memang tak bisa dipungkiri benar adanya.


Intan diam, apa yang diucapkan Anya selalu benar. Apa memang kakak kelas ini punya kekuatan?


"Atau gara gara Meli waktu itu? Gue bener lagi kan?" Anya menaikan alisnya, "Oh Tan, lo bahkan nggak punya kesempatan buat ngelak. Buktinya ya, waktu itu. Pas lo liat Enggar sama Meli pelukan lo tuh kek panas gitu, kecewa sakit hati, cemburu. Lo suka ke Enggar but kehalangan Meli."


"Enggak enggak, lo kali ini salah. Nggak bakal gue suka ke Kak Enggar dan enggak merasa kehalang Kak Meli," Intan menyela tidak setuju.


"Hey, c'mon baby. Coba pikir. Nggak ada rasa cemburu kalo nggak didasari sama rasa sayang."


Intan diam tak menjawab, entah bagaimana bisa ia kebetulan bertemu kakak kelas ini ditengah gaduhnya suasana hati memikirkan pertanyaan Enggar yang selalu berputar di benaknya.


"Kalo emang lo suka ke Enggar, lo harus nerima dia Tan. Lo harusnya jagain Enggar, lo jangan mau Enggar di apayah, intinya Enggar tuh kek dikekang sama Meli, lo tau kan? Jujur sih, gue emang nggak suka sama cewek alay dan manja kek dia. Oke?"

__ADS_1


Ceramah padat dan singkat dari Anya memenuhi otaknya. Kakak kelas itu megakhiri obrolannya karena harus fotokopi tugas guru. "Inget ya Tan. Lo bisa bersaing sehat disini."


🖤🖤🖤


Keadaan kelas yang ribut diakhir jam jam pulang memang menawarkan sensasi menyenangkan. Ada yang memilih tiduran menunggu bel pulang. Ada yang main game dan membentuk koloni pojokan.


Ada gerombolan tukang ngomongin orang. Serta beberapa helai cowok yang bermain pesawat kertas.


"Sasaran kepala Tina. Kalo kena gue kasih nomer sepupu gue," Genta berkata antusias.


"Ck! Gue gue! Tapi hadiahnya diganti traktir bakso Gen," Enggar langsung ambil antrian terdepan.


"Dikasih hati minta pankreas. Lo nggak mau nomer sepupu gue?" ulang Genta tidak percaya.


"Inshaf gue. Gaboleh selingkuh dari pacar gue," Enggar berkata lantang tak peduli hujatan Reyan yang mengingatkan bahwa ia masih jomblo.


Namun, sasaran Enggar tidak tepat sasaran, ia malah menghantamkan pesawat tadi kearah lain. Ujung pesawat itu malah menghantam kelopak mata Anya.


"Ahh!" Anya memekik karena matanya perih dan cenut cenut.


"Enggar Nya, Enggar!" Genta langsung berteriak.


Anya langsung nge gas noleh dam memincingkan mata menatap Enggar sebal. "Heh! Hari ini tuh gue udah melakukan sebuah kebaikan ke lo. Dan lo malah jahatin gue?"


Enggar terkekeh-kekeh tidak jelas, "berisik Nyai, kematian lo udah deket sampe lo buat kebaikan?"


"Oh! Lo nggak percaya?" tantang Anya sambil melipat lengan.


"Apa?"


"Gue punya kabar bagus buat lo, dan gara gara lo nyebelin gue urung ngasih tau," Anya mendengkus kemudian. Ia akan menang melawan Enggar kali ini.


"Oh, kabar apa? Bh lo udah ganti warna?" Enggar membuat Anya malu dihadapan teman temannya.


"Sialan! Oke, gue tadi liat Intan."


"Boleh dilihat asal jangan ditikung. Siap?" tanya Enggar  dengan cengiran lebarnya.


"Dia bawah daun tuh, lagi galau kira kira kenapa ya?"


Enggar yang tadi sempat ketawa tawa kini terbungkam lalu melontar senyum ke Anya. "Anyaa, yuhu si cantik  gimana gimana? Cerita ke abang dong."


Kini Anya malah tersenyum miring, untuk yang ketiga kalinya ia menang melawan Enggar berdebat.


"Oh, gimana ya? Gue mesti  baik ke lo atau bales?"


Enggar menoleh pada Reyan, "Yan ambilin Fanta di tas gue! Lempar!"


Reyan sigap melempar lalu diterima Enggar tepat sasaran. "Minun Nya, ini gue baru buka segel, belom minum."


Anya kini merasa diatas awan, menyenangkan sekali melihat Enggar bertekuk lutut dihadapannya. "Gue punya ide sih."

__ADS_1


🖤🖤🖤


Me; allo!!! Part ini banyak typo soalnya buru2.


__ADS_2