
"Nggar!" Teriak cewek di depan kelas itu langsung mendapat perhatian seluruh siswa kelas IPS 3.
"Eh sorry, iya gue manggil Enggar doang! Heheh...." Meli terkekeh lalu menghampiri temanya yang kini tengah sibuk menyalin tugas Anya.
"Nggar! Lo tau gak?" Meli berucap dengan mimik wajah bahagia. Tanpa peduli temannya sedang sibuk-sibuknya.
"Ya mana gue tau Mel. Gue tuh cuma tau gue cinta sama lo." Enggar menjawab dengan fokus tertuju pada buku.
Meli terkekeh pelan, dikira kata kata Enggar adalah candaan renyah. Padahal Enggar berkata benar, tapi semoga kebenaran tadi segera menjadi kesalahan. Doakan Enggar segera berpindah hati.
"Ish! Canda mulu!"
"Iya apa neng?"
"Kabar gembira!"
Enggar kontan menoleh sembari menaikan kedua alis. "Apa? Kulit manggis ada ekstraknya? Udah lama! Tahun berapa itu ya? 2015 ya?"
"Bukan bogeng!" Meli mendengkus, "Tebak lagiii!"
"Lo dapet pempes gratis?" tebak Enggar ngawur sambil kembali menyalin tugas. Biasanya kalau ada pembagian pembalut gratis, maka cewek akan senyum senyum kesenangan. Entah karena apa.
"Kurang ajar lo! Bukan Enggar! Lagi, tebak lagi." Meli menyemangati otak Enggar yang tengah berpikir keras.
"Oh, lo udah gak telat datang bulan?"
Mendengar jawaban absurd Enggar, Meli segera menepuk jidat temanya itu kuat kuat. "Nyebelin! Salah tauk! Lagian buat apa gue berbagi informasi kek gitu sama lo."
Enggar menghela napas,"lagian. Dikata gue dukun apa? Suruh nebak isi hati lo? Noh, ngomong sama Desta, kakek dia dukun. Kali aja dia ikut punya kekuatan ngeramal!"
"Dih, kok gitu sih! Gue kan bukan nyuruh lo ngeramal!" Meli otomatis sebal. Mengapa susah sekali punya sahabat semacam Enggar? Susah peka.
"Yaudah sih, gosah nge gas." Enggar kembali bicara pelan.
"Ya gue gak bakal nge gas kalo lo gak bikin gue emosi!" kali ini tubuhnya memunggungi tubuh Enggar, pose pose orang ngambek.
"Ya elah, susah amat sih, gue pen ngerjain tugas secara damai. Eh sekarang mak lampir malah ngajak perang." Enggar menghentikan kegiatan menulis dan memandangi punggung Meli
"Oh, jadi gue ganggu lo!?"
"Kok gue jadi serba salah sih? Ya Allah." Enggar menahan frustasi.
"Bodo ah!"
Enggar buru buru menarik tubuh Meli agar tidak memunggunginya lalu ia menoel noel pipi temanya. "Gitu aja ngambek. Gak lucu!"
"Ya lo sih!" Meli meruncingkan bibirnya disertai pipinya yang menggembung.
Enggar tersenyum kecil melihat Meli pura pura ngambek. Ia menepuk puncak kepala Meli dengan seksama. "Yaudah apa?"
"Gue."
"Hem?"
Pipi Meli memerah sesaat saat akan bersuara, segera Enggar menyela. "Pipi lo merah, lo gak kesurupan kan?"
"Ck! Ganggu suasana!"
"Iye next."
"Gue!!!"
"Hem!?"
"Gosah nge gas dong."
"Lo kapan ngomongnya sih!?" Kesal Enggar karena Meli mengulur waktu. Ia masih ada tugas menyalin pr, dasar temen bobrok.
"Iya iya! Gue jadian sama Raka!!!!"
Sesaat hening, Meli tetap pada wajah cerianya, dan Enggar dengan mukanya yang mendadak flat.
__ADS_1
"Nggar?" panggil Meli memastika apakah cowok dihadapanya ini kesambet atau nggak.
"Ya?" sahutnya pelan tanpa semangat.
"Kok, reaksi lo dong!!!"
"Oh, selamat, langgeng terus ya beb!"
Ia tersenyum senang. Pura pura sih. Ia mendekat kearah Meli lalu memeluknya, seolah akan segera kehilangan sosok Meli sebagai sahabat. Cooming soon Meli bakal fokus ke pacar, bukan ke sahabat.
"Jaga hati Mel, jan mudah pindah hati." Enggar melepas pelukanya lalu memandang nanar sahabatnya.
"Biasa aja dong! Kayak mau LDR aja!"
"Iya LDR yang lebih berat, bukan beda kota atau negara, tapi beda hati yang dicintai loh ini," kode dikit gapapalah, Enggar toh masi ngarep ke sosok cantik ini.
"Dih, alay!"
Enggar tersenyum kembali lalu menangkup kedua pipi Meli hingga pipi Meli mirip ikan buntal. "Janji sama gue, kalo lo ada apa apa eh maksudnya diapa apain sama Raka langsung hubungi gue. Ngerti!?"
"Iya!!! Lepas ihh!" Meli memberontak dalam tangkupan itu.
"Janji juga! Jangan fokus ke pacar doang, sahabat juga Mel."
"Bacot ah!" tangkupan Enggar semakin kuat, hingga seseorang datang menggebrak meja mereka.
"Hoy! Elah pacaran mulu di kelas. Nih Nggar, tadi ada adkel ngasih ini ke lo. Titipan dari Pak Rembo." Anya berkata dengan keras lalu melirik Meli sekilas.
"Oh, siapa yang nganter?" Enggar menerima kertas formulir itu.
Anya tak menjawab tapi malah tersenyum merendahkan. "Cek chat dari gue barusan."
Selepas Anya berlalu, Meli mendengkus. Entah kenapa teman sekelas Enggar itu terlihat tidak suka padanya.
Sementara Enggar, kini telah menunduk menatap chat semenit yang lalu dikirim oleh Anya.
Any(ing)a
•Btw, mesra bat pelukanya. O ya, yg tadi ngirim tuh benda itu adek kelas yg manis it loh. Yg lo gebet.
•sapa? Intan bukan? Dia ke kelas pas lo pelukan, trs dia nitip ke gue, dia keknya takut ganggu lo deh : ) pengertian dan peka sekali dia.
•konsisten dong Nggar, Meli y Meli. Intan y Intan. Jan dua duanya diembat. Sakit.
•sorry gue byk bacot. Emosi soalnya :")
Enggar kini mendongak menatap Anya diujung ruangan. Ia menggeleng gelengkan kepala lalu mengetikan jawaban.
Enggar:
•serius Nya?
Any(ing )a
• Y, Intan tuh
Enggar:
•mksd gue, serius lo ngetik itu semenit doang? Dan gak ada typo?
Any(ing )a
•bgsd, lo np mlh tanya gituan.
Enggar:
•les dmn ngetk cpt grtoh?
Any(ing )a
•primagama blasteran masterprima.
__ADS_1
•eh, bukanya mendramatisir yow Nggar, but tadi gue liat Intan itu abis ngasih ke gue dia nengok ke lo pake muka mengenaskan gtu. Y sorry gue kata mengenaskan
•o iya, bkn mengenaskan. Nanar bhs bakunya. Trs dia balik smbil kyk nahan air kencing gtu.
•sorry, *airmata. :")
"Nggar? Lo napasih?" Meli menoel pipinya pelan.
Enggar menoleh kearah sahabatnya dengan tatapan kosong. Kemudian ia bangkit da berlari ke latai 2. Dimana kelas Intan berada.
🖤🖤🖤
"Mau kemana Nggi?" Intan kebetulan lewat didepan ruang guru dan menjumpai teman SMPnya keluar dari ruang guru dan mukanya murung.
"Ck!" Anggi berdecak lalu berbisik. "Gue di suruh Pak Rembo nih ke kelas IPS 3."
"Wait! Pak Rembo sapa?" Intan mengerutkan kening lalu memutar otak.
"Maksud gue Pak Adi. Dan stop lo gosah tanya gue kenapa dia di panggil Pak Rembo. Gue tau ini dari kakak kelas." Anggi berkata dengan intonasi yang masih sebal.
Intan memilih untuk ikut berjalan bersama Anggi sampai dikelas. Kan Anggi mau ke lantai 3 dan kelas Intan ada di lantai 2.
"Kenapa males sih Nggi?"
"Disana ada mantan gue, dan lo tau kan. Kalo gue kesana entar gue dikira masih cari cari kesempatan buat ketemu dia. Padahal ya, yang ada muka songong dia itu tuh uda gue block dari pikiran. So lo tau sendiri."
Intan terkekeh lalu kembali memutar otak. "11 IPS 3?"
"Hem." Anggi menjawab malas dengan muka datar.
"Wah biar gue aja yang anter kalo gitu Nggi!" Intan memekik girang. Oh, itu kelas gebetanya. Lumayan, mungkin sih gebetan lagi di kantin. Tapi kan kalo dia kesana ia bisa tau tempat duduk Enggar.
"Buat sapa tuh?" Intan kembali bertanya.
Anggi memutar amplop lalu membaca ujung amplop. "Enggar Fauzi Angkasa."
Dadanya berdesir mendengar nama itu, segera ia menyahut amplop itu, ia membaca nama itu berulang ulang sambil menaiki satu persatu anak tangga.
"Gue aja yang anter Nggi. Lo masuk sono."
Cewek itu langsung melompat kegirangan karena tidak jadi ketemu mantan. Ia berulang kali berterimakasih dan berujung pada mendoakan Intan agar cepat cepat nggak jomblo.
"Cepet cepet ada yang nembak ya Tan! Jodoh pasti ketemu!" Anggi terkekeh geli sendiri.
"Iya, ini gue lagi ke jodoh gue loh Nggi."
Tapi Anggi lagi gak konek, jadi ia hanya terkekeh lalu masuk ke kelas.
Intan memilih cepat cepat naik tangga ke lantai 3 dan melipir mendekati pintu kelas IPS 3.
Namun sebelum tanganya mengetuk pintu dan berkata permisi. Pandanganya keburu jatuh ke 2 sosok manusia yang kini tengah berpelukan.
Tenggorokanya kering seketika. Lembaran tadi seolah siap terjatuh.
"Permisi?" seorang kakak kelas yang menyadari keberadaanya menghampiri dan bertanya.
"Eh, kak. Ini gue nitip ini buat kak Enggar ya." Intan memaksakan sebuah senyuman.
"Oh Enggar," katanya lalu menoleh pada yang bersangkutan tengah bercengkrama dengan sang sahabat. "Dia lagi pa--"
Ucapan kakak kelas itu terhenti, ia buru buru menoleh ke Intan dengan penuh selidik. "Lo? Lo cewek yang diiket rambutnya sama Enggar itu bukan sih?"
Intan terkekeh pelan lalu mengangguk. "Gue permisi kak."
Ia melirik ke Enggar sebelum akhirnya berbalik dan melangkah cepat. Matanya panas.
Wanita, mudah jatuh cinta, mudah patah, terluka apalagi mengeluarkan air mata.
🖤🖤🖤
Me: :) g banyak bacot deh. Kalian gmn klo di posisi Intan?
__ADS_1