
🖤🖤🖤
Pagi ini, Intan memilih enggan masuk ke sekolah, rasa nyeri di perut adalah alasan utama, sementara rasa pening yang selalu muncul menjadi alasan berikutnya.
Menatap kosong televisi sambil mendengarkan mamanya menelpon papanya menjadi kegiatannya kali ini.
"Tan." Mamanya memanggil sambil menjalanka kursi rodanya untuk mendekat. Ternyata dia sudah selesai urusan dengan sang papa.
"Em?" sahut Intan sambil menengok.
"Cerita ke mama gih," ucapannya membuat Intan menoleh dengan alis tertaut.
"Minta di dongengin?" tebakan asal itu muncul, tanpa pikir panjang.
"Dih, bercandamu garing. Pacarmu? Gimana? Udah berapa lama? Gimana dia nembak kamu? So sweet gak?" pertanyaan beruntun itu langsung membuat pipinya merona karena malu.
"Mama!!! Ih, itu katanya mau terapi? Nggak siap siap?" Memutar topik adalah alibi agar mamanya berhenti kepo urusan cintanya.
"Kok kamu puter pembicaraan? Jelasin gih, jelasin," Mamanya kian menggoda.
Intan membuang muka kearah lain, "Bu Ris kemana sih?"
"Yaudah sih kalo gak mau cerita, mama mau kesana dulu." Mamanya hanya tersenyum mengejek, sambil menahan tawa
"Mau dibantu?" tawar Intan baik baik.
Mamanya menggeleng pelan disertai senyuman khas miliknya. "Gausah, bisa sendiri."
Mamanya lantas mendorong kursi lewat alat disamping ban kursi roda ini. Intan hanya menghela napas sambil menoleh pada hpnya yang bergetar.
Kak Enggar:
•Tan, udah sehatan?
Intan:
•iya, udah.
Kak Enggar:
•ada kbr bagus, dengerin
Intan:
•gue gak denger suara lo tuh. Bisanya baca chat lo?
Kak Enggar is calling.
Nah mapus gue ditelpon.
"Hallo?" sapa Intan ogah ogahan.
"Barusan kan ada apel, kepala sekolah juga ngumumin siapa pengganti ketos tahun ini," Enggar bicara buru buru.
Intan melirik jam di dinding ruang tengah, jam ini berarti jam istirahat pertama. "Siapa? Kak Meli?"
"Bukan, Meli mah apa. Yang jadi si Ken. Lo tau?" kata Enggar dengan latar belakang suara riuh, mungkin cowok itu sedang berada di kantin.
"Oh, yang jago main basket itu. Gue tau, kan gue follow Instagramnya," diakhir kalimat Intan dapat menangkap helaan napas dari orang diujung sana.
"Intan sayang, dengerin ya? Bisa lo buka instagram lo. Terus, unfollow si kodok kering itu?" Enggar berkata sambil menahan kesal. Intan yakin jika ia dihadapannya akan tertawa sepuas puasnya.
Dia disini malah terkekeh, lantas menjawab pendek, "gak ah."
"Mata lo bakal sakit kalo lo kebanyakan liat postingan dia yang alay itu. Mending lo pantengin instagram gue. Oke? Denger kan baby?" Enggar berkata sok lembut lembut agar si lawan bicara mau menuruti permintaannya.
__ADS_1
"Enggak." Intan menjawab cepat dengan dengkusan sebal.
"Apa untungnya lo liat dia?" tanyanya kembali.
"Segerin mata, kalo dipikir-pikir, mata gue semakin sakit pas keseringan liat lo. Jadi intinya Kak Ken itu udah kek muka-muka malaikat, penolong mata," balasnya cepat, tidak terima cogan pujaan dihina.
"Intan, pacar lo ini udah sebelas dua belas sama Justin Bieber. Kenapa lo harus berpaling ke kodok kering kek dia?" Enggar berkata ketus diujung sana.
"Enak aja! Btw, kemarin ultah mama lo gimana?" seperti biasa, Intan memutar topik segera. Tak mau larut berdebat lebih dalam.
"Berjalan lancar, kalo lo udah sehat gue ajak ke rumah ya?" suaranya terlihat penuh harapan.
"Mama lo gimana orangnya Nggar?" tanyanya dengan nada sendu. Dibenaknya ia mulai berpikir jika Mama Enggar itu galak dan sebagainya.
"Emm, cantik sih Tan, pokonya lihat aja nanti. Eh gue udah bilang belum sih? Meli yang jadi wakil ketos," Enggar kembali berkata dengan sebal, seolah tidak terima akan kenyataan bahwa Meli adalah wakil ketua osis.
"Eh? Bener?" tanya Intan memastikan.
"Iya, terus yah, anak Osis mau ngadain pesta buat membuka tugas berat dia, lo mau ikut?" pertanyaan Enggar membuat Intan berpikir lebih dalam.
Intan terdiam sejenak sambil berpikir apakah ia harus ikut atau tidak, "em, ini kan buat anak kelas sebelas? Osis?"
"Enggak juga, lo hari ini bisa sehat nggak?" tanyanya aneh.
"Pertanyaan lo itu kak," ucapannya dengan menggelengkan kepala, "Aneh. Kek rasa sembuh itu bisa dipesan aja. Aneh juga lagian, masa gue nggak sekolah tapi malah ikutan pesta."
"Siapa yang mau ke pesta?" tanyanya dengan nada polos.
"Barusan lo ngajak kan?" Intan mendengkus diakhir kalimat.
"Pestanya besok sabtu Intan, gue nanya tadi soal mau ke rumah lo." Enggar kembali mengeluarkan nada mengejeknya.
Intan hanya menghela napas lalu menyuruh Enggar segera makan siang, kalau menurut perhitungan Intan, 5 menit lagi istirahat akan segera selesai.
"Gak Tan, percuma. Gue nggak mood gini ini," rengeknya diujung sana.
"Loh, bener, moodbooster gue lagi gamasuk. Sakit gara gara kemarin kram perut." Enggar berkata serius, ia ikut menghela napas saat itu.
"Oh ya? Siapa moodbooster nya kakak?" Intan mengulum senyum seraya berkata.
"Cantik orangnya, mau tau?" tanyanya balik.
"Iya sapa?"
"Selena Gomez," jawaban pendek Enggar itu membuat Intan mendengkus.
"Emang kemaren Selena Gomez sakit perut hah!?" bentak Intan sebal.
"Loh? Nggak tau?" Enggar berkata sok serius.
"Bodo amat," sahut Intan tambah sebal.
"Oh ya, buat pengalaman. Lo gak perlu terima bantuan dari cowok yang nggak lo kenal kemarin," nada suaranya kali ini benar benar serius. Bahkan Intan yakin raut wajahnya juga ikutan serius. Jujur Intan suka saat Enggar berwajah serius ataupun tegang.
"Gue kenal kok," Intan buru buru menyela saat ia sadar ia terlarut dengan suara serius Enggar.
"Siapa?" tanyanya dengan nada yang sama.
"Gue kenal dia pas tanya lokasi gudang belakang, buat nyari lo yang lagi ribut sama Kak Raka," jawabnya sembari mengingat wajah cowok kemarin.
"Gausa cari urusan ke cowok lain Tan, lo nggak tau kan niat dia kemarin murni baik atau malah ada maksud lain?"
Intan menghela napas, tak mengerti kenapa suasana tegang menghampiri setelah Enggar berkata dengan nada seriusnya.
"Gausa tegang deh, gue masih baik baik aja sampai sekarang. Oke?"
__ADS_1
Enggar ikut menghela napas. "Kemarin itu yang nolongin lo namanya Adit. Bukanya jelekin dia ya Tan, tapi emang dia jelek sih."
"Itu tetep aja lo jelekin itu orang!" Intan memekik sebal, " Lagian ya, nggak jelek kok. Gan––"
"Stop! Lo kemarin dalam keadaan nggak sehat, jadi mata lo nggak stabil. Eror, lain kali kalo udah sehat lo pasti nyadar," Enggar memotong ucapan Intan.
Sementara itu, Intan hanya memutar bola matanya, ia memindahkan telepon dari telinga kanan ke telingan kiri.
Setelah bercakap cakap untuk janjian sabtu akan pergi ke pesta perayaan kemenangan Ken dan Meli, Intan kembali mendumel pada Enggar untuk segera masuk karena barusan suara bel masuk terdengar.
"Iya, iya, ini juga telpon sambil jalan Tan." Enggar berkata dengan santai sebelum akhirnya telepon di jam istirahat itu berakhir.
🖤🖤🖤
Definisi pesta adalah ajang untuk berbahagia.
Tersenyum bersama sama, tertawa, menari mengikuti irama musik yang di putar cukup keras ke penjuru ruangan. Lantas ikut bernyanyi, atau menikmati setiap sajian yang tersedia.
Bukan seperti Intan saat ini. Malah termenung, menggigit roti lapis Surabaya yang terasa hambar akibat pemandangan tak menyenangkan dihadapannya.
Sekali lagi Intan menggigit dan mencoba merasakan enaknya roti ini. Tapi tetap saja tak berhasil dan malah ia kehilangan mood saat menatap Enggar yang sibuk bersama teman temannya di acara ini.
Memang ini adalah acara anak osis, tapi kenapa mereka harus melibatkan Enggar dalam mengurus berjalannya acara ini?
"Kenapa?" seseorang duduk disampingnya, bertanya keras untuk melawan suara musik yang memenuhi ruangan.
Intan menoleh cepat dan tersadar, orang ini bukanlah orang asing. Nyatanya Intan hanya terdiam selepas menoleh, tak berniat menjawab pertanyaan cowok ini.
"Semua anak juga tau, kalo pacar lo sama sahabatnya itu kayak orang pacaran. Cuman kehalang gengsi, sama enggak peka," ucapannya kembali, membuat hati Intan kembali teriris.
Padahal, kemarin saat ditelpon Enggar, Intan sudah berharap pesta adalah hal yang menyenangkan, buka malah duduk di pojok ruangan dengan kue lapis Surabaya bersama keadaan gundah gelisah serta hati yang entah tidak enak rasanya.
"Btw, kalo lo masih belum tau gue. Nama gue Adit," ia memperkenalkan diri dengan ramah.
Intan mengangguk. "Intan. Kakak kelas berapa?"
"Bahasa 2." Adit menjawab lalu menegak sirup pada gelas yang ia bawah.
Hening sesaat.
"Lo oke kan?" tanya Adit setelah melihat wajah Intan yang kembali lesu karena Enggar kini malah bergenggaman tangan dengan Meli dan nenari bersama sama.
"Emang aku kenapa?" tanya Intan pura pura tidak tahu.
Adit malah terkekeh, "harus ya? Lo pura pura kelihatan baik baik aja?"
Intan tercekat, Adit malah tersenyum melihat raut wajah Intan barusan.
"Harusnya lo lebih hati hati milih pasangan. Minimal cari pasangan yang nggak bikin lo makan hati tiap hari," Adit terus menyerangnya. Ada apa ini? Kenapa malah terkesan Adit menyuruh Intan untuk memutuskan Enggar?
Dari arah samping Intan sadar ada orang yang duduk dekat sekali dengannya, dan tangan orang itu memekuk Intan dari samping. Dari aromanya, Intan sadar orang ini adalah Enggar.
"Ekhm," deheman Enggar terdengar. "Pelayan, tolong ambilin minuman ya? Saya haus gara gara emosi liat pacar saya mau ditikung," Enggar berkata pada Adit dengan nada ketus namun wajahnya sok malaikat.
Intan menoleh dan menatap tajam ke Enggar. Ia buru buru melepas pelukan Enggar dari tubuhnya. "Kak!"
"Kenapa? Intan nggak gerah? Itu cowok disamping kamu itu kek iblis dari neraka. Panas."
Intan menyikut perut Enggar kuat kuat, tak lupa mata yang tambah melotot ia perlihatkan.
"Kak!" tegur Intan sekali lagi sebelum akhirnya Adit pamit pergi.
"Loh! Nggak diambilin minum ini pak!?" tegur Enggar dengan ejekan.
"Apasih kak!"
__ADS_1
🖤🖤🖤
Me: eumm, siapin hati aja. :)