
🖤🖤🖤
Raut khawatir tercetak jelas di wajah Mia kala memasuki UKS, ia berdecak lalu kembali menarik napas. "Kemaren kek nya lo gapapa deh Tan."
"Ya jelas, sekarang gue juga gak papa," Intan menjawab sambil mencomot roti yang diberikan oleh Mia barusan.
"Hah? Lo udah baikan?" tanya Mia sambil mengecek kondisi tubuhnya.
"Gue gapapa Mia, serius," Intan lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Mia, "Gue pura pura sakit."
Mia langsung melotot, dan menjitak kepala Intan. "Mau gue bunuh ya lo!? Balikin uang roti gue!"
Intan tertawa puas lalu menjelaskan alasannya melakukan akting ini, ya walau alasannya masuk akal tapi Mia tetap menentang dan menyalakan kebodohan Intan.
"Intan––"
"Pelan pelan, entar ada yang denger," Intan memperingatkan sebelum Mia memarahinya dengan intonasi tinggi.
"Oke," ia menarik napas dan mulai beradu argumen dengan bisikan. "Emang alasan lo masuk akal, tapi ini salah. Lo gak seharusnya pake kesehatan buat alesan. Gimana kalo ucapan lo jadi kenyataan? Hem?"
"Ish! Jan doain gitu dong Mi!!"
Mia mengedikan bahu acuh, ini salah siapa coba? "Makanya kalo punya mulut dijaga."
"Yahabis gue kesel sama Kak Meli, kalo orang udah kesel ataupun benci itu pikiran udah kusut bat Mi. Bawahanya semua itu bener," ucapannya membela diri, kan? Betul Kan?
Mia diam tidak merespon, ia memang sedikit gatal akan kedekatan Meli dengan Enggar, tapi, mau bagaimana lagi? Mereka adalah sahabat. Mana ada orang yang bisa mengenali Enggar lebih dari keluarganya selain Meli?
Oh, malangnya nasib temanya ini. "Lo jangan benci benci amat ke Kak Meli Tan."
"Pelakor dia Mi. Pantes di benci." Intan berkata dengan tegas dan lancar. Tanpa peduli jika Mia mendengarnya saja sudah merinding.
"Mulutnya dijaga sayang, lo gak bisa ngomong seenaknya aja. Kak Meli lebih dulu kenal Kak Enggar daripada lo. Pantes dong mereka deket." Mia mulai berdecak sebal kali ini. Ia tak pernah suka dengan keadaan Intan yang sudah memiliki pemikiran kacau seperti ini.
"Ck, Mi, sahabat ya sahabat. Kalo udah ada yang punya ya harus jaga jarak dong! Enak aja masih nempel nempel manja. Pikir deh." Intan kembali mengutarakan argumenya dengan jidat tertekuk, tak lupa bibir manyun khas orang sebal.
"Ya tapi––"
"Lo kok belain Kak Meli sih?"
"Ah, gini deh. Lo suka kan baca baca novel yang temanya persahabatan?" tanya Mia dengan nada tenang.
"Iya," jawab Intan dengan cepat, masih sebal akibat Mia membela Meli.
"Dan lo selalu benci sama peran antagonis yang masuk ke dunia persahabatan mereka, peran antagonis itu ngerusak persahabatan mereka. True?" Mia kembali bertanya, dan dijawab Intan dengan nada sama seperti sebelumnya.
"Terus, lo selalu suport ke dua orang yang menjalin ikatan sahabat itu buat tetep bareng?"
"Sebenernya lo mau bilang apasih?" tanya Intan benar benar sebal. Dia sekarang ini tengah menunggu penjelasan Enggar tentang ciuman dengan Meli waktu itu, tapi yang ditunggu tidak datang datang.
"Dan sekarang coba bayangin, dua orang di novel yang lo baca itu Kak Enggar sama Kak Meli." Mia berkata dengan tegas, matanya tajam menusuk wajah Intan.
Sementara Intan diam, terkejut akan perkataan Mia barusan. Saat mulutnya akan terbuka untuk menyahut, Mia tak memberikan kesempatan dirinya.
"Dan coba bayangin kalo peran antagonis di novel itu adalah lo. Lo yang nyoba buat misahin hubungan Kak Enggar sama Kak Meli, coba bayangin gimana jika sudut pandang cerita ini bukan tentang Intan dan Kak Enggar, coba bayangin jika sudut pandang cerita ini itu, tentang Kak Enggar dan Kak Meli."
__ADS_1
Mulutnya terkunci mendengar kata kata yang dilontarkan Mia kepadanya.
"Bayangin, ah enggak. Lo sendiri bilang bahwa, peran utama di novel bertema sahabat itu tuh terluka banget ditinggal sahabatnya gara gara perempuan lain yang baru aja masuk ke dunia mereka. Dan itu kemungkinan terjadi sama Kak Meli Tan, dia bisa aja terluka atas kedekatan lo sama Kak Enggar, secara Kak Meli lebih tau apapun tentang Kak Enggar. Lo diibaratkan orang yang baru masuk ke dunia mereka," Mia berkata sungguh sungguh, ingin menyadarkan bahwa Enggar juga dibutuhkan oleh Meli sebagai sahabat, Intan tak seharusnya cemburu akan kedekatan Meli dan Enggar. Mereka hanya sahabat, itu saja.
Intan menghela napas lalu menatap Mia, "Mi. Itu semua cuma novel. Lo gabisa bandingin dengan kehidupan nyata."
"Tapi lo bilang novel itu diangkat dari kisah nyata?" Balas Mia terhadapnya. Ia menatap langit langit UKS.
"Ya, tapi itu cerita yang berbeda dengan cerita yang gue alami. Gue gak pernah bisa happy kalo yang gue lihat kedekatan mereka berdua Mi. Gue juga yakin kalo tatapan Kak Meli ke Kak Enggar itu beda, seolah Kak Enggar spesial." Kali ini Intan menahan gejolak hati dan sebuah air mata yang siap menetes, suaranya kian mengecil seperti orang tak berdaya.
"Intan, apa kurang gue jelasinnya? Kak Meli itu butuh Kak Enggar sebagai sahabat, bukan sebagai seorang lelaki. Lo gak boleh asal nuduh dong." Mia beralih menepuk punggung Intan memberi semangat.
"Ilustrasi yang lo berikan nyakitin gue Mi. Lo seolah mojokin gue, seolah gue bener bener salah dengan suka ke Kak Enggar."
Mia diam, aduh, kenapa dirinya jadi merasa bersalah begini?
"Tan, gak gitu maksud gue."
"Yang lo bilang ke gue itu makin buat gue pesimis, makin buat gue yakin kalo di dunia ini. Gak bakal ada persahabatan antara cowok dan cewek yang murni, salah satu atau mungkin keduanya pasti pingin lebih." Isaknya pun terdengar di ruangan itu, hening yang tercipta membuat suasan semakin mengutuk Mia.
"Lo dateng gak bikin perasaan gue baikan, lo makin ancurin harapan gue. Lo kesini cuman buat ngomel ke gue, belain Kak Meli, mojokin gue. Lo bisa pergi Mi."
Mia membulatkan mata karena diusir oleh temanya sendiri, "Tan? Lo ngusir gue?"
"Kehadiran lo disini, gak gue butuhin." Inta berkata dengan nada yang masih lemah diiringi isakan.
"Oh, jadi gitu? Oke, mungkin otak lo lagi gak berfungsi sampe temen sendiri lo usir." Mia bergerak bangkit lalu buru buru keluar UKS dengan hati dongkol, kenapa niat baiknya disalah artikan bahwa ia membela Meli?
Dimana mana, teman akan mendukung temanya, memberikan pengarahan yang baik. Lalu teman yang merasa terpuruk tadi akan menerima segala pencerahan yang diberikan, lah Intan? Kenapa dia tuli sekali untuk mendengar penjelasanya?
🖤🖤🖤
"Ke Gramed," kata Intan meminta Enggar menemaninya.
"Baca buku mulu deh," Enggar berkata tidak suka.
"Buku jendela dunia," sergahnya tidak terima.
"Mata jendela hati, mata Intan sembab, hati Intan kenapa?" tanyanya setelah menahan diri untuk tidak kepo. Pasalnya ia pernah dengar, jika ada cewek sedang sedih, jangan ditanya dulu. Dipeluk dulu, di ajakin omong omongan, lalu kalau sudah baikan baru ditanya.
"Lagi berantem aja sama temen," jawabnya beberapa saat kemudian.
Sesampainya di parkiran, mereka masuk lalu menuju rak novel remaja yang biasa Intan kunjungi, beberapa hari yang lalu penulis Wattpad favoritnya mengatakan lewat Author Note bahwa novelnya sudah bisa ditemui di Gramedia atau toko buku lainya.
Intan tersenyum tipis, novel yang pernah ia baca di Wattpad kini sudah berbentuk buku. Ia benar benar tak lupa bagaimana jalan cerita di versi Wattpad, tapi beberapa adegan katanya dirubah, lalu endingnya juga.
"Beli yang ini?"
"Hm, gue udah nunggu lama novel ini terbit. Gue juga tertarik dari awal novel ini muncul di Wattpad," kata Intan dengan mata yang kentara sekali kagum dengan penulis novel ini.
"Jadi udah pernah baca novel ini?" tanya Enggar dengan dahi berkerut.
Intan mengangguk mantap.
"Terus kenapa beli Intan?" Enggar kali ini menarik telinganya dengan muka heran.
__ADS_1
"Ish! Gausah narik kuping dong!"
"Makanya, kenapa pake beli novel segala kalo udah pernah baca? Bukanya baca novel 2 kali itu kayak bosenin?" Enggar membuntutinya hingga ke kasir.
Intan menahan jawabnya sampai ia selesai membayar dan kembali melangkah ke parkiran.
"Walaupun sama, penulisnya itu punya cara berbeda buat bikin gak bosen buat dibaca dua kali." Intan tersenyum senang sambil memeluk novel yang ia pilih tadi.
"Tetep Intan, endingnya bakal sama kan?"
"Beda kok. Penulisnya bilang versi Wattpad beda sama versi cetak. Ending dan konfliknya dirubah."
"Ini novel kisahnya tentang apasih? Sampe lo semangat bat?"
"Sahabatan cewek dan cowok," Intan menjawab mantap.
Lalu mendadak ucapan Mia terngiang dikepalanya. Ia jadi ingat bahwa, Enggar dan Meli adalah sabahat yang bisa saja kehidupan mereka sama seperti yang ada di novel novel sebelumnya.
Mendadak Intan kembali termenung diatas motor, ketika Enggar bertanya, maka Intan hanya akan diam atau malah hanya berdehem.
Sampai dihalaman rumah, Intan turun dengan lemah. Ia melepas helm lalu berdiri disamping Enggar yang masih duduk di atas jok motor. "Kak..."
"Apa?" jawab Enggar sambil meletakan helm tadi si gantungan motor.
"Baca novel dua kali itu emang bosenin," kata Intan sambil menunduk kearah trotoar.
"Tapi kalo penulisnya hebat itu gak bakal bosenin, itu kan yang lo bilang tadi?" sahut Enggar memastikan. Lalu menyentil kening Intan agar cewek itu mau menatapnya.
"Iya, penulis dengan caranya. Dan gue juga punya cara supaya gak bosenin, lo mau buat gue gak bosen kan?" tanya Intan dengan tatapan memohon.
"Jan melas kek anak kucing gitu dong Tan. Bawahanya malah pingin ngarungin," Enggar berkata dengan tatapan jenaka dan tawa khas miliknya.
"Tolong, lo yang baca novel ini. Baca seluruhnya sampe tamat. Kalo udah tamat, ceritain ke gue, semuanya. Gue pingin banget kayak gitu, gue pingin denger lo cerita ke gue." Intan menatapnya sungguh sungguh.
"Gue juga pingin, lo pelajari novel itu. Bayangin orang orang disekitar lo adalah pemeran novel itu. Ambil amanatnya, plis." Intan kembali menambahkan.
"Kenapa lo sedih Tan? Siapa yang jahat ke lo?" tanya Enggar sambil mengusap kepalanya.
"Gak ada. Gue cuman mau lo nuruti keinginan gue. Oke?" Senyum dipaksakan itu muncul, lantas dirinya berbalik dan masuk ke rumah. Dilanjutkan dengan mengintip ke jendela ruang tamu, Enggar baru saja meninggalkan asap tipis di halaman rumah.
Suara isakan tangis terdengar membuat Intan langsung menoleh dan berlari ke arah kamar mamanya.
Matanya membulat sempurna, mamanya jatuh dari kursi roda dengan air mata menghiasi wajahnya.
"Mama!!"
Mamanya mendongak menatap lurus kearah dirinya. "Intan..."
"Mama kenapa?" Ucapnya panik, "Bu Ris!! Tolongin mama!!!"
Mamanya terbatuk pelan. "Papa."
"Papa kenapa?" Intan takut, ada apa ini? Apa papanya mengalami kecelakaan?
"Papa minta cerai."
__ADS_1
🖤🖤🖤