
🖤🖤🖤
Senyun tipis Enggar tercetak selama perjalanan ke sekolah. Hari ini, ia kembali berangkat bersama sahabatnya, ya setelah putus Meli minta nebeng.
Kan doi sudah nggak ada yang jemput. Duh duh kasian.
"Nggar, denger denger lo deketin anak kelas 10 itu ya?" Meli berucap ditengah angin pagi yang membelai wajah keduanya.
Kontan Enggar mengerem dadakan motornya.
Bukan, bukan karena pertanyaan Meli, melainkan karena lampu merah yang tadi berwarna kuning kontan berubah merah. Membuat Enggar mau tak mau berhenti di pertigaan itu.
"Makanya kalo udah tau mau ada lampu merah tuh pelanin kek!" Meli menepuk pundak Enggar kuat kuat. Cowok itu mengerang kecil lalu melirik Meli lewat spion.
"Galak amat, berasa boncengin singa betina deh."
"Ih! Kalo bukan gara gara bunda gue ogah ya berangkat bareng lo!" Meli mendengkus sebal lalu menatap timer di lampu merah, 10 detik kemudian motor Enggar kembali membelah jalanan yang mulai padat.
Mereka sampai di parkiran 5 menit sebelum bel masuk berbunyi. Meli turun sembari mencoba melepas kaitan helm.
"Helm lo butut amat sih Nggar! Macet nih!" Meli menghentak kaki kesal karena kaitan helmnya tak bisa dibuka.
Enggar yang tadi sibuk membenarkan posisi sepeda langsung menoleh dan mendekat. Ia membantu Meli terlepas dari helm pink itu. "Gini gini gue belinya pake duit sendiri Mel."
Helm ini ia beli 2 tahun yang lalu, khusus untuk Meli pakai. Bukan ia berikan ke Meli, hanya saja ketika pergi berdua Enggar selalu menyuruh Meli mengambil helm pink ini dikamarnya.
Dan sejauh ini belum ada cewek lain yang memakainya kecuali Meli.
"Ck! Gue bilang apa! Gue gak perlu pake helm, liat! Rambut gue berantakan. Ish!" Meli mendengkus kuat kuat.
"Gue kasihan kalo misal lo keleca––eh apa? Kecelakaan? Ya itu, terus lo amnesia. Gue khawatir, kan kalo orang amnesia itu lupa segalanya. Padahal lo punya utang banyak ke gue, entar gak lo bayar gimana? Makanya pake helm ya sayang?" Enggar menepuk nepuk puncak kepala Meli sambil berjalan bersisihan. Teringat sesuatu, Meli langsung menarik pergelangan tangan Enggar, punggung tangan cowok itu sedikit memar.
"Lo apain aja si Arka?"
"Biasa aja. Gak parah kok."
Meli menghela napas lalu meniup punggung tangan Enggar, "yang gue khawatirkan itu lo Nggar. Bukan Arka, liat tangan lo! Ini nanti bakal ngaruh di kelas. Entar lo males nyatet materi yang disalahin gue!"
Enggar terkekeh, senyumnya terkembang melihat wajah khawatir Meli. "Ini khawatir sebagai apa Mel?"
Meli mendongakan kepala, "ya sebagai sahabat lo lah geblek!"
Gue pikir nyangkut perasaan
"Oh...."
"Kayaknya lo emang butuh pacar buat perhatiin lo deh Nggar. Omongan gue gak pernah mempan ke lo. Kali aja kalo punya pacar lo bakal dengerin dia?" Meli berbicara serius lalu mengelus kembali punggung tangan Enggar.
Enggar terkekeh, rasa hangat menjalar ke penjuru tubuhnya. "Lo aja yang jadi pacarnya?" Gumamnya lirih, lirih sekali sampai bakteri di udara pun samar mendengarnya.
__ADS_1
"Apa lo bilang?" Meli mendongak meminta penjelasan.
Enggar langsung tertawa, menyembunyikan gugup yang melanda. Ia lalu melirik teman sekelasnya yang memeluk tumbukan buku pada dekapanya.
Ia meraih satu buku. "Gue bawain satu La. Biar lo gak berat berat," buku itu ia kipaskan ke area leher. Entah mengapa ia jadi gerah sendiri.
"Cuma satu mana ngefek!" Keyla mendengkus lalu melangkah kebih cepat, sebelumnya ia sempat melontarkan lirikan tajam kearah Meli.
Meli menyikut perut Enggar. Ia lalu menghela napas, "masih suka ke lo?"
"Siapa?"
"Keyla...."
"Oh, gatau. Orang dia suka uring uringan kalo di kelas."
"Biasanya kalo cewek sok galak ke lo itu tandanya dia suka ke lo. Dan minta buat diperhatiin." Meli berbicara sambil memandangi punggung Keyla yang kian mengecil.
Kini mereka mulai menaiki anak tangga. Karena lokasi kelas 11 ada di lantai 3.
"Kejar Keyla dong Nggar, dia masih suka ke lo."
"Bukan tipe gue Mel."
"Terus tipe lo?"
"Oh,adek kelas itu, namanya?" Meli mengangkat kedua alisnya.
"Intan, Intan Permata."
"Namanya cantik Nggar, kek orangnya."
"I know."
Kini Enggar tiba tiba berhenti melangkah, ia dihampiri rasa bimbang. Antara menghampiri Intan atau berjalan bersama Meli hingga di lantai 3.
"Kenapa lo?" Meli yang kini jauh 2 langkah didepanya berhenti dan berbalik.
Enggar tersenyum tipis, ia menggeleng lalu memilih untuk tetap berjalan bersama Meli. Toh Meli adalah alasan ia berbahagia.
Ketika keduanya melewati Intan. Meli melontarkan senyum, sementara Enggar berhenti sebentar untuk menegur Intan yang selalu melontarkan senyum pada setiap orang yang berlalu lalang.
Sial, Enggar malah memgambil keputusan untuk menyuruh Meli melangkah duluan.
"Senyum lo itu bagus dek. Kalo lo kasih ke sembarang orang mereka bakal suka ke lo."
Intan terkekeh pelan, "nambah pahala."
"Ga ah. Senyumnya ke gue terus ya? Dijamin dapet pahala berlipat ganda."
__ADS_1
Intan tertawa lalu menatap seseorang dibalik punggung kakak kelas itu. Seorang cowok jangkung yang ingin menepuk punggung Enggar.
Mau tak mau, Intan melontarkan senyumnya sambik setengah menyipitkan mata.
"Intannnn.... Senyum kesiapa la––" Enggar berhenti bicara kala berbalik. Yang ia tatap kini bukanlah sosok asing lagi.
"Raka?" Tanya Enggar memastikan.
"Untung ketemu lo. Gue nyari kelas 11 dimana nyet?" Raka, yang sekarang tengah mengenakan pakaian asing bertanya pada Enggar.
"Lo bener pindah kesini?"
"Gak, gue pindah ke SMA di Suriah sana."
Enggar tertawa lalu melirik ke Intan yang memandang intens kearah Raka. Cowok itu lalu memunggungi wajah Intan. "Jangan diliatin terus dek. Cakepan gue."
"Dih Nggar, PD amat." Raka berpindah posisi agar bisa melihat wajah Intan. "Hallo!! Gue Raka, murid baru kelas 11 IPS 1."
Intan mengulurkan tangannya untuk menghormati kakak kelas itu. "Intan." Dia berucap sambil melontarkan senyum lagi.
Enggar mendengus sebal lalu menutup mulut Intan. "Senyumnya itu buat gue Ka. Lo jangan ambil!"
Kini giliran Raka yang mendengus, "alay! Anterin gue Nggar."
"Diuhh ganggu orang pacaran aja!" Ungkap Enggar membuat Intan terdiam membeku.
Apa? Ia pacaran kah dengan Enggar?
"Dek, duluan ya. Gerandong emang gak pernah bahagiain orang."
Intan mengangguk sembari tersenyum, ia rasa pagi ini ia lebih banyak senyum, dan ia lebih bahagia.
"Inget, Jangan banyak senyum ke orang lain. Ke gue aja Mel." Enggar kian melangkah menjauh bersama temanya.
Sementara Intan kembali terpaku. 'Mel'
Ia tak punya nama yang berunsur Mel.
Lantas kenapa Enggar memanggilnya 'Mel' ?
Ia menghela napas pelan lalu kembali menatap lalu lalang orang di lantai dasar melalui balkon kelas 10.
Dengan pikiran yang masih tertuju pada panggilan Enggar.
Mungkin 'Mel', itu kakak kelas yang tadi bareng sama Kak Enggar.
🖤🖤🖤
Me: Jadi, Meli Enggar apa Enggar Intan?
__ADS_1